
Disebuah ruang kerja dalam rumah mewah seorang pria tengah duduk di kursi kebesarannya, dialah Barron Night. Dia sedang mengerjakan tugasnya, membuat izin legal kelancaran penerimaan barang kiriman dari Negara N untuk klan Virgoun.
Terlepas dari kekesalan karena vidio yang beredar, dia harus tetap menjalankan peran untuk para pendukung di balik layar. Setidaknya, rekaman itu tidak menampakkan wajah karena hal tersebut bisa membuat reputasi baik yang sudah dia bangun selama ini hancur begitu saja.
Dia harus menjaga image baik di depan masyarakat sebab keinginannya untuk duduk di kursi kementrian juga masih memerlukan dukungan dari berbagai pihak.
Seorang pelayan datang membawakan sebuah kertas untuk tuannya. Dia mengetuk pintu itu secara perlahan.
"Permisi, Tuan."
"Ada apa?"
"Ini, Tuan mendapatkan surat undangan."
"Bawa kemari!"
Pelayan itu mendekat dengan tubuh gemetaran, para pekerja yang lain mengatakan tuannya adalah sosok mata keranjang. Dia berjalan mendekat ke arah meja dan meletakkan surat itu di sana.
Belum sempat kertas itu menyentuh meja, tangan Barron Night sudah lebih dulu menangkap pergelangan tangannya dan berbicara dengan nada sensual. "Kenapa kau gugup sekali?"
"Ti—tidak, Tuan. Kalau begitu saya permisi dahulu." Pelayan itu hendak pergi, tetapi Barron menahannya.
Dia berdiri dari posisi duduk, menatap wanita cantik di depannya dari ujung kaki hingga pucuk kepala.
Dengan tatapan mesum Barron mengusap dagunya. "Cantik."
Pelayan itu mendongakkan kepalanya, dia terkejut mendengar penuturan lelaki tua di depannya. Apakah dia akan menjadi korbannya kali ini?
Barron menarik tangan wanita tersebut, melingkarkan tangan dengan erat di pinggang ramping perempuan muda di depannya.
__ADS_1
"Lepaskan saya, Tuan! Saya masih banyak pekerjaan di belakang." Wanita itu gugup ketakutan, wajahnya pucat pasi karena ketakutan yang membuatnya meremang seketika.
Dia bahkan baru mulai berkerja hari ini, tetapi sudah mendapatkan pelecehan dari majikannya. Jika saja dia tahu memiliki tuan rumah yang mata keranjang. Maka, dia akan menolak menerima pekerjaan ini, meskipun mereka menawarkan gaji yang besar.
"Apa yang kau takutkan? Aku adalah tuan rumah, mana yang lebih penting?" Barron berbisik di telinga wanita cantik itu. "Pekerjaanmu di belakang atau melayaniku?"
Seketika bulu roman wanita ini meremang mendengar kalimat menjijikkan keluar dari mulut tua yang kotor, keringat dingin mulai berucuran dalam tubuhnya. Barron bahkan tak mengenal usia yang sudah bau tanah, padahal umur pelayan itu bahkan jauh lebih muda jika dibandingkan dengan Emily.
"Tuan, saya mohon lepaskan saya! Biarkan saya kembali bekerja!" Gadis itu mencoba mendorong tubuh Barron dengan kuat, tetapi pria itu tetaplah anggota kepolisian yang memiliki tubuh lebih kuat darinya. Kekuatan gadis kecil tak akan mampu membuat dirinya bergerak bahkan hanya satu senti pun dari pelukan lelaki hidung belang ini.
"Siapa bilang aku tidak akan memberimu pekerjaan? Aku akan membiarkanmu bekerja tenang saja." Gadis itu menahan napas, dia menggigit bibir bawahnya sendiri karena ketakutan, buliran air sudah berkumpul di pelupuk matanya. "Tapi aku akani mengizinkanmu bekerja di sini, melayaniku!"
Sebuah seringai jahat terlihat di wajah pria tua yang bahkan lebih tua dari ayahnya itu. Air matanya tak mampu dibendung lagi, sedikit demi sedikit buliran bening jatuh di pipinya. Dia terisak memohon untuk dilepaskan.
"Sssttt ... jangan menangis! Apa kau belum pernah melakukannya?" Barron menghapus air mata di pipi wanita muda di depannya.
"Tuan, saya mohon lepaskan! Biarkan saya pergi!" Dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari cengkraman tuannya.
