Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Kartu Nama


__ADS_3

"Jika kau begitu berbakti kepada ibumu, apa kau sanggup menukarnya dengan nyawamu?" Jessi menatap lekat mata pria di depannya.


Bukan tanpa alasan dia mengatakan hal itu, tetapi pria tersebut sudah berurusan dengan mafia Virgoun. Tentu saja Jessi tidak akan membuang kesempatan untuk lebih dalam lagi menggali informasi tentang mereka.


"Maksud, Nona." Pria tersebut bingung dengan makna dari ucapan Jessi. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah wanita tersebut menginginkan nyawanya?


"Aku akan membantumu untuk biaya perawatan ibumu, tapi ...." Sejenak Jessi menggantungkan kalimatnya untuk menelisik lebih jauh perubahan ekspresi pria di depannya yang terlihat begitu bahagia mendengar adanya jalan keluar tentang biaya perawatan sang ibu. "Tapi mungkin kau akan kehilangan nyawamu."


Tanpa menunggu waktu, pria tersebut tetap menganggukkan kepala. "Saya bersedia melakukan apa saja asalkan ibu bisa sembuh. Kalau, Nona menginginkan nyawa saya sekarang, silakan ambil! Tapi, tolong selamatkan ibu saya!" Ia memohon kepada Jessi dengan binar mata putus asa.


Sepanjang hidup ini, ia tidak pernah bisa menjadi anak yang membanggakan bagi sang ibu. Walaupun harus kehilangan nyawa, pria tersebut tetap bersedia melakukannya asalkan ibunya bisa menjalani pengobatan yang layak.


"Berapa harga jantung yang mereka tawarkan?"


"US$ 500.000, Nona."


Setiap orang yang mendengar penuturan pria tersebut pasti membelalakkan mata mendengar penuturannya. Harga yang mereka minta bahkan hampir empat kali lipat dari seharusnya. Tentu saja karena bisnis para mafia itu memerlukan banyak dana untuk masuk ke pasar gelap.


Jika orang biasa seperti karyawannya saja tahu tentang organ ilegal, pasti hal ini juga berhubungan dengan pemerintah setempat. Bisa jadi, memang mereka dilindungi oleh para petinggi negara ini. Membayangkan hal tersebut membuat Jessi menahan tawanya. "Mereka sungguh cerdik mempermainkan manusia."


Siapa yang tahu, jika bisa saja pendonor organ sebenarnya adalah kerabat kita, sedangkan tubuh setiap manusia berbeda-beda dan belum tentu dapat menerima donor dari orang lain. Jadi, mereka tetap mendapatkan uangnya, tetapi barang tersebut belum tentu bisa dipakai oleh penerimanya.


"Dari mana kau mendapatkan informasi tentang penjualan organ ilegal itu?"


Pria tersebut lantas merogoh dompet di sakunya. Mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dan menyerahkannya kepada Jessi. Wanita tersebut menerimanya, tidak ada informasi apa pun di sana kecuali sebuah lebel bertuliskan 'BM' dan terbuat dari kertas dengan kualitas premium.


Jessi mengernyitkan dahinya melihat kartu nama tersebut, rasanya dangat aneh dengan inisial huruf yang tertera di sana. "Hanya dari ini bagaimana kau bisa menemukannya?"


"Saat itu, pertama kali kami bertemu di halte bus. Dia menanyakan tentang kegelisahan yang saya rasakan dan menawarkan hal tersebut." Sejenak pria itu mengambil napas dalam-dalam sebelum kembali berbicara, sedangkan Jessi masih terdiam untuk mendengar penjelasannya. "Tapi, ketika membayar uang muka di lain hari, dia sudah duduk di dalam bus. Entah bagaimana caranya dia bisa mengetahui jika saya sudah membawa uang saat itu."

__ADS_1


Selama ini mereka hanya bertransaksi dengan cara mereka. Tidak ada yang tahu bagaimana bisa para mafia itu mengerti situasi dan kondisinya dengan sangat jelas.


"Kau melihat wajahnya?"


Hanya gelengan kepala yang di dapat dari pria tersebut karena memang ia sendiri tidak sadar bagaimana bisa berurusan dengan penjual organ ilegal. "Selama ini mereka selalu berganti orang ketika menemuiku."


"Mereka sudah mentargetkan dirimu sejak awal." Jessi mulai bergerak melangkah ke sana kemari sambil berpikir cukup lama, hingga sesuatu mulai terbesit dalam benaknya. "Di mana ibumu di rawat?"


"Di Rumah Sakit Bahagia."


"Rumah Sakit Bahagia?" Jessi mengernyitkan dahi mendengar penuturan tikus kantor tersebut karena selama di sini dia memang belum banyak tahu tentang rumah sakit itu.


"Itu adalah rumah sakit yayasan masyarakat kurang mampu, Nona. Milik pemerintah yang digunakan untuk layanan publik dan sebagian biaya ditanggung oleh negara."


Suara tawa menggelegar di seluruh ruangan. Kepalanya menggeleng mendengar pernyataan itu. Terjawab sudah bagaimana mereka bisa mencari targetnya.


