
Di sisi lain, seorang wanita tengah meringkuk di dalam kamar. Tubuhnya terasa lemas karena beberapa hari ini hanya berada di rumah, hingga membuat wanita tersebut demam. Entah apa yang kini terjadi pada diri Emily.
Dia menyibakkan selimut di tubuhnya, lantas bergerak hendak mengambil air minum. Namun, gelas di atas nakas sudah kosong. Sejenak Emily mendengus kesal, tubuhnya terasa sangat lemas sekarang dan pusing. Akan tetapi, tenggorokannya begitu kering.
Mau tak mau wanita tersebut melangkah keluar kamar untuk mengambil air minum. Ketika tiba di tangga, para pelayan melihatnya dengan tatapan aneh. Wajah Emily terlihat sedang tidak sehat setelah beberapa hari hanya berada di dalam kamar.
"Apa yang kau lihat?" Dia membentak salah seorang pelayan yang menatapnya dengan heran.
"Tidak, Nona." Pelayan itu menunduk dan kembali melanjutkan tugasnya menyapu bagian dalam kediaman, sambil sesekali masih melirik ke arah Emily.
Beberapa saat kemudian, Kate yang baru saja mengantar kepergian suaminya bekerja memasuki rumah. "Sayang, kamu sakit." Dia melihat wajah pucat putri yang selama beberapa hari ini memang jarang keluar kamar sebagai hukuman dari Barron.
"Tidak, Mom."
Kate meletakkan punggung tangannya di dahi Emily. "Kau deman?"
Mata Emily terlihat begitu sayu, dengan kulit memerah seperti ruam, dan bibir kering kerontang, bahkan ada yang sampai pecah-pecah hingga memperlihatkan sedikit luka di sana. Dia tak menjawab pertanyaan sang ibu setelah minum karena sesuatu di dalam perut seakan bergejolak membuatnya mual.
Emily berlari menuju kamar mandi terdekat, rasa mual membuatnya memuntahkan segala isi perut saat itu juga. "Huekh."
Ibunya yang khawatir mengikuti sang putri dari belakang. "Sayang, kita ke rumah sakit sekarang."
"Tidak, Mom. Aku baik-baik saja, bagaimana kalau aku keluar para wartawan masih meliputku." Emily menolak tawaran ibunya dan terus mengeluarkan isi perutnya berulang kali, padahal beberapa hari ini selera makannya sudah menghilang drastis. Namun, entah mengapa masih saja ada cairan yang memaksa untuk keluar dari perutnya.
Melihat anaknya yang seperti itu membuat Kate benar-benar khawatir. Emily adalah satu-satunya putri kebanggaan keturunan Night. Jika sampai terjadi sesuatu, bagaimana dia bisa masuk ke dalam keluarga Bannerick dan memperluas kekuasaannya.
Di sisi lain, benar ucapan Emily. Jika sampai wartawan kembali meliputnya, Barron dan Jerry pasti akan semakin mengamuk setelah apa yang terjadi sebelumnya baru berhasil diredakan oleh sang kakak.
Namun, sang anak kembali memuntahkan seteguk darah yang sudah menghitam dan berakhir pingsan di kamar mandi. Kate yang melihatnya langsung panik berteriak memanggil para pelayan. "Maid, Maid."
Para pelayan yang mendengar teriakan Kate, berlari mendekatinya. Mereka terkejut melihat Emily yang tergeletak dengan bekas darah di mulutnya.
__ADS_1
"Apa yang kalian lihat?! Cepat bawa dia ke rumah sakit!" Kate terlihat begitu panik melihat kondisi pucat pasi Emily yang sudah seperti mayat. Tanpa dia sadari, ternyata tubuh sang anak sudah semakin kurus hanya dalam kurun waktu beberapa hari.
Mereka bergegas membawa Emily ke dalam mobil lantas melaju menuju rumah sakit. Sepanjang perjalan Kate terus memangku kepala sang anak. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya karena selama ini putrinya adalah orang yang selalu sehat dan sangat jarang sakit. Tidak seperti Alice.
Jadi, apa yang terjadi dengan Emily. Tidak mungkin anaknya memiliki penyakit yang sama dengan Alice. Apakah karena videonya menyebar di mana-mana dan menjadi buah bibir banyak orang membuatnya tertekan. Akan tetapi, kenapa dia sampai sakit seperti ini.
Mobil terus melaju dengan begitu cepat menuju Bannerick Hospital. Setibanya di sana, Emily langsung dibawa ke ruang darurat. Selama pemeriksaan Kate dan sang supir hanya bisa menunggu di luar ruangan. Sementara itu, dokter serta tim medis lainnya memeriksa kondisi sang anak yang masih belum sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan setelah cukup lama memeriksa. Kate bergegas mendekatinya dengan jantung yang berdetak kencang karena rasa panik dan khawatirnya.
"Bagaimana kondisi putri saya, Dok?"
Sang dokter menghela napas sejenak, rasanya sangat tidak sopan membicarakan kondisi pasien yang seperti itu di ruangan umum. "Mari ikut ke ruangan saya sebentar, Nyonya!"
"Apa terjadi sesuatu yang buruk?" Wanita tersebut terlihat begitu cemas melihat raut wajah sang dokter yang begitu sulit diartikan.
"Mari, Nyonya." Dokter tidak menjawab pertanyaannya dan tetap meminta Kate untuk ikut ke ruangannya.
