Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Lari Pagi


__ADS_3

Pagi hari Jessi sudah memulai aksinya untuk mengganggu kakaknya—Jane. Langit masih gelap, tetapi dia sudah tiba di depan apartemen sang kakak padahal waktu masih menunjukkan pukul 04:00 pagi.


Suara pintu di gedor dengan keras oleh Jessi.


"Kakak! Cepat buka pintunya!" Jessi berteriak seakan penghuni bangunan itu hanyalah Jane seorang.


"Kakak!"


Jane membuka pintu dengan mata yang masih belum terbuka sepenuhnya dan raut wajah yang terlihat lesu. "Ada apa kau pagi-pagi kemari?"


"Aku merindukanmu." Jessi langsung menyerobot masuk begitu saja melewati Jane.


Jane kembali menutup pintu. "Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu?"


Jessi berjalan memasuki apartemen, kemudian meletakkan bokongnya di kursi. "Aku tidak bisa tidur. Biarkan aku di sini dulu!"


"Kau kenapa?" Jane berjalan ke arah dapur, dia mengambil gelas lalu menuangkan air putih ke dalamnya.


"Jane, sebagai seorang wanita aku merasa kasihan dengan mereka." Jessi menggangkat kedua kakinya ke atas sofa, sambil memeluk lutut.


"Aku dengar anak Jack terluka parah?" Jane meneguk minumannya.


"Iya, limpa pecah dan tulang rusuknya patah. Apa kau tahu? Korban-korban yang ada di rumahku, mereka sampai hampir gila!" Jane melihat kesedihan di diri adiknya. Dia berjalan memberikan segelas air putih untuk Jessi.


"Mereka sungguh keterlaluan. Apa kau akan membalasnya?" Jane menyerahkan gelas di tangannya.


"Tentu saja. Terlalu baik kalau orang-orang sepertinya dibiarkan berkeliaran." Jessi mengulurkan tangannya, menerima gelas dari Jane.


"Apa rencanamu?" Jane meletakkan bokongnya di samping Jessi.


"Belum ada. Aku akan fokus pada penyembuhan mereka dulu. Aku akan membantu mereka membalas dendam setelah kondisinya membaik!" Jessi meminum airnya hingga tandas, lalu meletakkan gelasnya di meja.


Jane menganggukkan kepalanya. "Jane."


"Hmm." Jane berdehem, lalu menolehkan kepalanya kepada Jessi.


"Kenapa kau membenci lelaki?"


"Aku tidak membenci mereka, aku hanya malas melayani tingkah mereka yang memuakkan!" Sorot mata Jane menajam mengatakan itu.


"Apa kau sejenis?" Jessi mendekatkan wajahnya ke wajah Jane.


Satu pukulan dari Jane tepat di kepala Jessi.


"Auuwhh. Apa kau gila, hah?!" Jessi berteriak sambil mengusap-usap kepalanya.

__ADS_1


"Kau yang gila. Bagaimana bisa kau mengataiku sejenis, hah?!" Jane melototkan matanya melihat Jessi.


"Sekarang coba kau pikir, kau sudah tiga puluh lima tahun, tetapi kau masih perawan! Apa itu yang namanya normal?" Jessi berbicara sambil reflek menggerakkan kedua tangannya. "Kau tau? Ibarat getah, mungkin itumu tidak bisa melentur dan sudah tidak elastis lagi kalau di masuki."


Jane kembali memukul bibir Jessi dengan telapak tangannya.


"Yak?! Kenapa mulutmu setiap hari semakin beracun,hah?!" Jane kesal dengan kata-kata Jessi yang seenaknya saja.


"Aku hanya membicarakan kenyataan." Jessi meraih toples makanan ringan di meja. "Apa itumu sungguh masih berfungsi?"


Jessi mengatakan hal itu dengan santainya, tanpa memikirkan perasaan Jane. Baginya menggoda Jane dan melihat ekspresi kesal di wajah kakaknya adalah hiburan tersendiri di saat stres melanda dirinya.


Mereka bercengkrama sambil memakan makanan ringan dan menonton TV. Tak terasa matahari sudah mulai menampakkan cahayanya, menandakan bahwa pagi hari sudah tiba.


Jane berdiri dari duduknya. "Ayo kita jogging bersama!"


"Sebentar, lima menit lagi!"


Jane melangkah pergi meninggalkan Jessi yang masih asik dengan tontonannya.


Dia membersihkan diri, lalu mengganti baju dengan pakaian olahraga yang biasa dia pakai.


Ketika Jane keluar dari kamarnya terlihat Jessi masih belum bergeming dari posisinya.


