Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Gas Beracun Membawa Petaka


__ADS_3

Stella berlari dengan segera ke dalam titik kamar mandi. Gadis itu langsung memposisikan diri dengan duduk dan memejamkan mata menikmati setiap sensasi perjalanan tinja dari dalam ususnya tempat pembuangan akhir.


Dia menahan napas cukup panjang, sambil mengejan sekuat tenaga, layaknya seorang wanita melahirkan yang berjuang demi mendorong sang bayi tinja yang sudah menyiksa jiwa agar segera keluar dari zona nyaman. Hingga beberapa saat kemudian, secara perlahan Stella pun berhasil mengeluarkan hal yang menyakiti perutnya.


Tanpa membuang waktu, gadis itu langsung menekan tombol flush, tetapi tak lama kemudian dia mendengar suara seorang wanita lainnya yang berada di kamar mandi seperti tengah terbatuk. "Apa dia baru saja mencium bau gasku?" gumam Stella dengan lirih.


Karena malu jika langsung keluar, gadis itu memutuskan untuk tak segera beranjak dari posisinya. Dia memilih untuk berdiam diri sejenak agar orang lain tersebut tak menuduhnya atas bau toilet sejak tadi. Beberapa saat kemudian, barulah Stella membuka pintu sambil mengintip terlebih dahulu situasi kamar mandi setelah membersihkan diri.


"Aman," ucapnya setelah dirasa tidak ada orang lain di sana.


Stella bergegas mencuci tangan dan merapikan rambut serta pakaiannya sejenak. "Perfect, sempurna, cantik!" pujinya pada diri sendiri di depan cermin, lalu terlebih dahulu menyemprotkan minyak wangi sebelum melangkah pergi.


Namun, gadis itu seketika terkejut, di saat melihat seorang wanita paruh baya yang terengah-engah bersandar di dinding dan deru napas tercekat mengeluarkan suara mengi.


"Nyonya, Anda baik-baik saja?" Stella bergegas berlari ke arah wanita tersebut untuk untuk segera membantunya. Dia memegang bahu sang Nyonya yang hampir limbung agar tetap tegak. "Kita cari tempat duduk dulu?"


Mereka segera keluar dari kamar mandi untuk mencari tempat duduk terlebih dahulu. "Apa, Nyonya ada obat?"


"Di dalam tas," ucap wanita tersebut dengan susah payah.


"Maaf, permisi sebentar." Stella meminta izin terlebih dahulu sebelum membuka tas wanita tersebut. Dia lantas mencari kemasan obat di dalamnya dan kebetulan ada sebuah inhealer. "Apa, Nyonya menggunakan ini?"


"Iya." Wanita tersebut segera mengambil benda itu dari tangan Stella dan menggunakannya.


Hingga beberapa saat kemudian, Stella melihat seorang pria dan wanita berlari ke arah mereka.

__ADS_1


"Ibu." Raut kecemasan tergambar jelas di wajah pria tersebut, dia mencari ke mana ibunya pergi karena sudah cukup lama wanita tersebut meninggalkan mereka. "Ibu, tidak apa-apa?"


"Hei! Apa yang kau lakukan pada ibu mertuaku, hah?" teriak wanita di samping pria tersebut sambil mendorong Stella di sebelah ibu tadi hingga gadis itu terjerembab ke lantai.


"Awh." Stella meringis sambil memegang bokongnya dan menyumpah serapah wanita tersebut dalam hatinya. Sialan! Bukannya berterima kasih malah seperti Mak Lampir.


"Maya! Jangan suka menuduh orang yang bukan-bukan! Lebih baik bantu aku bawa ibu ke rumah sakit sekarang!" ucap Pengacara John yang langsung membawa sang ibu dalam gendongannya. "Maafkan Maya, Nona. Saya Anda sudah berusaha membantu ibu saya. Kami permisi dulu."


Ketika orang itu lantas bergegas pergi meninggalkan Stella seorang diri. "Sialan! Dasar tak tahu terima kasih!" Gadis itu mendengus kesal sambil berdiri dari posisinya.


