Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Kaki Gajah


__ADS_3

Setibanya di Light Holdings Jessi membawa Anna menemui Mario langsung. Pria itu cukup terkejut mendengar kedatangan Jessi yang tak memberikan kabar terlebih dahulu seperti biasanya. 


Kehamilan Jessi yang semakin besar memang membuatnya berbuat tambah aneh. Jika di awal kehamilan dia selalu senang ketika menyiksa orang, kini entah mengapa Jessi bahagia jika melihat anak buahnya memiliki pasangan masing-masing. 


"Nyonya," sapa Mario sambil berdiri dari posisinya. 


"Mario, bisa kau bantu aku mempekerjakan Anna?" ucap Jessi tanpa basa-basi seketika menyebabkan Mario membelalakkan mata.


Anna tampak hanya terdiam untuk beberapa saat di kala terpesona melihat pria gagah dan tampan di depannya. Hingga senggolan tangan dari Jessi membuyarkan lamunannya seketika. "Ah, Anna," sapanya sambil mengulurkan tangan. 


"Mario," balas Mario singkat dan kembali menatap majikannya. "Nyonya ingin mempekerjakan Anna di bagian apa?" 


"Asistenmu," jawab Jessi singkat.


Mario sontak terkejut mendengar permintaan Jessi. "Tapi, saya sudah punya asisten, Nyonya."


"Em, kalau begitu sekretarismu saja," ujar Jessi sambil memanggut kecil. 


"Bukankah itu sama saja, Nyonya. Semua pekerjaan sudah pegang oleh asisten saya. Bagaimana kalau di bagian lainnya saja? Sepertinya bagian marketing masih memerlukan karyawan." Mario mencoba menolak permintaan Jessi secara halus karena selama ini dia memang tidak pernah bekerja sama dengan wanita, kecuali Maurer. 


"Pokoknya aku tidak mau tahu. Dia harus bekerja di sampingmu, titik! Awas saja kalau kau memindahkannya ke bagian lain! Aku pergi dulu." Jessi berbalik dan berbisik di telinga Anna untuk sejenak. "Nikmati pekerjaanmu, semoga lancar. Fighting!"


Tanpa membuang waktu, Jessi segera melangkah pergi meninggalkan kedua orang yang tampak canggung dengan situasi saat ini. 

__ADS_1


"To," panggil Mario pada asistennya di luar. 


"Anda memanggil saya, Tuan?" tanya seorang pria yang usianya tampak lebih tua dari Mario itu dengan sopan setelah memasuki ruangan.


"Kau urus Anna supaya bisa bekerjasama denganmu dan berikan informasinya pada bagian personalia kalau dia karyawan baru di sini," titah Mario akhirnya mengalah dengan permintaan Jessi yang tak dapat diganggu gugat. 


"Baik, Tuan."


"Ikuti dia!" ucap Mario pada Anna. 


"Terima kasih, Tuan." Anna lantas membungkuk kecil lalu mengundurkan diri mengikuti sang asisten asli melangkah keluar ruangan. 


Sementara itu, Jessi dan yang lainnya kembali mengurus pernikahan George serta Olivia yang akan dilakukan besok, menggantikan pernikahannya dan Nicholas. Dia lantas masuk ke mobilnya lagi dan duduk sambil menatap keluar dari jendela.


Maurer yang kembali melanjutkan perjalanan membuat pemandangan di luar sana tampak bergerak, seakan mereka lah bergerak yang melewati Jessi. Tangan wanita itu mengelus perutnya dengan lembut. Pergerakan tendangan dari bayi-bayinya di dalam terasa sedikit nyeri, tetapi berhasil melukiskan sebuah senyum di wajahnya tanpa sadar. 


Hamil kembar tiga di usia tujuh bulan menyebabkan perut Jessi tampak lebih besar daripada ibu hamil pada umumnya. Namun, dia menikmati hal itu karena gerakan aktif dari bayi-bayinya terasa cukup menyenangkan. Apalagi apa pun keinginannya pasti terpenuhi tanpa harus bersusah payah. 


"Ih, lihat! Bayiku menendang lagi," ucap Jessi girang di saat melihat perutnya menonjol ke samping.


"Apa, Nyonya tidak lelah jika kita pergi sekarang? Lagipula 'kan ada saya dan Olivia. Bagaimana kalau kita pulang dulu saja?" Maurer tampak mengkhawatirkan kondisi Jessi. Dia hamil tua, tetapi masih suka melakukan banyak aktivitas berat dengan durasi cukup lama. 


