Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Kembali


__ADS_3

Kehidupan berisi banyak rasa, tak semuanya menyenangkan. Oleh karena itu, wajar saja jika terkadang manusia mengalami sakit, entah itu fisik atau perasaan. Begitu pula Jane, dalam interval waktu ini, dia mungkin menyesal telah mencintai Damien. Akan tetapi, bagi pria itu akan ada penyesalan sepanjang hidupnya setelah kehilangan wanita yang pertama kali mampu menembus tembok pertahanan hatinya.


Jane memilih untuk tidak larut dengan semua ini. Jika memang dia harus mati seperti ibunya, wanita tersebut tak peduli lagi. Apa yang salah dengan kematian, setiap manusia hidup pasti akan mati. Hanya saja kapan datangnya tidak ada satu pun manusia mengetahui hal itu.


Dia ingin menghabiskan waktu untuk menikmati hidup, bukan bergumul di ruang perawatan rumah sakit dengan selang infus dan obat-obatan sebagai makanan utamanya. Akan lebih baik, jika Jane menghirup udara segar di luar sebelum kematian menjemputnya.


Lagi pula untuk apa di operasi. Hidupnya sudah tidak lagi memiliki makna, Jessi dan Nenek Amber telah mendapatkan keadilan serta kebahagiaan masing-masing. Kini telah tiba saatnya bagi Jane untuk menjauh dari kehidupan mereka.


Karena itulah, Jane segera meminta izin untuk pulang kepada pihak rumah sakit. Dia menolak segala pengobatan yang disarankan kepadanya. Wanita tersebut hanya ingin pulang ke Negara N dan menghadiri pesta pernikahan adiknya. Sebelum Jane memilih pergi meninggalkan mereka.


Di sisi lain, Pengacara John yang awalnya meninggalkan Jane karena urusan pekerjaan, memilih untuk membatalkan pertemuannya dengan klien, setelah mendapat kabar dari pihak rumah sakit jika Jane bersikukuh untuk pulang.


Dia membuka pintu ruang perawatan Jane dengan keras, guratan kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya karena tergesa-gesa ke sana sebelum wanita tersebut melarikan diri.


"Jane, apa yang kau lakukan?" John yang melihat Jane mengemas seluruh barang-barangnya segera menghentikan tangan wanita tersebut dengan sorot mata tajam.


"Singkirkan tanganmu!" Tatapan Jane menghunus ke arah John dengan lebih mengerikan daripada pria itu. Namun, tak membuat pria tersebut melepaskan cengkeraman tangannya dari wanita tersebut.


"Apa yang ingin kau lakukan setelah ini? Apa kau bodoh dan berniat melarikan diri?" John semakin erat memegang tangan Jane yang mencoba memberontak. Dia merasa geram melihat keras kepalanya sikap wanita di depannya, sama sekali tak berubah sejak dulu.


"John, sakit." Jane meringis kesakitan karena selang infus juga baru dicabut belum lama dan John memegangnya dengan tenaga penuh.


"Oh, maaf." Pria tersebut akhirnya mengalah melihat Jane beberapa kali mengusap tangannya yang memerah karenanya. "Maafkan aku."

__ADS_1


"Menyingkirlah, kau menghalangiku!" Jane kembali mengemas barang-barangnya ke dalam tas dengan perasaan kesal. Menyebalkan sekali ketika ada orang lain yang mencoba mengatur hidupnya seperti ini.


"Ke mana kau akan pergi?"


"Pulang! Jessi akan menikah, bagaimana bisa aku melewatkan hal itu." Jane menutup resleting tasnya dan berniat hendak melangkah pergi.


Namun, tangan pria itu menahan dirinya seketika menghentikan langkah Jane. "Biar aku temani!"


"Apa kau tak punya urusan lain? Berhentilah mengurusi hidupku dan urus saja masalahmu sendiri!"


"Pergi denganku atau aku akan memberitahu adikmu semua ini?" Tak ada lagi pria lembut dan penggoda layaknya seorang cassanova. Hanya sorot mata mengancam dengan nada tegas berwibawa sesuai gambaran pekerjaannya.


Jane seketika melebarkan mata hingga membulat sepenuhnya ke arah John. Deru napas yang naik turun bahkan terdengar begitu jelas karena emosi wanita tersebut kembali tak terkendali. "Kau mengancamku?"


