Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Jane dan Damien 1


__ADS_3

Berbeda halnya dengan Jessi yang memberi pelajaran keluarga Gery Selai. Jane yang kondisinya belum pulih betul dan terlalu lelah pingsan, sehingga membuat Damien segera membawanya ke dalam mobil.


Pria itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya. Berulang kali Damien menoleh ke arah wanita di sampingnya. Raut kekhawatiran tergambar jelas di wajah pria tersebut ketika melihat Jane yang semakin pucat pasi terkulai lemas di kursi samping kemudi. Dinginnya tangan wanita itu bahkan bisa dirasakan oleh genggaman Damien.


"Bertahanlah, Jane!" Dia mengemudikan mobil dengan suasana hati yang kacau. Namun, nyatanya masalah tak hanya cukup di sana. Jalan yang awalnya mulus kini berubah menjadi padat merayap, macet total karena sebuah kecelakaan di depan.


Berulang kali, pria itu mengumpat kesal sambil terus menekan klaksonnya. Merutuki dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu kepada Jane. Melihat situasi yang tak kunjung lancar, Damien pun memutuskan untuk keluar dan melihat wilayah sekitar.


Rumah sakit sebenarnya sudah tak lagi jauh dari tempat mereka berada karena bangunan tersebut bahkan sudah terlihat dari posisi Damien berdiri saat ini. Tanpa membuang waktu, pria itu memilih untuk segera membawa Jane di atas punggungnya.


Damien berlari ke rumah sakit melewati jalan trotoar, dia tak memedulikan nasib mobilnya nanti akan bagaimana. Baginya yang terpenting saat ini adalah keselamatan Jane. Hingga beberapa saat kemudian, keduanya tiba di sebuah rumah sakit dengan napas yang terengah-engah karena berlari.


"Tolong selamatkan dia!" ucap Damien kepada salah satu perawat yang langsung memindahkan Jane dari punggung pria itu ke atas brankar.


Sejenak pria itu bersandar di dinding sambil menunggu tim medis memeriksa Jane. Deru napas terengah-engah tak beraturan, serta buliran keringat berjatuhan membasahi pakaian pria tersebut akibat lelah melangkah menembus terik matahari dan membelah jalan setapak.


Namun, tak lama kemudian terdengar suara lirih seorang wanita di atas brankar ketika hendak dipasangkan jarum infus. "Di mana aku?" tanya Jane.


"Anda sedang di rumah sakit, Nona," jawab perawatan tersebut.


"Apa yang kau lakukan?" Jane seketika menepis tangan perawat tersebut setelah sadar dirinya sedang berada di rumah sakit.

__ADS_1


"Nona, tolong tenang!" Perawat mencoba menenangkan Jane yang berniat turun dari brankar.


Damien yang melihat hal itu segera berlari mendekati mereka. "Jane, apa yang kau lakukan!"


"Menyingkirlah!" Wanita tersebut kekeh menepis tangan Damien yang hendak membantunya. Dia tidak ingin berlama-lama di rumah sakit ini bersama pria tersebut. Bisa-bisa segala hal tentang penyakitnya akan terbongkar jika melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


"Jane!" Damien meraih tangan Jane yang hendak melangkah pergi dengan kuat.


"Aku mau pulang!" teriak Jane dengan suara geram yang tak kalah tinggi. Meskipun wajahnya masih pucat pasi, tetapi kegigihan untuk meninggalkan tempat ini sangatlah tinggi. Dia tidak mau berdebat lama-lama bersama Damien dan segera melangkah menjauh.


"Baiklah kita pulang!" Tanpa menunggu jawaban Jane, Damien segera menggendong wanita itu di punggungnya kembali.


Tak lama kemudian, Damien memberhentikan sebuah taxi di sekitar sana. Dia meletakkan Jane di kursi belakang terlebih dahulu dan melangkah ke seberang. Belum sempat pria itu membuka pintu untuk dirinya sendiri, Jane sudah memerintahkan sang supir agar segera melaju meninggalkan Damien seorang diri di halaman rumah sakit.


