
Langit gelap bertabur bintang, cuaca cerah tak ada tanda-tanda hujan. Namun, tidak dengan suasana hati Jane yang sudah mendung sejak pagi.
Pertama kali melihat wajah asli Jerry Morning setelah sekian lama membuatnya kacau seketika. Dia memutuskan untuk pergi ke klub malam guna menghilangkan beban di dada.
Ketika dia melangkah di area parkir apartemen, dari kejauhan Damien melihatnya yang berpakaian terbuka hari ini. Pria tersebut mengernyitkan dahi. "Mau ke mana dia dengan baju kekurangan bahan seperti itu?"
Damien baru pulang dari kantornya di sini, memutuskan untuk mengikuti arah mobil Jane. Dia tidak peduli dengan lelah yang sudah melanda sejak tadi karena banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan seharian.
Dia mengikuti ke mana pun, mobil di depannya berbelok. Hingga beberapa saat kemudian, wanita itu memasuki area parkir Light Club. Damien mengawasi dari kejauhan arah langkah Jane. Pakaian yang digunakan jelas bukan untuk mengurus bisnis Jessi seperti biasa.
Pria tersebut mengikuti Jane yang mulai masuk ke dalam. Dia duduk di sebuah kursi yang menjadi tempat terbaik untuk melihat Jane, sedangkan wanita tersebut berada di depan bartender.
"Berikan aku yang terbaik!" Jane merasa sangat kacau hari ini.
Meskipun dia tidak pernah mabuk sebelumnya karena selalu menjaga pola hidup dengan baik, tetapi kali ini Jane ingin melupakan segala kekesalannya. Rasa sesak dalam dada mengingat akan ibunya yang sudah meninggal membuatnya tersiksa sendirian.
Jane memanglah sosok yang introvert dan enggan untuk menceritakan masalah pribadinya kepada siapa pun, termasuk Jessi. Dia lebih memilih memendamnya dan juga menanggung beban sendirian.
Tak lama kemudian, bartender menyerahkan satu gelas koktail kombinasi kepada Jane. "Silakan, Nona."
"Terima kasih." Jane memutar bagian gelas bawah gelas, memainkan layaknya sebuah permainan.
Suara alunan musik yang keras serta riuh para pengunjung bersorak ria sambil berjoget tak membuat hatinya membaik. Dia tidak memerhatikan Damien yang mengawasinya dari belakang, tetapi hanya menatap kosong ke arah minuman di depannya.
Selama ini, Jane tidak pernah menyentuh minuman haram sebagai tiket menuju surga dunia tersebut. Baginya, hanya ada kerugian yang akan menumpuk di dalam tubuh peminumnya. Namun, kini dia sendiri mencoba melupakan masalahnya melalui salah campuran berbagai jenis alkohol itu.
Sejenak Jane menatap cantiknya tampilan segelas koktail yang membuatnya bergumam lirih. "Cantik!" Sebuah senyum tipis terukir indah di bibirnya. Wanita tersebut sangat jarang tersenyum sebelumnya.
Hal itu, sontak membuat Damien mengernyitkan dahi. "Apa yang membuatnya tersenyum?" Sejauh yang dia lihat, sejak tadi Jane hanya memandang koktail di depan tanpa meminumnya.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Jane kembali berceloteh. "Kau cantik, mahal, dan bernilai tinggi. Tapi sayang, aku harus memasukkanmu ke dalam perut." Perlahan Jane meminum koktail tersebut sambil menikmati aroma campuran sari buah yang ditambahkan.
Akan tetapi, hal tidak terduga terjadi, Jane ternyata sangat lemah akan alkohol. Dia bahkan langsung mabuk hanya karena sebuah koktail. Hal tersebut membuatnya semakin bergumam tak jelas.
"Brengsek! Dia adalah bajingan yang kejam!" Jane banyak sekali mengumpat kesal dengan mulut dan tubuh yang mulai tak seimbang karena efek alkohol kesadarannya pun menurun.
Di kejauhan Damien hanya menggeleng sambil tersenyum senyum kecil. Siapa kira-kira yang membuat Jane sampai seperti itu. Sepengetahuannya, wanita tersebut tidak memiliki kekasih yang akan membuatnya patah hati. Dari sisi keluarga, dia mempunyai Jessi dan Nenek Amber. Jadi, mustahil jika Jane memikirkan masalah keduanya.
Beberapa saat kemudian, terlihat seorang pria mendekati Jane. Damien yang melihat seketika berdiri dari posisinya. "Sialan!" Dia langsung melangkah mendekati Jane dengan raut wajah marah.
Entah apa yang membuat Damien merasa meluap ketika seorang pria mendekati wanita itu. Apa dia sudah merasakan jatuh cinta? Mungkin saja, lagi pula adiknya sudah ditemukan setelah bertahun-tahun lamanya. Jadi, dia tidak perlu lagi menahan perasaan.
"Menyingkirlah! Dia wanitaku." Suara tegas dan dingin membuat pria tersebut menciut. Ditambah proporsi tubuh Damien yang tinggi tegap mengeluarkan karisma dari usianya yang sudah matang.