"Apa ibumu sudah lama dirawat di sana?" Sebuah seringai mengejek tergambar jelas di wajah Jessi. Bukan tanpa alasan, tetapi ini jelas konspirasi pembohongan publik.


Pikiran Jessi melayang ke mana-mana membayangkan jika kemungkinan terburuk yang ada dalam pikirannya adalah benar. Bukankah ini berartikan masih ada pejabat pemerintah yang lebih berkuasa dari Barron Night dalam melindungi mafia Virgoun.


Segala hal berhubungan dengan Barron Night juga bisa mejadi petunjuk atas keluarganya sendiri. Alasan pria itu dan Tom Evening sampai membunuh kedua orang yang menyelidiki kasus keluarganya pasti berada di baliknya.


Memikirkan hal itu membuat Jessi merasa pusing. Otaknya seakan tak mampu untuk menelisik lebih jauh semuanya sendirian. "Jack, siapkan uang yamg dia perlukan besok!"


"Baik, Nona."


"Kau! Lakukan tugasmu seperti biasa, Jack akan mengawasimu dari kejauhan. Ketika kau kembali bertemu dengan mereka, kemungkinan nyawamu berada dalam bahaya. Apa kau punya permintaan?" Jessi kembali menatap lekat pria yang terlihat malah tersenyum itu.


"Nona, jika mereka mereka mengambil nyawaku. Tolong bawa jasatku kembali sebelum napas terakhirku dan berikan jantungku pada ibu. Kumohon jagalah ibuku!" Sebuah binar mata ketulusan kasih sayang seorang anak terlihat jelas di matanya yang indah.

__ADS_1


Jessi mengangguk, mengiyakan permintaan pria tersebut dengan hati nyeri. Bahkan ketika dia mengatakan nyawanya mungkin dalam bahaya, pria tersebut tetap saja mengingat ibunya yang masih terbaring di rumah sakit.


"Kita bergerak besok, ketika kau bertemu dengannya, aku akan memindahkan ibumu ke rumah sakit lain." Jessi berkata dengan serius, jika benar rumah sakit itu sendiri yang menjadi akses penghubung antara penjualan organ dengan pasiennya. Maka kemungkinan mereka hanya ditipu setelah mendapatkan semua uang dari korbannya.


"Tapi, Nona. Apakah rumah sakit itu juga bermasalah?" Pria tersebut terlihat mulai khawatir ketika Jessi meragukan rumah sakitnya. Memang benar selama ini, biaya yang di tawarkan cukup rendah. Namun, kondisi ibunya semakin hari semakin kritis, hingga tim dokter memaksanya untuk segera mencari donor jantung agar ibunya tetap hidup.


Sementara itu, mencari donor jantung tidaklah mudah. Hanya orang yang berada di ambang kematian yang diperbolehkan mendonorkan jantungnya karena mereka juga akan kehilangan nyawa setelah organnya diambil.


Sebab itulah, pria tersebut nekat mengiyakan tawaran para mafia untuk membeli jantung ilegal demi ibunya. Namun, jika rumah sakit itu juga bermasalah, bukankah sejah awal dia sudah berdosa karena membawa ibunya ke sana.


"Aku hanya ingin memberikan fasilitas terbaik untuk ibumu." Hanya itu kalimat yang diucapkan Jessi ketika melihat binar kekhawatiran di mata pria tersebut.


Tidak semua orang bisa menerima keadaanya. Begitu pula ia yang terlihat sangat menyayangi ibunya. Lebih banyak tahu hanya akan membuat pria tersebut semakin tak terkendali. Terlihat dari caranya membentak Jessi tadi, hanya satu pancingan tentang ibu, berhasil menghidupkan emosi di hatinya.


"Terima kasih, Nona."


"Pergilah! Lakukan tugasmu seperti biasa dan jangan katakan hal ini kepada siapa pun!"


"Baik, Nona." Pria tersebut lantas membungkuk hormat, lalu keluar dari ruangan itu, sedangkan Jessi memutar langkahnya untuk duduk di kursi.


"Nona." Jackson menyerahkan segelas air putih ketika melihat sang nona memijat pelipisnya.


"Terima kasih. Jack, kau urus uang yang akan dia bawa besok!"


"Baik, Nona."


"George, kau tahu banyak tentang mafia itu sebelumnya. Menurutmu siapa dia?" Jessi menatap lekat kartu nama hitam yang diletakkan di atas meja.


"Entahlah, Nona. Saya hanya mengetahui Johny Messis sebagai pemimpinnya, sedangkan yang lain." George menggeleng, sejak awal dia tidak pernah berurusan dengan para mafia. Namun, pembantaian besar-besaran itulah yang memaksanya terjun ke dunia bawah dan menjadi seperti sekang.

__ADS_1


"BM," gumam Jessi sambil meraih kembali kartu nama tersebut dengan sorot mata tajam. Bersamaan dengan sebuah rasa nyeri yang menjalar di hatinya.


To Be Continue....


__ADS_2