
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tak terasa tiga hari sudah mereka melakukan pencarian di tiap-tiap safe deposit box. Namun, hanya harapan kosong yang didapat. Rasanya ingin sekali menyerah, tetapi langkah seakan menolak untuk berhenti di sana.
Jessi dan Nich dengan dibantu anak buah yang lainnya saling bekerja sama, mencari bank penyimpanan yang berdiri sejak tiga puluh tahun yang lalu. Banyak kertas berceceran di ruang kerja Nicholas, bersama sang istri selama tiga hari mencari informasi sambil mengerjakan tugas kantor.
Berulang kali Jessi mengusap kasar rambutnya. "Akh, kenapa banyak sekali bank yang sudah berdiri sejak saat itu, Sayang?"
Nich hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang terlihat menggemaskan ketika sedang dalam kondisi seperti ini. "Istirahatlah dulu, Sweety! Setelah ini, aku akan membantumu."
Saking kesalnya Jessi malah menghamburkan semua kertas yang berada di atas meja, hingga berceceran di mana-mana. "Aku menyerah!" Wanita itu langsung merebahkan diri di sofa panjang ruangan itu.
Tiga hari lamanya, dia kurang tidur karena bersemangat mencari tahu, tetapi hanya harapan semu yang diperoleh. "Sayang, menurutmu di mana ayah menyimpan berkas penting? Jika di bank dekat dengan pengadilan atau kediaman saja tidak ada." Jessi memiringkan tubuh sambil memangku kepala dengan tangan kanan, menatap lekat wajah suaminya yang terlihat sangat tampan saat bekerja. Ingin sekali beristirahat untuk memejamkan mata sejenak, tetapi rasa penasaran mengalahkan segalanya.
Pena di genggaman diletakkan kembali oleh Nich, dia menautkan kedua tangan untuk menopang dagu sambil memikirkan perkataan sang istri.
Tampan, sangat tampan, batin Jessi.
Dia segera mengambil ponsel di meja. "Tunggu sebentar, Sayang. Tetap dalam posisi seperti itu, jangan bernapas!" Jessi memotret gambar sang suami, hal yang tak pernah dilakukannya selama ini. Tanpa sadar wajahnya tersenyum indah, mengeluarkan binar bahagia. Berulang kali foto itu diperbesar olehnya, hingga membuat Nicholas menggeleng karena tingkah konyol istrinya.
"Apa aku lebih tampan di foto saja, Sweety?" Wanita itu tampa sadar mengangguk dan kembali duduk sambil tetap fokus pada ponsel di tangannya.
Perlahan Nich melangkah mendekati Jessi. Duduk di sebelahnya sambil menata rambut istrinya yang berantakan. "Jika kau jadi mereka. Menurutmu kau akan menyimpannya di mana?"
Sejenak Jessi meletakkan ponselnya kembali, memikirkan perkataan sang suami yang cukup masuk akal. Dia lantas membayangkan jika berada di posisi tersebut. "Aku akan menyimpannya di tempat teraman. Di mana tidak ada satu pun orang yang mudah untuk menemukan barang itu. Apa lagi jika barang itu sangat berbahaya. "
Suasana kembali hening karena keduanya saling berpikir. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara jentikkan jari dari jemari sang suami. Mereka saling berpandangan dengan sorot mata yang membola. "Mungkinkah ayah menyimpannya di bank kecil dan tidak terjamah kalangan atas?"
Berulang kali Jessi menyedipkan mata, seolah tak percaya dengan apa yang ada dalam pikirannya. Selama ini, mereka hanya mencari bank besar yang berdiri sejak tiga puluh tahun lalu, tetapi tidak berpikir untuk penyimpanan kecil saat itu. Bahkan bisa saja tempat tersebut sudah tutup sekarang.
__ADS_1
Kertas-kertas di depannya kembali dipungut satu per satu, jemari mereka menyusuri tiap lembar kertas tersebut dengan teliti. Hingga ditemukan tiga bank kecil, yang sudah tidak beroperasi lagi.
"Ini, ini, dan ini." Jessi memperlihatkan tiga bank kecil berlokasi di sekitar rumah keluarga Alexander dan Kantor Kejaksaan. Namun, hanya ada satu tempat yang sudah tutup, tapi masih menerima pengambilan barang di sana.
"Kita ke sana! Tunggu sebentar!" Nich menandatangani beberapa berkas terakhir di meja lantas bergegas melangkah pergi meninggalkan kantor bersama istrinya.
