Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Obsesi Emily


__ADS_3

Antara cinta dan obsesi, apa yang membuatnya berbeda? Bukankah sama-sama mengagumi seseorang?


Namun, ketika cinta itu bukanlah dari hati dan memaksakan kehendak untuk memiliki, manusia itu tidak akan lagi peduli dengan konsekuensi. Obsesi membawanya bertindak di luar batas kemanusiaan. Menjerumuskan ke dalam lubang penyesalan, tetapi dia sendiri tidak sadar jika rasa yang dipaksakan akan berakibat fatal.


Malam ini Emily dan pria bayarannya tengah berada di salah datu klub ternama di Negara N. Mereka masih aktif menggoyangkan tubuh di atas lantai dance, dengan diiringi deru musik DJ yang begitu keras, ciri khas tempat hiburan malam.


Waktu sudah menuju pagi hari. Namun, suasana malah semakin ramai. Banyak pria yang memasang mata, menatap buas wanita sexy berbalut pakaian minim tersebut. Akan tetapi, Emily malah menikmati hal itu. Baginya, hasrat para lelaki yang melihatnya dengan penuh gairah adalah suatu kebanggaan tersendiri akan tubuh yang dia miliki.


"Mereka sudah menerima tawaranmu. Apa yang ingin kau lakukan pada wanita itu?" Pria di depannya berbicara dengan berteriak karena kerasnya deru musik yang memenuhi tempat tersebut.


"Aku akan membuat reputasinya hancur terlebih dahulu, setelah itu baru melenyapkannya dengan tanganku sendiri." Emily berusaha membuat rencana licik untuk Jessi. Wanita itu sangat yakin, jika Nich melihat kekasihnya bergumul bersama pria lain maka dia pasti akan merasa dikhianati, lalu pergi meninggalkan Jessi dan tidak lagi peduli bagaimana nasib saingannya tersebut. "Carikan aku tiga pria yang akan menyukseskan rencanaku kali ini!"


"Kau berniat membuatnya digilir?"


Wanita itu mengangguk sambil menggoyangkan tubuhnya di atas lantai dansa. "Dia pantas mendapatkannya, sebagai balasan karena telah merebut pria idamanku. Jangan lupa! Hadirkan sutradara bintang ternama untuk merekam aksi mereka!"


Emily terus bergerak dengan begitu lincahnya. Semangatnya seakan terpacu membayangkan wanita saingannya digilir oleh beberapa pria secara bersamaan. Sesaat kemudian, dia menghentikan aksinya, merogoh sesuatu di dalam tas mininya.


"Berikan ini padanya! Dia terlalu tangguh jika tidak diantisipasi."


Pria tersebut menerima barang yang diberikan Emily. Wanita itu lantas pergi menghampiri beberapa pria muda yang menatapnya tadi, meninggalkan temannya sendirian.


"Apa kalian mau bermain bersamaku?" Emily mendekat dengan pose menggoda. Dia tampak tak jauh berbeda dari seorang kupu-kupu malam, hinggap di mana-mana tempat sesuka hati.


Mendapat tawaran menarik dari seorang wanita cantik tentu saja mereka saling melirik. Empat pria seakan mendapat jackpot malam ini karena tawaran gratis dari Emily.


"Dengan siapa kau ingin bermain?" Seorang pria menarik Emily ke dalam dekapannya. Hingga dua gunung himalaya itu terpampang nyata di depannya.


"Kalian berempat sekaligus. Bukankah menyenangkan merasakan sensasi baru?" Emily berbisik menggoda di telinga pria tersebut. Tentu saja mereka menerima tawaran menggiurkan ini. Lagi pula wanita itu sendiri yang meminta, bukan karena sebuah paksaan.


Kelima orang tersebut segera meninggalkan klub malam, dan bergerak menuju tempat yang akan mereka gunakan untuk bersenang-senang.

__ADS_1


____________


Waktu berjalan maju, apa yang terjadi di belakang hanyalah masa lalu. Tidak ada yang meminta hidup sebatang kara, ditinggalkan sendiri oleh orang-orang tercinta. 'Seandainya' Tetaplah hanya sebuah kata 'Seandainya', tetapi tetap saja kita tidak dapat merubah apa yang telah terjadi tiga puluh tahun yang lalu.


Jessi sudah mulai sehat kembali. Semua orang tengah berkumpul di ruang keluarga kediaman Light. Meskipun, perasaannya masih begitu berat, tetapi dia tidak bisa terus menerus hanya menyalahkan diri sendiri.


"Aku meminta kalian berkumpul untuk membahas perihal kemarin. Sebagai kelurga korban, kalian juga pasti tahu bahaya di depan yang menanti ketika kita membuka kembali kasus keluargaku." Sejenak Jessi menghela napas berat, menatap masing-masing orang yang duduk di ruangan tersebut. "Aku tidak akan memaksa untuk ikut menyelidiki. Semua itu adalah hak kalian, dan aku akan menghargai keputusan yang kalian ambil."


