
Ketika malam hari hari tiba Jane, Jessi, dan Stella mulai menjalankan rencana. Mereka saling merias wajah sesama dengan hati-hati dan semua kebutuhan pendukungnya sudah disiapkan oleh Nicholas. Sementara itu, John nantinya bertugas untuk mengajak Maya keluar dari kamar Broto, serta memastikan jika pria itu ada di ruangan sendirian.
Namanya juga Jessi, bukan hal baik tentunya jika pembalasan berdasarkan ide gila ibu hamil satu itu. Dia selalu saja mengidam sesuatu yang aneh dan membuat orang lain geleng-geleng kepala.
"Selesai, cantik," ucap Jessi dengan bangga setelah berhasil merias Jane.
"Apa kau yakin ingin melakukan hal ini?" tanya Jane sambil berkaca melihat dirinya sendiri di dalam cermin.
"Tentu saja, ini baru permulaan." Jessi beralih ke wajah Stella yang sudah merias, tetapi belum sempurna dan gadis itu juga ikut serta dalam rencana kali ini.
"Apa kau juga juga merencanakan hal lain?" Jane memicingkan mata menatap curiga ke arah Jessi, tetapi wanita itu hanya mengedikkan bahu dan tersenyum kecil.
"Kejutan," ucap Jessi sambil tersenyum jail.
Jane dan Stella yang sedang di rias saling menatap dengan bingung, tidak bisa menyelami pemikiran dari Jessi yang selalu saja gila.
"Kalian lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti di akhir bagian setelah kita kembali ke desa." Jessi menggerakkan kepala naik turun dengan seringai jahat di bibirnya dan satu tangannya mengusap perut buncit, sedangkan tangan lainnya menambahkan kesan mengerikan di wajah Stella.
"Bagaimana kalau apa yang kita lakukan akan akan membuat nyawanya melayang, Kak?" tanya Stella.
Meskipun Jessi dikenal sebagai wanita yang kejam, tetapi Stella juga tidak ingin di saat hamil seperti ini wanita itu membawa keponakannya melakukan hal kriminal seperti itu. Jika dalam kandungan saja sudah meminta hal-hal aneh. Apa jadinya jika sudah dilahirkan, mungkin akan selalu membuat masalah nantinya.
"Oh, tidak. Tenang saja. Aku tidak akan menghabisi dia. Tapi kalau jantungnya tiba-tiba berhenti setelah melihat kita, aku tidak akan tanggung jawab. Salahkan saja jantungnya yang sudah lapuk, terlalu banyak menggarap istri-istrinya," jawab Jessi dengan santainya.
Jane menggelengkan kepalanya. "Benar-benar wanita gila!' gumam Jane lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Jessi.
"Kau yang mengajariku jadi gila."
Mereka pun kembali memersiapkan diri dengan berganti kostum layaknya pesta halloween, dan para pria hanya bisa duduk manis membiarkan mereka beraksi. Hanya satu-satunya pria yang menelan ludahnya sendiri dengan susah payah ketika melihat penampilan yang dianggap sempurna ketiga wanita.
__ADS_1
'Ya Tuhan, jangan berikan aku istri yang gila seperti mereka!' batin John seraya berdoa agar dijauhkan dari wanita aneh dan mengerikan seperti itu untuk jadi istrinya.
"Lakukan tugasmu! Bila perlu bawa wanita itu menjauh sampai besok pagi. Kau bisa membawanya ke hotel," ucap Jessi dengan nada menggoda.
"Cih, jika buka karena kalian, aku juga tidak akan mau melakukan hal itu." John pun melangkah keluar ruangan, meninggalkan ketiga wanita dan dua pria yang masih duduk santai di kursi.
"Apa kau begitu bahagia, Sweety?" tanya Nicholas sambil merengkuh tubuh sang istri di sampingnya.
Wanita itu hanya tersenyum dengan indah dan terlihat jelas kebahagiaan di wajahnya sambil mengangguk kecil. "Rasanya seperti baru saja mendapatkan jackpot."
Tak lama kemudian, John memberi kabar jika dia sudah berhasil membawa Maya keluar dan memastikan jika Broto sendirian di ruang perawatan.
