
Hari berlalu begitu saja, di mana Mario bekerja seperti biasa, sedangkan Anna melakukan tugasnya penuh dengan kecanggungan karena ingatan yang mengguncang. Apalagi sang asisten utama tidak bisa bekerja beberapa hari ini karena istrinya yang tengah sakit, membuatnya yang ingin bersembunyi dari Mario malah menjadi semakin dekat.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Mario pada Anna yang masih berdiri mematung di depannya.
Anna bukannya mendengarkan pertanyaannya atasannya, tetapi malah menelan salivanya sendiri dengan susah payah di saat melihat jakun di leher Mario yang naik turun sejak tadi ketika berbicara. Sungguh suatu pemandangan yang seketika menggoda iman sekaligus membuat pikirannya melayang entah ke mana.
"Anna." Sekali panggilan dari Mario tidak ada sahutan. "Anna." Dua kali masih juga sama. "Anna, apa kau mau aku pecat?" ucap Mario dengan nada sedikit tinggi.
"Ya, saya bersedia, Bos," ucap Anna dengan tegas tanpa sadar apa yang dia ucapkan, karena terkejut mendengar Mario yang membentaknya.
Mario hanya bisa tersenyum kecil melihat kegugupan dalam diri Anna. Jelas wanita itu tidak bisa fokus sejak tadi dan pikirannya melayang entah ke mana. "Jadi, kau bersedia aku pecat?"
"Eh, pecat, Bos. Jangan dong! Saya masih butuh uang. Kalau saya dipecat, bagaimana nanti bisa menghidupi benihmu ini, Bos?" Anna yang baru tersadar dari pertanyaan Mario seketika merutuki kebodohannya. Sialnya dia hari ini, harus berhadapan dengan Bosnya yang semalam ditiduri. Sungguh membuatnya tidak bisa fokus bekerja sejak tadi karena mengingat bokong sintal yang melenggak lenggok menuju kamar mandi pagi tadi dan mulut absurdnya malah mengatakan sesuatu yang tak seharusnya, hingga gadis itu hanya bisa melipat bibirnya semakin dalam.
"Ah, jadi kau takut tidak bisa memberi makan benihku?" ujar Mario semakin membuat Anna salah tingkah.
"Ekhem, jadwal Anda hari ini bertemu dengan salah satu pengembang game, Bos," ucap Anna mengalihkan pembicaraan sebelum jantungnya semakin meledak kegirangan.
Mario hanya mengangguk kecil. "Kalau begitu atur di tempat biasanya."
"Baik, Bos. Ada lagi yang ditanyakan, Bos?" Pria tersebut hanya menggeleng, sedangkan tangannya mengisyaratkan agar Anna segera enyah dari ruangan itu. Sungguh sebuah kepribadian yang tak terduga dalam diri Mario. Di mana pria tersebut kembali terlihat dingin dan datar hanya selang waktu sekejap mata.
Anna pun segera keluar dari ruangan tersebut dengan wajah kesal. Berulang kali wanita tersebut menggerutu tak jelas di depan komputernya sambil menjalankan tugas. Hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
"Kau belum siap?" tanya Mario di depan Anna melihat jari sekretarisnya masih menari-nari di atas papan ketik dan tak mengindahkan kehadirannya.
__ADS_1
"Siap apa, Bos?" Kali ini Anna tidak ingin asal menjawab pertanyaan Mario yang selalunya hanya setengah-setengah dan berakhir membuat Anna salah paham.
"Bertemu klien? Kau pikir apa lagi?" jawab Mario sambil melirik jam di pergelangan tangan.
"Bukan kah biasanya Anda pergi bersama—" Anna menepuk dahinya sendiri mengingat jika asisten sang bos tidak masuk hari ini. Selain itu dia juga mendapatkan lirikan tajam pria di hadapannya. Sungguh suatu kebodohan yang entah ke berapa hari ini karena fokusnya sudah ambyar sejak awal. "Maaf, Bos."
Anna bergegas mengambil berkas-berkas yang diperlukan dan menyambar tasnya. Dengan langkah seribu bayangan wanita tersebut mengikuti Mario dari belakang sambil meneliti kembali apa ada dokumen yang kurang. Beruntung kesalahannya tak terulang lagi, sehingga dia tak perlu kembali pamit hanya untuk kesalahan kecil.
Setibanya Mario dan Anna di lobi utama, mereka melihat di mana seorang wanita tampak sudah menunggu Mario di sana. Tiga bulan lamanya dia menanti dengan berbagai cara agar tidak terkesan sengaja. Namun, nyatanya Mario tidak pernah mengindahkan kehadirannya. Jangankan untuk berkenalan, bahkan menoleh saja tidak. Sungguh seorang pria yang sangat sulit didekati.
"Tuan Mario." Rosa menghentikan langkah Mario yang hendak berjalan keluar.
"Siapa dia?" tanya Mario pada seorang resepsionis di sana dan bukan pada wanita itu langsung.
"Kenalkan saya Rosa," sapa Rosa sambil mengulurkan tangan tanpa rasa malu sama sekali karena sebelumnya dia juga sudah dipermalukan dengan pengabaian Mario.
