
Malam harinya, Jessi mengasuh ketiga anaknya yang telah kembali bersatu seperti biasa. Memandikan, menimang, dan menyusui sesuai kebutuhan bayi. Nicholas kini selalu pulang sore karena kasihan dengan Jessica bersamanya dan memilih menyelesaikan sisa pekerjaan di rumah agar sang putri bisa berkumpul kembali dengan kakak-kakaknya.
Suasana kediaman Light yang awalnya memang tak pernah sepi kini semakin riuh dengan kehadiran ketiga bayi, lolongan dua serigala, dan lima ekor harimau yang saling bersahutan di kala mereka terjaga.
Jessi mendekati Nicholas yang masih berkutat dengan laptopnya di atas ranjang, setelah berhasil menidurkan ketiga anaknya. "Sayang," ucapnya dengan manja.
"Hmm." Nicholas hanya berdehem tanpa melihat ke arah sang istri dan tetap fokus pada pekerjaan. Dia hanya sesekali menggaruk alis kirinya saat berpikir apa yang harus dilakukan dan kembali mengetik di atas papan ketik.
"Sayang." Panggilannya tak mendapatkan respons membuat tangan Jessi bermain nakal mengelus paha sang suami yang masih berbalut pakaian tidur.
Tiga bulan lamanya keduanya tak pernah berhubungan badan. Padahal Jessi sudah selesai masa nifas sejak dua bulan yang lalu. Akan tetapi, pekerjaan sang suami ditambah mengasuh putra putrinya yang rewel membuat Jessi maupun Nicholas terlalu lelah malam harinya.
"Sayang, apa kau tidak merindukanku?" bisik Jessi sambil sesekali menggigit telinga suaminya dengan lembut setelah elusan di paha tampak tak memberikan respons sama sekali.
"Sebentar, Sweety! Lima menit lagi." Jemari Nicholas terus bergerak di atas papan ketik, tetapi istrinya sudah tak sabar menunggu dan langsung menutup benda tersebut dengan paksa.
"Tidak ada lima menit lima menit lagi! Kita mulai sekarang!" ujar Jessi yang seketika menindih tubuh suaminya setelah meletakkan laptop di atas nakas yang dia rampas sebelumnya.
Dengan rakus Jessi mencium bibir suaminya. Rasa haus akan belaian berbulan-bulan lamanya harus dibayar tunai malam ini dan dia tidak mau hal itu ditunda-tunda lagi.
Sementara itu, Nicholas yang melihat keagresifan istrinya hanya bisa membalas dengan lembut. Tangan kirinya bergerak semakin dalam menekan tengkuk sang istri, sedangkan bagian kanan mulai meraba kulit cantik yang tak lagi terhalang perut buncit ke sana ke mari.
Lama tak bersenggama membuat keduanya saling terbuai dalam pemanasan malam yang seharusnya dingin ini. Tanpa membuang waktu, Jessi membuka kancing pakaian tidur suaminya satu per satu dengan mulut yang masih rakus melahap bibir suaminya. Tangan Jessi sudah bergerak semakin ke bawah dan hendak meraih kejantanan sang suami yang sudah berdiri tegak. Namun, suara tangisan Jessica yang terbangun cukup memekakkan telinga hingga keduanya pun terpaksa menghentikan aktivitasnya.
"Dasar iblis kecil!" teriak Jessi di saat bocah tiga bulan itu mengganggu aktifitas yang sudah terlanjur panas Ayah dan Ibunya.
"Sebentar, Sweety?" Tanpa memerhatikan sang istri yang sudah terlanjur birahi, Nicholas malah menyingkirkan tubuh Jessi di atasnya dan melangkah mengambil sang putri dari baby boks. "Ush, ush, ush, Kesayangan Daddy jangan menangis!" ujar Nicholas dengan lembut memeluk putrinya di dada bidang yang masih setengah telanjang.
