
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tak terasa hari yang dinanti Jessi telah tiba. Di mana keinginan untuk mengadakan resepsi pernikahan di Pulau Ceria akan segera terlaksana dalam hitungan jam.
Pesta pernikahan disiapkan dengan meriah oleh para penduduk pulau yang ikut serta meramaikan jalannya acara. Jessi yang mengambil alih pulau itu menjadi milik pribadi menjadikan para warganya lebih terjamin perekonomian juga fasilitas yang ada di pulau.
Dia bahkan membangun fasilitas pendidikan dan kesehatan yang layak, meskipun belum selesai sepenuhnya karena memang masih tahap pembangunan demi menjamin kesehatan masyarakat. Selain itu, warga pun diperbolehkan bergabung pada mafia Lucifer atau memilih bekerja sesuai apa yang mereka inginkan.
Seluruh penghuni kediaman Light diboyong ke pulau tersebut tanpa kecuali. Mereka pun hanya menghadirkan tamu undangan dari kerabat dekat tanpa mengundang para relasi bisnis. Sisanya berasal dari keramaian warga yang menyambut hari bahagia Nona Besar mereka.
Beruntungnya Jane dari Negara X bisa ikut serta hadir melengkapi hari bahagia itu. Meskipun dia harus menggunakan kursi roda karena masih menjalani proses pengobatan terapi pasca operasi dengan didampingi sang suami selama ini.
"Cantiknya pengantin lama," puji Jane ketika dia memasuki ruang ganti Jessi bersama Damien, Rahmat, dan juga Dove yang tampak berbeda dari sebelumnya.
"Kalian sudah datang." Jessi tampak begitu antusias hendak berdiri, tetapi tetap duduk di posisinya karena perut buncit membuat wanita itu sedikit sulit bergerak.
"Diam saja di sana. Kami hanya ingin melihatmu yang semakin gendut," ucap Damien datar menghentikan tingkah Jessi yang tampak kesulitan.
Jessi hanya mencebikkan bibir. Damien sungguh memiliki sifat yang sama dengannya. Sama-sama menyebalkan. Lalu sejenak pandangan Jessi beralih pada Dove di belakang mereka. "Dove, kau juga datang."
"Iya, Nyonya. Selamat atas perayaan pernikahan kalian dan semoga Anda melahirkan dengan lancar." Dove melangkah mendekati wanita tersebut dengan tersenyum tulus. Dalam hatinya sungguh bersyukur bisa bertemu dengan Jessi yang membuka matanya. Dia menyadari bahwa rasa dicintai sungguh membahagiakan daripada mengharapkan sesuatu yang jelas-jelas tak bisa dia gapai.
"Iya, kenapa kau kelihatan sedikit berbeda?" tanya Jessi dengan tatapan menyelidiki setiap inci dan ekspresi tubuh Dove.
__ADS_1
Wanita itu hanya tersenyum malu-malu, lalu mengusap perutnya yang masih rata. Melihat hal itu, Jessi pun seketika terbelalak seolah tak percaya, bahkan sampai menutup mulut dengan tangannya. "Hei, apa berhasil menanam benih kecebongmu di sana?" kata Jessi antusias sampai-sampai tak sadar langsung menepuk lengan Dove cukup kuat.
Dove hanya bisa mengangguk kecil dan malu-malu sambil menahan sedikit sakit di lengannya, sedangkan suaminya di belakang Damien hanya bisa tersenyum bangga berhasil membuahi istrinya juga mendapatkan cinta wanita itu.
"Selamat untuk kalian. Jangan lupa meminta amplop tebal pada kakakku!" ucap Jessi dengan tulus, tetapi malah mendapatkan cibiran dari sang kakak di hadapannya.
"Mulutmu itu, selalu saja manis di awal tapi mengandung racun tanpa sadar," ketus Damien mengingat dia maupun Jane selalu saja harus mengeluarkan uang dan menutup kerugian jika Jessi sudah mulai berbicara.
"Biarlah."
