
Terik mentari mulai memerah, cahaya jingga sedikit demi sedikit menghiasi langit yang indah. Siang hari telah berlalu begitu menegangkan, dengan perasaan suka ketiga wanita tersebut mengelus dada mereka. Akhirnya peristiwa mendebarkan terlewati dan membuatnya kembali bernapas lega. Namun sayang, hal itu hanya berlaku untuk sekejap.
Kedua mobil SUV musuh sudah mulai terlihat mengejar di belakang dengan kecepatan tinggi. Mereka kembali menyusul ketiga wanita yang berhasil melarikan diri dari lantai basemen pusat perbelanjaan itu.
"Sial!" Jessi mengumpat kesal menatap kaca spion, dia tidak menyangka jika orang-orang itu akan kembali memburu mereka.
Padahal, jelas bahwa kini mereka di situasi kota yang ramai dan padat penduduk. Tentu saja hal tersebut membuat Laura memutuskan untuk memutar jalan dan melalui tempat sepi agar tidak ada warga yang menjadi korban atas kejadian ini.
"Tenang, Sayang! Kita menuju pantai."
"Mommy yakin?" Jessi menatap wajah ibu mertuanya yang terlihat sangat yakin akan kondisi mereka.
"Ya, kau hubungi Nich sekarang. Anak buahmu tak lama lagi mungkin segera tiba." Laura berbicara sambil fokus menatap jalan raya di depannya.
"Oke, Mom." Jessi segera mengambil ponsel di tas untuk menghubungi suaminya.
Setelah beberapa saat, suara bariton Nicholas mulai terdengar di ujung panggilan. "Hello, Sweety."
"Sayang, Mommy sangat keren." Jessi bukannya memberitahukan kondisi mereka, tetapi malah antusias menceritakan tindakan Laura.
"Mommy? Apa yang dilakukan Mommy, Sayang?" Suara Nicholas terdengar mulai panik, dia tidak mengerti apa maksud kata 'keren' yang disematkan sang istri kepada mommynya.
"Oh, Mommy membawa mobil sambil nyepot-nyepot. Kau tahu, Sayang? Ini sangat menyenangkan."
"Ubah mode pengeras suara sekarang! Aku ingin bicara sama Mommy."
Jessi lantas mengubah mode pengeras suara di panggilan membuat semua orang yang ada di dalam mobil bisa mendengar suara kemarahan Nich.
"Ya, Son." Laura berbicara sambil terus fokus pada kemudinya.
"Mommy! Apa yang, Mommy lakukan pada istriku? Bukankah, Mommy tahu drifting itu sangat berbahaya?" Suara teriakan kemarahan Nich terdengar begitu keras menggema memenuhi bagian dalam mobil.
"Cih, kau tidak tahu situasinya, makanya bisa bicara seperti itu! Cepat kemari kalau kau tak ingin menjadi duda kembang di usia muda! Kami sedang diserang bodoh!" Laura mendengus kesal dengan putranya yang marah tak tahu tempat, padahal dia tidak mengerti kondisi mereka saat ini.
"Apa? Aku akan segera ke sana!" Nich langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban dari mereka.
"Cih, lihat suamimu, Sayang! Dia langsung panik begitu saja." Laura mencebik melihat tindakan putranya yang langsung memutuskan panggilan begitu saja.
"Kalau Nich kemari kita tidak bisa bersenang-senang, Mom." Jessi mengerucutkan bibir sambil memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya.
"Kita akan bersenang-senang sebelum Nich datang. Biarkan dia yang membereskan kekacauan kita nanti!"
__ADS_1
"Ohoo, i like it, Mom." Sang menantu terlihat begitu antusias membayangkan kembali aksi ekstrim mereka. Belum pernah Jessi mencoba pertarungan kejar-kejaran mobil seperti ini.
Sementara Patricia di kursi belakang hanya bisa membatin keduanya yang memiliki selera sama–sama-sama mengerikan–padahal, dia sendiri merasa takut kali ini. Baru sekarang wanita itu merasakan begitu kerasnya orang yang menginginkannya. Beruntungnya Patricia dijaga oleh Jessi.
Padatnya kendaraan yang melintas tidak membuat Laura menurunkan kecepatan. Dia bahkan dengan sengaja menerobos lampu merah dan menyalip banyak mobil di depannya.
"Kenapa mereka menginginkan Patricia, Sayang?" Laura bertanya sambil memainkan tuas persneling di tangannya.
"Aku tidak tahu, Mom. Sepertinya mereka sudah menyadari kematian Tom Evening bukanlah suatu kecelakaan. Makanya mereka mencari patricia." Jessi terus mengawasi gerakan musuh dari kaca spion.
"Siapa yang mengirim mereka?"
"Mungkin pasangan gay Tom Evening."
"Dia gay?" Laura menatap tak percaya ke arah menantunya.
"Awas, Mom!" Mereka hampir saja menabrak pembatas jalan, tetapi dengan cepat Laura mengendalikan kembali mobilnya.
"Oh, maaf."
Beberapa saat kemudian, mereka mulai memasuki jalur sepi, membuat kedua mobil SUV berhasil mengimbangi kecepatan hingga berada di samping mobil Jessi.
"Berhenti!" Seorang pria menurunkan kaca mobil, mengeluarkan kepala sambil berteriak begitu keras.
