
Di ruangan tempat mereka berada saat ini terdapat beberapa manekin mengenakan gaun indah berjajar rapi. Hal iti sontak membuat yang namanya wanita pasti terkesima ketika melihatnya, tak terkecuali Jane.
Wanita tersebut melangkah perlahan menelisik setiap bagian gaun yang tampak menyilaukan mata. Tangannya bergerak mengusap setiap bahan indah pada gaun yang menarik perhatiannya.
Berbagai macam warna tersajikan dengan sempurna, lengkap pula model-model lekukan tubuh yang berbeda menjadikan pakaian tersebut memiliki ciri khasnya masing-masing. "Apa aku sungguh boleh memilih?" tanya Jane kepada Damien yang masih duduk di sofa.
Pria itu hanya mengangguk kecil, lantas melangkah mendekati gaun yang kini dipegang oleh Jane. "Cobalah!" Damien cukup menjentikkan jari dan para karyawan sudah bersiap untuk membantu calon istrinya.
"Mari, Nyonya," ucap sang manajer memersilakan Jane agar bergerak ke ruang ganti.
Awalnya gadis itu hanya menurut, tetapi setelah pakaian tersebut melekat di tubuhnya dia seketika membatu untuk sesaat. 'Benarkah ini aku?' batin Jane pada diri sendiri.
Kemewahan sebuah gaun yang baru saja dia kenakan membuat wanita itu tersenyum sekaligus terkesima akan penampilannya sendiri ketika menatap cermin. Hingga tak lama kemudian, para pegawai tersebut lantas membuka tirai yang menutupi Jane.
Damien yang awalnya masih duduk di kursi seketika terkesima melihat Jane dengan gaun indah di tubuhnya memutar tubuh hingga keduanya saling berhadapan. Pria itu lantas melangkah mendekat dengan senyum indah yang tergambar sangat jelas.
Namun, nyatanya hal itu malah membuat Jane merasa tak nyaman. "Apa aku jelek mengenakan ini, Damien?"
Pria itu hanya menggeleng lirik dan tetap tak berpaling meskipun hanya untuk mengedipkan mata. "Cantik, sangat cantik," ucap Damien sambil meraih tangan Jane.
"Damien, haruskah kita membatalkan rencana menikah kilat ini. Aku merasa malu," bisik Jane di telinga Damien.
Hal tersebut sontak membuat Damien menatap tajam ke arahnya. Benar dugaan pria itu, Jane akan berubah ketika emosinya sudah mereda. Namun, dia tidak akan membiarkan rencananya gagal kali ini.
__ADS_1
"Tidak bisa. Kau harus menikah denganku hari ini. Lamaran ditolak untuk dibatalkan," ucap Damien sambil menyentuh lembut hidung Jane.
Jane hanya bisa mengerucutkan bibir menanggapi Damien. Kesadarannya seperti baru saja kembali hingga tak menyangka jika dirinya sendirilah yang melamar pria di depannya.
"Apa kau tidak menyukai gaunnya?" Melihat semburat keraguan di wajah Jane, Damien berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan benar saja, wanita tersebut dengan cepat menganggukkan kepala.
"Ini terlalu mewah dan berat, aku tidak bisa berjalan," bisik Jane lagi di telinga Damien.
Selama ini Jane tidak pernah mengenakan gaun yang berat, apalagi seperti sekarang. Bisa-bisa dia pingsan kehabisan tenaga sebelum tiba di altar nantinya hanya karena sebuah gaun yang begitu berat di tubuhnya. Lagi pula mereka akan ke altar untuk menikah kilat, bukan langsung mengadakan resepsi pernikahan.
"Baiklah, pilih lagi yang kamu suka."
"Apa tidak apa-apa?" Damien hanya menanggapinya dengan senyuman dan Jane kembali melangkah ke bagian lain sambil menjinjing gaun di tubuhnya agar tidak terseret, sedangkan para pegawai membantu mengangkat bagian belakang yang menjuntai.
"Aku mau yang itu," ujar Jane menunjuk keinginannya.
"Tapi, Nona. Itu sangat sederhana," ucap sang manajer mencoba memberi tahu Jane.
"Apa ada aturan menikah tidak boleh menggunakan gaun yang sederhana?"
"Maaf, Nona." Wanita itu pun hanya bisa menunduk ketika mendapatkan tatapan tajam dari Jane. Dia pun segera mengambil gaun yang diinginkan Jane dan kembali membantu berganti pakaian.
Pada percobaan gaun kedua, Jane merasa puas menatap dirinya sendiri di cermin. "Ini baru Jane," katanya dengan bangga pada diri sendiri.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama tirai pun kembali dibuka dan tampak Damien sudah berdiri di depannya. "Suka?" tanya pria itu.
Wanita itu hanya mengangguk kecil sambil berulang kali melihat setiap sisi tubuhnya. Meskipun tampak terlalu seksi bagi Damien, tetapi karena ini bukan resepsi dan hanya disaksikan oleh Jessi juga Stella maka dia memilih untuk tidak mempermasalahkan pilihan Jane.
Dia pun segera meminta staf agar lantas merias Jane terlebih dahulu, sedangkan Damien sendiri berganti tuksedo yang senada dengan gaun Jane. Tak butuh waktu lama keduanya pun sudah siap dengan pakaian masing-masing.
"Tunggu sebentar!" Damien mengambil sebuah kotak yang sebelumnya sudah dia pesan dari toko tersebut dan meminta Jane untuk duduk sejenak. Tanpa ragu pria itu berlutut dan mengangkat kaki calon istrinya lalu mengenakan sebuah sepatu indah yang sudah dipersiapkan sebelumnya. "Sempurna, ayo!"
Wanita mana yang tak akan terharu melihat pesona Damien hari ini. Belum lagi perlakuannya yang lembut mengakibatkan Jane hampir saja menangis karenanya. "Terima kasih, Damien."
"Belajarlah untuk memanggilku suamimu!" ucap pria itu dengan sebuah senyuman lantas bergerak menuju mobil.
To Be Continue..
Gaun pertama yang Jane kurang suka.
Gaun sederhana kedua tapi seksoh yang dipilih Mbak Jane
__ADS_1
Udah Cantik tapi simpel belum menurut kalian???