Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Catur


__ADS_3

Hari itu Jane yang tengah bergelut dengan pekerjaan, tiba-tiba saja diganggu oleh dering ponselnya. Wanita itu mengernyitkan dahi ketika melihat nama Olivia tertera di layar. Dia pun mengusap benda pipih tersebut untuk mengangkat panggilan.


"Iya."


"Nona, Nenek Amber dalam bahaya." Suara Olivia terdengar begitu panik, hingga membuat Jane terkesiap.


"Apa?" Sementara itu, Jane yang mendengar kabar seketika berdiri dari posisi duduk saking terkejutnya. "Bagaimana bisa? Di mana Jessi?"


"Nona Jessi tengah pergi menemui Jerry Morning untuk menyelamatkan Alice dan Ibu Jackson yang masih hidup."


Mendengar nama Jerry Morning disebut, tak terasa tangan Jane mengepal kuat. Deru napasnya langsung naik turun, emosi seakan meluap begitu saja tanpa diminta. Jika sampai sesuatu terjadi pada Jessi dan Nenek Amber, akan kupastikan untuk mengambil nyawamu dengan tanganku sendiri!


"Nona, Nona." Olivia yang merasa tidak mendapatkan respons mencoba untuk memanggil Jane berulang kali dan berakhir dengan berteriak. "Nona!"


"Ya, kita bergerak sekarang!" Jane yang tersadar dari lamunan langsung mematikan panggilan, dan meletakkan ponsel di atas meja.


Dia membuka laci meja kerjanya, mengambil sebuah foto berisikan dirinya dan sang ibu ketika masih kecil. "Ibu, maaf aku tidak bisa menepati janji. Aku tidak bisa memaafkan orang yang berani mengusik keluargaku begitu saja." Dengan sayu Jane masih mengusap gambar tersebut untuk waktu yang cukup lama.


"Akan kubawakan jantungnya sebagai persembahan untukmu, Ibu!" Dia langsung meletakkan kembali foto tersebut di tempatnya, Sorotan matanya tajam, seakan bersiap untuk membunuh siapa pun kali ini. "Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah! Jika sampai terjadi sesuatu dengan mereka."


_____________________


Di sisi lain, Jessi dan Jerry masih saling mencari celah untuk mengalahkan satu sama lain dengan saling menatap tajam.


"Aku akan melepaskan mereka berdua, asalkan kau bersedia tinggal di sini sebentar untuk menemaniku bermain!" ujar Jerry.


Sejenak Jessi menyadarkan tubuh di kursi dengan santai. "Permainan apa yang membuat orang terhormat seperti, Tuan Jerry begitu ingin kutemani?"


Jika yang saat ini berada di posisi Jessi adalah wanita lain, mungkin mereka akan berpikir jika Jerry meminta untuk ditemani bermain ranjang. Akan tetapi, dia jelas tahu, pria di depannya tidak mungkin melakukan hal itu.

__ADS_1


Jerry pun lantas memberi kode kepada anak buah di belakangnya, hingga beberapa saat kemudian, pria tersebut datang membawa sebuah papan catur permainan. Diletakkannya benda tersebut di atas meja, lalu disusun tiap-tiap pionnya sebelum pemainan dimulai.


"Kau temani aku bermain catur!" Jerry menatap ke arah Jackson untuk berpikir sejenak. "Kau punya waktu untuk mencari ibumu, sampai aku menang tiga kali darinya!"


Dia kembali menatap ke arah Jessi yang masih terlihat begitu santainya. "Bagaimana, Nona Alexander. Apa kau keberatan?"


Kedua jemari tangan saling Jessi tautkan. "Sama sekali tidak. Tapi, aku juga punya satu persyaratan!"


"Katakanlah!" Jerry menggerakkan tangan kanan sebagai pertanda memersilakan syarat dari Jessi.


"Setiap langkah yang kulakukan, kau harus menjawab pertanyaan di masa lalu!" Jessi menatap tajam ke arah Jerry, seakan permainan sesungguhnya baru saja akan dimulai. "Bagaimana, Tuan Jerry yang terhormat?"


Emosi Jerry mulai tak tertahankan, tetapi dia mencoba untuk mengendalikan. Dalam hati pria tersebut cukup mengagumi keberanian Jessi, di sorot matanya tidak ada sedikit pun ketakutan. Jika saja mereka dari kubu yang sama dan bukan keturunan Alexander pasti akan sangat menyenangkan kalau bisa bekerja sama dengan wanita itu.


"Bukan masalah." Pria tersebut melihat ke arah jam di pegelangan tangannya. "Waktumu di mulai dari sekarang!"


"Nona." Jackson merasa enggan untuk meninggalkan Jessi sendirian. Bagaimana jika ternyata semua ini hanyalah sebuah jebakan untuk mereka berdua dan sang nona bisa berada dalam bahaya.


Sementara itu, Jackson langsung membungkuk dan melangkah pergi meninggalkan kedua insan yang akan beradu kekuatan otak dan strategi tersebut.


"Ladies First!" Jerry memersilakan Jessi untuk memulai permainan karena bidak catur putih adalah milik wanita tersebut.


