Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Idaman Jessi


__ADS_3

"Hidup dengan baik kau bilang. Selama hidup ini aku hanya ingin memilikimu dan hidup bersamamu, seharusnya jika kau tidak menyukai wanita sundal itu, bilang! Kenapa kau malah meninggalkanku begitu saja? Apa kau bahkan bisa melupakan malam pertama kita?" Sebuah seringai mengejek terlukis jelas di wajah Brian dengan tatapan mata menatap Nicholas di belakang Jessi.


Jika memang tidak bisa membuat wanita tersebut kembali kepadanya setidaknya dia harus bisa membuat sepasang suami istri itu saling berkelahi karena cemburu. Brian yang mendapatkan darah perawan Jessi tersenyum mengejek kepada Nicholas, hingga terlihat kedua tangan pria itu mengepal dengan kuat di balik tubuh sang istri.


Secara tidak langsung Brian ingin menunjukkan, jika Nicholas hanya mendapatkan seorang wanita bekas dari miliknya dan hal itu adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi Brian. Salah satu takdir yang tidak bisa mereka ubah meskipun Jessi menganggahnya dan malah pria tersebut jadikan sebagai senjata untuk mengompori pasangan suami istri itu.


Namun, sesaat kemudian bukan amarah yang keluar dari mulut Jessi, melainkan suara gelak tawa menggema begitu keras memenuhi ruangan. Rasa menggelitik akan ingatan masa lalu membuat wanita itu tertawa lepas dan mengabaikan kedua orang yang saling menghunuskan tatapan tajam tersebut.


"Malam pertama kau bilang?" Seakan tak ada hentinya Jessi tergelak, hingga tak menyadari sang suami di belakangnya sudah mulai terbakar api cemburu akibat kata-kata Brian yang menyulut emosinya. "Apa yang kau banggakan dari burung perkututmu?"


Nicholas yang awalnya marah kini langsung berubah ekspresi. Pria itu ikut menahan tawa dengan menutup mulut menggunakan tangan mendengar ejekan istrinya kepada Brian. Awalnya dia mengira Jessi ingin bernostalgia dengan mantan suaminya. Namun, kini pria itu paham jika istrinya sedang merencanakan sesuatu.


Sementara itu, Brian melebarkan mata hingga membulat sempurna mendengar kalimat Jessi yang mengejek kejantanannya secara langsung di depan Nicholas. Hancur sudah harapannya, kata-kata yang awalnya digunakan untuk membuat lawannya emosi kini malah berbalik menyerang layaknya sebuah bumerang bagi dirinya sendiri.


"Apa kau tidak ingat? Jika saja dulu aku tidak bekerja keras membuatnya bangkit, maka tetap saja perkututmu hanya ada di level mie basah. Lembek!" Wanita tersebut terus tergelak dengan renyahnya, hingga beberapa saat kemudian memegang perutnya yang sedikit nyeri karena terlalu lama tertawa. "Aduh!"


"Sayang." Nich langsung memegang bahu sang istri karena merasa khawatir akan terjadi sesuatu dengan kandungannya. Namun, Jessi malah menghentikan tawa dan kembali mengejek Brian.

__ADS_1


"Ah, lihatlah! Ini adalah hasil dari keperkasaan suamiku." Layaknya orang berbisik Jessi mendekatkan wajahnya di dekat Brian sambil tersenyum mengejek mengelus perutnya yang tak lagi rata.


Brian hanya terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat melihat Jessi sungguh hamil seperti apa yang dikatakan oleh Nicholas hari itu. Dia tidak menyangka jika mereka akan memperoleh momongan secepat ini, hal yng selalu Jessi dambakan selama pernikahan mereka dahulu.


"Kau tahu, bibit suamiku sungguh berkualitas premium, hanya dalam sekali hentakan tiga benih kecebong tumbuh dalam rahimku." Senyum mengembang indah di wajah Jessi sambil mengelus perut. "Oh kau bilang malam pertama? Terima kasih sudah mengingatkanku pada malam pertamaku membobol seorang perjaka."