Jessi hanya bisa mendengus kesal sambil menyilangkan tangan di dada dan bersandar di kepala ranjang. Selalu saja Jessica mengganggu aktivitasnya yang hendak menuntaskan hasrat bersama Nicholas.
__ADS_1
Lima menit, posisi mereka masih seperti itu. Sepuluh menit, masih juga sama. Hingga satu jam kemudian, melihat Jessica yang tak kunjung tidur dan malah mengambil alih suaminya membuat Jessi semakin kesal. "Dasar iblis kecil! Masih kecil sudah pandai merebut suamiku!" kesal Jessi sambil melangkah menuju walk in closet untuk mengganti pakaian. Sesaat kemudian, dia keluar dengan balutan mini dress dan wajah cantik bak anak muda masa kini. Sungguh berbeda dengan sebelumnya yang ke mana-mana selalu memakai daster.
"Sweety, kau mau ke mana?" tanya Nicholas melihat penampilan sang istri saat itu tampak begitu terbuka.
"Mencari jantan! Gadismu itu selalu saja membuatku kesal!" ucap Jessi yang langsung mencium pipi Nicholas dan Jessica sebelum melangkah pergi.
Meskipun mulutnya pedas, tetapi Nicholas tahu jika Jessi paling hanya ingin menghabiskan waktu bersama anak buahnya yang masih single jika sudah kesal seperti ini. Karena dia paham betul kalau istrinya masih menjadi biro jodoh meskipun para bayi sudah keluar dari perutnya. Namun, keinginan absurdnya masih saja berlanjut.
"Mommy marah karena gagal minta jatah," kata Nicholas sambil mencubit gemas pipi putrinya.
Di sisi lain, Jessi yang kesal langsung memanggil Maurer di kamarnya agar segera keluar. Awalnya dia juga ingin mengajak Patricia, tetapi jangan tanya! Gadis itu berubah menjadi kutu buku setelah menempuh pendidikan di jalur hukum kesukaannya, sehingga selalu saja berkutat dengan buku-bukunya demi menjadi pengacara hebat yang menegakkan keadilan seperti ayahnya.
"Ajak Anna sekalian!" ujar Jessi pada Maurer yang baru turun dan langsung menyambar kunci mobil di tempatnya.
"Kita mau ke mana malam-malam begini, Nyonya?" tanya Maurer yang baru saja melihat jam di tangannya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh, tetapi Jessi malah mengajaknya keluar. Hal yang sangat jarang setelah kelahiran triplets.
"Ish, jangan banyak tanya! Kita cari jantan untuk hiburan." Jessi langsung mengemudikan mobil keluar dari garasi rumahnya dengan kecepatan tinggi, sedangkan Maurer hanya bisa menghela napas panjang mendengar nyonyanya yang selalu memiliki ide gila. Entah apa lagi rencananya kali ini.
Sesaat setelahnya, mobil Jessi berhenti di pelataran rumah kontrakan Anna. Dia menekan klakson cukup kuat hingga beberapa lampu rumah di sekitarnya mulai menyala. Sudah pasti mereka terganggu dengan tindakan Jessi. Namun, dalam sekejap Anna sudah menampakkan batang hidungnya sebelum para tetangga murka.
Dia memasuki mobil dengan tergesa-gesa. Bahkan roll poni masih terpasang di rambutnya. "Kita mau ke mana, Nyonya," tanya Anna dengan deru napas terengah-engah karena terburu-buru melangkah.
"Bermain." Tanpa membuang waktu Jessi kembali mengemudikan kendaraan menuju Light Club. Di mana biasanya jam segini Mario masih berada di sana untuk mengawasi tempat tersebut. Hanya pria itu yang masih bertahan dengan seluruh pekerjaannya yang menumpuk, sedangkan Jane sudah digantikan Olivia dan Jackson berganti George. Jessi? Tentu saja tugasnya hanya menghabiskan uang.
