
Seorang pria masih berkutat dengan tumpukan dokumennya, padahal hari sudah menuju petang. Dering ponsel di atas meja menghentikan aktivitasnya.
Sejenak Nich tersenyum melihat nama penelpon yang tertera di layar ponselnya. Ada apa Jessi menghubunginya sore begini? Apa isi kartunya sudah terkuras habis mereka gunakan untuk berbelanja hari ini?
Senyum mengembang di wajah tampannya ketika menerima panggilan. "Hello, Sweety."
"Sayang, Mommy sangat keren." Suara Jessi terdengar begitu antusias menceritakan tindakan mommynya, yang membuat Nich mengerutkan dahi ketika kata 'keren' tersemat di sana.
"Mommy? Apa yang dilakukan Mommy, Sayang?"
"Oh, Mommy membawa mobil sambil nyepot-nyepot. Kau tahu, Sayang? Ini sangat menyenangkan."
Seketika Nich berdiri dari kursinya dengan wajah yang merah padam. Apa yang diajarkan ibunya pada sang istri kali ini?
"Ubah mode pengeras suara sekarang! Aku ingin bicara sama Mommy." Suara tegas Nicholas terdengar begitu jelas. Amarah seakan berkumpul di kepala membuat ekspresi bahagianya berubah dalam sekejap mata.
Sang istri lantas mengubah mode pengeras suara di panggilan. Lalu terdengar suara sang ibu di ujung panggilan.
"Ya, Son."
"Mommy! Apa yang, Mommy lakukan pada istriku? Bukankah, Mommy tahu drifting itu sangat berbahaya?" Suara teriakan kemarahan Nich terdengar begitu keras. Dia sungguh emosi sendiri kali ini jika sampai ibunya mengajarkan hal aneh ke pada istrinya. Dia bahkan sampai memijit pelipis hanya dengan membayangkannya saja.
"Cih, kau tidak tahu situasinya, makanya bisa bicara seperti itu! Cepat kemari kalau kau tak ingin menjadi duda kembang di usia muda! Kami sedang diserang bodoh!" Suara mendengus kesal Laura membuat Nich tersadar dari bayangannya.
"Apa? Aku akan segera ke sana!" Nich langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban dari mereka. Segera di meraih jas di tempatnya dan melangkah keluar ruangan.
Di luar Willy yang melihat langkah terburu-buru tuannya segera berdiri. "Apa terjadi sesuatu, Tuan?"
Nich menghentikan langkah untuk memberikan pesan kepada Willy. "Kau hubungi Daddy! Beritahu kalau Mommy sedang dalam bahaya!" Dia kembali melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa menuju area parkir.
Sejenak dia menatap ponsel untuk mengetahui posisi istrinya. Rasa khawatir menyeruak dalam diri pria tersebut karena T dan R yang biasanya menjaga Jessi dari kejauhan sedang berada di laboratorium untuk diprogram ulang.
Dia melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Nich sangat paham bagaimana bahayanya sang ibu ketika memegang kemudi, bukan hanya orang di dalamnya bisa muntah-muntah. Namun, juga kondisi mobil yang pasti akan rusak parah.
Berulang kali dia mengemudi sambil melihat posisi titik merah di ponselnya. "Pantai." Nich mengernyitkan dahi mengetahui jalur yang digunakan ibunya.
__ADS_1
Jalan menuju pantai merupakan jalur favorit Laura untuk bermain drifting, lokasi sepi dengan turunan dan banyak kelokan membuat tempat itu cukup berbahaya. Tak lama kemudian, dia melihat rombongan mobil yang dikenalnya George, Jackson, Olivia bersama anak buah Jessi yang lain menuju arah sama di belakang.
Namun, ketika jarak mereka hampir dekat, suara dentuman mobil meledak dari kejauhan terdengar begitu keras.
"Sial! Semoga tidak terjadi apa-apa." Nich semakin kencang melajukan mobil. Baru beberapa menit perjalanan Nich sudah mulai melihat mobil istrinya dari arah lain.
Laura yang melihat mobil putranya langsung menghentikan laju kendaraan dengan gaya sliding-nya, membuat Jessi langsung membuka pintu dan berlari ke arah tepu jalan.
"Huekk, huekk." Jessi memuntahkan segala isi perutnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya kali ini, padahal tadinya dia baik-baik saja.
Nich yang melihat istrinya langsung keluar dari mobil untuk menghampiri Jessi. "Sayang, kau baik-baik saja?" Raut kekhawatiran tergambar jelas di wajah tampan pria tersebut.
Jessi hanya mengangkat tangan sebagai tanda bahwa dia baik-baik saja. Akan tetapi, faktanya wanita tersebut terus menerus mengeluarkan isi perutnya semakin banyak. Perlahan Nich memijit tengkuk istrinya agar lebih lega. Semua orang yang melihatnya lantas keluar dan menghampiri.
"Nona." Olivia menyerahkan sebotol air mineral kepada Nich.
