Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Stella


__ADS_3

Jessi, Nich, dan yang lainnya sudah selesai mengurus semua masalah di Negara K. Kini mereka kembali ke Negara N dan mulai berkutat dengan urusan masing-masing.


Selama kepergian Jessi, Brian terus menerus mengawasi kediaman Light, dan juga Light Resto. Melihat Jane dan Nenek Amber yang menjalani kehidupan seperti biasanya membuat pria itu yakin, jika Jessi masih belum meninggal dan hanya bersembunyi di suatu tempat. Oleh karena itu, Brian lebih memilih untuk mengawasi dari jauh kondisi sang mantan istri.


_________________


Hari ini Dokter Hendrick menghubungi Jessi jika wanita yang dia jaga sudah mulai tersadar dari tidur panjangnya.


"Goerge, sudah kau temukan identitas wanita itu?"


Pria itu menyerahkan hasil penyelidikannya selama ini kepada Jessi. Gadis itu bernama Stella masih berusia sembilan belas tahun, mulai bekerja karena ingin melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang universitas. Namun, malah mengalami nasib naas.


Dia hanyalah seorang yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan, sehingga untuk melanjutkan pendidikan, gadis itu mencoba untuk bekerja di kota dan malah bertemu dengan keluarga Night.


Jessi membaca setiap laporan itu dengan saksama. "George, bagaimana dengan perkembangan Pulau Ceria? Apa kalian mengalami kesulitan?"


"Tidak, Nona. Sementara Lucky yang meng-handle orang-orang di sana."


Mendengar hal tersebut Jessi seketika menatap George. "Lucky? Dia memilih menjadi mafia?"


George mengangguk. "Hari itu, setelah kepergian, Nona. Dia kembali mendatangi saya bersama anaknya."


"Steven?"


"Iya, mereka bilang ingin menjadi mafia yang melindungi orang-orang yang mereka cintai, karena itulah mereka ikut pelatihan para anak buah sejak hari itu. Ketika dipanggil kemari, urusan di sana saya serahkan kepada Lucky."


Dalam hati Jessi merasa puas dengan pilihan Lucky dan anaknya. "Apa anak buahmu yang tidak keberatan jika Lucky menggantikanmu sementara?"


"Tidak, Nona. Mereka lebih takut pada Anda." George berbicara dengan sangat hati-hati, berusaha agar tidak membuat Jessi tersinggung.


Namun, wanita itu malah tertawa terbahak-bahak. Penuturan George serasa menggelitik di perutnya, membuat wanita itu tergelak cukup lama.


"Aduh, perutku sakit." Jessi memegang perutnya yang kram akibat tertawa terlalu lama. "Apa aku begitu menakutkan?"


George mengangguk, Jessi memanglah menakutkan di matanya.


"Cih ... padahal aku sangat baik." Jessi berdiri dari posisi duduknya. "Lakukan tugasmu seperti biasa! Setelah Mario pulih baru kau boleh kembali ke Pulau Ceria. Aku akan mengunjungi Stella terlebih dahulu."


"Baik, Nona."


Jessi lantas berjalan meninggalkan George, dia pergi ke garasi untuk mengendarai motor barunya karena yang lama sudah rusak akibat ditabrak Emily hari itu. Membuat Jessi lebih memilih untuk membuangnya.


Dahulu, dia menggunakan motor Ducati Panigale V4 yang sudah dimodifikasi. Kini,Jessi membeli sebuah kendaraan roda dua rakitan Italia, MV Agusta F4CC.

__ADS_1



Baginya mengendarai motor lebih menyenangkan dibanding dengan mobil. Jessi bergerak memacu kuda besinya menuju Bannerick Hospital. Tanpa dia sadari, ketika keluar dari kediaman sudah ada seorang pria yang menantikan kehadirannya beberapa hari ini.


"Untungnya dia baik-baik saja." Pria itu merasa lega melihat Jessi yang keluar mengendarai motornya. Jika sampai berita kematian hari itu adalah benar, bisa dipastikan bahwa dia sendiri yang akan mengambil nyawa Emily.


Tak lama kemudian, terdengar ponsel di sakunya berdering. Dia merogoh benda pipih tersebut, tertera panggilan dari adiknya—Johny.


"Ada apa?" Brian meletakkan ponsel di telinganya, terdengar suara panik dari adiknya di seberang telepon.


"Kak, cepatlah kemari! Ayah mengamuk kali ini."


"Hmm, tunggu sebentar!" Brian mematikan sambungan dan segera pergi meninggalkan kawasan kediaman Light.


_________________


Sementara Jessi yang tiba di Bannerick Hospital langsung menuju kamar perawatan Stella, terlihat sudah ada Dokter Hendrick di sana.


"Hallo, Stella. Bagaimana kondisimu?" Jessi bertanya dengan senyum mengembang di wajahnya yang cantik.


Namun, gadis itu terlihat begitu bingung ketika melihat Jessi. "Apa aku mengenalmu, Nona?"