"Aa, kalau kau."Jane menunjuk wajah Damien dengan sedikit kesadaran yang tersisa. "Aku mengenalmu. Bawa aku pulang!" Jane merentangkan kedua tangannya, seakan meminta pria di depan untuk menggendongnya.
"Ayo kita pulang!" Damien menutupi tubuh Jane dengan jas yang dia gunakan terlebih dahulu. Baru setelah itu dia membopong wanita tersebut keluar dari klub malam. "Sudah tahu tidak kuat alkohol. Kenapa masih meminumnya?"
Damien melajukan mobil menuju wilayah apartemen mereka, meninggalkan kendaraan Jane di sana. Lagi pula klub itu kan milik Jessi, tidak mungkin akan hilang begitu saja.
Sepanjang perjalanan Damien fokus menyetir sambil kembali membenarkan jas yang menyingkap agar kembali menyelimuti Jane. Wanita itu banyak bergumam tak jelas, sambil menyumpah serapah.
"Kau brengsek! Pria bajingan!" Hanya kalimat itu yang selalu Jane utarakan dalam khayalannya. Damien tersenyum tipis melihat tingkah wanita di sampingnya yang tidak mungkin bisa dilihat ketika dia sadar.
Namun, entah apa yang kembali dipikirkan Jane, tetapi bisa didengar oleh Damien jika wanita itu menangis sesenggukan.
Apa yang terjadi padamu, Jane?
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di kawasan apartemen. Damien kembali menggendong Jane sampai di depan pintu.
__ADS_1
"Apa kata sandimu, Jane?" Wanita itu tidak menjawab dan malah semakin mengeratkan tangannya di leher Damien. "Sial, dia sangat pulas."
Mau tak mau Damien membawa Jane ke lantai atas apartemen miliknya. Setibanya di sana, pria tersebut meletakkan Jane di ranjangnya secara perlahan. Dikarenakan dia tinggal sendirian di sini, meskipun ada banyak kamar, tetapi tempat-tempat yang tidak berpenghuni belum dibersihkan. Oleh sebab itulah, Damien membiarkan Jane menempati kamarnya.
Damien melepaskan high heels yang digunakan oleh Jane, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut hingga ke atas dada. Namun, ketika dia akan melangkah keluar, sebuah tangan menghentikan langkahnya.
"Aku mohon temani aku, Ibu. Jangan tinggalkan aku!" Sejenak Damien berbalik dan menatap lekat Jane yang masih terbawa dalam alam khayalannya.
Sebagai seorang manusia yang hidup tanpa orang tua sejak kecil, tentu Damien tahu perasaan sakit seperti apa yang di alami Jane saat ini. Dia pun kembali duduk di samping wanita tersebut, mengusap wajah cantiknya secara lembut layaknya sebuah lukisan indah tiga dimensi.
"Tenanglah, ada aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu." Jane semakin mengeratkan pelukan di tangan kiri Damien, hal itu tentu saja membuat sang pria mendekatkan wajahnya kepada Jane hingga jarak minimal.
Damien menatap lekat wajah Jane dari dekat, bulu mata lentik yang berkibar karena lirih hembusan angin malam, membuat wanita itu terlihat begitu cantik. Tanpa sadar debaran di jantung Damien terasa begitu cepat. Hal yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
Bisa bahaya kalau lama-lama di sini. Aku bisa mati muda karena gagal jantung.
Tak ingin semakin terbuai dengan kecantikan wanita di depannya, Damien berusaha untuk melepaskan tangannya dari pelukan Jane. Namun, bukan terlepas wanita itu malah menarik tubuhnya dengan kuat hingga Damien berada di posisi tak berjarak lagi.
Bibir mereka saling menempel, Damien melebarkan mata dan mengerjapkan berulang kali. Apa yang terjadi? Ciuman pertamanya.
Oh tidak, ciuman pertama setelah hampir empat puluh tahun menyendiri akhirnya hilang hanya dalam sekejap mata. Namun, sebuah senyuman tercipta di sela tempelan bibir itu. Sudah terjadi, apa yang salah dengan mencium Jane?
Dia pun menyesap bibir ranum Jane secara lembut dan perlahan. Tidak ada penolakan, tidak juga dengan balasan. Akan tetapi, Damien tetap mengulum bibir tersebut dengan lembut. Manis.
Namun, beberapa saat kemudian, balasan dari Jane membuat Damien terkesiap menatapnya. Wanita tersebut masih menutup mata. Akan tetapi, dia mengalungkan erat kedua tangan di lehernya.
Naluri sebagai lelaki tentu saja membiarkan Jane melakukan hal itu. Namun, kebahagiaannya hanya berlangsung sekejap. Wanita tersebut melepaskan pangutan dan memuntahkan seluruh isi perut kepada Damien. "Huek."
Damien yang terkesiap menampilkan ekspresi jijik. Baru kali ini dia dimuntahi oleh seorang wanita. "Sial!"
__ADS_1
To Be Continue...