Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Tragedi Kamar Mandi


__ADS_3

Acara pernikahan George dan Olivia berjalan dengan lancar. Kini keduanya pun sudah diberikan hadiah berupa rumah pribadi untuk privasi keduanya. Namun, tugas mereka masih sama. Hanya saja Jessi memberikan kelonggaran sementara waktu dengan memberikan mereka hadiah lain berupa bulan madu ke tempat yang mereka pilih selama satu minggu. 


Tugas yang ditinggalkan pun dipegang oleh anak buah lainnya sementara waktu. Setelah semua urusan selesai, Jessi serta Nicholas berkonsultasi pada dokter mengenai usia kehamilannya jika ingin mengadakan sebuah pesta. 


Beruntung sang dokter mengizinkan hal itu, hanya saja sebaiknya dilakukan dalam waktu dekat dan tidak terlalu mendekati perkiraan hari lahir. Selain itu, Jessi juga diminta agar tak terlalu lelah dan acara dipersingkat saja supaya tidak terjadi hal buruk pada sang ibu hamil. Mengingat kaki Jessi yang sudah mulai bengkak menandakan persalinan mungkin tidak akan lama lagi.


Keduanya pun lega mengetahui hal itu dan mengundang sang dokter untuk ikut dalam perayaan mereka karena berlokasi di Pulau Ceria. Dokter diperlukan guna mengantisipasi jika sampai terjadi hal buruk nantinya. Karena Nicholas tidak mungkin membiarkan Dokter Hendrick yang membantu istrinya. Bisa-bisa rasa cemburunya meledak kalau sampai pria lain melihat inti tubuh sang istri. Meskipun hanya menganggapnya sebagai jalan lahir. 


Sepulangnya dari rumah sakit, Jessi bukannya pulang malah mengikuti suaminya ke kantor. Entah mengapa dia selalu ingin berada di dekat sang suami yang beraroma perpaduan apel, cendana, dan white musk yang khas. Bau itu bahkan mampu membuat sang ibu hamil tertidur pulas di samping suaminya dalam keadaan apapun. 


"Apa jadwal kita setelah ini, Will?" tanya Nicholas pada asistennya. 


"Meeting tentang produk baru bersama beberapa staf, Tuan," jawab Willy sambil menggeser layar tablet di tangannya. 


Nicholas yang duduk di sofa panjang sejenak menatap pada sang istri yang tampak terlelap di pangkuannya. Entahlah, hamil besar membuat Jessi yang biasanya keluyuran tak karuan mencari masalah, kini malah melekat erat pada sang suami yang bahkan untuk membuang hajat pun masih ditunggui oleh Jessi. 


"Kita meeting di sini saja. Suruh mereka kemari!" Nich enggan meninggalkan sang istri seorang diri di ruangannya karena khawatir sesuatu yang buruk terjadi. Lagi pula, jika tubuhnya bergeser sedikit saja pria Jessi akan langsung bangun dan malah kurang istirahat nantinya. 


"Baik, Tuan." Willy lantas undur diri dan bergegas mengabarkan pada staf-staf agar datang ke ruangan Nicholas. 


Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di ruangan itu dan mulai melaporkan apa yang terjadi. Nicholas memperhatikan laporan karyawan dengan kepala sang istri yang masih berada di pangkuannya, sedangkan tubuh wanita itu ditutupi selimut. 


Sebuah lenguhan kecil membuat Nicholas mengangkat tangannya, mengisyaratkan anak buahnya agar terdiam sejenak. "Apa aku membangunkanmu, Sweet?" tanya Nicholas dengan lembut. 


Wanita tersebut hanya menggeleng kecil lalu mengubah posisi miringnya menjadi berlawanan. Dia membenamkan wajah di perut sang suami sambil memeluknya dan kembali terlelap, sedangkan Nicholas hanya bisa meratapi nasib karena Jessi membangunkan naga yang tertidur. 


Dia hanya bisa menghela napas sejenak, lalu mengisyaratkan pada anak buah agar kembali melanjutkan laporannya. Namun, mereka bukannya fokus pada laporan, melainkan lebih ke sepasang suami istri yang tampak mesra begitu tersebut. 

__ADS_1


Sejak tadi tak henti-hentinya Nicholas mengusap pucuk kepala sang istri, atau berpindah ke perut ketika Jessi meletakkan tangannya di sana. Sementara itu, satu tangan lainnya memegang berkas pembahasan yang tengah mereka garap di ruangan tersebut. 


"Sayang," panggil Jessi pada sang suami dengan suara parau khas orang bangun tidur. 


"Iya. Kau butuh sesuatu, Sweety?" Perhatian Nicholas sungguh terlihat begitu besar sebagai suami siaga.


"Kakiku lenguh," ucap Jessi ketika merasakan betisnya terasa cukup menyakitkan. 


"Sebentar." Tangan Nicholas mengangkat kepala sang istri dan meletakkan bantal di bawahnya, sedangkan dia berpindah posisi di bawah Jessi dan kembali bekerja sambil sebelah tangannya memijat kaki istrinya yang mulai bengkak itu tanpa malu. 


Para karyawan yang menyaksikan momen bersejarah itu, hanya bisa ternganga seolah tak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata mereka. Seorang Nicholas Bannerick, bersedia memijat kaki sang istri dengan lembut tanpa malu. Sungguh suatu contoh yang baik bagi para karyawan pria agar meratukan istri, sedangkan bagi karyawan wanita, mereka merasa Jessi sungguh beruntung memiliki suami seperhatian bosnya. 


