Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Keluarga Kim Dae Ho ( Part.2 )


__ADS_3

Jessi dan yang lainnya menyewa lantai tertinggi apartemen di wilayah kediaman Keluarga Kim. Baginya, uang bukanlah masalah utama saat ini, melainkan keselamatan Mario.


Mereka bergiliran mengintai kediaman Kim dari apartemen dengan menggunakan teropong, sedangkan Maurer terus fokus mendengar penyadap yang dipasang oleh R di rumah itu.


Hati siapapun masih gundah saat ini, kabar dan posisi Mario yang belum ditemukan membuat mereka berpikir keras.


Di mana kira-kira mereka menyembunyikan Mario? batin Jessi.


Berulang kali wanita itu memejamkan mata agar bisa menjernihkan pikiran. Sesuatu mulai terlintas dalam benaknya.


"Maurer, apa ada ruang khusus yang tak pernah tersentuh?"


"Tidak ada, Nona. Namun, ada satu kamar hanya pelayan khusus yang diizinkan untuk membersihkannya."


"Kamar siapa?"


"Park Eun Seok."


Jessi mengernyitkan dahinya. "Park Eun Seok?"


"Iya, saudara tiri kami. Anak dari Park Young Ran." Sorot mata Maurer menajam mengatakan hal itu, semua kejadian buruk yamg menimpanya dan Mario berawal dari kedatangan mereka.


"Mengapa hanya pelayan khusus?"


"Dia penderita mysophobia, membuatnya enggan untuk menerima pelayan lain membersihkan kamar, dan hanya mengizinkan orang khusus yang dia bawa sejak dulu."


"Mysophobia? Gila kebersihan?"


"Iya, Nona."


"Siapa yang membersihkan kamarnya?"


"Seorang pelayan yang bisu."


"Tapi di rumahmu semua pelayan sudah jadi bisu." Jessi sendiri heran, bagaimana bisa para pelayan di kediaman itu bisu semua. "Apa mereka masih orang yang sama ketika ketika kau meninggalkan rumah itu?"


Sejenak Maurer mencoba untuk mengingatnya. "Iya, mereka masih orang yang sama. Namun, mengapa sekarang mereka bisu?"


Jessi mencoba untuk mencerna keadaan di kediaman itu, sambil berjalan mondar-mandir. "Kau dan Mario meninggalkan rumah itu hampir tiga tahun, tetapi kondisinya sudah berubah drastis. Apa ayahmu juga sudah terbaring sejak dulu?"


Maurer menggelengkan kepalanya. "Ayah bahkan masih sibuk bekerja di luar kota ketika kami dibawa pergi."


"Berarti ayahmu juga masih sehat saat itu. Jadi, apa yang membuat mereka berubah sekarang?" Jessi menggigit-gigit kuku jempolnya, otaknya sungguh harus segera bekerja di saat seperti ini.

__ADS_1


"Nona, seseorang mendatangi kediaman tersebut," ujar T.


Jessi langsung bergerak ke balkon, mengambil teropong di tangan T. Kemudian, melihat siapa yang mendatangi rumah itu?


Jessi menyerahkan teropong pada Maurer di sampingnya. "Kau mengenalnya?"


Maurer mengamati objek yang dimaksud Jessi. Seorang pria paruh baya terlihat memasuki kediaman itu. "Kim Jae Wook."


"Siapa dia?" tanya Jessi.


"Adik kandung ayahku."


"Kita dengar pembicaraan mereka."


Maurer mengambil laptop di dalam ruangan, dan memindahkan sebuah meja di balkon agar bisa mengawasi sambil menguping apa yang mereka bicarakan.


Jessi fokus mendengar suara yang keluar dari sambungan earphone di laptop Maurer. Tak lama kemudian, suara mereka mulai terdengar dari sana.


"Kau sudah datang, Sayang." Suara seorang wanita terdengar begitu jelas. Bisa dipastikan bahwa dia adalah Park Young Ran, sang ibu tiri Mario dan Maurer.


"Iya, apa kau sudah mendapatkannya?" ujar pria di sana.


"Belum, bocah itu sangat keras kepala. Dia tidak mau menandatangani berkas pengalihan saham."


"Kau membiarkannya berkelana terlalu lama."


Jessi dan Maurer saling menatap, melebarkan mata mendengar hal itu. Jadi, selama ini Kim Dae Ho sudah mengalihkan semua saham kepada anak-anaknya.