"Stella, kenapa lama sekali?" tanya Jane yang mendekati sang adik sambil membawa beberapa kantong belanjaan di tangannya.


"Ah, itu tadi ada sedikit insiden, Kak Jane." Sejenak gadis itu mengambil beberapa kantong belanjaan dari tangan Jane. "Apa sudah selesai?"


Jane hanya mengangguk kecil. "Apa ada yang masih ingin kau cari?"


Sementara itu, Jane hanya bisa mengerutkan kening mendengar alasan Stella. "Bagaimana bisa ada Nenek Lampir di tempat seperti ini? Ya sudah, ayo pulang!"


"Ada, Kak. Lengkap sama Grandongnya," ujar Stella langsung mengikuti arah langkah Jane.


Di sisi lain, sang Nyonya yang hampir pingsan langsung dibawa ke rumah sakit karena kepanikan anaknya. Beruntung dia tidak mengalami masalah serius karena langsung ditangani oleh pihak rumah sakit.


"Untungnya pertolongan pertama datang tepat waktu. Jadi, Nyonya hanya butuh istirahat sebentar dan besok setelah membaik bisa langsung dibawa pulang," ujar seorang dokter setelah memeriksa kepada keluarga pasien.


"Terima kasih, Dok."

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu." Sang dokter lantas melangkah pergi meninggalkan pasiennya.


Setelah itu, sang pria mendekat ke arah ibunya dan menggenggam tangan keriput tersebut dengan erat. "Ibu, kenapa bisa seperti ini?"


"John, Ibu tidak apa-apa. Tadi hanya ada sedikit polusi."


Wanita tersebut adalah ibu dari Pengacara John, menjadi janda sejak dulu dengan penyakit asma akut yang bisa kambuh kapan saja. Sebab itulah, pria itu selalu membiarkan Maya menempel padanya.


Kehadiran Maya membuat John sedikit tenang jika harus bepergian ke luar kota atau luar negeri untuk menjalankan tugas sebab dia sendiri tidak bisa membawa sang ibu. Jadi, sesekali pria tersebut menemani ibunya berbelanja kebutuhan rumah seperti hari ini sebelum kembali bepergian. Namun, hal tak terduga malah terjadi ketika sang ibu berada di luar pengawasan.


Hanya memiliki seorang ibu tentu saja membuat pria tersebut merasa khawatir. Kadang kala ada rasa tidak tega meninggalkannya di rumah sendirian, tetapi mau bagaimana lagi. Sebagai pengacara top tentu saja dia harus profesional. Lagi pula keluarga Maya sebetulnya masih bersaudara dengan keluarganya dan ibunya pun tidak memaksanya untuk membalas perasaan wanita tersebut sehingga John hanya bisa mengalah ketika sang ibu tidak mau dicarikan pelayan.


"John, sepertinya kamar mandi di pusat perbelanjaan tadi jebol."


"Kenapa memang, Bu?"


Sang ibu melambaikan tangan agar John sedikit mendekat. "Masak tadi bau tinjanya menyebar di mana-mana."


"Oh, jadi gara-gara itu ibu jadi seperti ini? Tenang saja, nanti John akan tuntut itu supermarket agar izinnya di tutup. Tidak memberikan fasilitas yang memadai sama pelanggannya." John berbicara dengan tegas dan sorot mata tajam. Bagaimana bisa kamar mandi umum membuat ibunya seperti ini. Jika sudah terjadi sesuatu tadi, dia pasti langsung menuntut pihak pengelola agar menutup tempat itu sekaligus.


"Ish, kau ini. Kalau tempat itu kamu tutup, Ibu mau belanja di mana?" Sang ibu memukul kecil bahu putranya. Supermarket itu adalah satu-satunya pusat perbelanjaan terlengkap di daerah tersebut. Jika sampai di tutup sudah pasti lebih banyak warga yang protes dibandingkan mendukung.


John hanya bisa menyengir kuda sambil menggaruk tengguknya yang tak gatal. "Nanti kita bangun supermarket sendiri."


Sang ibu hanya bisa menggeleng kecil melihat tingkah kekanak-kanakan sang putra padahal usianya sudah tak lagi muda.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2