Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Luka Hati


__ADS_3

Semenjak mengetahui Jane sudah sadarkan diri, Damien malah semakin menjauh darinya dan tak pernah lagi memerlihatkan batang hidungnya. Namun, wanita itu seakan tidak peduli dengan pria tersebut. Baginya yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Jessi–adik kesayangannya.


Meskipun Jane tidak tahu apa motif Damien mendekatinya, tetapi dia cukup sadar diri jika ayah kandungnya adalah sumber dari malapetaka yang terjadi selama ini, hingga membuat situasi menjadi kacau. Padahal semua ini bukan salah wanita tersebut, tak ada seorang pun bisa memilih siapa orang tua mereka. Akan tetapi, baginya kesalahan tetaplah kesalahan.


Apa yang dilakukan oleh Jerry Morning tetap akan berimbas padanya seberapa pun dia menyangkalnya. Perasaan pada Damien hanya dapat melukai keduanya jika mereka memaksa untuk bersama dan Jane jelas bisa melihat betapa menderitanya pria itu akibat ulah Jerry. Sehingga dia memilih juga menjauh dari hidup pria tersebut tanpa ragu.


Jane berdiri di dekat kaca kamarnya, menatap jauh gelapnya malam penuh dengan lampu kota, mengelus sebuah liontin kalung yang melingkar di lehernya. Pandangannya menatap jauh di kesunyian malam. Tinggi gedung membuat suasana hiruk pikuk kota tak terdengar di ruangan ini.


Nenek Amber melangkah mendekatinya dengan perlahan. "Apa ada yang kau pikirkan, Sayang?" Tutur katanya terdengar begitu lembut, wanita tua itu meraih sebelah tangan cucunya yang tak lagi terpasang jarum infus.


"Nenek belum tidur?" Jane menoleh ke arahnya secara perlahan.


Lamunan membuat wanita tersebut tidak menyadari jika sang nenek sudah berada di dekatnya. Sebelumnya dia beranjak ketika Nenek Amber terlihat sudah terlelap, tetapi tak disangka ternyata sang nenek juga masih terjaga.


Nenek Amber hanya menggeleng perlahan. "Apa ada sesuatu yang mengusik pikiranmu?"


Tanpa sadar pertanyaan Nenek Amber berhasil membuat buliran bening berkumpul di pelupuk mata Jane. Rasa sakit dan bersalah seakan menghantamnya sangat keras, hingga membuat dadanya terasa nyeri dan sulit untuk bernapas. Kondisi Jessi yang belum juga pulih membuat wanita itu tersiksa secara lahir maupun batinnya.


Dia langsung mendekatkan tubuh ke arah sang nenek, memeluk dengan erat dan menumpahkan segala air mata di pundak tua itu. Tubuh Jane bergetar karena isakan tangis yang tak berhenti dengan buliran sebening kristal mengalir deras di pipinya.

__ADS_1


Hati Jane seakan tercabik-cabik, jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya dia bahkan tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Bahkan bersedia mengganti dengan nyawanya karena bagi Jane, tak ada yang lebih berharga di dunia ini selain kebahagiaan Jessi dan Nenek Amber.


"Jessi, Nek." Dengan sesenggukkan wanita tersebut mulai mengeluarkan isi hatinya. Belati tak terlihat menghujam jantungnya tak berbekas dan hanya meninggalkan rasa sakit yang luar biasa.


Nenek Amber yang merasakan kesedihan cucunya hanya bisa mengusap punggung Jane perlahan. "Ini bukan salahmu, Sayang. Semua ini sudah menjadi suratan takdir."


Kesedihan ikut menyelimuti hati wanita tua tersebut, berada di antara kedua cucu yang sama-sama terluka, baik secara fisik maupun hati membuat Nenek Amber sangat tahu beban mereka.


Dua saudara tidak sedarah, tetapi saling menyayangi sejak kecil, harus menerima kenyataan jika takdir terlalu kejam untuk keluarga kedua mereka.


Jane tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang seorang ayah semenjak dilahirkan. Dia hanya memiliki seorang ibu hingga akhirnya dibtinggalkan ketika berusia sepuluh tahun. Sementara Jessi, tak tau bagaimana rasa perhatian kedua orang tuanya sejak kecil, tetapi masih memiliki Nenek Amber bersamanya.


