
Sepasang suami istri bergegas kembali ke mansion setelah Jessi mengetahui apa yang diberikan suaminya. Dia tidak ingin melewatkan momen kematian Brian begitu saja tanpa bisa melihatnya.
Botol yang diberikan Nich adalah ramuan racun racikan Brian sendiri, tetapi efeknya belum ada yang tahu akan seperti apa. Hal yang membuat mereka tertarik karena racun itu sudah kembali diolah oleh Applepan, sehingga proses penyebaran akan lebih lambat daripada seharusnya.
Jika racun tersebut disuntikkan ke dalam tubuh manusia, bisa dipastikan Brian akan mengalami rasa sakit yang luar biasa hingga berusaha untuk bunuh diri dan hal itulah yang ingin Jessi lihat.
Setibanya di kediaman, wanita tersebut segera melangkah menuju markas. Terlihat Olivia dan para wanita yang lain masih ada di dalam ruangan tersebut, sedang menghajar Johny habis-habisan hingga pria itu babak belur.
"Nona." Olivia menghentikan aktivitasnya dan mendekat ke arah Jessi dan Nich yang baru saja tiba.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Wanita itu lantas melihat rupa Johny yang sudah tak lagi berbentuk karena kebrutalan para wanita korban yang kini menuntut balas. "Apa kau sudah melakukan apa yang aku minta?"
"Sudah, Nona."
"Lanjutkan kegiatanmu kalau begitu! Aku akan melihatnya terlebih dahulu!" Jessi dan Nich kembali melangkah, tetapi beberapa saat kemudian dia berhenti untuk kembali bertanya kepada Olivia. "Ngomong-ngomong, apa kau akan membiarkannya mati begitu saja?"
"Apa, Nona menginginkan sesuatu?"
Sejenak Jessi memikirkan hal yang menarik tentang Johny, pria itu sudah memakan banyak korban termasuk Angelina–anak Jackson. Jadi, apa salahnya jika dia memberikan pria itu sedikit pelajaran. "Potong kejantanannya."
Setelah mengatakan hal itu, Jessi pun kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Olivia yang masih membatu mendengar perintahnya. Dia belum bisa mengimbangi kesadisan Jessi dalam menghukum musuh. Namun, mau bagaimana lagi, wanita tersebut harus mengikuti perintah nonanya.
"Apa aku harus memegang cacing itu dan memberikan kepada Nona Jessi nanti?" Wanita tersebut bergidik ngeri melihat tangannya, membayangkan ketika jantung berada di tangannya saja sudah sangat mengerikan. Ini malah kembali harus menjalankan tugas sulit, mengeksekusi kejantanan Johny.
"Oh, jiwa gadisku meronta-ronta!" Wanita tersebut mengibaskan tangan di udara, untuk mengipasi wajahnya yang merah karena membayangkan benda itu berada di tangannya. "Dua bersaudara itu sungguh memiliki selera yang aneh."
__ADS_1
Dia pun kembali ke tempat di mana Johny berada. Melihat banyaknya wanita yang menghajar dengan berbagai cara hingga membuat pria itu terluka di mana-mana membuatnya tersenyum puas.
"Hentikan semuanya!" teriak Olivia.
"Ukhuk!" Johny terbatuk di atas lantai hingga mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya. Rasa sakit yang luar biasa tak lagi bisa dibayangkan.
Tubuhnya kini penuh dengan luka lebam dan sayatan mengeluarkan darah tak berkesudahan. "Kalian!" Pria itu geram, ingin sekali marah, tetapi tangan dan kaki yang terikat membuatnya sulit untuk bergerak.
Dia sendiri tidak menyadari bagaimana bisa berada di situasi seperti ini. Seingatnya dulu pria itu hanya datang ke kediaman ayah angkatnya karena sebuah perintah dan tahu-tahu sudah berakhir di tempat ini.
Ya, di dalam tubuh Johny juga ada benda asing pengendali diri yang sudah Jerry Morning pasangkan pada setiap anggota mafia Virgoun. Sehingga ketika mereka bergerak atas perintahnya tidak ada satu pun ingatan tentang apa yang mereka lakukan.