"Cepatlah ganti bajumu!" Jane memukul Jessi dengan handuk kecil di lehernya. "Atau lemak di perutmu akan semakin berlapis!"


Jane menunggu adiknya sambil memasang sepatu di kakinya. Dia memulai peregangan otot selama menunggu Jessi.


Setelah Jessi siap, mereka keluar rumah menuju lift.


Terlihat di dalam lift, ada seorang laki-laki tampan dan gagah yang juga berpakaian olahraga.


"Tuan Damien!" sapa Jessi.


"Oh, Nona Jessi. Apa anda tinggal di kawasan ini juga?" Damien terkejut tanpa sengaja bertemu dengan Jessi.


"Bukan aku, tapi kakakku. Kenalkan, kakakku!" Jessi memperkenalkan Jane kepada Damien di dalam lift.


"Damien Barrack." Dia mengulurkan tangannya ke arah Jane.


Jane malas membalas ulurannya, tetapi dia mendapat lirikan tajam dari Jessi. Dia lantas membalas uluran tangan pria di sampingnya. "Jane Stephanie."


"Nama yang cantik," ucap Damien dengan senyum merekah di wajahnya, menampakkan pesonanya sebagai lelaki dewasa.


"Apa orangnya tidak cantik, Tuan? Auwwh." Jessi langsung mendapat injakan kaki dari kakaknya.

__ADS_1


Damien menutupi bibirnya yang tersenyum dengan tangannya melihat tingkah dua bersaudara di sampingnya. "Cantik juga."


"Apa Tuan Damien masih single?" Jessi bertanya dengan terus terang, tujuannya agar kakaknya semakin berapi-api. Benar saja, Jane melototkan matanya lebar-lebar padanya.


"Iya, aku masih single."


Lift terbuka mereka sudah tiba di lantai dasar.


"Apa kalian juga ingin pergi ke taman? Bagaimana kalau kita olahraga bersama?" ajak Damien.


"Tentu saja, lebih banyak orang lebih baik." Jessi antusias dengan tawaran Damien, tetapi tidak dengan Jane. Seleranya untuk lari pagi sirna begitu saja melihat ada laki-laki yang ikut bersama mereka.


Mereka bertiga berjalan menuju ke taman, sambil mulai meregangkan otot-ototnya agar tidak cidera. Jane dan Jessi berlari dengan beriringan, dengan Damien mengikuti di belakang mereka.


Banyak orang yang melakukan olahraga pagi di taman ini. Jane memang terbiasa melakukannya selama ini, sedangkan Jessi dia hanya mengikuti kakaknya saja.


Mereka berlari hingga satu jam lebih. Buliran-buliran keringat sudah membasahi tubuh mereka. Mereka mulai berjalan untuk melakukan pendinginan, sambil mengelap keringat masing-masing dengan handuk yang mereka bawa.


Jessi melihat tanah berumput yang kosong. Dia langsung merebahkan dirinya di tanah itu.


Jane langsung menyusulnya, tangannya bergerak meluruskan kaki Jessi yang sebelumnya di tekuk. "Kau harus meluruskan kakimu agar tidak kram!"


Damien pun ikut duduk di samping mereka. "Apa kalian biasa lari pagi di sini?"


"Aku hanya mengikuti kakakku. Dia yang biasanya selalu berolahraga pagi," ujar Jessi.


Jessi langsung merubah posisi tidurnya menjadi duduk mendekati Damien. "Ngomong-ngomong, Tuan Damien. Berapa usiamu?"


"Kau bisa memanggilku kakak juga! Kata tuan terdengar tidak nyaman saat keluar darimu, dan umurku baru tiga puluh sembilan tahun."


"Apa kau gila?! Tiga puluh sembilan tahun dan kau bilang baru? Apa kau bercerai dari istrimu?" Jessi terlihat begitu penasaran dengan kehidupan Damien.


Damien hanya menanggapinya dengan tertawa. "Aku bahkan tidak pernah berpacaran! Jadi, siapa yang bisa aku ceraikan?"


Mata Jessi membola mendengar hal itu. Pria dewasa yang tidak pernah berpacaran. "Apa kau juga menyukai sejenis?"


"Uhukk."


Damien tersedak minumannya ketika mendengar pertanyaan konyol Jessi. "Apa aku terlihat seperti itu?"


Jessi menganggukkan kepalanya dengan wajah ekspresi bodoh di wajahnya.


TBC.


Hallo temen-temen, setelah membaca hangan lupa tinggalkan like, vote dan Giftnya ya.

__ADS_1


Supaya author lebih semangat lagi dalam berkarya


__ADS_2