Jessi terlihat begitu bahagia hingga memukul kecil bahu suaminya, pikirannya melayang membayangkan malam pertama mereka di pantai kala itu.


"Kau tahu, Bri. Aku sampai kewalahan menghadapi miliknya yang gagah layaknya Burung Garuda. Bukan, bukan, lebih gagah lagi, bahkan sepanjang ini?" Jessi mengepalkan salah satu tangannya dan menunjukkan seberapa panjang kejantanan suaminya, hingga membuat mata Brian membulat sempurna karena tingkah wanita tersebut yang terlihat begitu bahagia menceritakan tentang suaminya.


Sementara itu, Nicholas di sampingnya hanya bisa menggigit bibir karena menahan senyum yang hampir meledak menjadi tawa, melihat istrinya mengejek Brian habis-habisan dan membanggakan dirinya. Jika saja dia tahu Jessi hanya ingin melakukan ini, sudah pasti Nich akan menurutinya sejak tadi.


Namun, wanita tersebut merasa tak bersalah menceritakan semua hal tentang suaminya begitu saja kepada sang mantan suami. Rasa lega karena keinginan yang telah terpenuhi membuatnya terus berceloteh ria, hingga membuat Brian kesal karena tingkahnya.


"Cukup! Cukup! Cukup! Hentikan semua ocehanmu!" Suara teriakan Brian terdengar begitu keras hingga membuat Jessi terkejut karenanya. Wajah pria tersebut sudah merah padam akibat aliran emosi yang meluap di kepalanya. Namun, sayangnya tubuh Brian tidak dapat bergerak karena rantai yang mengikat tangan juga kakinya.


"Yak! Kenapa kau membentakku! Bukankah kau sendiri yang menanyakan malam pertamaku? Makanya aku menceritakan malam pertama kami."

__ADS_1


Ya, inilah hal yang diidamkan Jessi sejak tadi. Dia ingin mengeluarkan segala kebanggaan memiliki suami seperti Nicholas di depan Brian. Sepertinya janin dalam kandungan wanita tersebut adalah bibit pembully yang tidak mau kalah dengan orang jahat, sehingga keinginan untuk membalas semua perkataan Brian terasa begitu tinggi.


"Cih, seharusnya kau bangga aku mau menceritakan hal ini sebelum kematian menjemputmu! Menyebalkan." Jessi lantas mendengus kesal, lalu berbalik badan dan menarik lengan suaminya. "Ayo, Sayang. Kita kembali saja ke kamar. Dia tidak mau mendengarkan curhatanku, sebaiknya kita menengok anak-anak saja."


Sepasang suami istri itu hendak melangkah pergi. Namun, suara teriakan Brian menghentikan langkahnya sejenak.


"Jessi! Aku bersumpah—" Belum sempat Brian menyelesaikan kalimatnya sebuah sandal melayang dari kaki Jessi dan mendarat tepat di mulut pria tersebut.


"Kau tidak pantas mengutukku atas apa yang sudah kau lakukan! Seharusnya kau tak pernah mengusikku ketika aku melepaskanmu." Tidak ada lagi nada bercanda yang keluar dari mulut Jessi, hanya ada sebuah raut wajah mengerikan yang berhasil membuat jantung Brian berdetak kencang.


Sepasang suami istri itu lantas melangkah pergi keluar dari ruang penyekapan ini, meninggalkan Brian seorang diri yang hanya bisa menatap langkahnya yang semakin menjauh dari jangkauannya.


Inikah Jessi yang sesungguhnya?


Mereka sama-sama membohongi pasangan ketika bersama. Tidak ada yang berani menjadi diri sendiri ketika kesempatan itu ada. Hanya ada sebuah keraguan dan topeng agar terlihat seperti pasangan pada umumnya. Namun, kini terlihat jelas di mata Brian jika Jessi sekarang bukanlah wanita yang dulu mencintainya.


Rasa nyeri untuk pertama kali Brian rasakan selama hidupnya. Padahal pria itu tidak memiliki emosi, tetapi kepergian Jessi berhasil membuatnya merasakan sakit hati yang luar biasa.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2