
Hari yang cerah ditambah dengan hangatnya sinar matahari membuat semua orang akan merasa bahagia. Namun, tidak dengan seorang pria, terkurung di suatu ruang pengap sebuah markas yang berada di kediaman Light menjadi tempat tinggal para tawanan.
Pria yang sebelumnya membantu rencana jahat Emily, kini tinggal menunggu waktu untuk dieksekusi. Entah apa yang akan dilakukan oleh Jessi kali ini.
Aroma apek, dan lembab khas ruang bawah tanah memenuhi indra penciuman. Suara erangan harimau yang jumlahnya lebih dari satu membuat sang pria semakin khawatir akan keselamatan nyawanya kali ini.
Sehari sudah dia diikat dan ditutup matanya setelah gagal membantu rencana Emily untuk menghancurkan Jessi. Bukan bayaran uang di dapat, tetapi malah karma atas apa yang telah dia lakukan selama ini.
Suara langkah kaki mulai mendekat membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Namun, bukan berarti dia sedang jatuh cinta, melainkan takut akan situasi ini.
"Buka menutup matanya!" Jessi memerintahkan anak buah yang menjaga pria tersebut. Dia duduk di kursi tepat di depannya hingga membuat mereka saling berhadapan. "Berikan aku informasi yang bisa kau tukar dengan nyawamu!"
Suara dingin, tatapan tajam, serta aura yang mengerikan membuat wanita tersebut terlihat sempurna layaknya seorang tokoh fiksi jahat yang ada setiap film. Namun, ini bukanlah akting semata, tetapi kondisi nyata.
"A–aku tidak tahu apa maksudmu." Pria itu menatap Jessi dari ujung kaku hingga rambutnya.
Usia wanita tersebut mungkin tidak jauh berbeda dengannya. Apa yang bisa dilakukan seorang wanita jika tanpa pria di sampingnya. Itulah yang ada di pikirannya.
"Apa kau sedang meremehkanku?" Jessi menatap tajam pria di depannya. Sorot matanya seperti pedang yang siap menghunus siapa pun di depannya.
Kini, pria tersebut sadar apa yang membuat nyalinya menciut. Bukan karena pria di sampingnya, tetapi wanita di depannya.
"Aku sungguh tidak tahu." Dia masih mencoba untuk menyanggah, berharap Emily masih bisa datang untuk menyelamatkannya.
Jessi lantas menegakkan posisi duduk, menengadah tangan. George langsung memberikan tablet berisikan laporan tentang pria tersebut.
"Hmm, Dion, pria tiga puluh lima tahun, pengedar narkoba, prostitusi online, dan penculikan anak di bawah umur. Memiliki seorang istri yang tengah hamil anak kedua." Sejenak Jessi menghentikan kalimatnya untuk bertepuk tangan, membuat pria di depannya melebarkan mata dengan sempurna. "Apa istrimu tahu bisnis hitammu?"
Dion terkejut mendengar penuturan Jessi. Dia tidak menyangka jika bisnis hitam yang ditutup rapat-rapat selama ini bisa dengan mudahnya diketahui oleh wanita di depannya, padahal Dion sudah berusaha untuk menutupi semuanya. Bahkan istrinya sekalipun tidak mengetahui hal ini.
Jantungnya berdetak begitu cepat setelah mendengar perkataan Jessi, suasana semakin mencekam melihat tatapan wanita di depannya. Dia tidak mungkin meremehkan orang yang berhasil menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Dion menelan ludah dengan susah payah.
"Apa yang kau inginkan?" Akhirnya Dion menyerah, mencoba bernegosiasi dengan Jessi.
__ADS_1
Namun, wanita tersebut malah tertawa dengan begitu lantang, hingga suaranya menggema di seluruh ruangan yang mereka tempati. Sebuah seringai iblis lantas terukir di bibir ranum Jessi, membuat Dion semakin bergidik ngeri menatapnya. Tanpa sadar, bulu romanya merinding seketika, nyalinya semakin menciut mengahadapi wanita ini.
"Kau pasti tahu apa mauku!" Jessi menekankan setiap ucapannya, tanpa mengurangi panjangnya seringai di wajah cantik tersebut.
Sejenak Dion mecoba untuk menelisik netra Jessi. Apa yang diinginkan wanita ini? Tidak mungkin kan dia ingin tahu dari mana sumber dana hitamku?
"Kau benar. Aku ingin tahu dari mana kau mengambil narkoba dan kepada siapa kau menyerahkan anak-anak itu?"
Dion seketika melebarkan matanya hingga nyaris keluar dari tempatnya. Apa wanita ini bisa membaca pikirannya?
"Apa setelah itu kau akan membebaskanku?" Dion masih berusaha untuk bernegosiasi, dia tidak ingin mati konyol di tempat pengap seperti ini tanpa ada orang lain yang tahu kondisinya.
Jessi memainkan kuku jarinya seperti anak kecil, dengan ekspresi yang jauh berbeda membuat siapa pun akan mengira jika wanita ini memiliki kepribadian ganda.
"Akan aku pertimbangkan. Karena saat ini bukan waktumu untuk bernegosiasi, Emily mungkin sedang menunggu ajal menjemputnya. Jadi, jangan harap ada seseorang yang datang untuk menyelamatkanmu dari sini!"
