
"Sudah ada jawaban." Sebuah kalimat yang keluar dari mulut Jessi berhasil memecah keheningan di ruang rapat tersebut. Mereka hanya bisa menunduk di saat tidak menemukan solusi terbaik dalam benaknya.
Jessi menatap satu persatu karyawan yang menunduk termasuk melirik tajam ke arah Rahmat juga Dove. Wanita itu tampak gemetar karena suasana mencekam sebab Jessi menyerap semua pasokan oksigen yang ada dan mengubahnya menjadi racun sianida. Hanya tinggal menunggu waktu sang adik Presdir Barrack Corp memecat semua karyawan kakaknya.
"Mengecewakan! Sia-sia saja kalian ada di sini." Jessi mendengus kesal sambil kembali memainkan pen di layar tablet itu.
Namun, sedetik kemudian, seorang karyawan memberanikan diri untuk berbicara, meskipun kini pekerjaan sebagai taruhannya. "N–nyonya, produk yang seharusnya rilis bulan depan sudah terlanjur dipublikasikan oleh pihak lain. Tapi, kita masih punya waktu seminggu ini jika bisa membuat desain baru yang lebih menarik dari sebelumnya."
Mendengar penuturan sang karyawan, Jessi segera meletakkan pen ke atas meja dan membalikkan tabletnya. Dia berpangku satu tangan di dagu, sementara satunya lagi menggerakan jari secara bergantian di atas meja hingga menimbulkan bunyi ketukan bersahutan.
__ADS_1
"Lanjutkan!" ujar Jessi sambil menatap karyawan itu.
Tatapan Jessi sungguh mampu membuat nyali pria itu sedikit menciut. Meskipun suaranya lembut, nyatanya mampu membuat jantungnya berdetak tak karuan. Bukan karena jatuh cinta, melainkan rasa takut yang seketika menyeruak ke dalam jiwa.
Perlahan dia mencoba membasahi tenggorokan dengan menelan salivanya terlebih dahulu. "Kalau desainnya bisa lebih baik hari ini. Maka pembuatannya pun masih bisa dikejar, Nyonya."
"Apa kau gila? Bagaimana desain bisa selesai hari ini? Produk kita dibuat dengan sepenuh hati dan bermakna lebih juga mencurahkan perasaan di dalamnya. Bagaimana bisa semua itu dikerjakan kilat?" teriak seorang perwakilan dari Departemen Desain di Barrack Corp yang mengurus tentang desain produk perusahaan itu.
"Nyonya, sebelum kami bahkan perlu waktu satu bulan untuk memberikan kesan terbaik pada produk baru itu. Apalagi Tuan Damien berharap dari desain tersebut orang yang melihatnya bisa merasakan kesan kehangatan sebuah keluarga," sahut perwakilan tadi.
__ADS_1
"Benarkah? Perlihatkan desain sebelumnya padaku!" Jessi menengadahkan tangan dan Rahmat memberikan gambar desain sebelumnya kepada wanita tersebut dengan sama gugupnya seperti karyawan lainnya.
Barang yang informasinya bocor pada pihak lain merupakan desain sebuah kalung berlian mewah. Direncanakan akan rilis minggu depan, tetapi pihak saingan Barrack Corp malah mendahului dengan desain yang sama, sehingga kini sudah menyebar di pasar bisnis atas nama mereka.
Untuk sejenak Jessi mengerucutkan bibir melihat desain benda tersebut, sebelum akhirnya kembali meletakkan di meja. "Ini yang kalian sebut kehangatan sebuah keluarga?"
Damien tak pernah merasakan hangatnya sebuah keluarga sebelumnya. 'Pantas saja seleranya rendah,' batin Jessi sambil menggeleng kecil melihat rencana kalung mereka yang hanya menggambarkan kemewahan itu.
"Kalian meletakkan semua berlian di sana. Tapi, tidak memerhatikan porsi mereka." Mendengar ucapan Jessi semua pegawai mulai berbisik termasuk orang yang tadi menyanggah jika desain bisa selesai hari ini. Jessi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah pegawai kakaknya yang sama sekali tak menghormati pemimpin di depan dan malah asik berbisik-bisik tetangga.
__ADS_1
Mau tak mau, Jessi menggebrakkan tangan ke atas meja, hingga menimbulkan suara yang cukup keras dan membuat mereka seketika terlonjak karenanya. "Sepertinya kakakku hanya membayar mulut kalian dan bukan otaknya."
To Be Continue...