Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Balasan Dari Bumil


__ADS_3

Keesokan harinya setelah kejadian malam itu, Broto hanya bisa meringkuk di ruang perawatan layaknya orang gila. Tidak ada jejak atas tindakan Jessi dan yang lainnya karena dengan cepat mereka memanggil perawat untuk memasang kembali jarum infus pria itu. 


Namun, hal itu berhasil membuat mental Broto sedikit terguncang karena pertama kali didatangi hantu. Tak hanya satu, tetapi tiga sekaligus membuat pria itu berulang kali meminta pindah kamar sebab beranggapan jika ruangan tersebut berhantu. 


Lain halnya dengan Broto, Jane sudah diperbolehkan pulang hari ini karena kesehatannya sudah kembali pulih. "Kita pulang ke rumahku," ujar Damien sambil membereskan barang-barang Jane. 


"Tidak." Jane seketika menatap tajam ke arah Damien dengan sorot tidak suka dan berbicara ketus kepada pria tersebut. "Untuk apa aku harus ke rumahmu?" 


Damien seketika menghentikan aktivitasnya dan mendekatkan wajah ke hadapan Jane, hingga hanya tersisa jarak beberapa inchi saja. "Rumahmu sudah terbakar dan belum dibangun kembali. Kau pikir di mana kalian akan tinggal sekarang?" 


"Aku bisa menyewa rumah lainnya." Jane memanglah orang yang keras kepala, tetapi Damien tidak akan mengalah kali ini. Jika memang harus menggunakan cara pemaksaan agar wanita itu mau pergi bersamanya, maka dia akan melakukannya.


"Tidak ada penolakan untuk kali ini. Kau harus ikut denganku." Tanpa membuang waktu karena semua urusan sudah selesai, Damien segara menggendong Jane dengan erat di pundak layaknya sebuah karung beras tanpa memedulikan luka jahitan di pinggang wanita itu.


Sebelah tangan Damien menjinjing tas, sedangkan tangan satunya menahan tubuh Jane yang meronta-ronta di atas pundaknya. "Hei, lepaskan aku, Damien!"


Akan tetapi, pria tersebut tak mengindahkan permintaan Jane dan tetap melangkah menyusuri koridor rumah sakit dengan tegas. Sepanjang jalan yang mereka lalui banyak orang berhenti hanya untuk menyaksikan keromantisan ala Jane–Damien itu. 


Meskipun Jane terus menerus memberontak, nyatanya tak membuat Damien melepaskannya kali ini. Pria itu tetap melangkah dan langsung meletakkan Jane di kursi sebelah kemudi setibanya di mobil. 


"Semakin kamu memberontak, maka aku akan semakin memaksamu. Jadi, lebih baik diam dan jangan berharap bisa jauh dariku!" ujar Damien dengan nada mendominasi seakan tak mau dibantah dan langsung mengenakan sabuk pengaman di tubuh Jane. 


Damien lantas mengemudikan mobil meninggalkan rumah sakit dan melaju menuju kota tempat di mana dia tinggal. Dalam hatinya tersenyum ria, melihat wanita di sampingnya hanya bisa bersedekap sambil mengerucutkan bibir menatap ke arah lain. 

__ADS_1


'Aku akan menikahimu di sana, Jane,' batin Damien tersenyum dalam hati. 


Di sisi lain, sesuai dengan keinginan Jessi sebelum datang ke Negara N. Wanita tersebut mulai melancarkan aksi pembalasan keduanya. Sebelum melakukan aksinya, dia lebih dulu menandatangani sebuah perjanjian di atas materai berdasarkan saran dari Pengacara John. 


"Bolehkah aku melakukannya sekarang?" tanya Jessi dengan antusias. 


"Lakukan apa yang kau mau!" ujar Pengacara John sambil menyimpan perjanjian itu. 


Dengan bersemangat Jessi melangkah keluar rumah John dan berlari kecil menuju tempat di mana barang pesanannya sudah tiba. "Hati-hati, Sweety!" 


Nich dan John hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah ibu hamil yang satu itu, sedangkan Stella tengah membantu Ibunya John di dapur. 


Mereka memang kembali ke desa pagi tadi untuk memberikan waktu kepada Damien dan Jane dalam menyelesaikan masalah mereka. Sementara itu, Jessi akan memberikan pelajaran terakhir pada keluarga sang bandot tua perusak desa. 



