Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Hadiah Pernikahan


__ADS_3

Di sisi lain, ketiga orang yang ditinggalkan di ruang perawatan tanpa mengucapkan sepatah kata pun dari dua sejoli itu hanya bisa melongo di tempatnya. Jessi sendiri tak menyangka jika kata-katanya akan seampuh itu untuk menyadarkan Rahmat, padahal sebelumnya dia hanya asal berbicara. Namun, sepertinya rencananya kali ini berhasil. 


Syukurlah baik Dove atau pun Rahmat mau mendengar kata-katanya. Jadi, dia tak perlu bertindak ekstrim hanya karena kisah cinta rumit kakaknya itu. “Apa yang ingin dijual Dove?” tanya Jessi pada pria asing di ruangan tersebut. 


“Em, itu rumahnya, Nyonya,” jawab pria tersebut dengan hati-hati.


“Rumah?” Sejenak Jessi mengernyitkan dahi mengingat kembali di mana Dove tinggal. Hingga sesaat kemudian, wanita tersebut ingat jika sang mantan asisten kakaknya itu mempunyai rumah yang tak jauh dari kediaman Damien. “Kenapa dia ingin menjual rumahnya? Bukankah itu sudah cukup bagus?”


“Biaya operasi penyakit jantung ibunya cukup tinggi, Nyonya. Ditambah rumah itu belum lunas sepenuhnya, sementara Dove kini sudah tidak bekerja lagi. Jadi, dia ingin menjual kembali agar dia bisa mendapatkan deposit dari pembelian rumah itu sebelumnya.”

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari pria tersebut ada sedikit rasa bersalah di hati Jessi karena meminta Dove mengundurkan diri dari pekerjaannya. “Sepertinya kau sangat mengenal, Dove?”


“Ah, itu.” Sejenak pria tersebut menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendengar pertanyaan Jessi. “Sebenarnya kami berteman sejak kuliah. Hanya saya bekerja di bidang properti sehingga dia menghubungi saya karena hal itu.”


“Baiklah, kalau begitu kau urus saja pembeliannya dan tulis pembelian rumah itu atas nama Damien Barrak dan Jane Stephani dari Barrack Corp, sebagai hadiah atas pernikahan Dove serta Rahmat nanti. Sisa kreditnya kau kira sekalian biar nanti mereka yang membayar. Jadi, Dove tetap memiliki rumah itu atas nama keduanya dan tak perlu mencari tempat tinggal baru.”


Kalimat yang keluar dari mulut seperti sebuah hipnotis bagi pria itu. Dia bahkan hanya bisa membeku di tempatnya karena tak menyangka mereka akan memberikan sebuah rumah untuk hadiah pernikahan.


“Kenapa? Apa hal itu kurang? Kau juga meminta bagian?” tanya Jessi ketika melihat pria itu hanya mematung di tempatnya.

__ADS_1


“Tidak, Nyonya. Kalau begitu saya akan mengurus semuanya sekarang. Permisi.” Tanpa membuang waktu pria tersebut bergegas melangkah pergi meninggalkan ruangan untuk mengurus jual beli tersebut.


   


Sementa itu, Jesssi dan Nicholas yang berada di ruangan tersebut hanya bisa menunggu sang pasien sambil menunggu Dove serta Rahmat kembali dari urusan mereka. 


Selain memberikan hadiah pernikahan berupa rumah, Jessi juga melunasi segala biaya perawatan dan juga operasi ibunya Dove hingga wanita itu sembuh nantinya. Dia tidak bisa membiarkan sepasang pengantin baru tersebut harus terlilit masalah keuangan di hari pertama mereka disahkan sebagai suami istri. 


Setidaknya Jessi sudah menebus apa yang dia perbuat sebelumnya pada Dove, sehingga wanita itu tak akan kesulitan ke depannya. Bahkan jika Dove ingin bekerja kembali pun tidak  masalah sekarang karena mereka berhak bahagia dengan pasangan masing-masing dan melupakan masa lalu.

__ADS_1


To Be Continue….


__ADS_2