
Nich yang beberapa hari ini tidak terlihat di kantor sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Dia datang agak siang dengan membawa sebuah kotak besar di tangannya.
"Tuan." Willy yang lebih dulu tiba di kantor sejak pagi, membungkuk hormat ketika sang pewaris sudah memperlihatkan batang hidungnya.
"Will, panggilkan Office Boy kemari sekarang!"
"Baik, Tuan." Nich bergegas memasuki ruangannya, meletakkan apa yang dibawa di atas meja. Tak lama kemudian, Willy juga ikut masuk membawa setumpuk berkas di tangannya.
"Apa-apaan ini, Will?"
"Ini adalah berkas-berkas yang memerlukan tandatangan Anda, Tuan."
"Iya, aku tahu. Tapi, kenapa sebanyak ini?" Nich mengernyitkan dahinya melihat begitu banyak dokumen yang harus dia tinjau. "Bukankah kemarin aku sudah menyuruhmu agar menyerahkan semuanya kepada ayah?"
"Benar, Tuan. Namun Tuan Michael hanya mau membantu bertemu klien, selebihnya urusan kantor ditunda hingga Anda kembali."
Nich memijit pangkal hidungnya mendengar penuturan Willy, bukankah ini sama saja ayahnya sedang mengerjainya. "Letakkan di sana kalau begitu! Ayah sialan!"
Pria itu mendengus kesal dengan sikap ayahnya yang suka mengerjainya. Tak lama kemudian, seorang Office Boy datang mengetuk pintu yang tak tertutup tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Kau pasangkan pigura ini tepat di dinding belakang kursi itu! Minta bantuan Willy!"
"Baik, Tuan." Pria itu terlebih dahulu mengambil sebuah tangga kecil sebagai pijakan.
Setelahnya, Willy membantunya memegangi pijakan tersebut, sedangkan sang Office Boy memasang paku di dinding. Nich, menyerahkan pigura yang akan dipasang kepada asistennya.
Willy langsung terkejut melihat gambar tersebut. "Apa ini editan, Tuan?"
"Sembarangan kalau bicara. Ini asli seribu persen." Nich memamerkan cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya dengan bangga. "Makanya segeralah menikah!"
"Jadi, Tuan pergi kemarin untuk menikah?"
"Tentu saja. Sudah cepat pasang! Aku harus segera menyelesaikan berkas-berkas yang kau bawa agar bisa segera pulang dan menggarap istriku."
__ADS_1
Willy mencebikkan bibirnya mendengar kalimat sang tuan muda yang terlihat begitu bangga setelah menikah. Andai saja kau tak memberikanku banyak tugas setiap harinya. Sudah pasti aku juga bisa segera menikah.
"Will, kau menggerutu?"
"Ti—tidak, Tuan." Willy tercekat napasnya sendiri, Nich memanglah layaknya Raja Neraka yang bisa mendengar ucapannya meskipun hanya diucapkan dalam hati.
Setelah selesai memasang bingkai foto pernikahan Nich dengan Jessi. Mereka berdua segera keluar dari ruangan tersebut.
Berita tentang pernikahan sang pewaris tahta pun menyebar dengan begitu cepat ke telinga para karyawan layaknya terbawa embusan angin, membuat pegawai wanita semakin patah hati berjamaah. Namun, ada juga yang merasa bahagia karena mereka merasa Jessi dan Nich adalah kombinasi pasangan yang sempurna.
Tentu saja hal tersebut tidak mungkin lepas dari pantauan sang biang gosip Nyonya Laura. Dia yang sedang bermain ponsel di salon melihat berita dari para karyawan Bannerick Group segera bergerak dari tempatnya.
"Aku harus membantu putraku supaya tahan lama." Laura menatap penata rambutnya. "Apa sudah selesai aku harus segera pergi."
"Sudah, Nyonya."
Laura segera berdiri dari duduknya. Dia hendak melangkah keluar, tetapi seseorang menahannya.
"Aunty Laura!" Emily berpura-pura tidak sengaja bertemu di salon tersebut, padahal sebenarnya dia sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Sebab, Nicholas sangat sulit untuk didekati karena itulah wanita ini mencoba mendekati Laura
"Ini aku, Aunty, Emily."