Melihat betapa tega Jane padanya, Damien hanya bisa mengacak-acak rambutnya sendiri sambil menendangkan kaki ke udara. Ternyata rasa kecewa di hati Jane terlalu dalam dia torehkan hingga membuat wanita tersebut mampu melakukan hal itu padanya. "Sial!"


Mau tak mau, Damien kembali melangkah menyusuri trotoar untuk mengambil mobilnya yang masih berada di jalanan. Namun sayang, belum sempat pria itu tiba di lokasi, pandangan mata Damien menangkap mobil miliknya sudah melenggang pergi dengan di tarik sebuah truk derek karena menghambat lalu lintas.


"Argh!" Damien hanya bisa mendengus kesal sambil mengacak-acak rambutnya yang tak lagi rapi. Akhirnya, pria tersebut memilih untuk kembali memberhentikan sebuah taksi dan pulang ke apartemennya.


"Apa sebegitu kecewanya kau padaku, Jane," gumam Damien lirih sambil memandang jauh ke arah luar kaca mobil tersebut.

__ADS_1


Di sisi lain, Jane yang meninggalkan Damien seorang diri juga melamun di dalam mobil. Pikiran wanita tersebut melayang entah ke mana dengan pandangan kosong dan buliran hangat berkumpul di pelupuk mata. Rasa sesak seakan kembali menyeruak mengingat dirinya yang tak pantas jika disandingkan dengan Damien.


Pria itu pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik di bandingkan dirinya. Hanya seorang wanita penyakitan yang tak tahu kapan akan sembuh atau mati. Tanpa sadar ketika buliran hangat itu mulai mengalir membasahi pipinya, sang supir taksi menyaksikan hal itu.


"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya supir taksi sambil menyerahkan sekotak tisu dari depan kepada sang pelanggan dengan masih fokus pada jalanan.


Jane tak menjawab untuk waktu yang cukup lama dan hanya mengusap ingusnya yang sesekali keluar bersamaan dengan asinnya air mata.


"Apa aku pantas bersamanya, Paman?" Setelah terdiam cukup lama, Jane akhirnya mulai membuka mulut dan berbicara pada supir taksi berambut putih uban tersebut. Lagi pula mereka tidak akan bertemu lagi setelah ini, jadi apa salahnya menceritakan beban di hatinya.


"Kenapa, Nona bisa menganggapnya tidak pantas?" tanya pria tua itu sambil sesekali melihat ekspresi pelanggannya di balik kaca spion tengah.


"Dia terlalu sempurna dan pantas untuk mendapatkan wanita yang lebih baik lagi." Jane menjawab dengan sorot mata sendu. Mulut wanita tersebut mampu mengatakan hal itu, tetapi hatinya sungguh bergetar dan meronta-ronta seakan menyumpahi apa yang keluar dari bibir wanita tersebut.


Sementara itu, sang supir taksi hanya bisa tersenyum kecil mendengar pernyataan pelanggannya. Manusia memang memiliki pemikiran masing-masing, tetapi akan menyesali keputusan ketika sudah berada di usianya. "Manusia diciptakan oleh Tuhan lengkap dengan ketidaksempurnaan. Dia menyatukan dua insan tak sempurna untuk saling melengkapi, bukan menjadikan kekurangan itu sebagai pemisah. Apa yang kita pikir baik baginya, belum tentu dia kan bahagia dengan keputusanmu. Bisa jadi kalian hanya sama-sama saling menyiksa diri dan membuang waktu dengan kemungkinan yang tak pasti."


Sejenak pria itu menghentikan kalimatnya untuk menoleh ke arah pelanggannya yang masih terdiam dikebisuan diri. "Daripada saling menghindar dan berakhir terluka. Lebih baik bersama dan menutup luka, meskipun pertemuan itu singkat, tetapi kenangannya sepanjang hayat."


To Be Continue...


Hai, hai hai! Cerita Jessi tinggal masa-masa indah. Saatnya menyatukan dua insan yang saling terluka karena karma. Jangan bosan menanti ya! Karena pastinya gak akan kalah seru dengan Jessi. Meskipun partnya singkat, sehingga author memutuskan untuk digabung saja.

__ADS_1


__ADS_2