"Cih ... kalau aku tahu mereka bisa meloloskan diri dari para pedagang saat itu, lebih baik aku membunuhnya saja." Suara wanita Park Young Ran terdengar begitu jelas di telinga Maurer, membuatnya mencengkeram erat tangannya hingga terlihat sorot mata yang seakan tak sabar untuk membalas wanita tersebut.


Melihat hal itu, Jessi menggenggam kepalan tangan Maurer. "Aku akan membantumu membalas mereka, bersabarlah! Kita belum tahu di mana Mario."


Gadis itu mengangguk, benar yang dikatakan nonanya. Kondisi Mario lebih penting saat ini. Suara mereka saling berbicara kembali disimak oleh Jessi dan Mario.


"Di mana anak kita?" ucap Kim Jae Wook.


"Biasa, bersenang-senang."


Maurer berdiri dari posisi duduknya mendengar hal itu. Dia tidak menyangka jika ayahnya sudah ditipu habis-habisan oleh adiknya sendiri.


Jessi melihat kondisi Maurer merasa kasihan, membuatnya memanggil Olivia. "Bawa Maurer ke dalam. Jangan sampai penyakit jantungnya kambuh karena hal ini!"


"Tapi, Nona." Maurer enggan untuk meninggalkan Jessi. Dia masih ingin mengetahui apa yanh terjadi.

__ADS_1


"Menurutlah! Beristirahatlah agar kondisimu membaik untuk menyelamatkan Mario!"


Mendengar nama kakaknya, membuat Maurer pergi meninggalkan balkon dan menuruti perkataan Jessi. Dia tidak boleh lemah, demi kakak dan ayah yang masih menunggu untuk diselamatkan.


Setelah kepergian Maurer, Jessi kembali memperhatikan kondisi kediaman itu dengan teropongnya. Sembari mendengar apa yang mereka bicarakan.


Sebuah senyuman miring tersungging di wajah cantik itu. "Menjijikkan."


"T, apa kau bisa mencari informasi tentang Kim Jae Wook?"


"Bisa, Nona."


T mengambil ponsel di sakunya, dia mengotak-atik benda pipih itu untuk waktu yang cukup lama. Lantas memberikannya kepada Jessi.


Banyak informasi yang bisa Jessi lihat di sana. Kim Jae Wook adalah putra kedua keluarga Kim. Namun, keberadaannya seperti tak pernah dianggap di keluarga itu karena mereka selalu mengagungkan kecerdasan sang kakak Kim Dae Ho.


Pria itu memiliki seorang istri, tetapi bukan Park Young Ran. Wanita itu hanyalah selingkuhannya sejak masih muda, hingga menghasilkan Park Eun Seok. Keinginan untuk melampaui sang kakak membuatnya menikahi seorang anak konglomerat—Seo Ya Ji—demi kepentingan bisnisnya.


Namun, setelah menikahi wanita itu pun. Karir Kim Dae Ho tetap lebih melambung tinggi dibandingkan dirinya. Hingga kematian kakak iparnya membuat Jae Wook berencana untuk menghancurkan sang kakak melalui Park Young Ran.


Dia berencana untuk mengeruk harta kakaknya melalui wanita ini. Namun, ternyata Kim Dae Ho sudah mengalihkan semua aset atas nama anak-anaknya semenjak kematian istrinya terdahulu.


"Kim Dae Ho sungguh pria bodoh," ujar Jessi.


Jessi mengembalikan ponsel T, dia kembali meneropong kediaman itu. Terlihat dua orang melangkah pergi menuju lantai atas. Mungkin mereka akan berakhir di ranjang panas.


Kediaman rumah dengan dinding kaca membuat Jessi lebih mudah untuk melihat kondisi di sana. Namun, yang masih menjadi pertanyaan adalah di mana mereka menyembunyikan Mario?


"T, cari tahu semua informasi Kim Jae Wook dan Park Young Ran, serta anaknya! Aku ingin besok sudah ada di sini!"


"Baik, Nona."


Jessi bersyukur, setidaknya anak buah Nich adalah orang yang kompeten, sehingga ketika Maurer sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan bisa menggantikannya.


"Olivia!"


"Iya, Nona." Wanita itu berjalan mendekat ke arah Jessi.


"Belikan aku ceker ayam pedas! Kau dan Maurer juga belilah makanan! Kalian belum makan sejak tadi."


"T dan R bagaimana, Nona."


"Mereka mungkin butuh listrik untuk makan. Cepat pergilah! Perutku sudah berdemo." Jessi menyerahkan sebuah kartu untuk keperluan mereka kepada Olivia.

__ADS_1


Wanita itu bergerak meninggalkan Jessi dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa mereka memakan listrik?


TBC.


__ADS_2