Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Pilihan Jane


__ADS_3

Setelah menerima semua kenyataan itu, Jessi dan Nich bergerak menuju apartemen Jane. Dia perlu menanyakan sesuatu sebelum bertindak karena tidak ingin kakaknya selalu dibayangi dengan rasa bersalah seumur hidupnya.


Setibanya di depan apartemen, tangan Jessi mengetuk pintu dari luar dengan keras sambil berteriak. "Jane, buka pintunya!"


Sekali berteriak tidak ada jawaban dari dalam. "Jane buka pintunya cepat!" Dua kali menggedor masih tak ada sahutan.


"Jane cepat buka atau akan aku ratakan tempat ini!" Kali ketiga Jessi menendang pintu itu kuat-kuat karena kesal, hingga tak lama kemudian terlihat Jane membuka pintu tersebut dengan wajah pucat.


"Kau berisik sekali." Suaranya terdengar begitu lirih, bahkan pandangannya terlihat sayu.


"Jane, Jane kau kenapa?" Jessi langsung menangkupkan kedua tangan di wajah Jane dengan panik melihat betapa pucatnya sang kakak untuk pertama kali. Namun, wanita tersebut tidaklah demam.


"Aku tidak apa-apa, ayo masuk!" Mereka pun memasuk ke dalam apartemen, terlihat tempat itu tak lagi rapi seperti biasanya.


Barang-barang hancur berantakan di lantai, sepertinya Jane baru saja menghancurkan tempat ini hingga membuat Nich dan Jessi membelalakkan mata.


"Sayang, bisakah kau membelikan kami makanan?" Jessi perlu waktu untuk berbicara empat mata dengan Jane dan Nich memahami hal itu. Dia pun kembali keluar meninggalkan dua bersaudara tak sedarah itu di apartemen.


Jessi membersihkan barang-barang di atas sofa terlebih dahulu, membiarkan Jane untuk berbaring di sana melihat kondisinya yang tidak sehat.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Jessi sambil menyelimuti kaki Jane dengan kain di sampingnya.


Jane hanya menatap lekat ke arah Jessi tanpa berkedip sekali pun. Pikirannya melayang entah ke mana ketika mengingat kembali hal mengerikan yang terjadi dengan keluarga Alexander. Wanita tersebut lantas mengeluarkan tangannya dari balik selimut, menggenggam erat tangan adiknya.

__ADS_1


"Maafkan aku." Suara Jane terdengar parau dan menyesakkan, mata sembab menandakan wanita tersebut sudah menangis untuk waktu yang cukup lama. Guratan penyesalan atas apa yang terjadi terlihat jelas di wajahnya. Bahkan luka sisa pertempuran masih membekas di pipinya.


Mereka langsung saling berpelukan, tumbuh bersama sejak kecil membuat keduanya memiliki ikatan yang bahkan lebih kuat dari saudara kandung.


"Ini semua bukanlah salahmu, Kak. Di sini kau juga korban." Jessi jelas tahu bagaimana Jane hidup seorang diri dengan luka yang selalu dia sembunyikan, meskipun wanita itu mencoba tegar dan menutup rapat masalahnya, tetapi siapa pun pasti bisa melihat jelas jika Jane sesungguhnya adalah orang paling terluka akibat perbuatan Jerry Morning.


"Aku adalah putrinya, seberapa aku menyanggahnya hal itu tetaplah kenyataan." Berlinang air mata sudah pipi Jane mengingat semua ini. Jessi langsung melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu sang kakak dengan kuat.


"Lihat aku! Bukankah kau mendengarnya sendiri kalau dia bahkan tidak mengakui memiliki anak!" Jessi berbicara dengan tegas dan menatap tajam ke arah kakaknya yang enggan menatapnya untuk pertama kali. "Lihat aku, Jane! Sadarlah!"


"Apa selama ini dia tahu kau putrinya, hah? Bahkan ketika aku mengatakan hal itu dengan tegas dia menyanggahnya! Lalu, kenapa kau harus merasa bersalah karena ulahnya?" Suara Jessi terdengar begitu keras memenuhi ruangan, jika saja apartemen ini tidak kedap suara, sudah pasti akan ada laporan karena keributan mereka.


