
Setelah semua orang keluar, Nicholas dan Jessi mengurus bayi mereka sendiri. Nyatanya mengurus bayi kembar tidak semudah yang Nicholas bayangkan. Baru lahir ke dunia belum ada beberapa jam, ketiga anaknya seperti langsung mengambil alih istrinya. Dia hanya bisa mendengus dan menghela napas panjang ketika mereka bertiga saling menyesap ASI tanpa henti, seakan tak memiliki rasa kenyang sejak tadi.
Bayi mereka enggan untuk dibawa pergi ke ruangan bayi, sehingga ketiga bayi tersebut berada di satu ruang dengan Jessi, bahkan hingga malam harinya dan masih enggan untuk beranjak sedikit pun walaupun sudah kenyang sehabis menyusu. Mau tak mau, Jessi dan Nicholas pun mengatakan pada perawat agar bayi-bayinya tetap bersama mereka.
Jonathan dan Jessica sangat kuat dalam menyusu, sedangkan Jayden tampak seperti kakak yang mengalah. Karena hanya dia yang tak terlalu rewel jika sang ibu sedang menyusui kedua adiknya.
"Sweety, kenapa isinya tak habis sejak tadi?" tanya Nicholas keheranan sambil menggendong baby Jay. Dia sungguh belum paham, bagaimana kedua buah dada istrinya bahkan tak menyusut sama sekali setelah diisap oleh ketiga anaknya. Bahkan tak jarang ada yang sampai tersedak karena air susu yang melimpah ruah.
"Inilah karunia Tuhan, Sayang. Dia memberikan kodrat pada wanita agar bisa menyusui tanpa harus bingung kehabisan nutrisi. Susu akan keluar seiring dengan banyaknya kebutuhan anak-anak kita ini," jawab Jessi dengan senyuman indah merekah.
Meskipun pertama kali menyusui membuat puutingnya sakit, bahkan tak jarang terasa sedikit perih dan lecet karena lidah bayinya yang masih kasar. Namun, nyatanya melihat mereka minum dengan lahap serta langsung terlelap setelah kenyang menghadirkan kebahagiaan tersendiri di hati seorang ibu. Sebuah rasa yang tak pernah Jessi bayangkan sebelumnya. Seolah menjadi bayaran atas segala sakit yang dia rasakan sebelumnya.
"Sayang, letakkan mereka di baby boks dan berikan Jay padaku!" ucap Jessi setelah melihat Jo dan Jessi kecil sudah terlelap dengan begitu manisnya.
Nicholas mengangguk. Meskipun dia masih kaku dalam memegang bayi lantaran takut menyakitinya, apalagi tubuh mereka masih begitu mungil. Bahkan kepala bayi dengan telapak tangan Nicholas saja, lebih besar tangannya. Namun, melihat mereka hanya diam di saat sang ayah yang mengurus bayi-bayinya, tetapi jika para bayi itu terlelap lalu diambil alih oleh perawat. Mereka akan bangun dan menangis cukup keras seolah enggan untuk berpisah dengan kedua orang tuanya, membuat Nicholas berusaha sebaik mungkin dalam menjaga buah cintanya.
Alhasil, perawat pun mengajari sang Papa Muda bagaimana cara merawat bayi yang baru lahir. Bagaimana cara menggendong yang benar, cara mengganti popok, dan cara mengambil bayi yang menangis dari baby boks ke dalam pelukan. Selain itu, Nicholas juga diajarkan jika bayi menangis, mungkin hanya karena buang air atau haus. Jadi, bisa diatasi sesuai situasinya.
Sebagai suami siaga, tentu saja Nicholas tidak keberatan belajar dan mengerjakan semua itu. Lagi pula sang istri sudah berjuang sembilan bulan seorang diri. Bukankah ini saatnya mereka berbagi beban bersama. Nyatanya semua itu terasa menyenangkan bagi seorang Nicholas bisa mengurus anak-anaknya dari lahir. Mungkin karena baru sehari jadi dia masih merasa biasa saja. Kebahagiaannya lebih besar daripada memenangkan sebuah tender bernilai milyaran.
Nicholas meletakkan kedua bayinya di tempat tidur masing-masing, sedangkan Jayden kini bergantian menyesap ASI sisa adik-adiknya. Meskipun dia selalu jadi yang terakhir, tetapi dialah yang paling kuat dan lama dalam menyusu. Bahkan terkadang sampai Jessi merasa ngantuk saat menyusui Jayden.
__ADS_1
"Boy, jangan banyak-banyak! Daddy juga mau," ucap Nicholas pada putranya.
"Kau ini ada-ada saja, Sayang." Jessi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya.
"Aku bersungguh-sungguh, Sweety. Ngomong-ngomong bagaimana rasanya, ya? Selama ini aku menyesap bahkan tak mengeluarkan air sedikit pun," ujar Nicholas sambil mengerucutkan bibirnya.
"Memalukan. Jangan katakan itu di depan anak kita, Sayang!" Jessi hanya bisa memukul pelan bahu suaminya. Sungguh kata-kata yang tampak begitu vulgar jika didengar anaknya. Namun, Jessi bersyukur memiliki suami seperhatian Nicholas.
