
Setelah mendengar obrolan dua orang di kamar mandi, Jane bergegas keluar untuk memastikan tidak akan ada hal buruk yang terjadi.
Dia keluar dan melihat seorang wanita berpakaian seksi tak jauh dari kamar mandi. Tanpa membuang waktu Jane pun mendekat. "Siapa kau?" Tangannya terulur memegang bahu wanita tersebut dari belakang, membuat perempuan itu menghentikan langkah.
Akan tetapi, tanpa aba-aba tangan kanan perempuan itu langsung mencengkeram bagian atas tubuh Jane dengan kuat dan bagian kiri memegang lengan. Setelahnya, menggunakan kekuatan penuh perempuan tersebut mengangkat tubuh Jane, memutar di bagian atas tubuhnya sendiri, kemudian membanting melewati bagian bahu.
Jane yang terkesiap dengan situasi ini hanya bisa terjatuh di lantai, ditambah kondisinya masih belum sehat betul membuatnya hanya bisa melawan seadanya. Dia menjegal kaki perempuan yang hendak melarikan diri tersebut. Hingga sama-sama terjatuh dan memerlihatkan wajahnya.
"Sialan!" umpat wanita tersebut dengan sorot mata tajam hendak melawan Jane kembali.
Di sisi lain, Damien yang mencari-cari Jane karena acara yang akan segera dimulai membuatnya menyusuri setiap kamar mandi di tempat itu. Hingga melihat perempuan yang dia cari tengah berkelahi bersama seorang wanita tak dikenal. "Jane!"
Melihat ada orang lain yang mendatangi mereka, perempuan tersebut mengundurkan niatnya dan bergegas melarikan diri dari lokasi, mustahil untuk melawan dua orang sendirian lebih baik menyelamatkan diri terlebih dahulu. Sementara itu, Damien yang melihat Jane terduduk di lantai lekas membantunya untuk berdiri. "Jane, kau tak apa?"
"Kejar dia cepat!" ujar Jane dengan deru napas tak beraturan menahan sakitnya. Entah mengapa firasatnya berkata buruk setelah melihat wanita itu langsung menyerangnya. Padahal, awalnya dia hanya ingin memastikan kecurigaan.
"Bagaimana denganmu?" Damien merasa bimbang melihat wajah Jane yang terlihat mulai memucat, sedangkan wanita asing itu tampak sudah melangkah menjauh.
"Cepat kejar!" Sambil menahan rasa sakit, Jane berteriak dengan keras kepada Damien. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan pria tersebut.
__ADS_1
Damien hanya bisa mengangguk menuruti Jane. Namun, ketika pria tersebut hendak melangkah mengejar wanita asing itu, tiba-tiba saja suara dentuman keras sesuatu yang meledak dari arah lokasi resepsi membuat keduanya terkejut dan seketika melebarkan mata. "Jessi," seru keduanya bersamaan.
Tanpa memikirkan tubuhnya yang terasa sakit, Jane bergegas bergerak menuju tempat acara diselenggarakan sambil memegang pinggang dan diikuti Damien. Setibanya di lokasi, keduanya melihat kepanikan para tamu undangan berhamburan lari meninggalkan lokasi resepsi sambil berteriak ketakutan.
"Apa yang terjadi di sini?" Jane mengedarkan pandangan ke segala arah dengan tubuh terus ditabrak tamu-tamu yang berlarian keluar. Hal tersebut tentu saja membuat Damien seketika memegang bahu wanita tersebut dan menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng agar Jane tak terluka.
Wanita tersebut menghiraukan apa yang dilakukan Damien. Hingga sesaat kemudian, Jane melihat Jessi yang berdiri di tengah keramaian dengan di peluk Nicholas.
"Jessi." Mereka pun segera melangkah mendekati sang adik, terlihat jelas raut wajah syok di mata Jessi dengan pandangan masih menatap ke depan.
"Apa yang terjadi?" tanya Damien ketika melihat tempat di tempat itu banyak darah yang menyiprat ke segala arah dengan potongan daging berhamburan.
"Bawa Jessi pulang dulu! Biar aku yang mencari tahu," ucap Nicholas pada Jane. Dia khawatir hal ini akan berpengaruh pada kondisi kehamilan istrinya, melihat dari situasi saat itu sepertinya mereka berniat membunuh Jessi dengan bom bunuh diri. Namun, sayangnya Mars terlebih dulu menghadang dan mengorbankan diri.
"Tadi aku ada melihat wanita yang mencurigakan," ujar Jane.
"Kau melihatnya?" Jessi seketika menatap ke arah Jane dengan raut wajah merah padam. Siapa gerangan perempuan yang berani bermain-main di acara pernikahannya.
"Hanya sekilas." Jane melihat perubahan dalam diri adiknya. Saat langka di mana dia kembali murka karena sesuatu yang tak terduga.
__ADS_1
"Kita cari dia!"
"Tidak!" tegas Nicholas memotong kalimat Jessi sambil memegang tangan istrinya yang hendak melangkah pergi.
"Tapi, Nich."
"Cukup! Sudah cukup aku melihatmu terluka terakhir kali, Sweety." Nich memeluk tubuh istrinya seketika. "Percayalah padaku! Biar aku yang mencari tahu!"
Bayangan Jessi terluka terakhir kali seakan menjadi trauma tersendiri bagi Nicholas. Pria tersebut tidak lagi ingin istrinya menghadapi bahaya sendirian, sedangkan sebagai suami seharusnya dialah yang menjaga sang istri. "Percayalah padaku! Aku tahu kau sangat marah dengan semua ini. Tapi, ingatlah ada anak-anak kita yang tumbuh dalam perutmu!"
Mendengar suaminya menyebutkan anak membuat Jessi seketika memegang perutnya. Saat ini bukanlah waktu untuk mementingkan egonya, dia juga harus bisa menghargai Nich sebagai suaminya.
Sejenak Jessi menghela napas panjang dan terdiam untuk sesaat. "Baiklah, aku akan pulang."
Nich tersenyum mendengar sang istri yang mau mendengar perkataannya. Pria tersebut lantas melepaskan pelukan dan mengecup dahi Jessi sejenak. "Percayalah padaku! Aku akan membawanya padamu."
Jessi hanya bisa mengangguk patuh melihat kesungguhan suaminya. "Aku pulang dulu." Dia lantas pergi meninggalkan suaminya dan melangkah bersama Jane dan Damien.
To Be Continue...
__ADS_1