Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Duku Mateng


__ADS_3

Maurer yang tengah berada di klub malam tak sengaja menangkap sosok Ben sedang berkumpul bersama teman-temannya. Dia hanya bisa mengernyitkan dahi melihat hal itu. "Kalau pria itu ada di sini. Lalu Rey dengan siapa?" batin Maurer mulai merasa khawatir dan mengumpat dalam hati pada ayah tak tahu diri itu. Sudah tahu putranya lagi di rumah sakit, bukannya menjaga malah keluyuran mencari kesenangan sendiri.


Dia langsung meraih ponselnya yang mengecek kamera pengintai yang sudah terpasang di ruang perawatan Rey. Maurer sontak membelalakkan mata melihat di mana Rey yang tertidur ditinggalkan seorang diri bersama pengasuhnya. 


Kamera yang lengkap dengan penyadap suara tentu saja menangkap dengan jelas apa yang dibicarakan di sana. Sang perawat berdiri tepat di samping Rey yang tertidur pulas dengan sorot tajam tak terbaca penuh dengan kebencian yang membara. "Beraninya kamu menyukai gadis itu dan tak mengindahkan kehadiranku. Kamu hanya akan menjadi batu sandungan yang menghalangi jalanku untuk menjadi Nyonya Gerald. Jika saja kau bilang pada Papamu kalau ingin menjadikan aku sebagai Mama. Aku pasti tidak akan berbuat seperti ini padamu dan memperlakukanmu dengan baik. Selamat tinggal, Rey!" Suara wanita itu terdengar begitu jelas di telinga Maurer yang masih menggunakan earphone. 


Dia seketika terhenyak dan menatap tajam ke arah ponselnya. "Nyonya, saya harus segera pergi." 


"Apa yang terjadi?" tanya Jessi melihat kepanikan Maurer.


Tanpa menjawab pertanyaan majikannya, Maurer langsung melangkah ke meja lain dan menarik Bentley dengan paksa. "Ikut aku!"


"Hei! Apa yang kau lakukan?" teriak Ben yang seketika terkejut dengan kehadiran Maurer yang menariknya paksa dan menghempaskan tangan gadis tersebut.


"Tidak ada banyak waktu! Apa kau mau putramu mati, hah?" teriak Maurer dengan amarah yang berkobar menghadapkan layar ponselnya pada Bentley dan memerlihatkan di mana pengasuh yang dia sewa sudah mengambil bantal, hendak membekap putranya yang terlelap. 


"Kau mengawasi putraku?" tanya Ben seolah menuduh Maurer berniat jahat. 


"Sudah tidak ada waktu lagi, Bodoh! Ayo cepat!" Tanpa membuang waktu untuk berdebat dengan Ben. Maurer langsung menarik rambut pria tersebut keluar dari klub malam itu dengan paksa dan tak mengindahkan orang-orang yang menatap heran ke arah mereka. Keduanya seperti sepasang kekasih yang tengah memergoki sang pria berselingkuh karena Maurer cukup kasar menarik Ben.


Teman-teman Ben yang melihat hal itu hanya bisa tercengang atas tindakan keduanya. "Hei! Sepertinya si duda sudah mendapatkan calon istrinya! Ayo taruhan, mereka akan menikah!" ucap salah satu teman meletakkan kunci mobil dan menjadikannya sebagai bahan taruhan atas nasib Ben.


Seorang pria lagi menggeleng kecil. "Gadis itu terlalu imut untuk si datar. Lebih baik bersamaku daripada dengannya! Mereka tidak akan menikah!" Dia pun meletakkan kunci mobilnya sebagai taruhan. "Deal!" ucap keduanya sambil mendentingkan kedua gelas minuman mereka dan meneguknya sampai tandas. 


Sementara itu, Jessi yang ditinggalkan seorang diri hanya bisa mencebik dalam hati. "Dasar gadis liar. Diam-diam sudah bergerak cepat! Ternyata seleranya Duku Mateng! Diam-diam menghanyutkan, sepertinya aku harus siap kehilangan anak buah lagi," gumam Jessi sambil meminum minumannya. 


Sesaat kemudian, Anna kembali dari kamar mandi mengerutkan dahi melihat Jessi seorang diri. "Di mana Maurer, Nyonya?" 


"Dibawa lari pria hidung belang," jawab Jessi asal. 


"Ish, Anda itu ada-ada saja." Tanpa curiga, Anna meraih minuman miliknya. Jessi hanya tersenyum kecil melihat Anna sudah menenggak habis minuman tersebut dan sekarang tinggal berpikir bagaimana caranya agar Mario mendatanginya. 

__ADS_1


Sejenak matanya pun terbuka lebar karena mendapat sebuah ide brilian. Jessi mengambil ponsel di tasnya seolah ada panggilan. "Hallo, apa, Nich? Si kecil rewel. Iya, tunggu sebentar aku pulang," ujar Jessi seolah-olah sang suami menelponnya. 


"Anna, maaf ya. Aku harus pulang dulu. Nanti aku suruh Mario mengantarmu." Tanpa menunggu jawaban Anna yang terbata karena suara yang tercekat di tenggorokan, Jessi melangkah pergi sambil menekan nomor ponsel Mario. 


"Ya, Nyonya." Suara bariton Mario terdengar cukup jelas setelah Jessi di luar. 


"Kau di mana?" tanya Jessi seolah tidak tahu. 


"Masih di Light Club, Nyonya," jawab Mario di ujung panggilan. 