Sebelumnya dia sudah membuat perjanjian dengan Pengacara John, di mana sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan Broto dan keluarganya yang semena-mena hingga membuat warga kecil kesusahan, Jessi memutuskan untuk meratakan kediaman pria tua itu. 


Ini hanyalah sebuah hukuman kecil karena Jessi bersedia membangun kembali rumah itu dengan dana pribadi nantinya, asalkan keluarga Broto mau mendedikasikan diri kepada masyarakat selama satu tahun lamanya. 


Namun, jika pria tersebut tidak bersedia, maka Pengacara John yang akan menuntut balik pria itu atas dasar kasus percobaan pembunuhan kepada Jane dan Stella, yang pastinya akan berakhir di ranah hukum. 


 Jessi mengemudikan eskavator tersebut dengan bangganya menuju kediaman Broto, ditemani oleh Nicholas dan John tentunya. Sepanjang perjalanan banyak warga yang berkerumun bahkan mengikuti wanita tersebut karena penasaran akan ada kejadian menegangkan apa lagi di desa itu.

__ADS_1


"Hei! Apa yang kau lakukan, hah?" Istri pertama dari Broto yang berada di rumah seketika keluar, di saat tanpa ragu Jessi langsung menggerakkan bucket eskavator hingga mengeruk sebagian rumahnya hingga hancur.


"Bibi, sebaiknya Anda diam saja. Jika Paman tak berbuat ulah sebelumnya hal ini tidak akan terjadi," ujar John menahan tubuh Bibinya yang murka. 


"John, kenapa kau malah membelanya, hah. Apa kau lupa mereka sudah membakar peternakan? Apa hal itu masih belum cukup?" Wanita itu terus meronta-ronta hendak mendekat ke arah Jessi yang asyik bermain eskavator layaknya sebuah mesin capit. 


"John, apa dia sudah gila menghancurkan rumah orang seenaknya saja?" Istri Broto berteriak dengan keras sambil berusaha melepaskan diri, tetapi dengan kuat John menahannya hingga Jessi berhasil meratakan seluruh kediaman itu tak tersisa.


"Arg! Apa yang sudah kalian lakukan pada rumahku." Istri Broto hanya bisa menangis histeris di kala bangunan termegah di desa itu kini hanya menyisakan puing-puingnya saja. Berbeda halnya dengan para warga yang sangat puas lagi kasihan melihat istri Juragan Broto yang angkuh kini jatuh semiskin-miskinnya. 


Hancur sudah semuanya hanya dalam sekejap mata, hingga tak lama kemudian, mereka melihat seorang wanita hamil turun dengan senyum lebar di wajahnya sambil menepukkan kedua tangan seakan membersihkan kotoran. "Selesai, bukankah seperti ini tampak lebih baik," ucap Jessi tanpa rasa berdosa. 


"Apa kau gila, hah? Kenapa kau tega menghancurkan rumah orang lain?" Istri Broto hanya bisa berteriak sambil menangis untuk meluapkan kekesalan. Ingin sekali rasanya dia menjambak wanita di depannya, tetapi John memegangnya dengan sangat erat. 


"Kau pikir hanya keluarga kalian saja yang boleh menghancurkan rumah orang lain? Apa kau lupa, Nyonya Tua. Suamimu baru saja membakar rumah kakakku bahkan tanpa memikirkan bagaimana jika nyawanya tak selamat malam itu." Dengan arogan Jessi melangkah mendekati wanita tua tersebut dan membisikkan sesuatu di telinganya. 


"Sebaiknya kau hidup dengan baik setelah ini dan bertobatlah jika masih menginginkan rumahmu kembali seperti semula." Sebuah seringai Iblis di wajah Jessi bisa dilihat oleh istri Broto, hingga membuat wanita itu menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. 


"Aku pergi dulu, John. Jelaskan semuanya pada wanita tua itu." Tanpa menunggu jawaban, Jessi langsung bergelayut manja di lengan suaminya dan melenggang pergi meninggalkan lokasi.


Sebelum menghancurkan rumah Broto, Jessi sudah menyiapkan sebuah gubuk kecil untuk tempat tinggal keluarga tersebut selama satu tahun dan agar bertobat atas perbuatannya selama ini. Mereka juga harus membantu warga desa serta berlaku baik. Jika dalam setahun semua itu berjalan dengan baik, maka Jessi akan mengembalikan semua hartanya. 


TO be Continue....

__ADS_1


__ADS_2