Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Jessi Kembali


__ADS_3

Beberapa hari berlalu begitu cepat setelah kejadian hari itu. Benda yang mereka temukan pun sudah diteliti kembali oleh Applepan di laboratorium dan diuji penggunaannya pada hewan terlebih dahulu.


Beruntungnya salah satu benda dari sekian banyak botol yang ditemukan Nich adalah sebuah penawar, sedangkan beberapa lainnya adalah racikan racun berbahaya bagi manusia karena sedikit saja penggunaannya sudah mampu membunuh beberapa kelompok secara langsung.


Jika racun ini sampai digunakan oleh Brian. Bisa dipastikan akan banyak korban jiwa yang mati di tangannya. Entah apa tujuan pria itu menyukai barang-barang seperti ini. Padahal cara pembuatannya saja jika tidak hati-hati bisa membunuh nyawanya sendiri.


Di bawah pengawasan Applepan, Dokter Hendrick, dan juga Nicholas, serum tersebut campurkan ke dalam cairan infus Jessi secara perlahan dalam beberapa tahap. Setiap perkembangannya selalu di pantau oleh mereka.


Nicholas tak pernah beranjak sedetik pun dari posisinya, selain untuk panggilan alam. Terkadang dia harus bekerja lembur di kamar perawatan istrinya, jika Willy memerlukan kewenangannya dalam mengambil keputusan.


Hari sudah larut malam, Laura juga telah terlelap di ranjang yang disediakan untuk penunggu pasien. Sementara itu, Nicholas masih berkutat dengan laptop di depannya.


Sesekali pria tersebut menggerakkan bahunya yang pegal untuk beristirahat sambil menatap sang istri. Sebuah jari tangan Jessi tampak bergerak membuat Nich langsung beranjak dari posisinya dan melangkah mendekati istrinya, lalu menekan tombol interkom.


"Sayang."


Panggilan Nich juga berhasil membangunkan Laura yang belum terlalu lelap. "Apa Jessi sudah siuman, Son." Dia langsung beranjak dari posisinya untuk mendekat ke arah sang menantu karena antusiasnya.


Perlahan kelopak mata wanita itu mulai terbuka, membuat Laura menutup mulut dengan telapak tangan. Rasa haru karena penantian panjang akhirnya berakhir juga. Orang yang mereka nanti kini sudah kembali.


"Sayang." Nich menatap lekat ke wajah istrinya, tetapi wanita itu tampak linglung melihatnya.


"Si–siapa kamu?"


Kalimat Jessi berhasil membuat keduanya membelalakkan mata, setelah ditunggu sekian lama, apakah kini sang istri malah melupakannya. Nich berbalik untuk mengusap kasar rambutnya, apa dia ini efek dari racunnya.


Namun, di balik punggung Nich, Jessi mengedipkan sebelah mata kepada Laura membuatnya mengerti jika sang menantu tengah mengerjai putranya.


"Sayang, kau sungguh tidak mengenalku?" Nich menatap tajam ke arah Jessi seolah menuntut tajawaban pasti. Tatapannya cukup mengerikan hingga membuat Jessi berusaha keras menahan tawanya melihat ekspresi Nicholas saat ini. Dia hanya menggeleng perlahan dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun dengan wajah pongah.


Tak lama kemudian, seorang dokter memasuki ruangan, dikarenakan hari sudah larut malam, hanya ada dokter jaga yang mendatanginya bukan Dokter Hendrick. "Selamat malam, Nyonya, Tuan."


"Yak kau periksa istriku, bagaimana bisa dia lupa ingatan setelah sadar." Rasanya ingin sekali Nich mengumpat kesal dengan situasi saat ini, tetapi kembalinya sang istri sudah menjadi sebuah anugerah terindah baginya.

__ADS_1


Dokter memeriksa kondisi Jessi untuk beberapa saat. "Kondisi, Nyonya sudah membaik, bayi dalam kandungan pun tidak apa-apa. Nyonya, apa Anda ingat siapa nama Anda?"


Jessi membatu untuk beberapa saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh sang dokter. "Kau bilang bayi?" Tubuh wanita itu bergetar hebat, niat awal ingin mengejutkan suaminya setelah sadar kini malah dia sendiri yang terkejut mengetahui kondisinya.


"Betul, Nyonya. Di sini tertera empat belas minggu," ujar sang dokter sambil membaca data kondisi perkembangan pasien.


