
Aroma dari kepulan uap panas begitu sedap menusuk indra penciuman, dan sangat menggugah selera, air liur seakan meronta jika tidak segera memakannya. Tampilan cantik kolaborasi nasi dicampur telur, udang, dan sayuran terlihat begitu sempurna tersaji di atas piring.
Di belakang dinding para pelayan menyaksikan drama yang akan berlangsung siang itu dengan jantung yang berdetak kencang. Jessi sudah cukup lama tidak berkutat di dapur, sedangkan masakan yang dia buat jelas sangat tidak bersahabat.
Perlahan Dion menyuapkan satu sendok nasi goreng yang sudah membangkitkan seleranya sejak awal ke dalam mulut. Namun, baru satu suapan dia masukkan. Pria tersebut langsung menyemburkannya dengan keras, hingga membuatnya tersedak makanan di kerongkongan.
Jessi yang melihat hal tersebut langsung mengerucutkan bibirnya. "Apa masakanku tidak enak?"
Dalam hati pria tersebut menyumpah serapah. Dion mengambil gelas air minum di depannya, meneguk hingga tandas tanpa menjawab pertanyaan Jessi. Sial! Apa dia sedang mengerjaiku?
Rasa pedas seakan membakar lidah tanpa ampun, mulutnya seperti baru saja mengunyah sebuah bom nuklir yang meledak tanpa aba-aba di dalamnya. Sementara George yang melihat reaksi Dion hanya bisa menelan kasar ludahnya sediri. Haruskah dia mencicipinya juga.
Sementara Jessi kembali melangkah ke belakang mengambil porsi untuk dirinya sendiri. Kepergian wanita tersebut membuat Dion dan George saling berbisik di meja makan.
"Apa Nonamu ingin membunuhku?"
"Bagaimana rasanya?"
"Mulutku terasa terbakar." Dia mengibaskan tangan, dan menjulurkan lidah karena rasa pedas yang tak tertahankan.
Baru berbisik beberapa kata, Jessi sudah kembali ke meja makan tersebut. Melihat hasil karya yang masih belum tersentuh di piring kedua orang tersebut, membuatnya mendengus kesal.
"Jika kalian tidak menghabiskan makanan itu, jangan harap bisa melangkah pergi dari meja ini!"
Jessi menyuap nasi goreng mercon ke dalam mulutnya dengan santai. Kedua pria yang melihat melebarkan matanya, padahal sangat jelas mereka melihat sendiri, jika Jessi mengambil makanan tersebut dari tempat yang sama. Bahkan tampilannya tidak berbeda dengan milik keduanya.
Namun, apa yang terjadi kini? Dia seakan memakan nasi goreng biasa tanpa rasa pedas seperti yang mereka rasakan.
"Apa yang kalian lihat? Cepat makan!" Suara keras Jessi begitu menggelegar memaksa mereka kembali memakan bom nuklir berbentuk nasi goreng.
"B–baik, Nona." George pasrah, biarlah hari ini kamar mandi menjadi tempatnya bersemedi, asalkan tidak melihat kemarahan Jessi yang bisa berakibat fatal nanti.
Mereka kembali menyuap nasi goreng ke dalam mulut, sesuap demi sesuap hingga buliran keringat mulai mengalir membasahi wajah mereka. Tak perlu lagi garam jika kurang asin, cukup tetesan tersebut yang bercampur dengan makanan sudah menambahkan cita rasa di dalamnya.
Entah berapa banyak air yang sudah mereka minum dalam sekali makan. Mungkin perut keduanya kini bagaikan danau bermandikan buliran nasi yang berenang-renang di dalamnya.
Sementara wanita di depannya melahap habis makanan tanpa berhenti untuk minum, meskipun hanya seteguk. Entah terbuat dari apa mulut Jessi. Mungkin menu seperti inilah yang membuat mulutnya begitu pedas ketika berbicara.
__ADS_1
"Aku sudah selesai. Nikmatilah makanan kalian dengan santai!" Jessi lantas meneguk air minum di gelas secukupnya setelah makan, dan melangkah ke atas untuk mengistirahatkan diri.
Setelah perut kenyang tentu saja mata akan mengantuk. Apa lagi yang bisa dilakukan oleh seorang pengangguran seperti dia selain rebahan dan menghabiskan uang.
Melihat kepergian Jessi George dan Dion bergegas berlari ke arah wastafel untuk mencuci mulut mereka yang terasa terbakar. Air minum tidak lagi berguna menghilangkan panas yang menjalar dalam tubuh.
Para pelayan yang menyaksikan hal itu dari awal dengan segera menuangkan beberapa gelas susu putih ke dalam gelas untuk keduanya. "Minumlah dulu, Tuan!"
Keduanya bergegas meneguk habis susu pemberian para pelayan. Perut mereka sudah mulai menunjukkan tanda-tanda melilit melintir dan bersiap untuk menembakkan gas beracun yang kini bersarang di dalam tubuh.
George dan Dion sama-sama memejamkan mata, berjuang keras mengeluarkan gas beracun dalam tubuh mereka. Hingga beberapa saat kemudian, suara cerobong kereta uap terdengar begitu panjang.
Para pelayan bergegas berhamburan meninggalkan area dapur akibat serangan gas beracun dari dua pria tersebut.
"Lega," ujar George.
Namun, tidak dengan Dion. Dia merasakan sesuatu yang ikut keluar bersamaan dengan kemelut kentutnya. Berulangkali pria tersebut mengendus dengan posisi masih sedikit membungkuk.
