
"Jane." John menyerahkan kembali ponsel milik Jane kepada wanita tersebut. Sebenarnya dia telah sadar untuk beberapa waktu ketika Jessi menelepon, tetapi wanita tersebut enggan menjawabnya.
"Bagaimana kata, Dokter?" tanya Jane.
"Hasilnya akan keluar sebentar lagi."
Kondisi Jane yang tak kunjung sadar membuat John membawanya ke rumah sakit. Dokter pun langsung memeriksa kondisinya dan menyerankan untuk menjalani tes kesehatan secara keseluruhan termasuk Ct Scan dan MRI. Tidak ada catatan medis wanita tersebut selama ini, tetapi guna pengantisipasi diagnosis yang salah karena dokter mencurigai kondisi kepalanya.
Hal itu pula yang membuat John menyetujui untuk pemeriksaan kesehatan menyeluruh tanpa menunggu persetujuan Jane. Namun, ketika wanita itu sadar, wanita tersebut semakin takut mendengar kondisinya sendiri. Bagaimana jika dia sungguh memiliki penyakit serius? Hanya membayangkan kematian ibunya saja sudah membuat tubuh Jane lemas seketika. Karena itulah, dia tidak berani menerima panggilan telepon sang adik.
Tak lama kemudian, seorang perawat datang ke kamar tersebut. "Permisi, Tuan. Dokter meminta keluarga pasien untuk datang ke ruangannya."
"Baiklah." John hendak melangkah pergi, tetapi tangan Jane menghentikan langkahnya. "Ada apa?" ujar pria tersebut sambil menoleh ke arah Jane.
"Aku ikut."
Sejenak John mengembuskan napas perlahan. "Kau yakin?"
Jane hanya mengangguk kecil. "Aku berhak tahu kondisiku sendiri."
"Baiklah." John pun mengambil kursi roda yang tersedia di ruangan tersebut dan hendak memapah Jane, tetapi wanita itu menolak dengan tegas.
"Aku bisa sendiri." Jane bangun dari ranjang, sedangkan John memegang wadah infus yang terpasang dengan tangan wanita tersebut.
Mereka lantas bergerak menuju ruangan dokter. Setibanya di sana, terlihat seorang dokter pria tengah duduk di mejanya. "Selamat datang. Silakan duduk!"
Keduanya lantas berhadapan dengan sang dokter yang kemudian memutar layar komputer di depannya. "Langsung saja, Tuan, Nyonya. Jadi, begini. Ini adalah hasil MRI bagian kepala Anda." Dokter tersebut memerlihatkan dua buah gambar hasil MRI bagian kepala Jane yang membuat keduanya hanya bisa memerhatikan sambil mengangguk kecil.
"Nah, di sini." Dokter menunjuk sebuah titik di layar di mana sesungguhnya hanya dia yang mengerti tentang gambar tersebut. "Di sini ada tumor kraniofaringioma."
__ADS_1
Bak tersambar pertir di siang hari, Jane membatu seketika mendengar penuturan dokter. Ibunya dulu meninggal karena kanker otak yang terlambat di tangani. Kini dirinya menyusul karena genetika turunan dari sang ibu.
Sungguh sebuah kenyataan yang kejam bagi dirinya di saat sendiri seperti ini. Bukankah Tuhan terlalu cepat memberikan karma karena dia dengan tega membunuh ayahnya?
Jane hanya bisa terdiam dan tak lagi memerhatikan penjelasan dokter. Semua terasa hening dalam sekejap mata, hanya ada gerak bibir dari keduanya yang bisa Jane lihat. Namun, sayangnya penglihatannya ternyata tak sebaik sebelumnya.
Inikah hukuman untukku? batin Jane.
Rasa terkejut akibat pernyataan dokter seketika membuat dunia seakan berputar di kepala Jane. Wanita tersebut terdiam untuk waktu yang cukup lama karena pandangan mulai tak jelas seperti beberapa hari terakhir. Hingga akhirnya kesadaran wanita tersebut kembali menghilang dan pingsan di atas kursi rodanya.
"Jane! Jane!" John terlihat begitu panik melihat Jane yang kembali tak sadarkan diri di sampingnya, sedangkan dokter segera beranjak dari posisinya untuk memeriksa Jane.
Berulang kali mencoba mengecek kondisi matanya. "Bawa kembali ke ruangannya!" ujar sang dokter.
Jane kembali dibawa ke kamar perawatan untuk diperiksa, setelah beberapa saat dokter pun memberikan suntikan dan melepas stetoskop di telinganya.
"Sepertinya Nyonya terlalu syok hingga menjadi seperti ini. Biarkan dia beristirahat terlebih dulu, Tuan! Jangan biarkan Nyonya terlalu stress! Saya sarankan agar tumor tersebut segera di operasi sebelum membesar dan menekan saraf mata hingga bisa menyebabkan kebutaan." John hanya bisa mengusap kasar wajahnya ketika mendengar pernyataan dokter. "Kalau begitu saya permisi dulu."