"A–aku sungguh hamil?" Dengan bergetar Jessi mengusap perlahan perutnya yang sudah mulai mengembang.


Perasaan bahagia seketika membuatnya mengeluarkan air mata. Sebuah anugerah di balik bencana yang dia alami membuatnya tak mampu berkata-kata lagi. "Nich, benarkah yang dia katakan? Aku tidak mimpi 'kan?"


Rencana untuk mengerjai sang suami gagal sudah. Dia lebih terkejut dengan kondisinya sendiri, perlahan Nich mendekat ke arah istrinya menggenggam erat jemari yang masih bergetar itu.


"Benar, Sayang. Apa sekarang kau bahagia?" Jessi mengangguk, wanita mana yang tidak bahagia mengetahui dirinya hamil setelah tiga tahun keguguran.


"Baiklah, karena hari sudah larut sebaiknya, Nyonya beristirahat! Saya pamit undur diri dulu. "Dokter meletakkan kembali data pasien di dekat ranjangnya.


"Dokter, apa saya boleh makan." Jessi baru sadar, tetapi tiba-tiba saja sudah bertanya tentang makanan.


Dokter itu pun tersenyum lembut. "Tentu saja boleh, Nyonya. Tapi, usahakan untuk makan makanan lembut terlebih dahulu karena kondisi pencernaan Anda juga butuh waktu untuk beradaptasi kembali."


Jessi hanya mengangguk kecil. "Kalau begitu saya permisi dulu." Sang dokter pun langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Sementara itu, di dalam sana Nich langsung menatap tajam ke arah istrinya dengan berkacak pinggang. "Jadi, kau menipuku, Sweety?"


Wanita itu sejenak berpikir, dia lupa jika tadi sedang pura-pura amnesia, tetapi malah menyebut nama suaminya. Namun, Jessi tidak kehabisan akal dan langsung menggenggam tangan mertuanya.


"Mommy, siapa dia? Apa dia kakakku?"


Tanpa menunggu aba-aba, Nicholas langsung meraih tubuh istrinya dan memeluk dengan erat. "Syukurlah kau sudah kembali, Sweety."


Rasa bahagia seketika menyeruak dalam hati pria tersebut. Beban ketakutan akan kehilangan istrinya terangkat sudah seiring dengan tersadarnya Jessi dari kondisi koma. Cukup lama dia memeluk sang istri yang hanya membalas dengan mengelus punggungnya perlahan.


"Apa kau sudah berencana mencari istri baru?"

__ADS_1


Pria tersebut langsung menghujami wajah sang istri dengan ciumannya. "Jangan sembarangan kalau bicara! Aku bahkan tidak tahu harus hidup seperti apa jika kau meninggalkanku."


"Aku akan jadi hantu gentayangan kalau sampai kau menikah lagi."


Laura hanya tersenyum melihat tingkah keduanya yang saling melepas rindu, sedangkan Nich semakin erat memeluk tubuh istrinya.


"Tidak, Swety. Sudah cukup dirimu dan anak kita." Mendengar perkataan Nich, Jessi sontak melepaskan pelukannya.


"Sayang, apa aku sungguh hamil?"


Pria tersebut hanya mengangguk perlahan sambil tersenyum indah dengan tangan yang menyibakkan rambut istrinya. "Apa kau bahagia?"


"Tentu saja bahagia. Wanita mana yang tidak akan bahagia mendapat momongan di usia tua sepertiku."


"Kau tetap cantik. Anak kita pasti bangga memiliki ibu sepertimu, Swety."


Jessi mengelus perutnya yang agak menonjol. Jika bukan karena dikabarkan hamil, dia pasti mengira kalau saat ini tubuhnya hanya gemuk.


"Empat belas minggu," ucapnya seraya tersenyum. "Sayang, berapa lama aku tertidur?"


"Cukup lama, hampir satu bulan."


Seketika Jessi membelalakkan mata mendengar dirinya sudah tertidur selama itu. Dia lantas mengingat kejadian terakhir sebelum dirinya tak sadarkan diri. Ekspresinya pun berubah dingin dengan sorot mata tajam.


Rasa bahagia mengetahui kehamilannya tertutup dengan ingatan mengerikan di kala pembantaian hari itu. "Bagaimana dengan mereka?"


To Be Continue...


Heii gess maaf ya sekarang upnya sedikit-sedikit.


Karena di tempat author lagi banyak acara hajatan jadi kurang fokus.


Semoga kalian tetap sabar menanti ya.

__ADS_1


__ADS_2