Wanita itu tampak mengepalkan kedua tangannya setelah kembali mendapatkan penolakan entah yang ke berapa. Sementara itu, para karyawan wanita yang melihatnya hanya bisa menatap iba pada Rosa. Memang selama bekerja Mario terkenal dingin dan selalu cuek pada bawahannya, kecuali Maurer yang notabene merupakan adik kandungnya. Bahkan Anna tidak mungkin bisa bekerja di sampingnya jika bukan karena Jessi, sang pemegang keputusan mutlak di Light Holdings.
Di sisi lain, Anna dan Mario yang meninggalkan gedung Light Holdings melaju menuju sebuah restoran di mana pertemuan dengan klien biasanya berlangsung. Sesekali Anna melirik Mario di belakang dari kaca tengah di sela fokusnya pada jalanan.
"Apa wanita itu sering datang ke perusahaan?" tanya Mario tanpa melirik ke depan, meskipun dia tahu Anna sejak tadi memerhatikannya.
"Cukup lama, Bos," jawab Anna singkat.
Dalam hati Anna merutuki sikap dingin Mario yang bahkan tidak sadar didekati oleh wanita secantik Rosa. Bahkan wanita saja bisa iri melihat penampilannya yang aduhai bak model majalah dewasa. Namun, bosnya malah seperti pria yang memiliki kelainan dalam hubungan seksualitas dan tampak tidak tertarik dengan lawan jenisnya. Maka dari itu, Anna sedikit ragu, apa benar mereka melakukan hal yang tidak sepantasnya semalam. Sepertinya mustahil, batin Anna.
__ADS_1
Mario yang kembali melihat Anna bergelut dalam lamunannya sontak berniat mengerjai wanita itu lagi. "Apa kau puas dengan servis ku semalam?"
Sontak Anna menginjak pedal rem di kaki hingga penumpang di bagian belakang langsung terjerembab menatap kursi bagian depan. "Apa kau sudah bosan bekerja, Anna?" teriak Mario sambil mengusap dahinya yang jika saja tidak keras pasti sudah benjol sebesar biji delima.
"Maaf, Bos. Maaf." Anna kembali melajukan mobil dengan jantung yang berdetak tak karuan. Bukan saja karena Mario yang membuat perasaannya tidak menentu sejak tadi. Namun, juga suara klakson kendaraan di belakang yang protes sebab dia berhenti mendadak di jalan tanpa aba-aba.
Sepanjang perjalanan mulut Anna seakan tertutup rapat. Dia enggan menjawab pertanyaan absurd Mario maupun memikirkannya. Hanya ada perasaan tidak menentu yang semakin menyiksa sepanjang perjalanannya. Akan tetapi, alam seakan mendukungnya karena tak lama kemudian, keduanya tiba di pelataran restoran yang dimaksud. "Kita sudah sampai, Bos."
"Aku juga tahu."
Anna segera turun untuk membukakan pintu mobil bagian belakang. Dengan tubuh bergetar, wanita tersebut langsung meminta izin pergi sejenak demi menetralkan perasaannya. "Saya izin ke toilet sebentar, Bos."
Mario hanya mengangguk kecil. "Jangan lupa tambahkan lipstikmu dengan warna tak terlalu mencolok agar hanya aku yang menikmatinya," ucap Mario sebelum pria tersebut berlalu pergi terlebih dahulu.
Hampir saja Anna menjatuhkan rahang karena terkejut akan kalimat Mario barusan. "Apa dia baru saja merayuku?" gumam Anna tanpa sadar lututnya terasa lemas mendengar sang bos kini bisa berbicara panjang lebar.
Dengan langkah gontai, Anna bergegas menuju kamar mandi di restoran tersebut. Dia membasuh wajahnya demi menetralkan kembali perasaan yang tidak menentu sejak pagi. Bertemu klien untuk pertama kali dengan Mario membuatnya harus bisa profesional dan tidak ingin terganggu oleh bayang-bayang Mario lengkap dengan kalimat absurdnya yang selalu membuatnya salah tingkah.
Akan tetapi, tanpa sadar Anna sungguh mengubah warna lipstiknya dari yang sebelumnya terang menjadi warna soft yang malah menampakkan kesan muda. "Cih, kenapa aku malah menuruti keinginannya?" umpat Anna sambil melemparkan benda tersebut ke dalam tasnya.
Namun, sedetik kemudian, Anna malah memuji diri sendiri di balik pantulan cermin datar tersebut. "Hei, cantik! Ayo buat Bosmu itu terpesona," ucap Anna pada diri sendiri sambil mengedipkan salah satu mata genitnya.
Setelah dirasa cukup dengan penampilannya kali ini. Anna bergegas melangkah keluar sebelum mereka terlalu lama menunggu. Bisa-bisa profesionalitasnya dipertanyakan jika tak segera hadis mendampingi atasannya. Namun, ketika berjalan menuju ruangan tersebut dan hendak membuka pintunya. Tangan kekar seorang pria menindih tangannya juga, seolah keduanya hendak masuk ke ruangan yang sama.
"Anna," sapa pria tersebut membuat Anna sontak menarik tangan dengan raut wajah terkejut tak terbaca.
__ADS_1
To Be Continue..