"Kau tidak akan menyesal membiarkan aku memulai terlebih dahulu?" Sebuah seringai miring terlihat jelas di wajah cantik wanita itu, hingga mampu membuat pria di depannya menyipitkan mata untuk sesaat.


Akan tetapi, tidak mungkin bagi Jerry menarik kembali ucapannya, bisa-bisa Jessi akan merendahkannya karena hal itu.


"Silakan!"


Sebuah pion di depan King langsung Jessi pindahkan satu langkah ke depan. "Sesuai dengan syaratku, kenapa kau membunuh seluruh keluarga Alexander?"

__ADS_1


Jangan tanyakan perasaan Jessi saat ini. Berhadapan langsung dengan pembunuh keluarganya, sudah membuat dadanya bergemuruh semenjak mengetahui hal itu. Apa lagi dengan percaya dirinya orang tersebut malah mencalonkan diri sebagai Presiden masa depan. Mau jadi apa negara ini dipimpin oleh pria seperti Jerry.


Pria tersebut hanya mengendikkan bagu. "Mungkin, Nona Alexander sudah tahu alasannya. Kudengar beberapahari ini kau mencari-cari lagi tentang kasus itu. Ayahmu terlalu ikut campur dalam urusan pemerintah, sehingga menyebabkan banyak pejabat tidak menyukainya, dan aku ...." Tangan Jerry bergerak menjalankan salah satu pion di depan Rook selangkah ke depan. "Hanya salah satunya."


Jessi hanya bisa menatap tajam ke arah Jerry, alasannya terdengar sangat konyol untuk dianggap sebagai sebuah lelucon kematian. Bagaimana bisa dia membantai sebuah keluarga dengan alasan tersebut. Untuk menetralkan perasaan, wanita itu mengambil napas dalam-dalam terlebih dahulu. Lalu, mengembuskan perlahan.


"Bukankah semua karena ayahku mengetahui bisnis ilegal sejak awal." Jessi mengambil


bishop di tangannya, sambil berpikir sejenak. "Perdangan manusia, penjualan organ, prostitusi, penyelundupan senjata, produksi heroin dalam jumlah tinggi, pencucian uang, dan jangan lupakan yang terbaru. Malpraktek serta memberikan izin untuk para dokter gadungan." Bidak tersebut lantas dia letakkan tiga langkah miring ke samping kiri, terlihat seperti amatir karena tidak melihat papan caturnya.


"Memang benar-benar, Nona Alexander." Suara gelak tawa Jerry terdengar begitu keras. Sekali lagi dia bertepuk tangan atas keberanian Jessi yang menyulut emosinya tanpa basa-basi.


Dalam hatinya cukup geram dengan keberanian wanita di depannya. Namun, tiba-tiba saja dia membayangkan jika saja memiliki seorang anak seperti Jessi. Mungkin tidak perlu menyerahkan kekuasaan mafia Virgoun dan semua bisnis ilegalnya kepada orang lain yang hanya mampu menjadi seekor anjing.


Tangannya mulai bergerak memindahkan lagi satu pion di depan Rook sebelah kiri satu langkah ke depan. "Memang benar semua itu aku yang melakukannya. Lagi pula, apa yang perlu dirisaukan? Aku hanya membantu pemerintah mengurangi kepadatan penduduk dan menambah kas negara."


Dia seakan tidak menyesali semua yang telah terjadi. Padahal jelas rakyat sangat dirugikan di sini. Namun, bisa-bisanya pria tersebut masih membenarkan tindakannya.


"Jadi, kau membunuh seluruh keluargaku agar semua ini tidak terbongkar sejak dulu?" Dengan dada yang bergemuruh, Jessi tetap melanjutkan permainan. Memindahkan Queen dua langkah ke miring ke samping kanan.


Jerry hanya mengangguk. "Sebenarnya saat itu aku sudah memperingatkan ayahmu. Tapi, dia masih kekeh melanjutkan kasusnya dan berharap penjahat sepertiku musnah dari pemerintahan."


Dia memindahkan bidak Knight berjalan L ke kiri. "Jadi, aku tidak punya pilihan selain memusnahkan keluargamu. Jika kau merasa kehilangan mereka, aku bersedia menggantikan David sebagai ayahmu dengan tangan terbuka, dan mafia Virgoun bisa sepenuhnya menjadi milikmu."


Jessi hanya menyunggingkan senyum mengejek kepada Jerry. Cara bicaranya seolah semua itu hanyalah sebuah masalah sepele baginya. "Bahkan jika aku adalah putri kandungmu, belum tentu aku bersedia menganggap dirimu sebagai ayah." Dia menggerakkan Queen lurus ke depan, hingga memakan pion pertamanya. "Checkmate."


"Apa? Bagaimana bisa?" Jerry yang terkejut langsung menatap susunan bidak catur di depan mereka. Apa ini yang dia bilang belum mahir bermain catur. Bahkan wanita itu sekali memakan sudah mampu menghentikan permainan. "Sial! Ini hanya pemanasan, aku belum siap karena kau terus mengajakku berbicara."


Bidak catur di atas papan diacak-acak semua oleh Jerry. Kalah di lima menit awal membuatnya kehilangan harga diri dan dia tidak akan membiarkan hal itu. "Kita bermain sekali lagi!"

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2