Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Pedofil


__ADS_3

Setelah selesai diinterogasi oleh pemilik Light Holding, pria tersebut lantas bekerja seperti biasa. Sesuai arahan dari Jessi agar dia berlaku layaknya hari-hari sebelumnya.


Ketika jam kerja telah habis, seperti hari-hari sebelumnya dia akan mengunjungi rumah sakit untuk menjenguk sang ibu. Sebuah kegiatan yang rutin dilakukan setiap malam setelah pulang dari kantor.


Hidup dalam kesendirian bersama sang ibu membuat pria tersebut selalu menyayangi wanita tersebut. Bukan hanya perempuan yang mengandung dan membesarkannya, tetapi berjuang dengan seluruh cinta tulus untuknya.


Meskipun, kehadirannya ibarat aib bagi ibunya, wanita itu tidak pernah mengeluh sedikit pun dan selalu menanamkan bahwa ia adalah orang yang paling berharga di dunia ini, begitu pula sebaliknya.


Pria tersebut menuju Rumah Sakit Bahagia menggunakan transportasi umum bus. Dia harus dua kali berganti jalur hanya untuk tiba di tempat tujuannya karena jarak rumah sakit cukup jauh dari perusahaan. Meskipun, lelah, tetapi semangat melihat ibunya setiap hari menjadikannya ikhlas menjalani semua ini. Perjalanan pulang pergi yang telah dilakukan rutin selama satu tahun terakhir.


"Ibu lekaslah sembuh, aku akan melakukan apa pun untukmu!" Dia bergumam sambil menatap jauh ke arah luar kaca bus.


Kasih sayangnya kepada ibunya sangatlah tinggi, di dalam lamunannya dia selalu membayangkan masa-masa ketika sang ibu selalu menemaninya. Sejak kecil hingga dewasa, hanya perempuan itu satu-satunya wanita yang ia cintai selama ini.


Tak terasa satu jam sudah perjalanannya. Dia turun dari bus untuk berjalan dari halte menuju rumah sakit. Gelapnya malam tak membuat pria itu lelah melangkah, dengan menjinjing tas kerja di tangannya lelaki tersebut mulai memasuki area rumah sakit.


Di kejauhan, seorang perawat menyapa kedatangannya sembari bekerja. "Selamat malam, Tuan. Mau mengunjungi ibu Anda, ya?"


"Iya, Sus." Seperti biasa pria tersebut membungkuk hormat sebagai tanda sopan lantas berlalu pergi menuju ruangan ibunya.


Sepeninggal pria tersebut sang suster mulai mengabari seseorang tentang kedatangannya melalui pesan dan kembali bekerja seperti biasa. Ya, dia adalah salah satu dari beberapa mata-mata yang memang ditugaskan untuk mengetahui kondisi seorang target atau mencari korban selanjutnya.


Tanpa rasa curiga pria tersebut memasuki ruang perawatan ibunya. Dengan hati pilu dan nyeri di dada melihat sang ibu yang tak kunjung membuka mata, pria tersebut lantas duduk di kursi samping ranjang pasien.


"Ibu, tenanglah! Aku akan melakukan segala cara untuk kesembuhanmu." Pria tersebut mencium punggung tangan ibunya berulang kali. Tak terasa air mata menetes di pipi, hal yang selalu rutin dia lakukan selama ini.


"Ibu tenang saja! Aku sudah mendapatkan uangnya, besok kita bisa membeli jantung yang sehat untuk, Ibu. Jadi, kita bisa berkumpul seperti sedia kala." Pria tersebut menundukkan kepala dengan menggenggam erat tangan ibunya, meletakkan punggung tangan wanita tersebut di dahinya.


Dia sengaja mengatakan hal itu kepada orang yang tengah berbaring di ranjang tersebut agar mereka terpancing, sesuai dengan perintah Jessi.


Benar saja, di ruang lain seorang perawat mendengar setiap keluh kesahnya melalui penyadap ruangan yang tersedia di seluruh ruangan pasien.


Berkedok melayani masyarakat, sebenarnya rumah sakit ini adalah sumber dana gelap Jerry Morning, dengan bekerja sama bersama mafia Virgoun yang menyediakan organ ilegal, tentu saja keuntungannya akan menjadi berkali lipat.

__ADS_1


Kegiatan ini sudah cukup lama dilakukan. Di satu sisi nama pemerintah di bawah kinerjanya akan disegani masyarakat karena biaya kesehatan murah yang ditawarkan. Di sisi lain, mereka bisa meraup keuntungan lebih banyak dengan kegiatan riset manusia dan memperkenalkan organ ilegal agar lebih dikenal di semua kalangan.


__________________________


Di lain tempat, Johny dan Brian tengah membahas tentang bisnis mereka bersama. Kegiatan para mafia bukan hanya bertarung, tetapi juga bagaimana caranya menjalankan bisnis hingga dapat menguasai pasar gelap dan mencukupi kebutuhan hidup para anggotanya.


Mereka sudah kehilangan salah satu supplier narkoba terbesar saat ini, sehingga mereka harus putar otak untuk mencari kembali sumber pasokan barang yang harus dijual karena jumlah stok sudah semakin menipis, sedangkan pelanggannya mulai berkembang.