Pelayan itu meronta-ronta memukul dada majikannya, dia menangis tersedu-sedu mencoba melepaskan diri dari pria bejat di depannya. Wanita itu tidak punya pilihan lagi, diangkat lututnya dengan cepat hingga mengenai pusaka Barron.
Pria itu meringis memegang pusaka, tetapi belum sampai wanita itu di pintu keluar Barron sudah menariknya kembali. Dia menampar pelayan hingga jatuh tersungkur di lantai.
"Kau menguji kesabaranku!" Barron mencengkeram dagu wanita itu dengan kuat, dia berjongkok mensejajarkan tubuh dengan pelayan di depannya. "Lihatlah, bagaimana aku menghabisimu!"
Barron langsung mencoba membuka setiap kancing pakaian wanita di depannya, tidak peduli dengan lebam di sudut bibir pelayan itu. Dia hanya ingin memuaskan nafsu bejatnya.
Pelayan terus saja meronta-ronta, menendang dan memukul ke segala arah. Hal itu mengakibatkan Barron kembali menampar bagian lain di pipi hingga wanita itu pingsan dan jatuh tersungkur ke lantai.
"Jika saja kau diam dan menurut, aku tidak akan menyiksamu!"
__ADS_1
Barron lantas melampiaskan hasrat yang terpendam pada pelayannya. Dia memperkosa wanita di depannya, meskipun tubuh itu sudah terkulai lemas tak berdaya. Tak peduli apakah gadis ini masih hidup atau sudah mati.
Setelah selesai menikmati tubuh pelayan, dia menyiram wajah cantik itu dengan air di mejanya.
"Bangunlah!" Barron menepuk-nepuk pipinya dengan kasar.
Pelayan itu mulai mengerjapkan matanya, dirasanya perih di bagian inti, dan pakaian yang sudah terkoyak tak berbentuk. Seketika dia memeluk lututnya yang bergetar.
"Pergi ... pergi ... apa yang sudah kau lakukan padaku tua bangka?" Wanita itu menangis tersedu-sedu, dia merasa jijik dengan dirinya sendiri.
Tubuhnya bergetar, pelecehan yang dilakukan Barron sudah mengguncang mentalnya yang masih muda. Kesucian yang dia jaga direbut paksa oleh pria tua yang menjadi majikannya. Dia sangat menyesal memasuki kediaman ini, menerima tawaran pekerjaan dari temannya.
Barron melangkah ke mejanya. Mengambil sebuah amplop coklat berisikan tumpukan uang. Dia melemparkan benda itu ke wajah wanita yang masih bergetar tubuhnya.
"Ini bayaran untuk tubuhmu."
"Kau gila! Aku bukan pelac*ur!" Wanita itu berteriak dalam ketakutannya.
Barron hanya menyeringai mendengar penuturan wanita tak berdaya itu. Di usianya yang sudah tua Barron memang masih memiliki masalah Hiperseksual, salah satu gangguan yang terjadi di mana pengidapnya mengalami kecanduan terhadap ****. Dia melakukan hubungan dengan intensitas lebih tinggi dari orang normal, dan terlalu sering membayangkan lewat fantasi.
Dia sering melampiaskan hasrat bejatnya pada para pelayan muda di rumahnya. Hal ini jugalah yang menurun kepada Emily, membuatnya sama-sama memiliki tingkat tinggi pada gairah s*eksual.
Istrinya yang lebih suka berkumpul dengan teman-teman sosialita membuat dirinya bebas melakukan apa pun di rumah ini. Tak seorang pun penghuni rumah yang berani menolong wanita cantik korban kebejatan tuannya.
Kediaman ini selalu bergonta-ganti pelayan setiap harinya. Karena mereka tidak tahan dengan perlakuan majikan yang semena-mena, entah itu dari Kate, Barron, maupun Emily.
Penghuni rumah ini bukanlah manusia. Mereka semua suka menyiksa pelayan tanpa ampun. Meskipun gaji yang di tawarkan begitu besar, tetapi mereka bertaruh nyawa ketika memasuki kediaman ini dan kebanyakan pelayan baru tidak mengetahui hal itu.
Suara pintu dibuka dengan paksa terdengar jelas memekakkan telinga. "Apa yang kalian lakukan, hah?!"
__ADS_1
Dialah Kate, datang di saat yang tidak tepat. Seandainya saja, dia datang lebih awal mungkin wanita cantik itu tidak akan mengalami hal buruk seperti ini.
TBC.