Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Alex Barrack


__ADS_3

Jessi dan Nich melangkahkan kakinya menuju ruang ICU. Kondisi Angelina masih belum stabil sehingga pihak rumah sakit masih belum memindahkannya ke kamar perawatan.


Melihat kedatangan Jessi dan Nich, Jackson berdiri dari duduknya di ikuti oleh Alice. "Nona, Tuan."


Jessi melihat raut wajah mereka yang kusam dan sembab. Perjuangan cinta mereka sungguh membuat Jessi iri, ternyata Jackson yang introvert bisa menjadi seorang ayah dan suami yang begitu baik bagi keluarga kecilnya.


"Pulanglah! Kalian istirahatlah sejenak, biarkan aku yang menjaganya sementara!" Jessi menyerahkan sekeranjang buah dari tangan Nich kepada mereka.


"Tapi, Nona .... "


"Apa kalian tidak percaya padaku?"


"Bukan begitu, Nona. Hanya saja .... "


Jessi memotong ucapan Jackson. "Cepatlah pulang dan istirahatlah sejenak, Angelina akan syok jika dia sadar melihat kedua orangtuanya terlihat seperti gembel begini!"


Jackson dan Alice saling melihat satu sama lain, memanglah penampilan mereka sangat berantakan kali ini, di tambah banyaknya noda bekas darah yang sudah mengering di pakaian Jackson.


"Tenanglah, aku akan menemani Jessi untuk menjaga Angelina!" Nich menepuk bahu kekar Jackson. Dia sudah menganggap Jackson seperti Willy.


"Kalau begitu kami permisi dulu, Nona, Tuan!" Jack dan Alice sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Mereka melihat dari balik cermin pintu ruang ICU Angelina terlebih dahulu, lalu pergi sesuai dengan perintah Jessi.


Nich dan Jessi duduk bersebelahan di kursi yang tersedia di sana. Jessi menatap lekat ruangan ICU itu, dia tidak bisa membayangkan jika memiliki anak dengan posisi seperti Angelina saat ini. Hatinya pastilah hancur, buliran hangat terlihat akan tumpah dari mata itu. Hingga suara Nich membuyarkan lamunannya.


"Sweety," Nich menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Jessi ketika melihat wanitanya yang sedang melamun. "Apa yang kau pikirkan, hmm?"


Jessi tersadar dari lamunannya. "Tidak, aku hanya sedang membayangkan berada di posisi mereka."


Jessi menghela napasnya sejenak. "Sejak awal perjalanan cinta mereka tidaklah mudah, tetapi mereka mampu melalui itu bersama-sama."


Nich melihat kesedihan pada diri Jessi. Dia merangkul pundak Jessi menjadikan bahunya untuk sandaran kepala wanitanya.


"Kita juga bisa seperti mereka, melewati semua masalah bersama-sama. Kau harus ingat bahwa kau tak sendiri lagi, ada aku yang selalu mendukung di belakangmu!" Nich mengusap-usap lengan Jessi, menyalurkan kekuatan agar wanitanya tau bahwa dia selalu ada untuknya.


"Nich, aku bahkan tidak tau seperti apa wajah kedua orang tuaku?"


"Apa mereka sudah tiada?"


Jessi mengangguk Jessi lantas berbicara dengan lirih. "Aku tidak tau seperti apa wajahnya, tidak pernah melihat makamnya, dan juga tidak memiliki kenangan tentang mereka."

__ADS_1


Nich mendengarkan dengan saksama cerita Jessi. "Aku hanya tau, nenek pernah berkata jika mereka meninggal ketika aku masih bayi. Jadi, aku tidak pernah lagi bertanya karena aku tidak ingin nenek sedih."


Jessi mendongakkan kepalanya menatap Nich dalam-dalam. "Nich, apakah aku yang seperti ini masih pantas bersamamu?"


Nich menyentuh hidung Jessi dengan telunjuknya. "Seperti apa pun dirimu, aku akan selalu mencintaimu. Selamanya tetap begitu."


Jessi melihat ketulusan di mata pria di depannya ini. Dia lantas mengubah posisi duduknya, dia mengangkat salah satu kakinya di atas kursi sehingga posisi duduk mereka berhadapan..


"Nich, ceritakan tentang dirimu?"


"Apa yang ingin kau ketahui, Sweety?" Nich menggenggam kedua tangan Jessi.


"Semuanya, terutama masalah percintaanmu."


