
Mendengar kebisingan di sekitar rumahnya, membuat emosi di dalam diri Park Eun Seok meluap. Dengungan dan jeritan orang-orang yang dia bunuh terus menerus mengusik jiwanya. Akibatnya, pria itu lebih memilih untuk menjalankan misi dari ibunya lebih cepat.
Park Eun Seok melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman orang yang melukai ibunya. Sesuai dengan perintah Park Young Ran. Dia akan memberikan pelajaran kepada istri sah sang ayah—Seo Ya Ji.
"Aku akan menghabisimu!" Seringai iblis terlihat jelas di wajah pria itu, tanpa dia sadari seseorang sudah berada di dalam mobil bersamanya untuk mengawasi setiap gerak-geriknya.
Suasana malam yang gelap dan hari yang sudah larut membuat Pak Eun Seok lebih leluasa dalam menjalankan aksinya. Kondisi rumah yang sepi karena para penghuninya sudah mulai istirahat membuatnya lebih mudah untuk memasuki kediaman tersebut.
Segera pria itu menyusuri setiap sudut ruang. Dia mencari di mana kamar ayahnya dan wanita tersebut. Tak butuh waktu lama Park Eun Seok berhasil menemukan sebuah ruang luas, jelas itu adalah kamar Kim Jae Wook dengan Seo Ya Ji.
Secara perlahan Park Eun Seok memasuki kamar tersebut, sambil membuka belati lipat di tangannya. Langkahnya sangat halus layaknya sebuah udara, membuat kedua orang yang tertidur di atas ranjang tersebut tidak menyadari kehadirannya. Segera dia menusukkan belatinya langsung ke dada Seo Ya Ji.
Merasakan kesakitan di dada, membuat Seo Ya Ji langsung membuka mata, suaminya pun juga terbangun. Dia terkejut melihat anaknya yang sudah ada di sana, tapi pria itu diam saja.
"Apa yang kamu lakukan?" Terdengar suara lirih Seo Ya Ji menahan sakit, sambil memegang luka di dadanya. Dia melebarkan mata melihat Park Eun Seok yang berada di kamar itu, padahal belum kering luka di pipinya, tetapi pria ini sudah berniat membunuhnya.
Jiwa gelap khas seorang pembunuh terpancar jelas dalam diri Park Eun Seok. Bukan menjawab, pria itu malah menusuk Seo Ya Ji di seluruh titik fatal tubuhnya, membuat wanita tersebut tewas seketika tanpa bisa melawan.
Kim Jae Wook yang melihat adegan tersebut bukannya membantu, tetapi malah tersenyum puas melihat apa yang dilakukan anaknya. Dia sudah cukup muak menghadapi Seo Ya Ji selama ini, sekarang tinggal mencari alasan untuk kematiannya nanti.
"Kerja bagus, Son! Sekarang pergilah! Biar ayah yang mengurus sisanya!"
Park Eun Seok membersihkan darah di belatinya dengan tubuh Seo Ya Ji. Tanpa menjawab ayahnya, dia langsung bergegas pergi dari kediaman tersebut.
Tak lama kemudian, Kim Jae Wook mengobrak-abrik kamarnya sendiri, membuat ruang itu layaknya tempat tindakan kejahatan berlangsung. Segera dia mengambil sebuah pisau cukur di kamar mandi dan menyayat sedikit tangannya, seolah dia baru saja bertarung dengan sang pencuri.
Kim Jae Wook langsung berlari keluar kamar dengan berteriak sambil tertatih-tatih. "Tolong ... tolong ... tolong!"
Para penghuni kediaman yang mendengar teriakan langsung bergerak menuju sumber suara dengan panik. "Apa yang terjadi, Tuan?"
__ADS_1
"Di kamar terjadi perampokan." Dia berakting sangat baik, raut wajah panik tergambar jelas. Sambil memegang tangannya yang terluka Kim Jae Wook meringis kesakitan, pria itu lantas dibantu duduk oleh para pelayan.
Aku hanya perlu mencari kambing hitam yang akan aku jadikan sebagai pencuri. Kini tak ada lagi yang mengetahui rahasiaku. Selamat jalan menuju alam baka istriku. Seringai jahat terlukis di wajah Kim Jae Wook, dia tidak perlu lagi berpura-pura mencintai istrinya seperti selama ini.
Segera para penghuni rumah bergerak menuju kamar sang majikan. Ruang tersebut sudah berantakan dengan barang yang berserakan layaknya kapal pecah. Mereka terkejut melihat sang nyonya yang terbaring di ranjang dengan bersimbah darah. Seorang pria langsung mendekat mencoba mengecek kondisi Seo Ya Ji dengan meletakkan jarinya di bawah hidung wanita itu.