Pria itu mengambilnya dan membukakan untuk Jessi. "Minumlah dulu, Sweety!"
"Sayang, kau tidak apa-apa?" Laura berlari panik menghampiri menantu kesayangannya. Dia tidak menyangka jika akan berakibat seperti ini pada akhirnya.
"Ini semua gara-gara, Mommy. Apa yang, Mommy lakukan pada istriku?" Nich mendengus kesal melihat istrinya yang terlihat tidak baik-baik saja, sehingga meluapkan segala amarah ke pada ibunya.
Nich melebarkan mata mendengar celotehan ibunya. "Mommy ...."
Belum sempat Nich menjawab Jessi sudah memotong kalimatnya. "Sayang, aku tidak apa-apa. Semua ini bukan salah Mommy. Sekarang lebih baik kau membawaku pulang." Jessi bergelayut manja di tubuh suaminya sambil mengedipkan mata ke pada Laura.
Hanya dengan cara ini suaminya akan berhenti marah-marah.
"Ayo kita pulang! Kau urus masalah di sini, dan bawa pulang sekalian wanita tua itu!" Nich membopong tubuh Jessi dan meninggalkan pesan kepada anak buah istrinya yang membuat ibunya seketika berceloteh ria.
"Yak, bocah tengik sialan! Kau ingin jadi anak durhaka ya?" Laura mendengus kesal meluapkan amarah dengan banyak menyumpah serapah anaknya yang kurang ajar.
Namun, putranya tidak menghiraukan ocehan sang ibu dan tetap mengemudikan mobil meninggalkan lokasi bersama sang istri.
"Sweety, apa kau baik-baik saja?" Nich mulai merasa khawatir melihat wajah pucat istrinya. "Kita ke rumah sakit!"
__ADS_1
"Tidak, Sayang. Aku baik-baik saja, mungkin hanya butuh istirahat sebentar karena terlalu telah seharian." Jessi mencoba untuk menenangkan suaminya yang terlihat begitu khawatir.
Dia sendiri tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja perutnya terasa mual, padahal sebelumnya ketika mobil yang dikemudikan ibu mertuanya melaju begitu kencang dan ekstrim Jessi masih merasa baik-baik saja.
Bisa dibilang dia malah ketagihan berada di mobil yang dikendalikan ibu mertuanya. Namun, melihat kemarahan di wajah sang suami, lebih baik Jessi menghindar terlebih dahulu. Sebelum Nich mengamuk ibunya sendiri.
"Kita pulang saja ya, Sayang. Aku lelah ingin tidur di rumah, tidak mau ke rumah sakit." Ekspresi imut kembali dikeluarkan oleh Jessi sebagai senjata ampuh yang dia gunakan untuk merayu sang suami.
"Apa kau yakin, Sweety?" Jessi mengangguk, membuat suaminya menghela napas panjang. "Baiklah jika itu maumu, kita pulang saja."
Nich memutar arah mobilnya, sesuai dengan permintaan sang istri. Dia melaju menuju kediaman Light dengan kecepatan sedang. Nich sadar Jessi mungkin mual mungkin hanya karena mobil yang dikendalikan ibunya terlalu bar-bar.
Sejenak dia menatap wajah istrinya di sela fokusnya pada jalanan. Dengan mudahnya Jessi terlelap di dalam mobil, mungkin benar yang dikatakan istrinya. Dia terlalu lelah hari ini.
Hari sudah semakin gelap dan cara merah di langit berubah bertabur bintang-bintang. Tak terasa kendaraannya sudah memasuki area kediaman, Nich berniat untuk menggendong istrinya ke dalam rumah. Namun, sang empu malah membuka matanya.
"Kau sudah bangun, Sweety?"
Jessi mengangguk. "Sayang, aku ingin makan ceker pedas!"
"Sekarang?"
"Iya, tadi aku lihat di dekat pantai ada restoran makanan Korea." Permintaan Jessi sukses membuat Nich melebarkan mata. Apa istrinya ingin kembali ke tempat itu?
"Kita ke sana ya!" Jessi mencoba untuk merayu suaminya selembut mungkin. Entah keluar dari mana perasaan ini, tapi dia sangat ingin mengerjai sang suami sekarang.
"Bagaimana kalau aku saja yang membelikan? Kau tunggi di rumah saja, Sweety." Nich mencoba untuk bernegosiasi, tapi nihil Sang istri malah menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin makan di tempat."
"Tapi, ini sudah malam, Sayang." Jessi malah membalikkan tubuh di kursinya, mengeluarkan ekspresi merajuk yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.
"Baiklah, kita ke sana." Nich akhirnya memilih mengalah, dia menghela napas kasar sebelum akhirnya memutar langkah untuk kembali masuk ke dalam mobil.
Dalam hati dia selalu ingin membahagiakan Jessi. Jadi, selama Nich bisa, apa pun pasti dilakukan untuk melihat senyum di wajah istrinya.
__ADS_1
"Sudah jangan merajuk, kita berangkat."
To Be continue...