"Ekkhmm." Nich sejenak berpikir. "Tapi aku tak pernah berpacaran!"


"Ayolah, tak mungkin selama tiga puluh tahun kau tak pernah menyukai wanita? Jangan-jangan kau juga menyukai sejenis!" Jessi menangkupkan telapak tangan di pipinya.


Nich gemas melihat bibir Jessi yang mengerucut.


Cup.


"Aku pernah menyukai seseorang, tetapi saat itu usiaku masih kecil lagi." Nich mencoba mengingat masa kecilnya. "Saat itu usiaku baru enam tahun, dan aku tersesat di hutan saat camping."


"Lalu?"


"Lalu, seorang gadis cilik menolongku, mengantarku kembali ke tempat berkemah," lanjutnya.


"Apa dia cantik? Apa kau masih mengingat wajahnya?" Jessi antusias bertanya pada Nich, tanpa sadar dia menggenggam erat tangan pria di depannya ini.


"Cantik, tetapi aku sudah tidak ingat wajahnya. Aku hanya ingat dia menggunakan kalung berbentuk bulat dengan gambar bunga teratai di dalamnya." Nich kembali tersenyum.


"Apa kau tau, Sweety? Setelah mengantarku dia bilang kelak jika dewasa akan menikahiku." Nich menggeleng kecil. "Lucu sekali rasanya jika mengingat bocah enam tahun mengatakan perihal orang dewasa."


"Bagaimana jika kau bertemu lagi dengannya?"


"Apanya yang bagaimana? Tentu saja biarkanlah! Aku sudah memilikimu, apa yang lagi yang aku harapkan?" Nich mengecup punggung tangan Jessi.


Mereka bercengkrama dengan canda dan tawa sambil sesekali melihat kondisi Angelina dari balik kaca pintu. Hingga kemudian, monitor mengeluarkan bunyi yang tidak normal. Para tim medis bergegas memasuki ruang ICU, sedangkan Jessi dan Nich hanya bisa melihat dari luar dengan jantung yang berdebar cepat karena khawatir.

__ADS_1


Nich mengelus bahu Jessi. "Tenanglah! Semua akan baik-baik saja."


Cukup lama mereka menunggu hingga seorang dokter keluar dari ruangan.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Jessi.


"Pasien tadinya mengalami syok, Nona, Tuan. Namun, kondisinya kini sudah mulai normal. Kami juga akan memindahkannya ke ruang perawatan karena dia sudah melewati masa kritis," ujar dokter itu.


Nich mengangguk. "Berikan kamar terbaik!"


"Baik, Tuan. Kami permisi dulu!" Dokter dan perawat sedikit membungkuk, tanda bahwa mereka menghormatinya.


Setelah kepergian tim medis, Jessi melihat kembali Angelina dari kaca pintu. Dia bersyukur karena Angelina berhasil melewati kondisi antara hidup dan matinya.


***


Di sisi lain seorang pria paruh baya tiba di bandara dijemput oleh lelaki dewasa.


"Uncle," Pria itu mengambil koper yang di bawa oleh pamannya.


"Apa kau sungguh menemukannya?"


"Kita bisa bertemu mendekatinya nanti, aku belum memberitahu apa pun padanya!" Mereka berjalan menuju area luar bandara.


"Sudah cukup lama kita mencarinya, akhirnya pencarian membuahkan hasil."


Tuit! Tuit! Suara alarm mobil terbuka.


"Dia akan segera menikah." Pria itu memasukkan koper ke dalam bagasi.


"Benarkah! Mengapa di usianya sekarang dia baru mau menikah? Apakah dia jelek dan tidak laku?"


Pria itu menggeleng lantas memasuki kursi kemudi mobil. "Dia sangat cantik, tetapi sepertinya kehidupannya berat.


Pria paruh baya menghela napasnya, lalu memasang seat belt pada tubuhnya. "Dia adalah wanita yang kuat. Aku yakin itu!"


Mereka bergerak menuju apartemen yang sudah dibeli oleh Damien. Pria paruh baya tersebut adalah Alex Barrack, orang yang sudah merawatnya selama hampir tiga puluh tahun ini. Mereka memang tinggal di wilayah yang berbeda belum lama ini karena keadaan yang memaksa mereka. Alex berusaha semampunya agar namanya tidak terkenal dikalangan pebisnis. Lalu, membiarkan Damien yang mengambil alih segala urusan.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2