Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Tahu Busuk dan Mimpi Buruk


__ADS_3

Malam semakin dingin, embusan angin membawa rindu karena seharian tak bertemu. Setelah selesai memberikan arahan kepada anak buahnya, Jessi kembali ke rumah dan beristirahat di ranjang sambil menunggu kepulangan sang suami yang masih di luar mencari rezeki.


Entah mengapa Jessi sangat merindukan aroma pria itu. Namun, seharusnya dia sudah dalam perjalanan pulang ke mansion. Jadi, menunggu mungkin lebih baik daripada menyusulnya.


Cukup lama Jessi menunggu hingga mimpi mulai mendatanginya. Sesaa popt kemudian, sang suami sudah kembali dari urusan pekerjaannya. Ketika melihat sang istri terlelap dalam tidurnya, Nich melangkah mendekat, perlahan dia mulai menyibakkan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


Merasa ada sebuah tangan yang mengusik, Jessi mencoba untuk membuka mata dan benar saja. Terlihat sang suami masih berbalut setelan kerja sudah berada di depannya.


"Kamu sudah pulang, Sayang. Maaf tadi tidak menyambutmu." Dengan masih mengerjapkan mata Jessi berusaha duduk dari posisinya.


Sebuah senyum mengembang di wajah pria di depannya. "Tidak apa-apa, Sweety. Kamu terlihat sangat lelah, maaf sudah mengganggu tidurmu." Wajah tampan di bawah remang lampu tidur tak melunturkan karismanya.


Perlahan Jessi mendekatkan diri, memeluk pria yang baru saja dia rindukan malam ini. Menghirup aroma maskulin bercampur parfum khas yang mampu membuat dirinya merasa tenang.


Melihat tingkah manja sang istri, Nich mengelus lembut pucuk kepala Jessi. "Apa terjadi sesuatu, Sweety?"


Wanita itu menggeleng. "Aku hanya merindukanmu, Sayang."


"Aku juga merindukanmu, Sweety." Nich mengecup pucuk kepala istrinya sejenak. "Sayang, biarkan aku mandi dulu! Badanku bau."


Bukannya melepaskan, Jessi malah semakin mengeratkan pelukannya sambil menghirup lebih dalam aroma sang suami. "Wangi."


Nich terkekeh dengan kemanjaan sang istri saat ini, ternyata memiliki wanita penyemangat di hidup ini rasanya sangatlah menyenangkan. "Biarkan aku mandi dulu, Sweety! Tubuhku lengket."


"Sebentar, lima menit lagi." Jessi seakan enggan untuk melepaskan pelukannya dari Nich. Entah apa yang terjadi, tetapi aroma sang suami sangat menenangkan baginya, sedangkan suaminya hanya menurut saja diperlakukan seperti itu.


Sesaat kemudian, barulah Jessi melepaskan pelukannya. "Mandilah! Aku ingin kita makan malam bersama."


Pria tersebut mengangguk. "Tunggu sebentar!" Dia lantas melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Jessi menyiapkan pakaian ganti suaminya.


Setelah itu, Jessi keluar dari kamar untuk melangkah menuju dapur. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, tetapi suasana rumahnya masih saja ramai. Terlihat Patricia, Olivia, dan yang lainnya tengah asyik menonton televisi drama asia.


"Apa yang kalian lihat?" Jessi melangkah menuju ruang keluarga setelah mengambil air minum di tangannya dan meletakkan bokongnya di kursi kosong.


"Drama asia, Nona. Kesukaan Anda," jawab Olivia.


Jessi meraih kripik kentang di atas meja, lalu menikmatinya sambil ikut menonton televisi. Tak lama kemudian, dia menelan salivanya sendiri ketika melihat pasangan di dalam drama tengah memakan makanan aneh khas negeri tirai bambu tersebut.