Mereka pun bercengkrama sambil menunggu acara dimulai. Tanpa terasa ketika kedamaian hati sudah terpatri dalam diri setiap insan yang melepaskan ego demi cinta kasih yang sejati, membuat mereka merasakan kebahagiaan sesungguhnya. Tak ada lagi dendam di hati, hanya ada rasa bahagia dan haru biru mendampingi dengan semburat ketenangan setiap hari. Meskipun mereka harus menghadapi kenyataan pahit di depan. Nyatanya melalui semua itu bersama lebih baik dibandingkan menjalani seorang diri.
"Kenapa?" tanya mereka serentak karena khawatir mengingat usia kehamilan Jessi sudah cukup tua untuk acara ini.
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit nyeri biasa. Beginilah jadinya kalau aku jauh dari suamiku," keluh Jessi merasakan pinggangnya sedikit lebih sakit dari biasanya sejak semalam. Biasanya selalu ada tangan Nicholas yang manjur dalam meredakan apa yang dirasakan semenjak usia kehamilan tujuh bulan.
"Alasanmu saja, biar suamimu tidak melirik wanita lain," cibir Damien pada sang adik yang tampak menjadi ratu, tetapi seketika mendapatkan cubitan manja dari istrinya.
"Jadi kau suka melirik wanita lain kalau aku tidak ada," ketus Jane.
"Bukan begitu, Sayang." Damien pun mencoba membujuk sang istri, sedangkan yang lainnya hanya menggeleng kecil melihat tingkah keduanya. Sementara itu, Jessi tersenyum senang melihat tingkah kedua kakaknya tersebut. Akhirnya mereka memiliki akhir bahagia dan tak perlu saling menjauh apalagi menyalahkan keadaan karena dendam.
__ADS_1
Tak lama kemudian, tanda acara segera dimulai membuat mereka segera bersiap untuk memposisikan diri di tempat resepsi. Sementara itu, Jessi kini dijemput oleh empat wanita single—Maurer, Patricia, Stella, dan Anna—yang berpakaian serba hitam senada dengan tema gaun hari ini.
Mereka melangkah menuju pinggir pantai, tempat acara digelar dengan Steven si bocah kecil yang menaburkan bunga kebahagiaan di sepanjang jalannya. Sementara itu, sang suami tampak sudah siap berdiri dengan didampingi Willy, Dokter Hendrick, Pengacara John, juga Mario yang tampak tampan dengan setelan mereka.
Nicholas menyambut tangan istrinya dan membawanya melangkah bersama menuju kursi pelaminan dengan sabar. Gaun menjuntai yang dikenakan Jessi layaknya seorang princess menutup tepat di atas perutnya, sehingga perut buncitnya tak terlihat karena gaun yang mengembang. Jika saja orang lain bisa melihat, Jessi saat ini hanya menggunakan sandal jepit, sebab memang tak ada lagi alas kaki yang muat di kakinya, sedangkan flat shoes yang tadinya sudah dipesan malah tidak dia pakai dengan alasan tidak nyaman.
Beruntungnya gaun yang dikenakan menutup dengan sempurna. Hingga keduanya tetap tampak mempesona dan membuat para tamu undangan berdecak kagum pada sepasang suami istri yang selalu menebarkan keharmonisan itu.
Acara pun berjalan dengan lancar, tetapi sesaat kemudian, Jessi kembali meringis. "Kenapa, Sweety?" tanya Nicholas melihat wajah istrinya tampak menahan sesuatu.
"Pinggangku sakit, Sayang." Dengan lembut pria itu kembali mengelus bagian belakang tubuh sang istri. Rutinitas yang biasa dia lakukan tanpa mengenal waktu dan tempat.
Sepanjang acara keduanya hanya duduk tanpa beralih posisi. Karena acara yang dipersingkat, sehingga pengantin tak perlu banyak kegiatan. Namun, Jessi kembali merasakan nyeri dan mengaduh sambil mencengkeram lengan suaminya cukup erat.
"Sweety?" Melihat wajah istrinya yang mulai berkeringat dingin, Nicholas lantas memberi isyarat pada dokter kandungan yang diundang agar segera memeriksa istrinya.
Wanita itu pun melangkah mendekat dan bertanya pada Jessi. "Apa yang Anda rasakan, Nyonya?"
Jessi melambai pada wanita itu agar mendekat kepadanya. "Kebelet pup?" bisiknya di telinga sang dokter sambil menahan sakit di pinggangnya yang terasa hampir patah secara bersamaan.
TO be Continue…
__ADS_1