"Cih, mereka mau mencoba keahlian wanita tua ini." Laura langsung menancap gas lebih dalam lagi hingga membuat mereka melaju dengan kecepatan tinggi.
Jalur yang mereka lalui merupakan jalan sepi menuju pantai dengan arah yang berkelok, tikungan tajam, serta tebing di bawah pembatas jalan. Namun, hal tersebut tak membuat Laura khawatir dengan kecepatannya, sedangkan Jessi yang merasa tengah berada di sirkuit balap malah bertepuk tangan ria.
"Mommy ini sangat menyenangkan." Jessi begitu bahagia bisa melihat aksi ibunya di jalan raya.
Hingga sesaat kemudian, mobil musuh kembali mengimbangi, secepat kilat Laura menginjak pedal di kaki dan menggerakkan tangan dengan lincah membuat bagian depan mobil berhenti dan langsung berputar di atas aspal.
Entah bagaimana cara Laura memainkan Range Rover milik Jessi. Namun, mobil itu langsung berhenti berputar, menabrak bagian belakang kendaraan lawan hanya dengan body samping.
Hal tersebut memberikan sliding-an kepada kendaraan lawan hingga mereka terdorong lebih cepat, seperti bola yang terkena pemukulnya. Mobil musuh langsung terbang bebas hingga melewati pembatas jalan dan terjun bebas, lalu berguling-guling hingga dasar sebelum akhirnya meledak karena kondisi yang begitu parah.
Jessi menyaksikan hal itu dengan mata yang berbinar senang. "Mommy, ini sangat menyenangkan. Mereka mati tanpa kita kita membuang tenaga."
"Simpan tenagamu untuk melawan satu cucunguk yang masih tersisa di belakang kita!" Laura kembali menggerakkan perseneling dan menancap gas untuk melaju sebelum mobil di belakang bersiap untuk menabrak mereka.
"Aku lupa masih ada satu cucunguk lagi."
__ADS_1
Mereka kembali beradu kecepatan di jalan. Akan tetapi kali ini berbeda karena musuh mulai menembaki mobil mereka.
Suara tembakan terdengar begitu keras menancap di body mobil. "Mereka ingin bermain-main denganku! Patricia, ambilkan senjata di belakang kursimu!"
"Senjata yang mana, Nona?" Patricia bingung karena ternyata ada banyak senjata api yang berjajar rapi di balik kursinya.
"Ambilkan laras panjang!"
Patricia mengambil sebuah senjata runduk Arctic Warfere Magnum (AWM). Namun, bukan senapan yang digunakan untuk bermain game PUBG, melainkan senjata asli guna membunuh lawan di belakang.
"Buka bagian atas, Mom!" Jessi mengecek ketersediaan peluru di senapannya terlebih dahulu.
"Apa yang ingin kau lakukan, Sayang?" Laura mulai membuka bagian sunroof mobil tersebut sambil fokus mengemudi.
"Membunuh sopirnya terlebih dahulu." Jessi bersiap untuk mengeluarkan diri dari balik celah di bagian atas mobil yang melaju tersebut. "Jangan nyepot dulu, Mom!"
Jessi mengeluarkan kepala dan senapan, tak perlu banyak waktu, dia langsung menekan senapan hingga peluru melesat menuju sasarannya. Tembakannya sukses membuat orang-orang di dalam mobil itu mulai panik karena sang sopir tewas seketika akibat serangan Jessi yang bersarang tepat di kepala.
Tak cukup di situ, dia kembali menembak roda mobil musuh hingga membuat mereka kehilangan kendali dan akhirnya memilih untuk berhenti entah bagaimana caranya.
"Huh, lega." Jessi kembali turun dari posisinya dan kembali duduk.
"Sudah, Girls. Pasang sabuk pengamanmu, kita beraksi lagi!" Jessi menuruti apa yang di perintahkan Laura.
Kemudian, Laura memainkan kembali mobil hingga bagian belakang terasa terlempar dan kendaraan berputar balik tanpa memakan tempat.
"Apa yang ingin kau lakukan, Mom?"
"Memberikan kejutan." Sebuah senyum yang indah mengembang di wajah wanita paruh baya itu.
Mereka kembali menyusuri jalan tempat musuh terakhirnya berhenti. Dia melaju dengan kecepatan tinggi ketika melihat banyaknya musuh yang berhamburan di jalan, dan secepat kilat Laura kembali memainkan keahliannya hingga membuat bagian depan berhenti, sedangkan body belakang mobil melayang dan menabrak kendaraan lawan layaknya memukul sebuah bola.
Kendaraan mereka pun terpelanting jauh seketika, dan orang-orang yang masih hidup berhamburan melarikan diri dari serangan para Charlie's Angel beda usia tersebut.
"Wohoo, Mommy sangat keren." Jessi merasa sangat senang bisa merasakan sensasi bahagia karena bisa menghancurkan musuh dengan cara baru. "Mommy, harus mengajariku menyetir seperti itu!"
"Suamimu akan menghentikan aliran dana shopping-ku jika Mommy melakukan itu." Laura kembali menancap pedal gas, meninggalkan lawan yang sudah berhasil ditaklukkan di sana.
To Be Continue....
Hello teman-teman.
__ADS_1
Gimana nih part Mommy Laura menurut kalian?
Jangan lupa tinggalkan jejak!