Cukup lama dia mendambakan makanan tersebut, hingga tak lama kemudian suaminya datang menghampiri setelah selesai membersihkan diri. "Sweety, tadi kamu bilang ingin makan bersama," ujarnya seraya meletakkan diri di samping istrinya.


"Sayang, aku ingin makan itu." Jessi menunjuk ke arah telivisi, Nich melihat sepasang kekasih tengah menikmati sebuah makanan yang tak pernah dia lihat sebelumnya.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Tahu busuk."


Seketika pria tersebut menatap tajam ke arah sang istri. "Untuk apa kau menginginkan makanan basi? Kita masih mampu untuk membeli makanan sehat."


"Sayang." Jessi mengerucutkan bibir sambil menggoyangkan tangan suaminya, cara ampuh ketika menginginkan sesuatu agar segera dia dapatkan.


"Itu adalah makanan khas orang China, Tuan," ujar Patricia.


Sejenak Nich mengembuskan napas kasar untuk berpikir. "Kau sangat menginginkannya, Sweety?" Wanita tersebut langsung mengangguk dengan cepat.


"Di mana kita bisa membelinya?"


"Street food makanan asia. Ayo!" Wanita tersebut langsung berdiri dari posisinya dan menarik sang suami ke arah garasi untuk mengendarai mobil.


Sepeninggal kedua orang tersebut, Patricia dan Olivia saling berbisik. "Bukankah, Nona sangat aneh?"


"Iya, akhir-akhir ini dia sangat aneh dan juga jahil," ujar Patricia.


"Sepertinya menikah bisa mengubah seseorang menjadi gila."


"Kau pasti tidak tahu bahagianya memiliki pasangan." Patricia mencebikkan bibir sambil kembali melihat drama bersama Olivia.


Seorang wanita tengah meringkuk sambil menangis di bawah tangga yang sangat dikenalnya.


"Sayang."


Suara isak tangisan pilu terdengar menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarkannya. Dia tak mengindahkan panggilannya dan tetap menangis membelakanginya. Perlahan tapi pasti, pria tersebut melangkah mendekat dan mencoba untuk meraih bahu wanita itu.


Seketika wanita tersebut berbalik, berdiri dengan air mata darah yang membasahi pipinya. "Kenapa kau lakukan ini padaku, Brian? Kenapa?" Suara teriakannya terdengar sangat menyayat hati hingga membuat jantungnya berdetak dengan cepat.


Brian bergegas memeluk wanita yang terus menerus memukulinya tersebut. "Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku. Lihatlah, aku sudah menyingkirkan Rossi dari hidup kita! Sekarang tidak ada lagi yang mengganggu kebahagiaan keluarga kita." Dia menunjuk sebuah mayat yang tergeletak tidak jauh dari mereka dengan bersimbah darah, tak ada raut penyesalan di wajahnya. Suasana remang menambah kesan mencekam di tempat itu.


Suara tawa seorang wanita menggelegar terdengar begitu mengerikan. "Kau jahat, Brian. Kau pembunuh. Kau membunuh ibumu, ayahmu, selingkuhanmu, dan sekarang kau membunuh anak kita." Tangisan merah darah mengalir deras di pipinya dengan tangan yang memegang perut wanita tersebut terus saja menyalahkannya. "Kau jahat!"


Tak lama kemudian, wanita itu terduduk dari posisinya dengan meringis merasakan sakit sambil memegang perutnya. "Akkh, Brian. Kau membunuh anak kita." Jerit tangis pilu yang membuat siapa pun akan iba jika melihatnya secara langsung. Tak lama kemudian, keluarlah segumpal janin membentuk bayi dari dalam tubuh wanita tersebut.


Brian yang terkejut langsung melangkah mundur. "Apa ini? Aku bukan pembunuh anakku." Pria tersebut berulang kali menggelengkan kepala sambil mengacak-acak rambutnya.


"Aku bukan pembunuh anakku." Sesaat kemudian, dia kembali mendekat ke arah wanita itu. "Sayang, maafkan aku! Maafkan aku! Mari kita mulai semuanya dari awal lagi."