Rapat pun kembali dilanjutkan dengan sebelah tangan Nicholas yang terus memijat kaki istrinya. Hingga beberapa saat kemudian, barulah semua itu berakhir. "Baiklah saya rasa semuanya sudah cukup. Silakan buat seperti apa yang sudah kita diskusikan tadi," ucap Nicholas membubarkan para karyawannya. 


Mereka pun mengangguk paham dan mulai beranjak kembali ke tempat masing-masing. Sepanjang perjalanan banyak karyawan saling berbisik iri, tetapi juga merasa beruntung bisa melihat kemesraan mereka. 


"Nggak nyangka ya. Tuan Nicholas yang dulunya datar kayak papan triplek bisa seromantis itu."


"Tuan Nicholas juga beruntung tahu dapat Nyonya Jessi. Udah cantik, baik, sederhana pula. Lihat alas kakinya tadi, asal kalian tahu sandal seperti itu paling cuma seharga dua dollar. Tapi tetap aja berkelas kalau dipakai Nyonya Jessi. Coba aja kalau istrinya bukan dia, pasti sudah sombongnya minta ampun."


"Bener banget tuh." 


Para karyawan memang saling heboh layaknya fans fanatik. Namun, idola mereka bukanlah kpop, melainkan sepasang bos mereka yang terkenal akan kebaikannya pada setiap karyawan dan tegas tanpa pandang bulu. 


Sementara itu, Jessi yang masih di ruangan suaminya akhirnya terbangun karena ingin berkemih. "Sweety, kau sudah bangun."


"Iya, Sayang. Aku mau ke kamar mandi dulu," ujar Jessi sambil mencoba turun dari posisinya dan berdiri dengan susah payah dibantu suaminya.

__ADS_1


"Mau aku bantu?" Nich mencoba menawarkan bantuan mengingat perut sang istri yang cukup besar dan khawatir terjadi sesuatu. 


"Tidak, Sayang. Aku masih bisa sendiri." Perlahan Jessi melangkah menuju kamar mandi dengan hati-hati. 


Kehamilan besar yang semakin mendekati hari lahir membuat sang ibu hamil semakin sering berkemih. Hal ini dikarenakan selama hamil, kandung kemih akan menjadi sering penuh karena ginjal bekerja ekstra dan menghasilkan lebih banyak urine guna membuang zat tidak berguna dari tubuh. Sisa metabolisme dari janin di dalam kandungan juga ikut dikeluarkan melalui urine, sehingga aliran darah dan produksi urin pun meningkat.


Cukup lama Jessi berada di dalam kamar mandi hingga sesaat kemudian wanita itu, berteriak cukup keras. "Aakkh!"


Nich yang panik bergegas menyusul istrinya dan membuka pintu dengan keras. "Sayang, kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan raut wajah khawatir di saat sang istri berdiri membelakanginya di depan close set.


"Saayangg." Jessi merengek sambil memutar perlahan tubuhnya dengan wajah cemberut dan tampak seperti hampir menangis.


"Apa? Kenapa? Mana yang sakit?" tanya Nicholas bertubi-tubi sambil memegang kedua bahu sang istri.


"Ha a a a a." Jessi hanya merengek seperti anak kecil lalu menatap ke bagian bawahnya. "Lihat! Aku ngompol gara-gara susah menurunkan pakaian dalamku," gerutu Jessi sambil mengerucutkan bibir hingga monyong maksimal. 


Nicholas hanya bisa melipat bibirnya ke dalam demi menahan tawanya yang hampir saja meledak mendengar masalah sang istri. Dia pikir Jessi terpeleset atau kontraksi. Nyatanya wanita itu hanya merengek karena tak tahan untuk berkemih dan berakhir kencing berdiri hingga semua pakaiannya basah oleh air seni. 


"Kenapa kau malah menertawakanku! Memalukan!" gerutu Jessi tak henti-hentinya sejak tadi.


"Sweety, aku bukan menertawakanmu. Hanya saja." Sejenak Nicholas menghentikan kalimatnya karena sudah tak tahan lagi. Akhirnya tawa pria itu pun meledak sampai-sampai mendapatkan tatapan tajam dari istrinya. "Maaf, maaf, tapi ini benar-benar lucu."


"Menyebalkan! Kau ini membuatku tambah malu saja. Keluar sana!" teriak Jessi saking kesalnya pada sang suami. 


"Kalau aku keluar, siapa yang akan membantumu nanti?" Perlahan Nich mendorong tubuh sang istri duduk di Close set. "Sudah, sudah, jangan marah-marah lagi! Aku bantu mandi sekalian." 


"Tapi aku malu."

__ADS_1


"Apanya yang harus malu? Aku sudah melihat semuanya dan sekarang kau memang membutuhkan bantuan. Jadi, biarkan aku sebagai suamimu yang membantumu." Nicholas kembali mengunci pintu dan perlahan melepas pakaian sang istri tanpa merasa jijik sama sekali. Dia bahkan bersedia memegang kain segitiga renda yang basah karena air seni itu dengan sabar dan dia turunkan dari tubuh istrinya. 


TO be Continue 


__ADS_2