
Sepeninggal Jessi dan Nich, Rahmat yang berada di mobil sendirian berpikir cukup lama. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi seseorang perihal urusannya. Bagaimana pun, tidak semua negara melegalkan pernikahan beda agama, terlebih lagi keduanya juga berbeda negara.
Dia menghubungi seorang Konsultan Hukum terlebih dahulu untuk menanyakan kebimbangannya saat ini. Cara menikah beda agama tergolong rumit di sebagian negara, sehingga membuat sebagian orang lebih memilih untuk berpindah keyakinan saja. Jadi, acara pernikahan yang dilangsungkan hanya menganut satu hukum agama saja.
Untuk menentukan siapa yang akhirnya mengalah tentu saja berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Pernikahan dengan keyakinan tidak sama sudah memiliki aturan hukumnya supaya sah di mata negara itu sendiri.
Beruntungnya, sang konsultan menjelaskan jika sistem hukum Negara X adalah common law. Jadi, bagi pasangan yang akan melangsungkan pernikahan tidak harus memenuhi syarat agama sama karena hukum tidak menetapkan aturan itu.
Pernikahan bukan sekadar mengenai urusan agama saja. Sehingga apapun keyakinan dianut, setiap orang memiliki hak untuk melakukan pernikahan. Pasangan yang mempunyai agama sama, beda bahkan atheis bisa melaksanakan pernikahan. Asalkan sesuai dengan ketetapan prosedur atau aturan berlaku.
__ADS_1
"Jadi, aku bisa menikahinya?" Sebuah semburat bahagia tampak terlihat cerah di wajah Rahmat yang tadinya mendung setelah mendengar penjelasan dari orang yang dihubunginya.
"Tentu saja bisa. Hanya saja, jika ingin menggelar pernikahan bukan secara agamis, melainkan humanis," jawab sang konsultan di seberang panggilan. Kemudian dia menjelaskan lebih banyak hal lainnya mengenai pernikahan humanis.
Pernikahan ini merupakan upacara pernikahan non-religius yang membebaskan melakukannya dengan cara yang diinginkan, menikah di manapun yang dan kapan pun. Dalam upacara pernikahan humanis, tidak ada syarat baku yang harus dilakukan pengantin, tidak ada naskah yang ditetapkan dan terserah pada pasangan untuk memutuskan bagaimana bentuk pernikahan mereka.
Humanis melihat hubungan yang merupakan tujuan jangka panjang mereka. Inilah yang menjadi alasan banyak orang berusaha sekuat tenaga memperjuangkan hubungan tersebut. Mereka percaya, dasar pernikahan dibangun oleh dukungan, kesetaraan, dan kejujuran. Jadi pihak yang ingin menikah, bebas untuk mengatur hari istimewanya dan memilih kata-kata mereka sendiri dalam upacara pernikahan untuk mewakili hubungan mereka.
Mereka juga bebas menggelar pernikahannya, seperti di luar rumah, atau dimanapun yang mereka mau, khususnya, di tempat-tempat yang tidak memiliki izin untuk pernikahan sipil. Misalnya di pantai, di hutan, di rumah orang tua, di sebuah kastil, baik itu area pribadi atau publik, di dalam rumah atau di luar rumah dan tidak perlu di tempat-tempat yang sudah ditetapkan oleh agama.
__ADS_1
Hal itu sontak membuat Rahmat bernapas lega. "Baiklah, terima kasih." Dia pun memutuskan sambungan telepon dan berulang kali mengusap wajah dengan senyum merekah. "Baiklah, Dove. Ayo mulai hidup baru bersamaku," ucapnya pada diri sendiri dan bergegas lari dari tempat parkir menuju ruangan di mana ibunya Dove dirawat.
Rahmat tiba dengan napas yang terengah-engah. "Dove." Namun, dia ketika membelalakkan mata di saat melihat seorang pria yang tengah memeluk Dove di dalam ruangan tersebut.
"Rahmat, kau datang lagi," ujar Dove senang sambil melepaskan pelukan pria tersebut, sedangkan Jessi hanya menahan senyumnya.
'Sepertinya akan sangat menyenangkan jika bisa mengerjai pria kolot itu lagi,' batin Jessi.
"Siapa dia, Dove?" tanya Rahmat dengan deru napas yang masih belum beraturan, sayangnya kaki pria tersebut terasa lemas melihat adegan di depannya.
__ADS_1
"Tentu saja kekasih barunya. Kau sih, dibilang suruh cepet malah kebanyakan mikir! Dasar , Kolot!" ujar Jessi dengan santai, tetapi langsung mendapatkan lirikan tajam dari semua orang di ruangan tersebut, sedangkan Rahmat yang dikerjain oleh Jessi langsung tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Dia belum sanggup menerima kenyataan jika memang harus kembali patah hati setelah lama meyakinkan diri.
To Be Continue...