
Setelah meninggalkan perintah kepada Olivia Jessi dan Nich bergegas menuju ruangan tempat Brian berada. Setibanya di sana terlihat pria itu sudah dalam kondisi yang berbeda dan lebih buruk dari semalam. Hanya dalam hitungan beberapa jam tubuhnya kini terlihat sangat mengerikan.
Jessi membelalakkan mata seolah tak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya. Dia bahkan sampai menutup mulut dengan tangan saking syok melihat apa yang terjadi pada Brian. Sementara itu, pria tersebut langsung menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka.
"Je–jessi, to–tolong aku!" Pria tersebut bahkan terlihat sudah sulit untuk berbicara, tanpa sadar seakan terhipnotis Jessi pun hendak melangkah mendekat, tetapi dengan sigap Nich menghadang di depannya.
"Jangan mendekat!" Nicholas menggeleng kecil. Dia tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada istrinya, sedangkan Jessi memahami hal itu dengan cepat mengangguk dan langsung kembali melangkah mundur.
Sepasang suami istri itu melihat jelas bagaimana penderitaan Brian akibat racun racinkannya sendiri. Kedua mata pria tersebut memerah, membulat sempurna mengeluarkan air mata darah seakan bersiap keluar dari tempatnya. Tubuhnya dengan cepat berubah pucat dan melepuh mengeluarkan cairan bening berbau arus yang langsung menusuk indra penciuman.
Aroma itu bahkan mampu membuat siapa pun muntah darah saat ini juga. Namun, demi menyaksikan akhir dari keturunan Marcopolo yang kejam juga sadis Jessi rela menahan semua rasa di dalam perutnya yang seakan diaduk-aduk tak beraturan.
"Jessi." Brian masih memcoba memanggil wanita tersebut di sela kesakitannya. Baru kali ini dia merasakan bagaimana dahsyatnya racun yang dia racik sendiri. Pria tersebut sadar akan hal itu karena ini adalah salah satu temuan terbarunya yang niat awal akan dia gunankan untuk menghancurkan Nicholas, tetapi malah berbalik pada dirinya sendiri.
Seakan tak mampu untuk berkedip melihat kejadian di depan matanya, Jessi mencoba menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Cukup lama Brian tersiksa dalam kondisi seperti itu. Adegan mengerikan menyebarnya sebuah racun yang langsung menggerogoti tubuhnya membuat wanita tersebut memegang lengan suaminya seketika.
"Argh!" Brian berteriak kesakitan, di kala dalam tubuhnya mulai terlihat seperti ada hewan yang bergerak di dalam dagingnya. Hingga tak lama kemudian, beberapa belatung tampak keluar dari pelupuk mata pria tersebut.
Kedua tangan Nicholas dengan segera menutup mata Jessi agar tidak menyaksikan kesakitan yang baru saja Brian rasakan. "Jangan melihatnya!" Dia tidak ingin istrinya selalu terbayang akan saat-saat paling menyakitkan mantan suaminya yang bisa berpengaruh pada kondisi kandungannya nanti.
Namun, sesaat kemudian, Jessi menyingkirkan telapak tangan suaminya begitu saja. "Ish, Baby ingin melihatnya, Sayang!" Dia kembali menatap perubahan dalam diri Brian, seakan tak mau melewatkannya meskipun hanya satu detik.
__ADS_1
"Kau yakin Baby menginginkan hal itu?" Nich mengernyitkan dahi mendengar alasan istrinya yang terdengar mustahil. Bagaimana bisa ibu hamil malah antusias melihat orang tersiksa seperti ini. Jangan-jangan bayi dalam kandungannya bukanlah manusia, tetapi para malaikat pencabut nyawa.
Jessi hanya mengangguk dengan cepat sebagai jawaban pertanyaan suaminya. Entah mengapa dia sendiri terlihat sangat menikmati adegan di depannya seolah ini adalah tontonan yang sangat seru. Apalagi tidak ada settingan di setiap adegannya.
"Nich, kau yakin ini racun racikannya?" Jessi tak henti-hentinya menatap perubahan dalam diri Brian. Setiap detik terlihat jelas betapa tersiksanya pria itu untuk waktu yangg cukup lama karena hewan-hewan itu dengan cepat mulai bermunculan di dalam tubuhnya.