__ADS_1


Wanita tersebut menghempaskan tangannya dengan kasar lantas berdiri dari posisinya. Tiba-tiba saja perutnya kembali membesar dan wajah cantik yang bersinar terang.


"Kau tak pantas untuk aku maafkan!" Wanita tersebut berbicara dengan nada dingin, lantas melangkah pergi ke menuju sebuah cahaya terang, di sana sudah ada seorang pria lain yang menanti, lalu menggenggam lembut tangan wanitanya. Mereka melangkah berdua menuju cahaya meninggalkan Brian seorang diri di kegelapan tempat itu.


"Jessi jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" Brian mengulurkan tangannya, mencoba untuk menghentikan pria itu membawa pergi istrinya. Namun, hanya sia-sia yang dia dapat dan hanya meninggalkan keputusasaan bagi dirinya. "Tidak!"


"Tidak!" Brian terbangun dari mimpi buruk yang selama ini menghantuinya. Napasnya naik turun tak teratur dengan buliran keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.


"Tidak mungkin!" Napasnya tak terkontrol dengan sorot mata tajam. Berulang kali dia menyisir rambut dengan jemarinya sambil memejamkan mata.


Dua tahun sudah, mimpi yang sama selalu menghantui di tiap malam Brian. Dia mengambil gelas air minum di atas nakas dan meneguknya hingga tandas.


Napasnya masih memburu, seakan semua yang terjadi terlihat begitu nyata dia alami. Brian menyibakkan selimut di tubuhnya, melangkah menuju balkon kamar untuk menghirup udara malam.


Perpisahannya dengan Jessi sungguh menjadi benalu untuk dirinya sendiri. Tak pernah sekalipun Brian tidur nyenyak seperti ketika sang istri berada di pelukannya. Pelukan hangat yang bahkan mengalahkan rasa nyaman seorang ibu.


Namun, kini semua tinggal kenangan karena kebodohan alter ego yang dia ciptakan. Berulang kali, Brian sudah mencoba mengekspresikan diri di depan cermin. Akan tetapi, wajah seperti dulu masih juga belum didapatnya. Hanya ada raut muka datar yang mengerikan seperti sekarang.


Brian menetap jauh di kegelapan malam. Gelap seperti hati dan jiwanya, embusan angin dini hari tak membuat pria itu bergeming dari posisinya. Setiap kali mimpi buruk menghantuinya, dia pasti berdiri di balkon tersebut sepanjang waktu hingga matahari mulai menampakkan sinarnya.


Dia merasa Jessi mendekapnya dari belakang saat itu juga. Seperti kenangan indah di hari terakhir kebahagiaan mereka. Sebelum semuanya menjadi kacau.


"Sayang." Suara lembut diiringi pelukan tangan di perutnya dari belakang terasa begitu nyata bagi Brian. "Apakah cabang baru begitu merepotkan hingga membuatmu banyak pikiran dan merokok lagi?"


"Tidak! Hanya ada beberapa masalah sebelum opening nanti."


"Jika melebarkan sayap membuatmu lelah, tak perlulah kita membuat cabang. Aku sudah cukup bahagia hidup seperti ini saja, rasanya tak menyenangkan melihatmu lelah setiap harinya!"


"Tidak apa-apa! Aku bisa melakukannya."


"Kenapa kamu bangun, Sayang? Apa aku mengganggumu?"


"Aku hanya merasakan kamu tak ada di sampingku tadi. Jadi, aku bangun mencarimu."


"Maafkan aku! Mari lanjutkan tidurmu!"


"Sayang, kau tahu aku sangat mencintaimu."


"Aku tahu."


Sepenggal percakapan yang selalu Brian ingat bersama istrinya. Dia merasakan semua itu adalah nyata, tetapi sayang kini menjadi kenangan di kala mimpi buruk menghantuinya.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2