"Apa kau sudah menemukan supplier baru?" tanya Brian sambil melihat data-data di depannya.


"Ada beberapa pilihan, Kak." Johny menyerahkan beberapa lembar kertas berisikan data-data yang dia dapat dari penyelidikannya selama ini. "Mereka memiliki barang yang lumayan untuk mengisi kembali gudang. Hanya saja sekarang tak cukup jika hanya berasal dari satu tempat."


"Berarti kita hanya bisa mengambil barang dari ketiga tempat ini?"


Johny mengiyakan pertanyaan sang kakak. "Bukan hanya itu." Dia membalikkan selembar kertas yang dipegang Brian. "Salah satu dari mereka menawarkan pertukaran barang, sehingga kita tak perlu memikirkan uang."


Brian membaca laporan yang diberikan sang adik. "Ini wilayah Asia lagi." Matanya menyipit ketika mengatakan hal itu, selama ini suppliernya hanya berasal dari Negara K. Namun, sepertinya pasar bisnisnya berhasil merambat ke negara lain.


"Apa yang mereka inginkan sebagai pertukaran?" Mata Brian bergerak menelusuri setiap kata yang tertulis di kertas tersebut dengan teliti.


"Senjata api dan bom rakitan bom."


"Bukan masalah, asalkan kualitas barangnya bagus kau boleh melakukannya."


"Baik, Kak."


"Bagaimana dengan Lucifer?" Brian menaikkan pandangan untuk menatap ke arah adiknya.


"Mungkin mereka akan segera bubar karena tidak mendapatkan dana penyokong. Bisnis sudah kita halangi dan hewan buruan, kudengar mereka sudah tidak bisa melakukannya lagi."


Sejenak Brian memikirkan perkataan sang adik. "Kau yakin?"


Sang adik mengangguk meyakini dengan informasi yang selama ini dia dapatkan.

__ADS_1


"Jangan meremehkan musuhmu ketika dia diam! Bisa saja mereka sedang bersiap untuk menikammu dari belakang."


Tak lama kemudian, seorang anak buah menghampiri keduanya untuk membisikkan sesuatu di teling Brian. Setelah itu, pria tersebut lantas mengibaskan tangan sebagai isyarat agar anak buahnya segera pergi.


"Ada apa, Kak?" Johny yang merasa penasaran tak sabar untuk bertanya kepada kakaknya.


"Besok kau urus target jantung kita di rumah sakit! Jangan sampai gagal lagi!" Mata Brian menatap adiknya sangat tajam, dengan jari telunjuk mengancam tepat di wajah Johny.


"Baiklah."


Sang anak buah tadi melaporkan informasi apa yang dia terima dari perawat di Rumah Sakit Bahagia. Ya, begitulah cara kerja mereka yang tidak diketahui oleh orang lain.


Perawat dan dokter bertugas mencari target yang sesuai. Jika keluarga pasien menyayangi orang tersebut, mereka pasti akan melakukan segala cara demi kesembuhan keluarganya seperti karyawan Jessi saat ini.


Namun, jika keluarga pasien tidak peduli dengan nasib orang yang sakit. Maka mereka akan segera menyuntik mati orang tersebut dan mengambil organnya untuk di jual ke pasar gelap internasional.


Sementara itu, demi menutup mulut keluarganya. Mereka memberikan kompensasi dalam jumlah besar sebagai ucapan bela sungkawa dan mereka harus menandatangi berkas kerelaan terhadap keluarga yang meninggal, sehingga tidak bisa menuntut pihak rumah sakit.


Cara kerja yang licik dalam mempermainkan hidup seseorang berputar di rumah sakit berlabel melayani masyarakat. Namun, sejatinya ia hanyalah sebuah tempat yang hanya memiliki satu akhir bagi pasiennya, yaitu kematian.


"Kak, menurutmu apakah ada sesuatu yang janggal dengan kematian Emily?" Johny merasa penasaran, mengapa ayah angkat dan kakaknya sangat santai ketika mendengar kematian sepupu sekaligus keponakan mereka. Seakan itu hanyalah hal yang wajar.


"Apa yang perlu dipikirkan? Jelas dia mati karena ulahnya sendiri." Brian berbicara sambil tetap membaca data-data di depannya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tapi, kan, Kak. Bagaimana bisa dia mati dalam waktu sesingkat itu? Padahal sebelumnya dia juga baik-baik saja berhubungan dengan para gigolonya."


Mereka memanglah saling mengetahui rahasia masing-masing karena sebelumnya Emily selalu mencari Johny untuk membinasakan para gigolo yang membuatnya marah. Akan tetapi, dia masih saja tidak mengerti kenapa sepupunya itu bisa mengalami sakit parah hanya dalam hitungan hari.


"Apa yang patut dicurigakan? Kau sendiri juga bisa mati di tangan para bocahmu kapan saja. Tapi, bukankah kau tetap menikmati hal itu?"


Johny mengangguk. "Jangan menyumpahiku seperti itu, Kak!" Dia memang menyukai saat-saat bersama gadis muda di bawah umur. Pria tersebut merupakan pedofil yang suka mendengar jeritan dari korbannya. Entah berapa banyak selaput dara sudah dikoyaknya. Namun, tetap saja Johny menikmati hal tersebut.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2