"Karena dalam tubuhku mengalir darah yang sama dengannya. Meskipun dia tidak mengakuiku, tapi aku tidak akan pernah ada di dunia ini tanpa dia." Suara Jane tak kalah keras dengan Jessi dan ini adalah pertama kalinya dia membentak sang adik kesayangan. "Seberapa pun aku menyangkalnya, dia tetaplah suami ibuku."


Keduanya sama-sama berlinang air mata, sebagai pihak keluarga korban dan juga pelaku yang hidup berdampingan bertahun-tahun lamanya membuat keduanya saling tersakiti jika hanya mementingkan ego dan dendam semata.


"Aku selalu menganggapmu sebagai kakakku sejak dulu, kini, dan selamanya. Jadi, biarkan aku tetap menjadi adikmu seperti sebelumnya." Jessi menatap teguh, wajah sang kakak di depannya.


Baginya tidak ada hal yang lebih penting di dunia ini selain keluarga yang kini dia miliki. Dibandingkan harus larut dalam dendam, bahkan jika Jane memintanya untuk membebaskan Jerry Morning, Jessi bersedia melakukannya.


Selama ini Jane sudah menjaganya sejak kecil lagi, memberikan kasih sayang tak terhingga melebihi nyawanya sendiri. Kakak yang selalu ada di saat apa pun dalam hidupnya, ketika kondisi senang maupun sedih, menuruti setiap keinginan Jessi tanpa pamrih.


Siapapun pasti bisa melihat ketulusan yang Jane berikan kepada adiknya. Jadi, Jessi juga akan melakukan apapun demi kakaknya, termasuk melupakan dendam atas kematian keluarganya jika memang itu keinginan sang kakak.

__ADS_1


"Maukah kau tetap menjadi kakakku, Jane?" Tanpa ragu Jane mengangguk cepat diiringi buliran deras air mata. Mereka kembali saling berpelukan menguatkan hati yang sama-sama terluka.


Air mata membasuh wajah keduanya, mengeluarkan segala beban yang mengganjal di hati cukup lama. Hingga beberapa saat kemudian, keduanya kembali tenang.


"Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Jane.


"Kali ini aku akan membiarkanmu mengambil keputusan."


"Kau yakin?"


Terdengar embusan napas kasar dari Jessi, wanita itu tersenyum menatap sang kakak sambil meraih tangannya. "Meskipun dia sangat jahat kepada keluargaku. Tapi, dia beruntung memiliki putri hebat sepertimu. Tanpa kau, aku bukanlah apa-apa, dan dirimu lebih berharga daripada dendamku."


Jessi mengucapkan semua itu dengan tulus. Selama ini Jane tidak pernah meminta apa-apa kepadanya. Jadi, jika sang kakak menginginkan kebebasan Jerry Morning, dia akan melakukannya.


Namun, ternyata Jessi salah, Jane tidak menginginkan hal itu. Dia adalah orang yang memegang teguh keadilan, jadi wanita itu tak akan meminta adiknya untuk mengampuni nyawa Jerry karena memang pria itu pantas mendapatkannya.


"Lakukan apa yang kau mau!" Jane mengeratkan jemarinya di telapak tangan Jessi. "Dia memang bersalah dan kau pantas menghukumnya. Tapi, sisakan nyawa terakhirnya untukku!"


"Kau yakin hanya itu yang kamu mau?"


Jane mengangguk, sebagaimana Jessi tetap menganggap dirinya seorang kakak, dia juga akan selalu menjadikannya adik, begitu selamanya. "Kau bebas melakukan apapun pada pria tua itu. Seperti katamu, dia tidak pernah menganggapku ada. Jadi, biarlah semua ini menjadi rahasia kita."


Sebuah senyum terlukis indah di wajah Jane di akhir kalimatnya. Tidak terlihat sedikitpun penyesalan mengatakan hal itu, meskipun ada rasa nyeri karena tak diakui, tetapi semuanya adalah pilihan Jerry Morning.

__ADS_1


To Be Continue..


__ADS_2