Setibanya di sana ketiganya langsung masuk tanpa ba bi bu be bo. Namanya juga pemilik, tentu saja karyawannya masih mengenal siapa ketiga wanita yang datang lengkap dengan selera saat berkunjung.
Hiruk pikuk irama musik berdentum di tambah lampu kerlap kerlip merupakan sesuatu yang paling Maurer benci. Dia lantas memasang earphone di telinganya dan mendengarkan lagu slow dengan cukup keras hingga tak terdengar keramaian di tempat itu. Ketiganya lantas duduk di salah satu sofa VIP sambil melihat di mana Mario berada.
"Apa kau sudah mendapatkannya?" tanya Jessi pada Anna yang melihat Mario di kejauhan.
__ADS_1
Wanita itu hanya menggeleng kecil. "Saya tidak mau terkesan murahan, Nyonya," jawab Anna sambil mengambil minuman miliknya dari pelayan. Dia sendiri sudah cukup bersyukur karena meskipun berasal dari lulusan universitas yang biasa, Mario mau mengajarkan tugasnya dengan profesional tanpa memandang di mana dia menempuh pendidikan.
"Dia memang kaku. Iya 'kan, Maurer?" Jessi menoleh pada Maurer, tetapi gadis itu tampak tak menanggapi mungkin karena earphone di telinganya memang cukup keras. "Cih, kau sama saja menyebalkan seperti kakakmu!"
"Tapi, Nyonya. Ada satu wanita yang mencoba mendekati Tuan Mario belum lama ini."
"Benarkah? Siapa dia? Apa Mario mau menanggapi?" tanya Jessi bertubi-tubi.
"Em, kalau tidak salah namanya Rosa Selay," ucap Anna sambil memakan potongan buah sebagai camilan mereka.
"Wanita itu, aku jamin Mario bahkan enggan meliriknya meskipun dia melemparkan badan. Kenapa kau tidak mencoba melemparkan badanmu?" Pertanyaan absurd Jessi sukses membuat Anna tersedak semangka.
Bagaimana bisa seorang wanita berkata seperti itu dengan mudahnya. Bukankah sama saja dengan merendahkan harga diri? Pikir Anna. "Saya mau ke kamar mandi sebentar." Jessi mengangguk kecil dan Anna lantas melangkah pergi.
"Hei! Apa kau setuju kalau Anna menjadi kakak iparmu?" tanya Jessi pada Maurer yang seketika melepas satu earphone yang menyumbat telinga gadis itu.
"Tidak masalah. Selama dia mereka bisa bahagia," jawab Maurer bersungguh-sungguh karena selama ini dia juga tahu jika Anna sebenarnya merupakan perempuan yang baik.
Mendapatkan persetujuan dari Maurer, Jessi lantas memanggil salah satu pelayan dan membisikkan sesuatu padanya. Sesaat kemudian, apa yang Jessi inginkan sudah dia dapatkan. Tanpa membuang waktu wanita tersebut langsung memasukkan bubuk jahanam ke dalam minuman Anna dan mengaduknya.
Maurer hanya bisa membelalakkan mata melihat apa yang dilakukan Jessi. "Nyonya, Anda?"
"Shut, jangan banyak tanya kalau mau mereka segera berkembang! Anna dan Mario sebenarnya sama-sama kaku. Kalau tidak kita yang beraksi, mau menunggu sampai tahun gajah juga tidak akan bersatu," ucap Jessi menyuruh Maurer diam.
"Tapi, bagaimana kalau Anna—" Belum sempat Maurer menyelesaikan kalimatnya Jessi sudah lebih dulu memotong.
"Kita pastikan mereka bersama dan Mario harus bertanggung jawab."
"Terserah Anda sajalah, Nyonya. Wanita selalu benar," ujar Maurer akhirnya memilih mengalah. "Semoga kau bahagia, Kak," batinnya sambil menatap Mario di kejauhan.
__ADS_1
To Be Continue..