Tanpa membuang waktu, Jessi, Jane, dan Stella pun bergegas menuju ruangan pria tua itu yang hanya terletak satu lantai di bawahnya. Sementara itu, Damien dan Nicholas bertugas mengawasi keadaan sekitar.
Jessi membuka pintu kamar tersebut secara perlahan dan melangkah dengan mengendap-endap menuju ranjang Broto. Pria tua itu tampak terlelap dalam buaian mimpi di bawah lampu remang kamar.
Setelah semua siap di posisi masing-masing, perlahan Jessi mengetuk ranjang pria tua itu dari bawah dengan teratur. Awalnya tidak ada respons, tetapi lambat laun ranjang itu tampak bergerak.
Broto yang terlelap di ruang yang temaram mendadak kaget di saat mendengar suara ketukan di bawah ranjang. "M–maya." Pria itu mencoba memanggil putrinya, tetapi tak ada jawaban sama sekali.
Dengan jantung yang berdetak kencang dan perasaan tak karuan, Broto mencoba menetralkan diri. Pria itu kembali mencoba memejamkan mata, tetapi suara ketukan di bawah ranjang membuatnya enggan untuk terlelap.
"M–maya." Dia kembali memanggil nama putrinya, sayang ruangan itu sungguh terasa sunyi dan sepi. Hingga tak lama kemudian, kamar itu mulai dipenuhi asap yang berasal dari mesin yang sudah disiapkan sebelumnya.
Asap tebal membuat suasana terasa lebih mencekam bagi Broto, sedangkan suara ketukan di bawah ranjang tak henti-hentinya berbunyi sejak tadi membuat pria itu seketika merinding dibuatnya. Jantungnya seakan berhenti saat itu juga, kamarnya terdengar sangat sepi layaknya kuburan tak berpenghuni.
Hingga sesaat kemudian, dengan mencurahkan segala keberanian Broto mencoba memiringkan tubuh dan melongok ke bawah ranjang secara hati-hati. Mata pria itu seketika membola melihat apa yang ada di bawah ranjangnya.
"Arg! Setan!" Broto berteriak keras di kala melihat seorang wanita berwajah mengerikan menatap tajam ke arahnya sambil memelototkan mata. Pakaian berenda dengan aksen khas bangsawan jaman dulu membuatnya terkesan seperti hantu masa lalu.
__ADS_1
Namun, sayangnya keterkejutan bagi Broto tak cukup di sana saja. Stella sudah tertidur di samping ranjangnya dengan air mata dan wajah bersimbah darah juga melihat tajam ke arahnya membuat pria tua itu, seketika berteriak dengan bahkan sampai terjungkal ke bawah.
"Tolong! Ada setan!" Jarum infus di tangan Broto seketika terlepas ketika pria itu terjerembab ke lantai, tetapi dia tidak memedulikan hal tersebut karena Jessi dan Stella mulai mengesot ke arahnya sambil mengulurkan tangan serta berbicara layaknya hantu gentayangan.
"Broto, jadikan aku istrimu," ujar Jessi dengan suara yang di buat-buat layaknya hantu. Hingga membuat pria itu bergetar hebat karenanya.
"Tidak! Aku tidak mau punya istri lagi! Tidak!" Dengan tertatih-tatih karena ketakutan yang sudah terlanjur dalam Broto mencoba berdiri dan melangkah keluar. Namun, sayang Jane sudah menghadang di depan pintu dengan wajah mengerikan dan mulut penuh darah tepat di depan Broto.
"Kau mau ke mana, Suamiku," ujar Jane sambil memiringkan kepala memerlihatkan garis tebasan di lehernya yang penuh darah dan lidah panjang menjulur.
"Tidak!" Broto seketika pingsan di tempatnya melihat betapa mengerikannya wajah Jane yang ada di hadapannya saat itu.
Rasa takut karena ketiga hantu jadi-jadian membuat pria itu seketika tak sadarkan diri tanpa ada orang lain yang tahu apa yang sudah terjadi.
"Yes! Berhasil," sorak ketiga wanita tersebut setelah melancarkan aksi.
To Be Continue..
Stella
Jessi
Jane
__ADS_1