"George ... sepertinya sesuatu ikut keluar tanpa aku minta." Dion masih berdiam diri mematung di tempatnya. Khawatir benda itu akan terjatuh dan semakin mempermalukannya.
Sementara George menatap tajam ke arahnya. "Maksudmu? Kau boker di celana?" Dia melangkah mundur menutup hidung dengan tangannya. "Kau jorok!"
"Pegang kotoranmu! Jangan sampai berceceran di lantai! Pergilah ke kamar mandi! Aku akan meminjamkan pakaianku." George menunjuk sebuah pintu yang berada di dapur, lantas melangkah pergi meninggalkan Dion sendiri.
Dion sungguh merasa dipermalukan kali ini. Seumur hidup, baru kali ini takdir mempermalukannya dengan begitu kejam. Dia melangkah perlahan menuju kamar mandi yang dimaksud George dengan masih membungkuk dan memegang pantatnya.
Dia tidak ingin setelah ini masih harus mempermalukan diri dengan membersihkan kotoran yang berceceran di lantai.
Sial! Apa ini hukuman atas semua kejahatanku?
Pria tersebut bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara di lantai atas Jessi tertawa kecil melihat adegan tak terduga di dapur. Awalnya, dia hanya ingin mengerjai keduanya. Namun, tidak menyangka hasilnya akan seseru ini.
"Lain kali aku akan mengerjai yang lain." Dia melangkah pergi menuju kamarnya.
Pada dasarnya Jessi memanglah pecinta makanan pedas. Oleh sebab itulah, dia tidak merasa bermasalah dengan nasi goreng buatannya yang hanya berada di level sedang dalam standar kepedasannya.
Di dalam kamar, Jessi merebahkan tubuh di atas ranjang, sambil menggerakkan kedua tangan. Apa yang terjadi? Hari masih terang, tetapi dia sudah merindukan suaminya.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, Jessi bergegas melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan sedikit berdandan. Dia memilih beberapa pakaian yang akan dikenakan. Namun, tak ada satu pun yang sesuai dengan seleranya kali ini.
"Cih, sepertinya aku harus mengganti isi lemariku." Dengan masih menggunakan bathrobe, Jessi melangkah keluar kamarnya untuk mencari Patricia.
Wanita itu hanya fokus untuk kuliah di bidang hukum dan berada di rumah jika tidak ada kelas. Patricia sadar kalau suasana di luar lebih berbahaya di bandingkan dengan sebelumnya. Karena itulah dia lebih memilih bertindak hati-hati agar tidak semakin merepotkan Jessi.
Jessi membuka kamar Patricia yang tidak di kunci tanpa mengetuknya terlebih dahulu. "Apa aku mengganggumu?"
"Ah, tidak, Nona." Patricia yang tengah membaca buku dengan kaca mata bertengger di hidung terkejut ketika melihat Jessi memasuki kamarnya untuk pertama kali. "Apa ada yang bisa saya bantu, Nona?"
Dengan santai Jessi melangkah memasuki ruangan tersebut. Kamar yang cukup luas dan nyaman karena dia tidak membedakan siapa pun yang tinggal di kediaman ini.
"Bolehkah aku meminjam bajumu?" Tanpa menunggu persetujuan Patricia, dia melangkah menuju walk in closet.
Sementara Patricia lantar berdiri dari posisinya untuk membantu Jessi memilih pakaian. "Apa Anda ingin pergi ke suatu acara, Nona?"
Dia menebak karena melihat Jessi yang sudah menggunakan make up di wajah cantiknya. Sangat jarang Patricia melihat fenomena langka ini karena selama yang dia tahu wanita di depannya selalu berpenampilan natural sebelumnya.
"Aku ingin memberikan kejutan untuk suamiku." Jessi berbicara jujur sambil mengedipkan sebelah matanya.
Dia tidak sungkan untuk menceritakan hal ini pada Patricia. "Aku ingin tampil menawan di depannya, dan memberikan kejutan."
"Bukankah Anda sudah selalu menawan di mata Tuan Nich, Nona."
"Cih, kau jomblo tahu apa? Sekali-kali keluarlah untuk jalan-jalan dan mencari kekasih. Kalau kau hanya berdiam diri di kamar, mungkin hanya ada George yang menjadi kandidat calon suamimu kelak." Cukup lama Jessi membuka setiap helai pakaian yang berjajar di lemari, hingga pilihannya jatuh pada sebuah gaun cantik dengan belahan di kaki yang cukup tinggi. "Aku mau pinjam ini."
"Nona, apa Anda yakin ingin mengenakan gaun itu? Bukankah cukup berseberangan dengan selera Anda."
"Apanya yang berseberangan? Aku akan mengubah isi lemariku menjadi seperti ini. Besok kau temani aku berbelanja, sekarang bantu aku memilih alas kaki yang pas."
Patricia membantu Jessi berias di kamarnya, ditatanya rambut Jessi sesuai dengan apa yang diinginkan. Mereka kini layaknya kakak beradik yang tengah akur menjalin kasih.
Beberapa saat kemudian, Jessi sudah selesai dengan tampilan yang dia inginkan. "Perfect, kau sangat cantik kali ini."
Jessi berdiri dari posisinya, dan secepat kilat mengecup singkat pipi Patricia sebagai tanda terima kasih. "Terima kasih, besok aku akan mentraktirmu berbelanja sampai puas. Hari ini aku akan mengambil dulu modal untuk kita bersenang-senang besok."
Dia melenggang pergi, meninggalkan Patricia yang masih mematung di tempatnya karena syok dengan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
To Be continue...