Melahirkan bayi kembar tiga membuat ketiga anaknya juga berbagi berat badan. Bahkan bisa dibilang berat bayi-bayinya masih belum sesuai standar. Namun, mereka seakan enggan meminum susu formula yang disarankan dokter. Bahkan juga tidak mau minum ASI yang diperah. Jadilah mereka selalu meminum langsung dari sumbernya seperti sekarang.
"Sayang, bukankah melelahkan harus menyusui mereka dua jam sekali?" tanya Nicholas sambil menatap putranya yang sudah mulai terlelap.
"Lelah, tapi aku bahagia memiliki mereka yang sudah aku tunggu selama ini," jawab Jessi tulus. "Terima kasih sudah memberiku kebahagiaan sebagai seorang wanita, Sayang."
Malam ini sepasang orang tua baru tersebut lembur merawat bayi-bayi mereka, terutama Nicholas. Karena Jay, Jo, dan Je terus saja buang air secara bergantian, sedangkan kondisi Jessi belum pulih pasca melahirkan karena banyaknya jahitan di bagian intinya. Jadi, dia dilarang untuk banyak bergerak dan hanya bisa melihat dari ranjangnya saja.
Sesekali Nicholas memanggil perawat untuk membantunya di saat kerepotan melayani bayi-bayinya. Dia bahkan memerlukan waktu lebih dari lima belas menit untuk mengganti popok, tetapi mereka sudah saling bersahutan dalam menangis. Padahal waktu sudah menunjukkan dini hari.
"Sayang, ush, ush, ush, ush." Nicholas dengan sabar menimang si kecil Jessica agar tidak menangis setelah selesai mengganti popoknya. Baby kecilnya sepertinya sudah memiliki bibit merepotkan sejak dilahirkan karena dia hanya mau digendong Nicholas bahkan tidak mau jika perawat melayaninya.
Berbeda dengan Jonathan yang tampaknya suka dilayani perawat muda, karena ketika yang datang perawat paruh baya. Jonathan juga tak mau berhenti menangis.
__ADS_1
"Apa mereka tidak mau tidur, Sayang?" tanya Jessi setelah melihat suaminya sesekali terpejam karena lelah dan belum istirahat sejak tadi.
Nicholas hanya menghela napas lemas. "Ternyata sumpah Mommy berlaku lebih awal," keluhnya dengan nada memelas mengingat bagaimana sang ibu mengutuknya di hari pertama dia menjadi seorang ayah. "Tidurlah, Sweety! Aku akan menjaga mereka."
Pagi harinya, Laura yang sudah tak sabar melihat cucu-cucunya datang ke rumah sakit pagi-pagi sekali. Bahkan meninggalkan suaminya yang masih bergelut di bawah selimut seorang diri.
Dia membuka pintu setibanya di ruangan tempat Jessi dirawat, Laura membelalakkan mata seolah tak percaya melihat pemandangan pertama yang dilihatnya. "Kau kenapa, Son?" tanya Laura sambil menatap mata panda sang putra yang masih menggendong salah satu bayinya.
"Jessica mengerjaiku, Mom. Dia tidak mau tidur kalau tidak aku timang. Lihat! Dia bahkan melarangku tidur, padahal Mommynya terlelap sejak tadi." Laura hanya bisa menahan tawa sambil menutup mulut mendengar keluhan putranya yang tampak sangat kasihan.
Sejak semalam memang Jessica yang paling rewel. Bahkan belum satu detik Nicholas memejamkan mata dengan memeluknya, bayi itu sudah membangunkan ayahnya dengan menangis cukup kuat.
Nicholas yang tak ingin kedua kakaknya terganggu akhirnya mengalah dan menimang Jessica sampai pagi. Dia bahkan tidak bisa duduk apalagi meletakkan diri di kursi maupun ranjang untuk penunggu pasien dan hanya berdiri dengan tubuh yang lemas saat ini.
"Berikan pada Mommy!" Nicholas pun memberikan putrinya pada sang ibu dan langsung merebahkan diri di sofa dengan lega.
"Akhirnya," gumam Nicholas yang tanpa membuang waktu langsung melayang ke dalam mimpi indahnya.
Laura hanya bisa menggelengkan kepala melihat sang putra yang tampak sangat lelah. Namun, dalam hatinya bersyukur melihat kebahagiaan keluarga kecil Jessi dan Nicholas. Apalagi sang putra sanggup menahan diri demi menenangkan putrinya yang baru lahir semalaman, serta menemani dengan sabar di saat istrinya melahirkan.
Sungguh berbeda dengan dirinya dahulu di saat mengandung dan melahirkan Nicholas. Dia harus terpisah dengan Michael dan merawat bayinya seorang diri karena suatu alasan yang akan dijelaskan di novel lainnya nanti.
__ADS_1
"Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluargamu, Son," ucap Laura sambil mencium kening putranya yang kini menjelma menjadi seorang ayah yang membanggakan.
To Be Continue..