"Jangan menatapku seperti itu! Dulu kau memperlakukan aku lebih kejam dari sekarang! Bahkan setiap detail kejadiannya masih terpatri dengan jelas dalam ingatanku" ujar Olivia dengan sorot mata tajam. Mengingat kembali saat di mana adiknya dilecehkan tepat di depan matanya oleh pria brengsek ini membuat dadanya kembali bergemuruh.
Wanita tersebut hanya tersenyum sinis, lalu melangkah mendekati Johny dan berjongkok tepat di sampingnya. "Bagaimana rasanya menjadi korban?"
"Cuih!" Pria tersebut memercikkan ludahnya yang sudah bercampur darah ke arah Olivia. Beruntung wanita tersebut dengan sigap menghindarinya.
"Kau pria brengsek!" Olivia langsung berdiri dan menendang kepala Johny dengan kuat. "Apa kau lupa bagaimana caramu menyiksa adikku, hah?"
Kemurkaan kini terlihat jelas di wajah wanita tersebut. Sepertinya pengaruh ajaran Jessi mulai mendarah daging ketika emosinya dipicu oleh Johny tanpa pria itu tahu jika nyawanya sudah berada di ambang batas dan tidak ada siapa pun yang mampu membantunya.
"Wanita sialan!" teriak Johny ketika merasakan sakit di kepala akibat tendangan Olivia sambil meringkuk kesakitan.
"Terima kasih sudah membuatku marah." Sebuah seringai iblis terukir miring di wajah wanita tersebut. "Buka celananya!"
__ADS_1
Perintahnya membuat para wanita lain di sana menatap keheranan kepadanya, tetapi tatapan mata Olivia tak beralih dari pandangan Johny yang membulat sempurna mendengar ucapan perempuan gila di depannya.
"Apa yang ingin kau lakukan, hah?"
"Cepat lakukan!" Suara teriakan Olvia semakin tinggi menyadarkan para wanita jika perintahnya tidaklah main-main. Mereka pun segera melepaskan celana yang dikenakan Johny dengan paksa.
"Yak! Apa yang ingin kau lakukan, hah? Apa kalian memerkosaku?"
Sebuah tawa menggelegar memenuhi ruangan. Olivia menertawakan kebodohan Johny sebagai tawanan. Bagaimana bisa dia berpikir jika mereka ingin menyerahkan tubuh begitu saja kepada pria brengsek sepertinya.
"Mimpimu sungguh menggelitik perutku." Cukup lama Olivia tertawa hingga sesaat kemudian, wanita tersebut mengeluarkan belati tumpul miliknya yang membuat Johny bergetar melihat benda itu.
"Apa yang ingin kau lakukan, hah? Jangan macam-macam denganku!" Wajah Johny sudah mulai pucat pasi ketika belati di tangan Olivia sudah mulai bergerak dari ujung kaki merambat semakin ke atas layaknya tangan yang meraba.
"Memberikan pelajaran pada barang kebanggaanmu yang sudah berani merusak adikku dan para wanita ini." Olivia lantas menoleh dengan salah satu wanita di sampingnya. "Pegang perkututnya!"
"Yak, jangan!" Tanpa menghiraukan teriakan Johny, Olivia mulai menggesekkan belati itu untuk memotong barang yang disalahgunakan oleh pria tersebut. "Seharusnya kau tidak bersarang di sembarang tempat!"
Belati tajam bisa memotong dengan cepat, tetapi rasa sakitnya terlalu ringan untuk dibayangkan, sedangkan belati tumpul memberikan siksaan panjang tak berkesudahan karena proses yang tak berkesudahan.
Teriakan Johny menggema memenuhi ruangan. Rasa sakit, nyeri yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya berkumpul menjadi satu di inti kejantannya. Jika boleh memilih, pria tersebut lebih baik mati karena ditembak ayah angkatnya atau disuntik racun kakaknya. Hal itu lebih baik daripada rasa sakit yang dia rasakan saat ini.
Darah segar mengucur deras di bagian inti pria tersebut. Rasa sakit tak berkesudahan membuatnya tewas seketika disebabkan kehilangan alat vitalnya. Sementara itu, Olivia hanya bisa menyembunyikan kengeriannya atas tindakannya sendiri dalam hati. Jika bukan karena perintah Jessi, dia tidak mungkin berani melakukan hal ini.
To Be Continue...
__ADS_1