"Tidak, mari berkenalan!" Jessi mengulurkan tangannya kepada gadis cantik itu. "Kenalkan, aku Jesslyn Light. Kau boleh memanggilku Kak Jessi."


Stella memiringkan kepalanya, dia bingung mendengar penuturan wanita cantik di depannya. Namun, tetap membalas uluran tangan Jessi. "Hai, Kak Jessi. Aku ...." Gadis itu malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena bingung harus menjawab apa.


Jessi kembali tersenyum ke arah Stella. "Stella, namamu adalah Stella."


"Stella? Jadi, itu namaku? Cantik." Gadis itu tersenyum manis kepada Jessi.


Senyumnya membuat hati Jessi terasa teriris, sebagai seorang wanita dia merasa kasihan kepada Stella. Namun, ini lebih baik dari pada gadis itu harus mengingat peristiwa mengerikan yang dia alami.


"Stella, apa kau ingin melanjutkan pendidikanmu?" tanya Jessi.


"Apa aku tidak bersekolah, Kak?"


Jessi menggelengkan kepalanya. "Tidak, kamu bilang uangmu belum cukup untuk melanjutkan pendidikan. Sekarang, izinkanlah aku membiayai sekolahmu, ya! Apa kau bersedia, Stella?"


Gadis itu tampak bingung, dia menatap Dokter Hendrik sejenak karena hanya pria tersebutlah yang dikenalnya selama di rumah sakit.


"Lanjutkan pendidikanmu! Bukankah kemarin kau bilang ingin menjadi dokter seperti aku?" ujar Dokter Hendrik.


Stella mengiyakan ucapan Dokter Hendrik. Dia memang bercita-cita menjadi seorang Dokter. "Baiklah, aku kan menuruti ucapan, Kak Jessi."

__ADS_1


"Bagus, sekarang istirahatlah lebih dulu!" Jessi mengelus rambut gadis cantik di depannya. "Aku akan mengurus pendaftaran sekolahmu terlebih dahulu. Besok aku akan mengunjungimu lagi."


Gadis itu menuruti apa yang diucapkan Jessi, dia merebahkan kembali tubuhnya di ranjang rumah sakit tersebut.


Setelah itu Jessi dan Dokter Hendrik keluar dari kamar perawatan, menuju ruangan sang dokter. "Jelaskan apa yang terjadi!"


Dokter Hendrik mengambil segelas air minum ruangannya terlebih dahulu. "Dia mengalami amnesia disosiatif karena efek samping dari operasi dan juga pelecehan yang terjadi padanya."


"Apakah itu permanen?"


Pria itu menggeleng. "Itu hanyalah sementara, tergantung kondisi mental Stella. Jika hanya efek samping dari operasi mungkin tidak perlu waktu lama untuk mengembalikan ingatannya. Tapi, sepertinya dia belum siap menghadapi kenyataan hidupnya karena itulah dia lebih memilih untuk menutup memori kelam dalam otaknya.


"Jadi, dia sekarang seperti anak baru lahir yang tanpa ingatan?"


Dokter Hendrik membenarkan ucapan Jessi. "Tapi, tak menutup kemungkinan dia akan kembali ingat jika bertemu dengan orang yang menyebab kondisinya seperti sekarang."


Jessi tampak berpikir sejenak. "Bukankah artinya lebih baik aku menjauhkannya dari keluarga Night?"


"Demi kesehatan mentalnya, sebaiknya seperti itu. Biarkan dia mengingat hal itu dengan kemauannya sendiri kelak!"


"Baiklah, kalau begitu aku titipkan dia padamu. Tempatku terlalu berbahaya untuknya. Dia bisa mengembalikan ingatannya terlalu cepat nanti."


"Yak?! Apa maksudmu, hah?!" Dokter Hendrik terlihat begitu marah mendengar kalimat ambigu Jessi yang menitipkan Stella padanya.


"Cih ... bukankah kau juga masih single. Apa salahnya kalau dia ikut tinggal bersamamu? Lagi pula kau adalah dokternya."


"Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu? Dia perempuan dan aku laki-laki mana mungkin kami akan tinggal bersama." Dokter Hendrik mencebikkan bibirnya ketika mengatakan hal itu. Jessi selalu saja memberikannya tugas yang aneh-aneh.


"Kalau begitu nikahi saja sekalian! Bereskan."


Dokter Hendrick menyemburkan minuman dalam mulutnya. "Kau suka sembarangan kalau bicara."


"Aku akan membelikanmu apartemen baru yang layak nanti."


"Setuju."


"Cih, dasar matrealistis."


"Aku hanya realistis, kau memberi tentu aku tidak boleh menolak."


Jessi berdiri dari duduknya. "Kau jaga dia! Ada apa-apa hubungi aku! Nanti aku uruskan kuliahnya."


"Serahkan padaku!"

__ADS_1


Wanita itu lantas pergi meninggalkan ruangan Dokter Hendrik. Dia akan berkunjung ke restoran Jane setelah ini.


TBC.


__ADS_2