"Begini, Nyonya. Apa sebelumnya anak Anda ...." Dokter menghentikan kalimatnya karena cukup sungkan untuk mengatakan hal tersebut, tetapi sebagai tenaga profesional ia tetaplah harus menjelaskan. "Kemungkinan putri Anda terkena Penyakit Menular Seksual. Tapi, belum bisa diketahui secara pasti jenisnya."
"Jangan sembarangan bicara, Dok?!" Kate yang terkejut lantas berdiri sambil menggebrak meja di depannya. Dia menatap tajam ke arah sang dokter dengan tajam. "Putriku tidak mungkin terkena penyakit menjijikkan seperti itu! Aku akan membawanya ke rumah sakit lain, Dokter di sini sangat tidak kompeten!"
Tanpa menunggu jawaban sang dokter Kate langsung beranjak dari ruangan itu dan membanting pintu dengan keras.
Dokter yang terkesiap melihat tindakan Kate hanya bisa mematung di tempatnya. "Padahal sudah jelas-jelas anaknya tinggal menunggu ajal menjemput." Ia menggelengkan kepala mengingat wajah wanita yang malah memarahinya dan mengatakan dirinya tidak kompeten.
Faktanya memang benar diagnosa dokter. Emily memanglah memiliki Penyakit Menular Seksual. Sebelumnya Jessi sudah menambahkan sesuatu ke dalam wine milik wanita tersebut dengan sebuah cairan khusus yang dia minta dari sang suami untuk menurunkan daya imunitas tubuh seseorang.
Penyakit menular disebabkan oleh ketiga pria yang menemaninya malam itu berhasil membuat Emily dalam kondisi saat ini.
Kemarahan atas perkataan sang dokter membuat Kate benar-benar memindahkan Emily ke rumah sakit lain. Namun, hal tak terduga malah terjadi, seorang wartawan yang tengah mengantarkan pemeriksaan kandungan istrinya mengenali wanita tersebut dan mengikutinya.
__ADS_1
Ketika sang dokter memberikan penjelasan yang sama Kate kembali marah. Dia bahkan memukuli tenaga medis tersebut dengan tasnya karena kesal mendengar penjelasan tidak menyenangkan.
"Kau bohong! Kau pasti Dokter gadungan. Putriku tidak mungkin terkena penyakit menjijikkan itu, tidak mungkin!" Kate meluapkan segala kekesalannya kepada sang dokter sambil memukul, menangis, dan berteriak.
Emily, seorang putri kebanggaannya malah terkena penyakit menjijikkan yang jika diketahui oleh publik pastinya akan mencoreng nama baik keluarga Night.
Tanpa disadari, seorang wartawan berhasil merekam dan mendengar percakapan mereka. Pria tersebut tersenyum puas karena tidak menyangka akan apa yang baru saja ia temukan. Berniat menengok calon anaknya malah mendapatkan sebuah berita eksklusif hari ini.
"Bonusku pasti akan naik karena ini. Lumayan untuk biaya persalinan nanti."
Tak cukup hanya di situ saja keberuntungan sang wartawan karena dokter yang tadinya dipukuli oleh Kate berlarian menuju ruangan Emily. Namun, sayangnya semua sudah terlambat, wanita tersebut meninggal hanya dalam hitungan beberapa jam ini.
"Maaf, Nyonya. Penyakit Nona Emily sudah terlanjur menggerogoti tubuhnya. Jadi, kami tidak bisa berbuat apa-apa." Dokter mencoba untuk berbicara dengan hati-hati.
Namun, wanita di depannya kembali memukulinya sambil menangis tersedu-sedu. "Tidak mungkin ... tidak mungkin ... kau pasti bohong 'kan? Putriku tidak mungkin meninggal dengan begitu cepat. Tidak mungkin?!" Kate berteriak sambil terus memukul dokter di depannya.
Dokter yang dipukuli hanya bisa menahan rasa sakit akibat pukulan Kate. Dia cukup memahami perasaan terluka keluarga yang ditinggalkan pasiennya.
Wanita itu berteriak histeris ketika kehilangan sang putri yang sebelumnya dalam kondisi baik-baik saja. Kate seketika luruh di lantai sambil terus terisak dalam tangisannya. "Tidak mungkin." Hanya kalimat itu yang mampu dia ucapkan di sela-sela air matanya yang bercucuran.
Sebagai seorang ibu, perasaan alaminya hancur ketika mendengar kematian sang anak yang begitu tiba-tiba. Apalagi selama ini dia hanya menganggap Emily sebagai alat untuk mencapai tujuannya dan tak pernah memberi kasih sayang seorang ibu.
Sikap egois Kate akan kekuasaan membuatnya gelap mata dan melakukan segala cara. Dia paham jika anaknya memiliki kelainan dalam obsesinya terhadap Nicholas. Perempuan itu tahu betul kalau putrinya selalu bergonta-ganti pasangan karena hasrat untuk mendapatkan lelaki pujaannya tak tersampaikan.
"Akhh, semua ini gara-gara keluarga Bannerick." Kate terus meronta-ronta dan menangis dengan keras, hingga menyebabkan pengunjung lainnya saling menatap iba ke arahnya.
Sementara itu, wartawan yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa tersenyum. "Maaf karena aku harus bahagia di atas penderitaan kalian."
Dia pun beranjak pergi dari rumah sakit setelah mendapatkan bahan untuk berita ekslusifnya hari ini.
To Be Continue....
__ADS_1