Sang suami hanya mengangguk. "Ini hanya salah satu racikannya, Applepan tidak mengubah formula, hanya memperlambat prosesnya."
"Seandainya saja dia menggunakan kecerdasannya untuk kebaikan, pasti hal ini tidak akan terjadi." Jessi menggelengkan kepala, mengingat kembali bagaimana pria itu ketika menjadi suaminya. Bisnis mereka bahkan bisa dikatakan sangat berjaya dalam kurun waktu cukup cepat. Kalau saja Brian tidak seperti ini, mungkin pria itu bisa menjalani hidup yang lebih baik dan dia juga akan memaafkan segala kesalahannya.
Namun, inilah jalan hidup pilihan pria itu. Semakin lambat efek dari racun itu, maka akan semakin menyakitkan orang mengalami hal tersebut dan hal itu yang terjadi pada Brian. Entah apa jadinya jika dia menggunakannya pada korban-korban sebelumnya. Mereka pasti sangat tersiksa juga sebelum meregang nyawa. Sayangnya, racikan terakhir tercipta untuk dirinya sendiri, sebagai pengantar jalan ke akhirat.
Tak butuh waktu lama, wanita itu pun langsung menghampirinya setelah mendengar teriakan Jessi. "Nona."
"Bawa bahan bakar kemari sebanyak mungkin! Jangan lupa korek apinya sekali!" Wajah Jessi terlihat begitu panik, bukan karena khawatir dengan kondisi Brian. Akan tetapi, dia takut jika hewan-hewan menjijikkan itu merajalela di tempatnya. "Cepat! Tunggu apa lagi!"
Olivia seakan selalu dibuat bingung dengan perintah Jessi. Namun, tanpa bertanya dia langsung berlari dan mengambil sejerigen bahan bakar dan membawanya tepat kehadapan sepasang suami istri tersebut.
"Ini, Nona."
Melihat apa yang dibawa Olivia, Jessi langsung memberikan isyarat agar dia menyiramkan cairan itu ke tubuh Brian. Seketika Olivia membelalakkan mata kembali, apa Jessi ingin membakar manusia hidup-hidup?
__ADS_1
"Tunggu apa lagi? Cepat! Apa kau mau belatung itu tumbuh dan berkembang biak di tubuhmu?" Secepat kilat Olivia menggelengkan kepalanya. Dia pun segera menyiram bahan bakar itu ke atas tubuh Brian, seketika belatung di tubuh pria tersebut langsung menggelinjang membuat Brian semakin kesakitan.
Olivia hanya bisa bergidik ngeri melihat pemandangan di depannya dan segera menjauh. Jessi menyalakan korek api yang dibawa anak buahnya tersebut dan langsung melemparkan ke arah tubuh Brian.
Kobaran api dengan cepat menyambar hingga menyebabkan sedikit dentuman mengejutkan membuat wajah mereka bisa merasakan panasnya meskipun berada di kejauhan.
Sementara itu, Brian berteriak semakin kesakitan. Kobaran api membakar kulitnya yang sudah membusuk menciptakan aroma daging panggang. Tak terasa perut Olivia seakan diaduk organ dalamnya menyaksikan kejadian mengerikan di depannya.
"Pastikan dia menjadi abu dan jangan biarkan hewan menjijikkan itu tersisa satu pun!" Setelah melihat Brian tak lagi bergerak karena sudah tewas. Jessi memilih untuk segera meninggalkan ruangan tersebut.
Bangunan khusus untuk markas memang dirancang agar tahan api, sehingga ketika terjadi hal seperti ini kobarannya tidak akan menyebar ke tempat lain dan hanya bertitik di satu tempat.
Olivia hanya bisa mengusap bulu roma di tangannya yang berdiri menyaksikan hal ini. "Mengerikan!"
Melihat semua ini dengan mata kepalanya sendiri membuatnya berpikir dua kali jika ingin menjadi seperti Jessi. Mustahil untuk mengakui jika semua ini dilakukan oleh wanita jika dia tidak menyaksikannya sendiri.
To Be Continue...
Silakan dikomen di paragraf kalau ada typo atau kesalahan kata ya teman-teman. Karena author juga di kejar waktu.
terima kasih
__ADS_1