Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Triplets


__ADS_3

Suasana ruang persalinan kembali tegang, di saat bayi terakhir tak kunjung mengeluarkan suara tangisannya. Bayi normal umumnya akan menangis dalam tiga puluh detik, sampai satu menit pertama kelahirannya. Seperti halnya kedua bayi Jessi sebelumnya.


Begitu bayi lahir, ia akan segera beradaptasi dengan dunia luar dan menghirup udara pertama kalinya. Proses inilah yang memicu respons bayi dengan mengeluarkan suara tangisan. Saat masih di dalam rahim, bayi mendapatkan oksigen melalui plasenta. Ini karena paru-paru dan organ lainnya masih mengalami perkembangan sampai tahap sempurna hingga bayi lahir.


Selain itu, paru-paru bayi berisi cairan amnion—cairan ketuban—yang melindungi bayi selama di kandungan. Menjelang kelahiran, cairan ketuban akan tentu akan menyusut dan mengering secara perlahan. Ini artinya, cairan ketuban dalam paru-paru bayi otomatis ikut berkurang sebagai bentuk persiapan bagi bayi untuk bernapas dengan udara luar. Terkadang, cairan ketuban terkadang masih tersisa di paru-paru bayi saat lahir sehingga berisiko menyumbat sistem pernapasannya.


Di sinilah letak fungsi bayi menangis saat lahir. Tangisan bayi dapat membantu membersihkan lendir yang tersisa di paru-paru untuk memudahkan jalannya oksigen. Penyebab bayi tidak menangis saat lahir yang paling umum adalah karena terdapat sumbatan pada saluran napas bayi.


Sumbatan tersebut dapat berupa lendir, cairan ketuban, darah, tinja bayi, maupun lidah yang terdorong ke belakang tenggorokan. Hal ini  menyebabkan bayi menjadi sulit bernapas sehingga tidak bisa memberikan respons dengan menangis.


Tim medis bergerak cepat dengan membersihkan seluruh tubuh bayi, mulai dari wajah, kepala, dan bagian tubuh lainnya. Selain itu, mereka menepuk-nepuk atau menggosok perut, punggung, dan dada bayi, atau menekan telapak kaki bayi untuk merangsang pernapasan bayi.


Namun, setelah semua itu berlalu bayi terakhir tak kunjung menangis membuat Jessi dan Nicholas semakin khawatir. "Sayang, bertahanlah! Mommy akan menuruti semua keinginanmu nanti." 


Tanpa terasa air mata mengalir begitu saja di sisa kesadaran Jessi. Rasa lelah, sekaligus khawatir bercampur menjadi satu di saat tak kunjung mendengar tangisan sang buah hati. Dokter lantas mengisap cairan dari mulut dan hidung bayi menggunakan pipa isap kecil untuk membersihkan sumbatan dan memastikan kedua lubang hidungnya terbuka dengan penuh.


"Sayang, cepatlah menangis! Kalau kau tidak mau menangis, Mommy tidak akan mengajakmu bermain judi lagi!" teriak Jessi menjadi-jadi karena merasa tak karuan meluapkan segala hal yang terlintas dalam pikirannya tanpa banyak berpikir. 


Hal itu tentunya mendapat tatapan tajam dari suaminya. Begitu pula para tenaga medis yang terkejut mendengar ancaman absurd sang ibu baru tersebut. Namun, sang buah hati seketika menangis cukup keras, hingga semua orang merasa lega akan situasi saat ini. 


"Selamat, Nyonya, Tuan. Anak ketiga Anda perempuan, cantik sekali," ucap dokter tersebut lantas meletakkan bayi terakhir di dada Jessi. 


Air mata tak hentinya mengalir sejak tadi. Lengkap sudah kebahagiaan Nicholas dan Jessi yang memiliki tiga buah hati sekaligus dan lengkap putra-putri.

__ADS_1


 "Terima kasih sudah berjuang melahirkan anak-anak kita, Sweety." Berulang kali Nicholas menghujami kecupan pada istri dan putrinya, sedangkan tim medis membersihkan sisa darah dan menjahit robekan di jalan lahir. 


Rasa sakit yang sejak tadi Jessi nikmati kini berubah menjadi lega, seakan semua beban berat yang menimpa terangkat seketika, di saat melihat buah cinta mereka. Setelah semuanya selesai, Jessi pun dibawa beristirahat di ruang perawatan, sedangkan bayi-bayinya tengah diurus oleh perawat untuk sementara.


Laura beserta yang lainnya seketika mengunjungi ruangan tempat Jessi dirawat. "Sayang, apa semuanya berjalan lancar?" tanya Laura pada Jessi, tetapi malah langsung dipeluk oleh Nicholas. "Hei! Bocah tengik! Apa yang kau lakukan, hah?" 


Tidak ada sepatah kata pun jawaban. Nicholas semakin merengkuh tubuh sang ibu dan membenamkan wajahnya di pundak Laura.  Hal itu sontak membuat yang lainnya keheranan, seorang Nicholas Bannerick bisa menangis? Mungkin kah terjadi hal buruk pada penerus Bannerick Group. "Hei! Apa terjadi sesuatu pada cucu-cucuku?" teriak Laura dengan perasaan tak karuan melihat putranya yang malah terisak. 


