Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Harapan


__ADS_3

Jessi ditemani suaminya menelusuri bank-bank yang menjadi target terakhir dari jarak paling dekat. Namun, hasil kedua bang sebelumnya hanyalah sebuah harapan kosong belaka.


"Sayang, bagaimana kalau kita tidak menemukan apa pun juga di sini?"


Dengan lembut Nicholas memegang bahu istrinya. "Sweety, kau harus yakin, aku selalu di sampingmu. Aku akan membantumu sampai kapan pun itu. Jadi, jangan patah semangat."


Sang istri hanya mengangguk, benar yang dikatakan suaminya. Dia tidak boleh putus asa begitu saja. Jika semua ini mudah, sudah pasti kakak dan pamannya menemukan terlebih dahulu kala itu.


Kini, mereka berdua berdiri di depan sebuah bangunan tua yang sudah tutup. Harapan terakhir atas segala prediksi, ketika menatap tempat di depan matanya, terlihat sudah cukup banyak tumbuhan rambat mulai menjalar di dinding. Bagian depan sudah tak terawat terpampang jelas di depan mata, dengan lingkungan terpencil dan jauh dari jangkauan kota.


Berulang kali tangan Jessi mengetuk pintu tua dengan ukiran teratai di kedua sisi, cukup lama tidak ada respons dari dalam yang malah membuat jantungnya berdetak kencang. Hingga beberapa saat kemudian, mulai terdengar derit engsel yang bergerak. Pintu kayu itu pun terbuka sebagian, menampakkan seorang wanita tua dengan tongkat di tangannya terlihat memunculkan wajah.


"Siapa kalian?" tanya wanita tua itu dengan pandangan mata menyipit.


Wajahnya sangat keriput, kurus, dan bahu mulai membungkuk, sehingga dia tidak bisa berdiri tegak. Usia tua membuatnya kesulitan mengetahui siapa yang datang, perlu waktu baginya untuk memperjelas pandangan mata tua yang sudah mulai buram.


Cukup lama tidak ada seorang pun bertamu ke tempat ini, hanya tetangga yang sesekali membelikan bahan makanan rutin setiap minggunya. Semenjak tempat ini di tutup belum ada tamu datang untuk mengambil kembali barang mereka atau menanyakan apakah tempat ini adalah bank sebelumnya.


"Permisi, Nyonya. Perkenalkan, namaku Jesslyn dan ini suamiku Nicholas." Dengan penuh harap Jessi dan Nich memperkenalkan diri. Ketika masih berada di depan pintu.


Wanita tua itu mengangguk. "Ada perlu apa kalian kemari?" Suara bergetar dan lirih membuatnya berbicara dengan pelan.


"Maaf, Nyonya jika kami mengganggu. Apa benar dahulu tempat ini adalah Dasa Bank?" Suara bariton Nich terdengar begitu sopan, membuat wanita tua itu membuka pintu lebar-lebar. Sudah cukup lama dia tidak mendengar seseorang menyebutkan nama tempatnya, setelah tidak lagi beroperasi karena aliran dana yang terhenti.


"Masuklah!" Wanita tua itu mempersilakan tamunya untuk masuk ke dalam bangunan yang kini menjadi tempat tinggalnya seorang diri.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu pun memasuki bangunan tersebut secara perlahan, pandangan mereka mengedar mengamati setiap sudut ruang. Tidak ada jejak renovasi di sana. Hanya bagian dalam yang terlihat seperti tempat penerimaan tamu, kini diubah menjadi ruang tinggal, mungkin nenek tua itu tinggal di sini sendirian menunggu bangunan ini, pikir keduanya.


"Silakan duduk!" Wanita tua itu mempersilakan keduanya untuk duduk di kursi yang tersedia, sedangkan dia melangkah menyalakan lampu penerangan terlebih dahulu.


Suasana ruangan tertutup membuat cahaya sulit untuk masuk jika tirai tidak dibuka, tetapi kondisi di dalam akan terlihat jelas dari luar kalau dia membukanya. Jadi, wanita tua itu memilih menyalakan lampu saja.


Setelahnya wanita tua itu melangkah untuk duduk di kursi, berhadapan dengan sepasang suami istri tersebut. "Ada apa kalian kemari?"


Pertanyaan sang nenek tua sukses membuat Jessi tersadar dari lamunannya akan tempat ini.


"Nyonya, kami ingin bertanya, apa sebelumnya Tuan David Alexander ada menyimpan suatu barang di sini?" Dengan jantung yang berdetak kencang Jessi mulai berbicara. Berharap menemukan jawaban yang dicari selama ini. Tangan dinginnya menggenggam erat telapak kekar suaminya, menyalurkan kegugupan dalam dirinya.


Mendengar pertanyaan Jessi, wanita tua itu memajukan sedikit kepala sambil mengambil kaca mata di meja. Butuh waktu cukup lama untuk mengenali wanita muda di depannya dengan lebih jelas. Dia menatap sepasang suami istri tersebut dalam-dalam. "Kau putri Nyonya Samantha?"


"Nyonya juga mengenal ibuku?" Binar bahagia di balik rasa terkesiap terlihat jelas di wajah cantik Jessi. Dia cukup terkejut sekaligus senang ketika nyonya di depannya mengenali kedua orang tuanya.


Kedua pasangan itu saling bertatapan karena terkejut dengan pernyataan wanita tua di depan mereka. Sesaat kemudian, kembali menatap sang nyonya di depannya.