"Bagaimana?"
Pria itu menggeleng, tanda bahwa sang nyonya telah tewas karena kejadian naas tersebut. Mereka tidak menyangka, dengan keamanan di rumah yang ketat, kejadian seperti ini masih bisa terjadi.
"Segera laporkan kejadian ini pada Tuan Besar!" ujar seorang pria yang bertugas mengurus rumah tersebut.
Mereka bergegas melaporkan kejadian ini pada tuan besar—ayah Seo Ya Ji—dan juga menghubungi pihak berwajib agar kasus ini segera di tangani.
Tanpa disadari aksi ayah dan anak tersebut sudah disaksikan oleh Jessi dan yang lainnya. Mereka juga merekam kejahatan terencana tersebut.
Mata para anak buah yang memang diatur layaknya sebuah kamera membuat mereka lebih mudah dalam mengerjakan sesuatu.
Jessi menggelengkan kepalanya setelah melihat kejadian tersebut. "Mereka sungguh aktor yang luar biasa. Aktingnya mampu mengalahkan Brad Pitt jika mereka memasuki dunia hiburan." Mereka yang di sana ikut bertepuk tangan mendengar ucapan Jessi, benar adanya apa yang dia ucapkan.
Hari ini mereka layaknya disuguhkan dengan adegan aksi secara live tanpa dipotong oleh sutradara.
"Suamiku, apa Crop Dusters-nya sudah siap?"
"Sudah, Sayang. Apa yang kau inginkan dengan benda itu?"
"Ubah isi airnya dengan bahan bakar!"
"Baiklah." Nich merogoh ponsel di sakunya untuk memberikan informasi pada X agar bergerak menuju tempat dia menyimpang Crop Dusters dan mengisi tangki airnya dengan bahan bakar.
__ADS_1
Hari sudah mulai menunjukkan waktu sepertiga malam. Konser juga sudah selesai dan para penontonnya mulai berhamburan kembali ke rumah masing-masing.
Terlihat mobil Park Eun Seok sudah mulai memasuki area kediaman itu layaknya tidak terjadi apa pun sebelumnya. Jessi kembali meneropong rumah tersebut melihat setiap gerak-geriknya.
"Dia sungguh mesin pembunuh kedua orang tuanya" ujar Jessi.
Maurer dan Olivia mengangguk setuju. "Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Nona?"
"Tentu saja memberi mereka pelajaran, dan mengantarkan ke gerbang neraka untuk menemui Raja Yama." Sorot mata lekat dan senyum smirk khas seorang iblis tergambar jelas di wajah Jessi.
Gaun putih yang masih melekat di tubuhnya tidak membuatnya layaknya bidadari yang selalu membantu orang yang teraniaya. Dia masih tetap layaknya malaikat kematian dan juga raja neraka ketika disandingkan bersama Nich.
"Malam pertama yang mengesankan." Jessi lalu bergerak mendekati suaminya yang terlihat mulai lelah, dia mencium pipi pria yang menyandarkan kepala di sandaran kursi. "Terima kasih, Suamiku. Ini adalah hadiah pernikahan yang tidak akan aku lupakan."
Nich membuka matanya melihat istrinya yang duduk di pangkuannya tanpa diminta lagi. Dia melingkarkan kedua tangan di tubuh Jessi, seraya tersenyum. "Apa pun yang kamu inginkan, aku pasti akan mendukungmu, Sweety. Asal jangan meninggalkanku dan kembali pada mantan suamimu!" Pria itu membenamkan wajah di dada istrinya. Perasaan takut wanitanya pergi dengan pria lain membuat hati Nich gelisah.
"Jadi, karena ini kau segera menikahiku?"
Pria itu mengangguk. "Dia mengintai kediamanmu beberapa hari ini, bahkan hingga sekarang. Aku takut kau berubah pikiran dan kembali padanya." Nich menatap lekat netra istrinya. Dia harus mengungkapkan yang sesungguhnya sebelum Jessi tahu dari pihak lain.
Jessi menyentil dahi suaminya. "Bodoh! Jika aku memilikimu, untuk apa aku kembali padanya?"
Senyum mengembang di wajah Nich. Dia memeluk istrinya dengan begitu erat. "Terima kasih, Sayang. Sudah bersedia menjadi istriku."
Wanita itu membalas pelukan Nich dengan hangat, ternyata pria ini mampu melakukan segala hal hanya demi dirinya. Perasaan terharu sebagai seorang wanita yang diperjuangkan membuatnya begitu bahagia. Dia berharap bisa hidup bersama dengan suaminya ini hingga akhir hayat.
"Aku mencintaimu, Suamiku. Nicholas Bannerick."
TBC.
__ADS_1