John hanya mengangguk kecil, lantas duduk di kursi sebelah ranjang Jane yang kini berwajah pucat pasi.
"Jane." Dia menggenggam erat tangan wanita tersebut untuk menguatkannya.
Kraniofaringioma adalah salah satu jenis tumor jinak yang terdapat pada otak. Ini artinya, tumor ini tidak menyebabkan kanker.
Tumor ini muncul di dekat kelenjar pituitari yang terdapat pada otak. Kelenjar tersebut berfungsi untuk mengeluarkan berbagai hormon yang mengontrol beragam fungsi tubuh.
Seiring dengan pertumbuhannya, kraniofaringioma dapat mengganggu fungsi dari kelenjar pituitari dan struktur lain yang terdapat pada otak.
Kraniofaringioma adalah salah satu jenis tumor otak yang kemunculannya mencapai 2-4% dari total populasi manusia dunia. Meski tergolong tumor jinak, jika tak segera mendapatkan penanganan, tak menutup kemungkinan kondisinya berubah menjadi kanker otak.
__ADS_1
Kraniofaringioma adalah tumor yang dapat menyerang siapa saja pada kelompok usia berapa saja. Akan tetapi, penyakit tersebut paling sering muncul pada anak-anak dan lansia. Namun, pada kasus usia Jane juga bisa terjadi, tetapi sangat jarang.
Tumor kraniofaringioma biasanya tumbuh secara perlahan. Umumnya, tumor ini tidak menunjukkan gejala pada tahap awal terbentuk. Gejala dari tumor baru berkembang secara perlahan selama satu hingga dua tahun lamanya, tergantung dari lokasi tumor itu berada.
Kebanyakan orang akan mengalami sakit kepala dan mengalami masalah dengan penglihatan. Namun, selain itu, ada juga yang mengalami kehilangan penglihatan samping atau hemianopsia bitemporal. Jika tumor sudah berukuran besar, pasien mungkin mengalami gejala seperti hilang ingatan, apatis, depresi, dan kelelahan.
__________________
Di sisi lain, Damien pergi ke klub malam untuk pertama kali setelah sekian lama dalam hidupnya tak pernah mengunjungi tempat seperti itu. Dia menenggak banyak minuman beralkohol di dekat bartender hingga pria tersebut tak sadar dengan apa yang dilakukannya.
"Jane. Kenapa ... kenapa kau memilih pergi? Padahal aku hanya butuh sedikit waktu untuk mempersiapkan diri jika ingin mendekatimu lagi," ucap Damien yang menumpukan kepalanya pada tangan kiri di atas meja bartender. Ujung jari telunjuknya menyentuh lembut bibir gelas bening dengan isian berwarna brandy yang hampir habis, seakan sedang menyentuh wajah Jane. "Kenapa semudah itu kau mendapatkan pria lain?"
Terbayang kembali dalam benaknya tentang apa yang terjadi padanya dan juga Jane di masa lalu. Rasa bahagia ketika melihat senyumnya dan sakit di saat melihatnya terluka membuat pria itu tahu apa sebenarnya makna cinta. Suara hingar bingar musik begitu keras dan lampu berkelap kelip ramai di atas sana, serta orang-orang yang turun untuk berdansa serta berpesta pora tidak dia hiraukan.
Damien hanya ingin melupakan apa yang kini menumpuk dalam pikirannya dengan kembali menenggak sisa minuman yang ada di dalam gelasnya. Dia tidak peduli dengan rasa panas, pahit, dan manis yang membakar di tenggorokan. Pusing di kepala mulai mendera pria tersebut, pandangan mata semakin kabur tidak membuat pria itu bangkit untuk pulang. Rasa kesal akan kehilangan Jane membuat dia marah juga emosi mengetahui ada laki-laki lain di sana bersama wanita yang dicintanya.
"Tambah," pinta Damien, menyodorkan gelasnya pada bartender di depannya. Dengan segera pria itu menambahkan minuman ke dalam gelas Damien tanpa banyak tanya. Padahal sudah cukup banyak Damien menghabiskan beberapa isi botol brandy.
Damien menatap warna minunan yang sangat cantik di dalam gelasnya yang seakan mengejek situasinya saat ini. Dia tersenyum miris dengan hati yang teriris memikirkan nasib dirinya setelah ditinggalkan Jane. "Seandainya saja." Hanya itu kalimat terakhir yang bisa dia ucapkan sebelum akhirnya tergeletak tak sadarkan diri di dekat meja bartender.
To Be Continue...
Hello teman-teman, jangan lupa mampir ke karya kedua author berjudul 'QUEEN Of Casino'
Buat yang bertanya, "Belum tamat kok udah ada yang baru sih, Thor?"
"Author juga butuh gaji biar bisa lebaran. Karena dari sini author belum bisa gajian sejak awal penulisan."
Terima kasih buat kalian pembaca setia yang sudah bersedia menanti setiap partnya.
__ADS_1