"Mereka baik-baik saja, Mom. Lahir sehat dan selamat," ucap Jessi meredakan kekhawatiran Laura yang tampak hampir ikut meledak. 


"Lalu, kenapa suamimu bertingkah aneh, Girl?" Laura masih bingung dengan apa yang terjadi pada Nicholas. Selama ini sang putra bahkan tak pernah meminta maaf padanya, tetapi tiba-tiba saja seperti kucing baru lahir yang selalu menyusu pada induknya. 


"Mom, terima kasih sudah berjuang melahirkan putramu yang tampan ini," ucap Nicholas akhirnya berbicara sambil menangkupkan kedua tangan di pipi sang ibu dan mengecupnya dengan tulus. 


"Apa kau kerasukan setan, Nich? Tidak pantas lah kau bertindak romantis pada Mommymu ini. Biasanya juga tak pernah memedulikanku." Laura yang masih tak paham dengan apa yang terjadi pada putranya bukannya terharu malah mencebikkan bibir melihat tingkah Nicholas saat ini. 


Laura hanya mengernyitkan dahi sebagai isyarat pertanyaan pada Jessi. "Dia masih syok melihat wanita melahirkan," bisik Jessi pada ibu mertua tersebut. 


"Ah, karena itu kau bertingkah aneh saat ini, Son? Karena aku melahirkanmu?" Nicholas dengan cepat menganggukkan kepala membenarkan perkataan ibunya. Sayangnya, kalimat yang keluar dari mulut Laura tidak seperti yang diduga. "Itu karena aku terpaksa melahirkanmu. Jika tidak ada kamu, bagaimana aku bisa menggaet Daddymu." 


Mendengar hal itu, Nicholas sontak melepaskan pelukan. "Cih, kenapa, Mommy kejam sekali padaku?"


"Memang begitu kenyataannya." 

__ADS_1


Tak lama kemudian, suara para perawat mulai membawa masuk bayi-bayi mungil tersebut membuat semua orang di dalam ruangan menyambut gembira. 


"Ya Tuhan cucu-cucuku." Laura segera menggendong seorang bayi tampan berbalut kain bedong tersebut dengan sorot bahagia. Begitu pula Nenek Amber yang menggendong satu lagi bayi pria, dan bayi wanitanya digendong oleh Maria. 


"Mereka lucu sekali, Nak," ucap Nenek Amber merasa haru melihat cicit-cicitnya. 


"Iya, Nek. Cicitmu memang lucu," ujar Jessi tersenyum bahagia melihat semua orang menyambut anak-anaknya. 


"Kau akan memberi mereka nama siapa, Girl?" tanya Laura sambil menimang cucunya yang menatapnya sejak tadi. 


"Si Bungsu Jayden, Si tengah Jonathan, dan  Si Bongsor Jessica, Mom." Nicholas menjawab sambil menunjuk nama bayi-bayinya sesuai kesepakatan bersama sang istri sebelumnya. 


"Nama yang bagus," ucap Nenek Amber setujui yang lainnya. 


Para pemegang tahta utama di keluarga Light maupun Bannerick sejak awal memang sudah direncanakan akan memiliki nama yang sesuai dengan keinginan Nicholas dan Jessi. Anak pertama berjenis kelamin pria diberi nama Jayden Bannerick sesuai marga sang ayah, begitu pula Jonathan Bannerick, sedangkan si cantik yang baru lahir sudah membuat heboh, disematkan marga Light sesuai sang ibu, menjadi Jessica Light. Namun, keduanya berharap agar Jessica tidak menurun kenakalan ibunya saja.


Namun, sesaat kemudian, bayi Jonathan menangis cukup keras, mungkin karena haus. Perawat pun mengambil alih bayi dari tangan Laura. "Nyonya, saatnya menyusui," ucapnya menyerahkan seorang bayi terlebih dulu pada Jessi. 


"Kalian semua keluarlah!" ketus Nicholas ketika melihat sang istri harus menampilkan buah dadanya. 


"Kenapa kau mengusir kami, Son. Kami 'kan juga perempuan," protes Laura pada putranya. 


"Karena aku tidak ingin kalian melihatnya, Mom. Terlalu menggoda, apalagi ada Daddy, dan Damien. Cih, bisa-bisa mereka curi-curi pandang, mengingat milik kalian tak seberapa besar dibandingkan punya istriku." Tanpa basa-basi Nicholas mengambil seluruh bayinya kembali dan mengusir keluarganya sendiri agar keluar ruangan, di saat sang istri harus menyusui anak-anaknya.

__ADS_1


"Kurang ajar kamu jadi anak, ya! Mommy sumpahin kamu dibuat repot sama anak-anakmu nanti!" kesal Laura sambil memukul kepala anaknya sebelum keluar ruangan, sedangkan yang lainnya, mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Nicholas yang malah seperti anak kecil setelah memiliki anak. Begitu pula Laura yang tak mau kalah pada putranya sendiri.


TO be Continue...


__ADS_2