"Kami akan tetap melanjutkan penyelidikan, Nona." Jackson akhirnya mulai membuka mulut untuk mengeluarkan pendapatnya. "Kami juga ingin tahu, siapa yang tega berbuat hal sekejam itu."


"Betul, Nona. Meskipun, taruhannya adalah nyawa kami sendiri. Kami tidak akan menyesali keputusan ini," ujar Patricia.


Jessi mengedarkan pandangannya, menatap satu per satu orang-orang di ruangan tersebut. Tidak ada keraguan di mata mereka, dan hanya ada sebuah harapan yang tinggi terhadap penyelidikan kali ini.


"Baiklah, kita tetap melakukan penyelidikan. Karena Maurer belum ada di sini, sementara biarlah Olivia yang mengatur tim IT!"


"Baik, Nona."


Tentu saja dengan kemampuan hacker handal yang mereka punya. Hanya saja tugas mereka dikerjakan dari markas, tidak seperti Maurer yang bisa melakukan bagiannya di mana pun.


"Kalian boleh kembali mengerjakan tugas masing-masing." Jessi berdiri hendak melangkah, tetapi dia teringat akan sesuatu. "Patricia, aku harap kau dan ibumu lebih berhati-hati! Karena ada orang lain yang mengincar nyawa kalian."


"Baik, Nona."


Jessi melangkah pergi meninggalkan ruang keluarga untuk melihat kegiatan para anak buahnya. Dia berdiri menatap jauh halaman tempat mereka berlatih, terlihat dua kucing kecilnya sudah mulai aktif berlarian menganggu aktivitas anak buahnya.


"Light! Stephanie!" Jessi melangkah maju, mendekati kedua kucing kecil itu dengan merentangkan kedua tangannya.


Tak lama kemudian, George datang menghampiri. "Nona."


"Ada apa?" Jessi menggendong kedua binatang tersebut di kanan dan kirinya, tanpa melihat ke arah George.

__ADS_1


"Pria tersebut adalah simpanan Emily, Nona." George yang ditugaskan untuk mencaritahu tentang Emily mulai melaporkan apa yang dia dapatkan.


Mendengar pernyataan George, sebuah senyum menyeringai jahat terukir indah di wajah cantik Jessi. "Sudah kuduga. Apa yang mereka rencanakan kali ini?"


"Mereka ingin kami menculik Anda, dan membawa ke sebuah hotel."


"Hotel? Untuk apa?" Jessi menatap heran ke arah George, dengan segera pria itu menjelaskan informasi apa yang dia dapatkan.


"Sepertinya mereka berusaha untuk merusak reputasi Anda, Nona. Karena mereka menyewa tiga pria gigolo dan juga seorang sutradara film dewasa."


"Cih, dia ingin mencoba menjebakku? Jangan harap rencananya akan berhasil!" Sejenak Jessi berpikir, apa hukuman yang pantas bagi wanita seperti Emily. Wanita itu terlalu kalap dalam obsesinya. Dia sepertinya tidak lagi menginginkan nyawa karena berani menantang Jessi.


"Mereka juga memberikan ini, Nona." George menyerahkan sebuah bubuk putih berbungkus kertas dan plastik bening. Jessi mengernyitkan dahi melihat hal itu.


Jadi, kau ingin aku menjadi aktris utamamu? Sepertinya kau belum mengenal siapa aku?


Sebuah senyum smirk mengerikan terukir di bibir ranum itu. "George, ubah ketiga pria itu menjadi sumber penyakit! Dan pastikan dia sendiri yang akan meminum ini!" Jessi menyerahkan kembali bubuk yang diberikan oleh George.


Kali ini hanya ada senjata makan tuan yang akan Emily dapatkan. Kesempatan hidup sudah dia lepas begitu saja. Maka jangan salahkan Jessi yang bertindak kejam.


"Baik, Nona. Kalau begitu saya pamit undur diri." George membungkuk hormat, sedangkan Jessi hanya mengangguk. Dia kembali melangkah dengan menggendong kedua anak kucingnya menuju rumah kaca.


"Ayo cucuku, kita perlu bersenang-senang sebelum berakting nanti."


Dia dunia ini hanyalah ada dua pilihan, memangsa atau dimangsa. Tentu saja Jessi akan memilih yang pertama, sebelum ada orang yang mencoba menghancurkannya. Maka dia akan bertindak lebih dahulu menyerang orang tersebut.


Jessi bukanlah wanita bodoh yang masuk ke dalam rencana Emily. Bisa dipastikan, apa yang dia rencanakan akan membalasnya lebih dari apa yang perempuan itu rencanakan.


Selama ini, Jessi sudah cukup tahu bahwa Emily adalah wanita yang tidak bisa dipisahkan dengan sentuhan pria. Tanpa disadari, hal itu jugalah aib terbesar yang akan mengguncang martabat keluarga Barron. Sedikit demi sedikit, dia akan memberikan pelajaran pada keluarga laknat itu.


Orang bilang, manusia akan mati sesuai dengan kebiasaan hidupnya, dan itulah yang akan Jessi terapkan untuk membalas kejahatan mereka.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2