"Kau menyebalkan seperti suamiku! Tidak boleh ini tidak boleh itu, apa kalian tidak bisa kalau diam dan menurutiku saja," gerutu Jessi sambil terus mengusap perutnya. "Kira-kira Anna berhasil menggoda Kakakmu tidak, ya?" 

__ADS_1


Rasanya menyenangkan sekali melihat beberapa orang yang ada di sekitarnya saling berbagi kasih sayang. Jessi ingin melakukannya lagi dan lagi. Dia sedang berpikir, siapa yang akan dipersatukan lagi selanjutnya? Bukankah sangat menyenangkan di saat ikut andil dalam sejarah manusia-manusia yang ada di dekatnya. Membiarkan mereka saling mengenal satu sama lain dan akhirnya mencetak generasi selanjutnya setelah ini?


Tujuan mereka selanjutnya adalah pelabuhan, lokasi di mana kapal pesiar yang akan menjadi tempat pernikahan mewah Olivia dan George. Beberapa saat lamanya akhirnya mobil sampai di pelabuhan. Jessi terdiam menatap kapal pesiar cukup besar yang ada di hadapannya. Dia melangkahkan kakinya ke dalam kapal itu, beberapa orang yang ada di sana menundukkan kepala saat tahu siapa wanita hamil yang datang.


Jessi melenggang masuk, dagunya dia angkat hingga terlihat keanggunan wanita itu tanpa terhalang oleh kehamilannya. Bahkan, dengan perut buncitnya menjadikan Jessi semakin seksi. Lihat saja lekukan pinggang wanita cantik itu, membuat beberapa tamu pria yang ada di sana mencuri-curi kesempatan untuk meliriknya, dan beberapa tamu wanita menatap kagum akan kecantikannya.


Meskipun wanita itu hanya mengenakan sebuah daster kembang dan sandal jepit. Nyatanya kecantikan alami yang dimiliki tetap tak luntur begitu saja. "Bagaimana persiapannya?" tanya Jessi pada George yang sudah siap sedia di sana sejak tadi. 


"Sudah 90%, Nyonya. Tinggal eksekusi makanan besok, sudah ada semplenya di sana."


Wanita itu hanya memanggut-manggut sambil melangkah menuju meja di mana sudah berjajar rapi berbagai jenis makanan sample yang akan memanjakan lidah para tamu besok. "Lumayan," ucap Jessi ketika mencicipi sebuah cup cake yang tersedia di sana. "Awh," rintihnya sambil memegang perut karena ditendang serentak oleh ketiga bayi dalam perutnya. 


"Nyonya, Anda baik-baik saja?" Seluruh anak buahnya seketika mendekat untuk memapah wanita tersebut agar duduk dikursi. 


"Oh Tuhan," teriak Jessi sambil menutup mulut sebab terkejut melihat kakinya yang selonjoran tampak begitu besar. "Kenapa kakiku berubah jadi kaki gajah?" Gerutunya melihat telapak kakinya yang semakin gendut meninggalkan bekas srampat di saat dia melepaskan sandal jepitnya. 


"Anda terlalu lelah, Nyonya," ucap Maurer dengan lembut sambil meluruskan kedua kaki Jessi. "Bisa tolong ambilkan air hangat!" lanjutnya pada pegawai di sana. 


Tak lama kemudian, hangat satu baskom pun tiba. Tanpa ragu Maurer mengambil kedua kaki Jessi dan merendamnya di bekas air hangat tersebut. "Ini akan membuat Anda sedikit lebih baik, Nyonya."


"Terima kasih, Maurer." Para anak buah Jessi memang saling memedulikan layaknya sebuah keluarga. Tidak ada yang namanya senioritas ataupun rasa iri dengki. Hanya ada kasih sayang dan pengorbanan apa pun demi kebahagiaan Jessi, tidak lebih. 


Jessi lantas menatap ke arah George sejenak. "George, panggilkan helikopter kemari! Aku malas kau harus naik mobil lagi."

__ADS_1


"Baik, Nyonya." Namanya juga orang kaya, terserah dia mau datang naik apa dan pulang naik apa. Asalkan hal itu nyaman, dan dia memang memilikinya.


To Be Continue...


__ADS_2