"Kenapa takdir begitu kejam, Nek? Kenapa dia harus menyakiti Jessi? Kenapa bukan aku saja?" Semakin dalam isakan tangis wanita tersebut di pundak neneknya, hingga membuat pundak tua itu basah dengan air mata dan ingus dari sang cucu yang menumpahkan segalanya.


"Tapi, semua memang salahku, Nek. Jika bukan karena keserakahan pria tua itu, Jessi tidak perlu kehilangan keluarganya." Tangis pilu Jane untuk pertama kali berhasil menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.


Wanita tersebut tidak pernah sekali pun menangis atas apa yang terjadi padanya selama ini. Bahkan dia begitu tegar ketika sang ibu meninggalkannya sendirian di dunia ini, hingga akhirnya mereka berkumpul menjadi satu keluarga yang saling menyayangi.


"Sssttt! Tenanglah, Sayang! Keserakahannya bukanlah salahmu. Nenek yakin sebenarnya Jessi sudah mengetahui semua ini. Tapi, lihatlah! Dia tidak memusuhimu dan tetap menjaga perasaanmu dengan tidak melawan pria itu seperti cara Jessi mengatasi musuh biasanya." Nenek Amber terus mengelus punggung cucunya, memberikan ketenangan sebagai orang tua agar Jane tak lagi menyalahkan dirinya sendiri. "Kau harus yakin jika Jessi bisa segera pulih."

__ADS_1


"Tapi, karena semua ini dia jadi terluka, Nek."


"Lihat, Nenek!" Nenek Amber menangkupkan kedua tangan di pipi cucunya, menatap lekat lingkaran mata Jane yang kini sudah merah dan sembab akibat linangan air mata sejak tadi. "Kau harus yakin adikmu bisa segera pulih! Dia adalah wanita yang kuat, begitu juga dengan calon keponakanmu. Jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang tidak kau lakukan!"


Mendengar penjelasan Nenek Amber Jane semakin terisak dan kembali memeluknya dengan erat. Wanita tua itu adalah orang terhebat yang berhasil mendidik keduanya hingga menjadi seperti sekarang. Sumber kekuatan dan juga hal paling berharga bagi Jane serta Jessi selama ini. Melebihi apa pun milik mereka.


"Sekarang tenang, ya! Kau juga perlu beristirahat, tubuhmu baru saja pulih, jika kau terlalu banyak berpikir dan kembali sakit, siapa yang akan menjaga adikmu besok?" Jane mengangguk pelan.


Nenek Amber pun membantu langkah Jane menuju ranjang. Mereka memang di tempatkan dalam satu ruangan sesuai permintaan Nenek Amber sendiri setelah pulih. Dia yakin cucunya yang satu ini akan lebih terluka secara mental daripada fisik.


Mengingat sifatnya yang sangat menyayangi sang adik. Bukan hal mustahil jika Jane mampu berbuat nekat dan melukai dirinya sendiri karena rasa bersalah. Padahal wanita itu kini mengalami kerusakan wajah akibat ledakan Bazooka hari itu. Namun dia tidak mempermasalahkannya sebab hal terpenting ini adalah kesembuhan Jessi.


Sementara itu, di luar ruangan Damien yang mendengar dan melihat segalanya hanya bisa terduduk di lantai sambil ikut merasa bersalah. Dia tidak menyangka jika Jane akan sesayang itu terhadap adiknya.


"Maafkan aku." lirih pria itu ikut menangis dalam diam.


Dendamnya sudah salah sasaran dan hatinya pun ikut terluka karena perbuatannya sendiri. Selama ini Damien selalu menjaga Jane dari luar ruangan setiap malam. Dia tidak berani mendekat dan hanya melihatnya dari luar, memastikan jika wanita itu akan baik-baik saja.


Namun, Damien tidak menyangka jika Jane tetaplah seorang wanita yang bisa terluka, dan dia terluka ketika melihat Jessi masih belum sadarkan diri. Sama seperti dirinya sendiri.

__ADS_1


"Maafkan aku." Hanya itu kalimat yang mampu dia ucapkan sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.


To Be Continue....


__ADS_2