Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Amarah Jane


__ADS_3

"Apa kau punya sesuatu yang bisa digunakan untuk memukul?" tanya Jane setelah mereka tiba di depan rumah Juragan Broto.


"Ada tongkat golf di belakang. Apa yang terjadi Jane?" Damien segera menyusul turun dari mobil setelah melihat Jane pergi dengan wajah berangnya kali ini.


Wanita tersebut layaknya sedang kerasukan setan, dia melangkah dengan tegas dan sorot tajam menghunus serta bersiap menelan mangsa, mengeluarkan aura mengerikan yang selama ini dia pendam karena lama tak mendapatkan lawan seperti ini.


Jane membuka bagasi mobil dan mengambil tongkat golf di samping Lary. "Lihat bagaimana aku membalas perbuatan juraganmu itu!" ucap Jane pada pria yang meronta-ronta dengan posisi terikat tersebut. "Damien! Turunkan dia!"


Tanpa banyak kata, Damian yang masih bingung dengan apa yang akan dilakukan Jane, hanya bisa mengangguk kecil dan menyeret pria yang diikat tersebut keluar dari bagasi. "Turun!"


Sementara itu, Jane melangkah melihat mobil yang terparkir di halaman rumah tersebut langsung memukul tongkat golf ke bagian kaca setiap bagian kendaraan tersebut hingga mengeluarkan alarm peringatan cukup keras dan kendaraan seketika rusak parah.


Hal itu tentu saja menimbulkan suara riuh di kediaman Juragan Broto. Namun, nyatanya amarah Jane tak cukup hanya di sana saja, dia juga memecahkan kaca rumah mewah itu tanpa berpikir panjang sambil berteriak keras hingga membuat para penghuni di dalamnya terjaga.


"Broto sialan! Keluar kamu!" teriak Jane sambil meluapkan segala kekesalan dengan merusak rumah bandot tua itu di malam yang sama.


Rumah di kampung tak berpagar, apalagi para warga baru selesai memadamkan api di rumah Jane, tetapi wanita itu sudah membuat keributan di rumah sang juragan desa. Mendengar riuh dari tempat orang yang dihormati di desa tentu saja membuat para warga, kembali mulai berdatangan setelah mendengar teriakan memekakkan telinga dari Jane dan juga suara pecahan kaca cukup keras. Mereka berkumpul untuk menyaksikan apa yang terjadi di rumah Juragan Broto, sang bandot tua mata keranjang.


"Broto! Keluar atau aku hancurkan rumahmu, hah?" Jane terus berbuat keributan, tak peduli dengan pinggangnya yang sedikit terluka. Wanita itu hanya ingin segera membalas perbuatan Broto secepat mungkin.

__ADS_1


Tindakan Jane tentu saja langsung membuat para penghuni rumah mewah tersebut mulai terjaga dan keluar terutama sang istri pertama serta Maya. "Ada apa sih, Bu?" tanya Maya kepada Ibunya ketika mereka masih di dalam.


"Kita lihat dulu!" Keduanya melangkah dengan tergesa-gesa menuju bagian depan rumah. Namun, suara kaca dipukul dan langsung berhamburan membuat Maya seketika terkejut dan mendekat ke arah ibunya.


"Ayah mana sih, Bu. Jangan-jangan orang gila?"


"Broto keluar kamu, Brengsek!" Suara teriakan Jane di luar rumah membuat keduanya segera melangkahkan kaki, sebelum tempat mereka hancur karena diamuk wanita gila itu.


"Nggak tahu. Sudah ayo cepat!" Dia pun membelalakkan mata ketika melihat bagian dalam rumahnya sudah habis berantakan berisi pecahan kaca dari jendela. "Apa yang kau lakukan, hah?" teriak Ibunya Maya ketika membuka pintu.


Dia mengedarkan pandangan ke segala arah, membuat wanita itu tak bisa menahan diri untuk melebarkan mata hingga membulat sepenuhnya di saat melihat jendela rumahnya sudah tak lagi cantik, pecahan beling menyebar di mana-mana, dan alarm mobil terus berbunyi karena kendaraan itu hancur parah disebabkan tindakan Jane.