_____________
Lain Bannerick Group, lain pula dengan Jaguar Guard. Seorang pria dengan alasan akan menyewa bodyguard mencoba untuk menemui Jackson. Bertemu dengan klien pengguna jasa adalah urusannya, sehingga secara langsung pria tersebut bisa langsung berbicara kepadanya.
Dia antar ke ruangan atas oleh seorang pekerja di tempat itu untuk menuju ruangan Jackson. Karyawan di depannya membuka pintu. "Permisi, Tuan Jack. Ada tamu ingin bertemu."
"Suruh dia masuk!" Jackson berdiri dari kursinya untuk melangkah ke sofa tamu di depan menyapa sang tamu.
Tubuhnya menegang seketika, saat melihat seorang pria dengan paras yang bisa dibilang mirip dengannya, hanya saja lelaki itu mungkin masih seumuran Patricia. Dia menetap lekat pemuda berwajah datar tersebut, sambil mengulurkan tangan, sedangkan karyawannya setelah mengantarkan tamu langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Suara bariton pria di depannya menyadarkan Jackson dari lamunan secara langsung. "Selamat sore, silakan duduk!"
Mereka pun duduk berseberangan dengan pandangan Jackson yang masih belum beralih darinya, hingga membuat pria tersebut merasa tidak nyaman.
Untuk sesaat pria tersebut berdeham guna menetralkan perasaan dan langsung mengutarakan maksud kedatangannya. "Saya hanya ingin menyerahkan ini kepada Anda. Silakan dibuka untuk diri sendiri!" Dia menyerahkan amplop cokelat pemberian Jerry dan langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan tanpa permisi atau pun menunggu jawaban.
Jackson mengerutkan dahi melihat amplop cokelat di meja, perasaannya mengatakan hal buruk tentang itu. Perlahan dia mulai mengulurkan tangan, keramik benda pipih tersebut dengan jantung berdebar kencang dan perasaan campur aduk.
Dibukanya amplop tersebut secara perlahan, hingga mulai terlihat foto yang membuat matanya memerah seketika. Seorang wanita dengan kondisi kusut tak terawat, bahkan terpasung kedua tangan dan kakinya.
Tangan Jackson bergetar hebat melihat hal itu. Giliran hangat seakan berkumpul di pelupuk matanya, bersiap untuk menghujani pipinya kapan saja. Dia langsung berlari keluar, mencoba mengejar dan mencari-cari pria yang menyampaikan pesan, hingga ke bagian terbawah gedung.
__ADS_1
"Di mana pria tadi?" tanya Jackson pada seorang karyawan yang tadinya mengantarkan pria tersebut.
"Tidak tahu, Tuan. Bukankah sudah berada di ruangan Anda."
Langkahnya langsung bergerak meninggalkan gedung, mencari-cari ke mana pria tersebut pergi. Bagai orang kesetanan Jackson menoleh ke kanan dan kiri. Namun sayang, dia sudah menghilang bagai tertelan bumi.
"Hah!" Amarah yang membuncah, membuat pria tersebut mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar. "Sial!"
Berulang kali dia mengumpat kesal sambil terus melangkah mencari keberadaan pria itu. Namun, hasilnya tetap sama saja, bahkan jejak pun tak terlihat olehnya. "Sial!"
Jackson semakin mengerutkan kening tatkala melihat kembali gambar dalam genganmannya dan membaca setiap kata yang tertera di belakangnya dengan tangan bergetar dan wajah merah padam. Pesan itu tuliskan sebuah ancaman baginya.
Entah siapa yang mengirim pria tersebut, tetapi dia menginginkan pertukaran pengkhianatan kepada Jessi untuk kebebasan ibunya yang berada di genggamannya. Jackson meremas foto tersebut hingga tak berbentuk.
Bagaimana bisa dia menukar sang nona dengan ibunya. Di satu sisi Jessi adalah malaikat pengelamat bagi keluarganya. Di lain tempat seorang ibu yang pergi dua puluh lima tahun lamanya masih menanti untuk diselamatkan.
Rasa bimbang berkecamuk dalam benak pria tersebut. Tak menyangka dia harus dihadirkan di antara dua pilihan yang sulit. Haruskah Jackson mengkhianati Jessi? Atau membiarkan ibunya mati?
To Be Continue....
Hello teman-teman pembaca setia.
Sepertinya next episode hanya akan ada konflik-konflik berat nih. Gimana, kalian sudah siap belum?
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak!
Ngomong-ngomong Next Projec author ingin membuat cerita Mommy Laura saja, Gimana menurut kalian?
__ADS_1
Jangan lupa berkomentar.