"Oh, maaf, ya. Aunty sedang buru-buru." Tanpa menunggu jawaban dari Emily Laura bergegas melanjutkan langkah meninggalkan salon tersebut.
Sementara Emily menghentakkan kakinya karena diacuhkan oleh Laura. Sialan! Jika bukan karena kau adalah ibunya Nich, aku juga malas mendekatimu.
Hingga seorang pelayan datang membuyarkan lamunannya. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Tidak!" Emily menjawab dengan ketua, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari salon tersebut.
Di sisi lain, Laura sudah ada di dalam mobilnya hendak menuju Bannerrick Group. "Kita mampir ke toko obat tradisional china dulu, Pak!"
"Baik, Nyonya."
Mereka mampir ke salah satu toko ramuan herbal yang ada di sana. Laura membelikan sebotol obat yang biasa diminum pasangan yang baru saja menikah agar tahan lama. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan ia pun kembali ke mobil melanjutkan perjalanan menuju kantor putranya.
__ADS_1
Setibanya di gedung Bannerick Group, Laura melangkahkan kaki dengan senyum yang selalu mengembang di wajahnya. Dia sungguh bahagia mendengar berita jika putranya sudah menikah. Akhirnya, pria kutub itu mempunyai pasangan juga.
Laura langsung saja membuka pintu ruangan Nich tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah sebuah pigura besar terpasang di belakang tempat duduk putranya, membuat wanita itu langsung tersihir dan mendekati gambar tersebut.
"Son, benarkah ini kau dan menantuku?" Laura menutup mulut dengan tangannya seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Nich yang tengah meninjau dokumen memutar kursinya agar menghadap ibunya. "Iya, Mom. Apa Mommy marah karena aku menikah lebih dulu tanpa memberitahu kalian?"
Ibunya langsung menepuk bahu Nich dengan keras. "Apa kau bodoh? Tentu saja kami senang. Kenapa tak kau lakukan sejak dulu?"
"Karena mantan suaminya belum lama ini kembali mengintainya."
"Benarkah, Son? Kau harus benar-benar menjaga menantuku agar tidak dicuri!"
"Tentu saja. Mom, jika resepsi di sini kita adakan lain waktu apa kau keberatan?" Nich memegang tangan putih ibunya yang sudah mulai menua, tak sekencang kulit Jessi.
"Terserah kalian. Mommy tidak akan memaksa. Tapi, sebaiknya urusan membuat cucu jangan ditunda! Ini Mommy belikan ramuan khusus untukmu, jangan lupa diminum nanti malam!" Laura menyerahkan paper bag berisikan obat herbal yang dia beli tadi.
"Apa ini, Mom?" Nich mengernyitkan dahinya membuka isi dari paper bag tersebut yang berbau herbal.
"Ramuan kuat supaya kau tahan lama. Mungkin saja mantan suami menantuku dulu mengalami ejakulasi dini, makanya benihnya gagal. Kau harus memberikan bibit berkualitas untuk membuat cucuku nanti. Jangan lupa diminum!" Laura sangat antusias mengatakan hal tersebut, bayangan putranya yang masih ting-ting dijebol oleh Jessi membuatnya tersengih-sengih.
"Mommy, ini ada-ada saja." Nich menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol ibunya saat ini.
"Jangan lupa pesan Mommy! Puaskan istrimu agar tidak kembali kepada mantannya!" Laura berbicara dengan nada memprovokasi. Baginya, Nich adalah putra yang bodoh dan perlu untuk disinggung agar bergerak cepat.
"Mommy pergi dulu. Lain waktu ajaklah istrimu menginap di rumah agar Mommy ada teman bermain."
Nich menganggukkan kepalanya. "Hati-hati di jalan, Mom!"
Laura melambaikan tangan lantas meninggalkan kantor putra semata wayangnya tersebut. Sementara, Nich mengambil botol yang berada di dalam paper bag.
Apa benar dahulu mereka tidak segera memiliki anak karena Brian ejakulasi dini?
Meskipun Nich adalah orang yang cerdas dalam berbisnis, tetapi dia adalah seorang pria yang minim menghadapi hal seperti ini karena Nicholas sendiri tidak pernah menjalin asmara sebelumnya.
__ADS_1
TBC.