"Apa, Nyonya mengetahui sesuatu?" Jessi semakin mengeratkan genggamannya di tangan sang suami. Entah berita buruk apalagi yang akan dia terima kali ini, cukup banyak kabar tak mengenakkan selalu menghampirinya sejak memutuskan memancing musuh.


"Nyonya Samantha hanya mengatakan, jika Tuan David tidak kemari untuk mengambil barang, mungkin sesuatu sudah terjadi pada mereka." Wanita tua itu mengalihkan pandangan, sorot matanya mengarah pada sebuah lukisan bunga teratai dengan pigura cukup besar terpasang di dinding. Salah satu simbol mata-mata pemberantas kejahatan milik kelompok Samantha.


"Maksud, Nyonya?" Jessi mengerutkan dahi karena cukup bingung dengan pernyataan wanita tua di depannya. Kenapa bisa ibunya yang malah menyimpan barang di sini dan bukan ayahnya. Akankah fakta baru kembali bermunculan.


"Ibumu adalah pemilik tempat ini yang sesungguhnya. Tapi, tidak ada satu orang pun fdi luar sana mengetahui hal ini, kecuali kami. Di sini bukan hanya sebuah bank, tetapi juga pusat informasi ilegal dari dunia hitam." Sejenak wanita tua itu menghentikan kalimatnya untuk mengambil napas. "Pejabat kotor itu, bukan hanya melakukan korupsi. Tapi, juga tindakan ilegal lainnya dan berusaha menutupi dengan menyuap mereka agar terbebas dari tuduhan. Ayahmu manusia adil, sayangnya tidak bisa jika hanya mengandalkan bukti legal yang sangat mudah dipalsukan oleh orang lain."

__ADS_1


"Jadi, ibu menyimpan semua informasi di sini untuk digunakan ayah sebagai penguat dugaannya?" Jessi terlihat begitu antusias, tidak menyangka jika kedua orang tuanya mampu bekerja sama, meskipun berada dalam bidang yang berbeda. Namun, memiliki tujuan yang sama, memberantas kejahatan jajaran atas. Patas saja bentuk kedua pedang di patung Themisnya berbeda.


"Benar, tapi sepertinya kasus terakhir sangatlah berbahaya karena mereka tidak kembali hingga saat ini." Sambil menundukkan kepala, wanita tua itu mengusap air matanya. "Mereka tak kembali untuk waktu yang cukup lama, meninggalkanku sendiri di sini."


Dia adalah ibu, sekaligus istri dari anak buah Samantha, mereka bertugas membantu ibunya Jessi untuk melakukan penyelidikan menyeluruh tentang dunia hitam. Namun, setelah mendapatkan bukti terakhir, suami dan anaknya menghilang entah ke mana. Tidak tahu apalah masih hidup atau sudah mati.


Sesaat kemudian, wanita tua itu mengusap buliran hangat di wajahnya. Tidak ada gunanya untuk meratapi semua ini, dia sudah ikhlas akan jalan takdir sejak awal. "Entah berapa banyak pembunuh bayaran yang dikirimkan para pejabat itu untuk nyawa ayahmu karena dia kebal terhadap suap. Tapi, Nyonya Samantha selalu bisa melindunginya dengan apa yang dimiliki."


Tangan wanita itu kembali mencengkeram kuat tongkat, untuk menopangnya ketika ingin berdiri dari kursi. Getaran di pergelangannya terlihat begitu jelas, mewakili usia yang jauh lebih tua dari Nenek Amber.


"Kemarilah!" Dengan tubuh membungkuk dan langkah ketiga kaki perlahan, serta tangan yang bergetar. Sang Nyonya melangkah pergi dari kursinya, menyusuri sebuah lorong ruang untuk menunjukkan sesuatu kepada kedua tamunya.


Jessi dan Nich mengikuti dari belakang sambil mengamati setiap dinding yang mereka lalui. Terpasang beberapa lukisan di beberapa tempat di sana. Semakin jauh kaki melangkah debu mulai menebal, menandakan bahwa tempat ini cukup lama tak terjamah.


Sepertinya nyonya di depan mereka sungguh melakukan semuanya sendirian, sehingga hanya mampu membersihkan bagian depan. Tak lama kemudian, langkah wanita di depannya terhenti, dia memutar tubuh dan menatap terlebih dahulu sebuah pigura di sampingnya.


Cukup lama dia mengamati. "Di sini brankas milik Nyonya Samantha dan Tuan David."


Jessi mengamati sekitar, hanya ada lorong dan dinding, tetapi mengapa dikatakan brankas berada di sini. "Nyonya, tidak ada apa pun di sini?"


Tangan tua itu lantas mengambil lukisan teratai secara perlahan. "Tolong pegang sebentar!" Dia menyerahkan kepada Nicholas di belakangnya.


Terlihat sebuah titik hitam di bagian tengah dinding tersebut. Wanita tua itu lantas menekannya perlahan dengan tangan yang selalu bergetar, hingga tak lama kemudian, sebuah kotak terlihat di sana. "Jika kalian tahu sandinya silakan! Baru nanti brankas akan terlihat." Wanita tua itu melangkah mundur, membiarkan Jessi untuk mengambil alih.


Tangan Jessi mulai terulur untuk memegang tombol kunci kombinasi putar di depannya. Dia mengarahkan sesuai dengan angka yang tertera di patung Themis sang ayah. Sesaat setelah semuanya selesai, dinding bergerak ke berputar, memperlihatkan sebuah rak berisikan berkas-berkas cokelat di dalamnya.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2