"Ya," jawab Pengacara John tanpa ragu. Hal ini lebih baik daripada membiarkan wanita tersebut bepergian sendirian.


Sementara itu, Jane hanya bisa memejamkan mata sejenak sambil menghidup oksigen dalam-dalam. Pria di depannya seakan menguji kesabarannya kali ini. Jika saja membunuh manusia hanya seperti menepuk nyamuk, dia pasti sudah melakukannya sejak tadi.


"Baiklah! Jangan sampai Jessi mengetahui hal ini! Atau aku akan memberimu pelajaran!" Jane mengepalkan jemarinya di depan wajah John layaknya meremat kerupuk hingga hancur. Kali ini dia hanya bisa mengalah dengan pria tersebut. Jane tidak ingin Jessi tahu semua ini dan hanya akan menambahkan beban hidupnya yang baru saja bahagia.


Keduanya pun bergegas pergi meninggalkan kawasan rumah sakit untuk terbang kembali ke Negara N.


___________

__ADS_1


Di sisi lain, Jessi yang bahagia karena pesta pernikahannya segera dilaksanakan hanya bisa mengawasi, sedangkan semua urusan diatur oleh Laura.


Meskipun terkesan aneh, tetapi Laura menyukai ide Jessi yang ingin menikah di kebun binatang. Mereka bahkan menyewa tempat itu untuk satu minggu ke depan agar semuanya berjalan lancar sebelum maupun sesudahnya.


Tidak akan ada alunan musik keras karena hal itu bisa membuat hewan stres. Tamu undangan pun nantinya terbatas demi kenyamanan penghuni kebun binatang. Jessi mengambil tema negeri dongeng untuk pernikahannya. Di mana para tamu diminta untuk mengenakan pakaian peri atau tokoh fiksi lainnya layaknya sebuah perayaan fantasi.


Jessi mengawasi dekorasi dengan Laura sambil memakan keripik kentang di tangannya. "Mom, itu jelek! Tukar." Wanita tersebut menunjuk sebuah dekorasi yang baru saja di tata oleh para pekerja.


"Mana, Sayang?" tanya Laura. Entah berapa kali Jessi mengeluh jelek dan tidak suka sejak tadi, hingga membuat mereka terus mengganti dekorasi sesuai keinginan wanita hamil tersebut.


Bukan tanpa alasan Jessi melakukan hal itu. Namun, rasanya sangat menyenangkan melihat wajah kesal mereka yang seakan ingin mengumpat ke arahnya, tetapi tidak bisa. Semenjak hamil, wanita tersebut semakin jahil dan suka mengerjai orang lain tanpa pandang bulu.


"Aku ingin diganti bunga mawar hitam, Mom?" ucap Jessi cuek, tetapi berhasil membuat Laura membelalakkan mata.


"Yak, apa kau gila, Girl? Tadi merah minta pink, sudah pink mau putih dan sekarang putih kau minta hitam? Apa bayi-bayimu ingin Neneknya mati muda?" Laura terlihat begitu geram dan menyesal sudah mengajak Jessi meninjau lokasi. Bukannya duduk santai dan menikmati malah dibuat emosi dengan tingkah menantu semata wayangnya ini.


Sementara itu, Jessi hanya menyengir kecil melihat wajah emosi ibu mertuanya yang sudah ditahan sejak tadi. "Mommy, itu sudah tua. Jangan mengaku masih muda lagi! Lihat di sana, Mom!" Tangan Jessi menunjuk ke arah gajah di kandangnya. "Keriput di pipimu bahkan lebih luas daripada telinganya, Mom."


Laura semakin membelalakkan mata mendengar ocehan Jessi yang tak lagi disaring sejak hamil. Sangat pedas dan menusuk kalbu, jika saja dia bukan menantu kesayangan keluarga, sudah pasti Laura akan memberinya pelajaran. "Dasar menantu kurang ajar! Ayo pulang! Bikin emosi saja kamu di sini!"


Keduanya pun memilih untuk kembali ke rumah karena jika tidak, dekorasi itu pasti tidak akan bisa selesai tepat waktu sebab Jessi yang selalu berceloteh tak puas dan mencela pekerjaan mereka.


To Be Continue...

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke novel kedua autor yang berjudul 'QUEEN OF CASINO' ya teman-teman.


Tap love, favorit, like dan tinggalkan komentar kalian. Terima kasih


__ADS_2