Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Anugerah atau Musibah


__ADS_3

"Bagaimana? Setuju?" tanya Jessi lagi pada Rahmat, tetapi pria tersebut hanya diam dan tak menanggapinya. "Baiklah, kalau kau tidak mau menuruti perintahku, lebih baik serahkan surat pengunduran dirimu nanti. Aku tidak mau memiliki bawahan pengecut yang bahkan tak bersedia menikahi pujaannya."


Melihat tidak ada respon sedikit pun dari Rahmat, Jessi seketika memalingkan wajah ke arah lain layaknya seorang yang tengah merajuk. Dia bahkan memunggungi sang suami di sampingnya tanpa rasa bersalah. 


"Sweety, kenapa kau jadi marah padaku, hmm?" Nicholas mencoba untuk membujuk sang istri yang tampak begitu merajuk.


Akan tetapi, Jessi malah mengerucutkan bibir sambil mengelus perutnya. "Baby, sepertinya apa yang kalian inginkan tidak akan terwujud. Daddy kalian juga tidak peduli dengan keinginan Mommy," ujar Jessi memelas mengeluarkan jurus ampuh agar suaminya bergegas menuruti apa yang dia inginkan. 


 Seketika Nicholas pun berteriak pada Rahmat yang masih mengemudikan mobil dengan tangan dinginnya sejak tadi. "Hei kau! Mau menikah sekarang tidak? Apa kau mau tanggung jawab jika nanti anak-anakku suka meludah, hah?" 

__ADS_1


"Tapi, Tuan. Saya belum pantas mempersunting Dove. Apalagi langsung menikahinya sekarang," ucap Rahmat mencoba untuk menyelamatkan diri. "Bahkan rumah pun masih ngontrak," gumamnya lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Nicholas.  


Nicholas pun segera mengeluarkan sebuah cek kosong dari saku jas bagian dalamnya dan langsung memajukan tubuh untuk meletakkan kertas tersebut di depan Rahmat. "Nah, kau tulis sendiri berapa yang kau butuhkan untuk semua itu. Pokoknya kau harus menikah sesuai keinginan istriku hari ini juga," tegas Nich tanpa bisa dibantah. 


"Tuan, dia tidak mencintai saya. Bagaimana saya bisa memaksanya untuk menikah?" Rahmat masih mencoba mencari alasan lain. Menghadapi sepasang suami istri yang sama-sama gilanya sungguh membuat Rahmat serasa benar-benar ikut gila. Bagaimana bisa dia memaksa Dove yang bahkan baru kemarin mencoba melupakan Damien untuk menikah dengannya. Konyol, sungguh ide yang sangat konyol baginya.


Namun, Nich yang melihat istrinya terus saja mengeluarkan ekspresi memelas seakan tak mengerti apa yang ada di pikiran Rahmat dan terus memerintahnya. "Aku tidak mau tahu! Gunakan cara apapun untuk mengajaknya menikah! Terserah kau mau langsung memerkosanya atau menawarkan perkawinan kontrak. Aku tidak peduli dengan hal itu! Pokoknya kau harus menikah hari ini juga, titik!" 


Sementara itu, Jessi tersenyum kecil mendengar ide gila yang keluar dari mulut suaminya tersebut. "Ah, benar. Kenapa tidak melakukan kawin kontrak saja. Masa kontrak adalah saat terbaik untuk membuatnya jatuh cinta padamu yang bodoh ini." 

__ADS_1


Rahmat hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dalam hatinya menyetujui apa yang disarankan Jessi, tetapi logikanya menolak hal itu. Baginya pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan. Apalagi di sini keduanya jelas berbeda keyakinan maupun kewarganegaraan. Bagaimana Rahmat meyakinkan hal itu pada Dove nantinya. 


Sesaat kemudian, mobil tersebut mulai memasuki pelataran rumah sakit. Tentu saja, hal itu dimanfaatkan Rahmat untuk berpikir. Bukan hal mudah mengambil keputusan dalam berumah tangga, meskipun dia sudah tinggal di negara ini cukup lama. 


"Izinkan saya berpikir terlebih dahulu, Nyonya," ujar Rahmat setelah mobil terparkir dengan sempurna. 


"Aku beri kau waktu satu jam. Tanyakan pada hatimu, mana yang kau inginkan. Membantunya menyembuhkan luka dan masuk ke hatinya secara paksa. Atau membiarkan dia sendirian dan perlahan tak membutuhkanmu." Tanpa membuang waktu Jessi dan Nich melangkah keluar dari mobil meninggalkan Rahmat seorang diri memikirkan perkataan Jessi baru saja. 


Berulang kali Rahmat mengembuskan napas kasar dengan kedua tangan di tekuk ke atas kemudi untuk menyangga kepalanya yang menunduk. Entah harus dibilang ini suatu anugerah atau musibah. Dia bisa saja dengan paksa memasuki hati wanita tersebut, tetapi pria itu juga enggan menjadi persinggahan setelah kekecewaan Dove dalam urusan cinta. Namun, jika mau seharusnya dia pun bisa membuat Dove jatuh cinta apalagi posisinya sedang menyembuhkan luka. Tugasnya hanya menggenggamnya dan menunjukkan betapa indah dicintai. 

__ADS_1


To Be Continue… 


__ADS_2