"Aku tadi ke sana bersama Anna. Tapi harus pulang karena si kecil rewel. Bisakah kau nanti mengantarnya pulang?" 


"Baiklah."


"Ya sudah. Selamat bersenang-senang." Jessi lantas memutus panggilan dan berjalan dengan asyik menuju tempat parkir. Tubuhnya yang tak lagi buncit, membuat wanita tersebut tampak kembali muda dengan segala pesonanya. Sayangnya, suaminya kini diambil alih oleh ketiga anaknya. "Haruskah aku mencari suami baru?"


____________________________


Dengan sigap, Maurer menghubungi Dokter Hendrick yang bekerja di rumah sakit. "Hallo, kau di mana?" 


"Tugas malam, ada apa?" jawab Dokter Hendrick di ujung sambungan. 


"Cepat datang ke kamar VIP pasien onkologi anak paling ujung lantai sepuluh sekarang! Seseorang mencoba melakukan pembunuhan!" teriak Maurer dengan panik. 


"Apa kau bercanda?" 


"Cepat! Atau aku akan meminta Nyonya memecatmu!" teriak Maurer dengan kesal dan langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Dokter Hendrick.


Bentley berulang kali menoleh pada Maurer di sampingnya yang entah melakukan apa lagi dengan ponsel yang dipegang.


"Fokus pada jalanmu dan jangan pedulikan aku!" ujar Maurer ketika Ben terus meliriknya. 

__ADS_1


Dalam hati Ben merasa heran pada gadis di sampingnya. Dia dan putranya bahkan baru mengenal siang tadi di rumah sakit. Akan tetapi, kekhawatirannya terlihat jelas melebihi seorang keluarga yang sudah lama mengenal.  


Sesaat kemudian, mobil berhenti di rumah sakit. Maurer langsung keluar dan berlari menuju kamar Rey, tetapi tayangan dari rekamannya sudah menyebar luas di televisi yang tersedia di rumah sakit tersebut, membuat banyak orang berkumpul menyaksikannya. Sejenak dia menghentikan langkah di saat melihat pengasuh Rey berjalan dengan kedua tangan di belakang dan dipegang oleh penjaga keamanan. 


"Dasar wanita iblis!" Maurer yang tak pernah marah sebelumnya seketika melayangkan tangan dan langsung mendarat tepat di pipi pengasuh itu, hingga meninggalkan bekas merah serta luka robek di sudut bibirnya.


Deru napas Maurer naik turun karena emosi melihat tingkah wanita yang tak tahu diri itu. Dia langsung dipeluk Dokter Hendrick. "Maurer, tenang! Tenang, anak itu sudah aman sekarang! Kau tidak boleh emosi karena dirimu sendiri juga memiliki penyakit jantung," bisik Dokter Hendrick mencoba menenangkan Maurer. 


Maurer tak mengindahkan peringatan Dokter Hendrick dan langsung berlari menuju ruangan tempat Rey dirawat, sedangkan Ben cukup kecewa mengetahui pengasuh putranya malah mencoba membunuh Rey. "Bawa dia ke kantor polisi! Aku tidak akan melepaskannya!" 


"Tuan, Tuan, saya mohon maafkan saya, Tuan," teriak wanita itu melihat Ben sudah melangkah pergi setelah memberi pesan pada pihak keamanan. 


Para penghuni rumah sakit yang menyaksikan hal itu hanya bisa melirik sinis wanita yang kini diseret pihak keamanan. Perbuatannya sungguh keji, terlebih lagi dilakukan pada bocah kecil yang terlelap. 


Tayangan televisi yang berubah menjadi sebuah usaha pembunuhan membuat setiap orang yang melihatnya langsung berkumpul menyaksikan semua itu, sedangkan pihak keamanan bergerak cepat setelah dihubungi Dokter Hendrick. 


Maurer yang tiba di ruangan Rey seketika membuka pintu dengan keras. "Rey." Langkahnya yang khawatir terlihat jelas di wajah gadis jelita itu.


"Aunty," panggil Rey yang baru saja selesai diperiksa oleh dokternya dengan semburat keceriaan melihat Maurer kembali mendatanginya.


Gadis itu langsung memeluk si kecil dengan erat. Beban berat seakan terangkat begitu saja dari dalam hatinya di saat melihat Rey baik-baik saja. "Syukurlah kamu baik-baik saja, Rey." 


"Bagaimana kondisi putra saya, Dok?" tanya Ben pada sang dokter. 


"Tidak apa-apa, Tuan. Untungnya tadi Dokter Hendrick menghentikan tepat waktu. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter tersebut lalu melangkah pergi. 


"Rey, maafkan Papa, Sayang," ujar Ben pada putranya karena merasa gagal sebagai seorang ayah sambil memegang tangan kecil itu.


"Maaf, maaf, makanya kalau punya anak itu dijag! Jangan asal keluyuran mencari kesenangan sendiri! Padahal Rey masih terbaring di rumah sakit! Lihat sendiri 'kan akibatnya! Ngakunya Papa, tapi 'kok nggak bisa jaga putranya!" Maurer terus mengomel tak ada henti memarahi Ben sejak tadi. 


Tentu saja membuat senyum merekah di wajah Rey yang melihat ayahnya menciut pertama kali karena dimarahi seorang wanita. Dalam hatinya merasa senang, inikah yang namanya sebuah keluarga? Saat lucu di mana ibu dan ayahnya bertengkar seperti halnya yang selalu diceritakan teman-temannya. 

__ADS_1


To Be Continue..


__ADS_2