"Apa kau gila menghancurkan rumah orang, hah?" teriak Ibu itu.


"Katakan padaku di mana bandot tua itu atau aku sendiri yang akan menghancurkan rumah ini!" Amarah dalam diri Jane seakan tak ada habisnya meluap-luap tak ada rasa takut sedikit pun ketika menjadi bahan tontonan warga.


Hingga sesaat kemudian, ada seorang warga berteriak ke arah mereka dengan keras melihat di mana Jane mencari Juragan Broto. "Tadi saya melihat Juragan Broto ada di rumah istri ke sembilannya."


Jane, seketika beralih menatap ke arah warga. Tanpa menghiraukan Maya dan Ibunya. "Apa kau tahu di mana rumahnya?"

__ADS_1


Warga itu hanya mengangguk, sedangkan kedua wanita beda usia di belakang terlihat marah-marah dengan tindakan Jane yang melangkah pergi setelah merusak rumah mereka. "Hei! Apa maksudmu dengan semua ini, hah? Apa kau sudah gila menghancurkan rumah orang lalu melarikan diri begitu saja?" ujar Ibu Maya dengan nada tinggi hingga menampakkan urat leher yang menegang.


Tangan Jane seketika mengayunkan tongkat Golf dan memukul bagian depan mobil dengan kuat. "Kau beruntung aku tidak membakarmu hidup-hidup di dalam rumah!" Suara geram Jane bisa didengar oleh setiap orang yang menyaksikan kejadian itu.


Pantas saja ketika warga memadamkan api di kebakaran sudah tidak ada orang. Ternyata Jane marah karena semua itu adalah ulah Juragan Broto. Namun, kedua wanita itu seakan tak peduli dengan apa yang dialami Jane dan malah berbalik mengancamnya. "Lihat saja aku akan menuntutmu!"


Teriakan kedua wanita di belakang hanya menjadi angin lalu bagi Jane. Tanpa menoleh, dia tetap melangkah mengikuti warga meninggalkan kediaman Juragan Broto, sedangkan Damien memasukkan kembali Lary ke dalam bagasi dan mengikuti dengan menggunakan mobil.


Melihat wajah Jane yang merah padam, para warga tak berani mengatakan apa pun kepada wanita tersebut. Hanya sesekali melirik dan berdecak kagum dalam hati. Juragan Broto terlalu arogan di desa ini. Sudah saatnya pria tua itu menerima balasannya, mereka berharap Jane sang pendatang baru akan memberantas ketidakadilan bandot tua itu.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di sebuah rumah sederhana dan kecil berbahan kayu, tempat sang istri kesembilan tinggal. Sungguh sangat berbeda dengan penampakan rumah di mana istri pertama hidup dalam kemewahan.


Tanpa membuang waktu, Jane menendang pintu kayu tersebut dengan keras hingga membuat dua orang di dalamnya terperanjat akan tindakan wanita itu.


"Apa yang kau lakukan, hah?" Pria tua itu segera menutup tubuhnya dengan kain, padahal sebelumnya dia hampir saja menggagahi sang istri ke sembilannya di rumah sempit satu ruang tersebut.


Delapan istri dari Juragan Broto memang tinggal dalam kemiskinan, sehingga pria itu hanya memberi rumah kecil satu ruang dan untuk kebutuhan harian di cukupi ketika bekerja di perkebunan maupun peternakan. Berbeda dengan sang istri sah yang hidup dalam kemewahan.


"Aku kemari untuk menuntut balas!" Seru Jane dengan deru napas naik turun karena emosi yang semakin meluap.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Seolah tidak tahu apa-apa, Juragan Broto berusaha bertingkah biasa saja. Namun, dia seketika membelalakkan mata di saat melihat anak buahnya diseret oleh Damien dengan kondisi babak belur.


To Be Continue...


__ADS_2