Dion semakin frustrasi, dia tidak menyangka akan berada di posisi sebagai tawanan dari seorang wanita, hingga untuk membebaskan diri saja perlu membongkar rahasianya selama ini.
"Baiklah, aku menyerah. Aku mendapat barang itu dari sekelompok mafia untuk dijual ke kalangan anak muda yang suka bermain di klub malam dan tempat-tempat sejenisnya."
Dion menelan ludah dengan susah payah. Keringat terasa bercucuran di tubuhnya. Apa saingan Emily bahkan mengetahui tentang dunia para mafia.
Sial! Emily menyeretku kepada musuh yang salah. Kalau aku tahu wanita ini akan sekuat itu, lebih baik aku mundur saat Emily memintaku mencari pembunuh bayaran.
Kini, dia harus menanggung semuanya sendiri. Bahkan keadaan seperti ini baru Dion rasakan selama hidupnya. Biasanya pria itu mampu untuk menekan apa yang diinginkan, tetapi kini malah harus berurusan dengan wanita berbahaya.
"Mau kuberi satu kejutan untukmu?" Jessi kembali mengambil tablet dari tangan George, dia membuka sebuah file berisikan video dan memutarnya tetap di depan wajah Dion.
Seketika wajah pria tersebut berubah menjadi merah padam. Video yang ditunjukkan Jessi berisikan gambar istrinya yang sedang dipeluk pria lain dengan begitu bahagia.
Hatinya sakit, rasa sesak menyeruak dalam dirinya, wanita yang selama ini dia cintai begitu mudahnya berpaling dengan rekannya sendiri. Padahal, Dion sudah mencoba berbagai cara untuk membahagiakan sang istri, hingga membuatnya terjun ke bisnis hitam demi memenuhi gaya hidup wanita tersebut.
"Tidak mungkin!" Dion masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, istrinya tidak mungkin berkhianat.
__ADS_1
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Itu bukan urusanku, aku hanya berniat memberimu sebuah kejutan. Jadi, pikirkanlah baik-baik, kelompok mafia mana yang bekerjasama denganmu sebelum aku membunuhmu di tempat ini." Jessi berdiri dari kursinya, hendak melangkahkan kaki untuk pergi dari tempat ini. Namun, dia masih belum bergerak dari tempatnya. "Ah, aku lupa. Mungkin anak yang sekarang dikandung oleh istrimu adalah milik pria itu. Lagi pula, bukankah selama ini kau sedang sibuk mengurusi Emily."
Dion yang tadinya menunduk seketika mendongak. Benar apa yang dikatakan Jessi, saat itu dia tengah disibukkan dengan urusan Emily. Bagaimana bisa istrinya langsung mengandung. Pria tersebut akhirnya menyerah dan kembali berucap sebelum Jessi melangkah.
"Virgoun, aku bekerja sama dengan mafia Virgoun."
Jessi dan George langsung menatap tajam ke arah Dion. "Kau yakin yang kau katakan adalah benar?"
Dion mengangguk, dia ingin bebas untuk membalaskan dendam pada pengkhianatan istrinya. "Kau bisa percaya pada ucapanku kali ini. Aku berkerja sama dengan mereka secar pribadi sudah lebih dari tiga tahun."
"Sepertinya obrolan kita akan panjang, aku bosan duduk di ruang pengap ini. Sebagai tamu khusus aku akan membawamu ke tempat yang lainnya."
Jessi memang tidak terlalu menyukai tempat penyiksaan akhir-akhir ini, dia ingin bermain bersama dengan kucing-kucing kesayangannya. "George bawa tamu kita ke rumah kaca, gunakan saja rantai tangan! Lagi pula dia tidak mungkin bisa kabur dari tempat ini, meskipun dia memiliki sayap."
Wanita tersebut lantas melangkah keluar meninggalkan kedua pria yang masih berada di dalam. Sontak Dion terkejut dengan hal itu, meskipun takut dia berusaha untuk berbicara kepada George.
"Apa maksud wanita itu?" tanya Dion.
"Apanya yang apa? Bukankah sudah jelas jika kau memang tidak bisa keluar dari tempat ini, meski kau memiliki sayap." George berbicara sambil melepaskan ikatan tali di tangan Dion, dan mengubahnya menjadi rantai.
"Apa dia asli bosmu? Kau diperintahkan oleh seorang wanita?" Dion masih tidak mengerti mengapa seorang wanita bisa membuat pria tunduk dengan mudah.
"Percayalah, kalau wanita itu bahkan lebih mengerikan dibandingkan dengan sosok pria yang kau takuti!"
"Apa dia semengerikan itu?" George menarik Dion agar berdiri dari posisi duduknya.
"Dia mengerikan jika kau menjadi musuhnya, tetapi bisa jadi malaikat kalau kau adalah anggotanya yang setia."
"Apa ...."
"Kau ini cerewet sekali! Ayo cepat jalan!" George memotong ucapan Dion sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, membuat pria itu mendengus kesal karena rasa penasaran.
George lantas membawa Dion ke tempat yang diperintahkan Jessi sebelumnya. Dia sendiri juga bingung, mengapa sang nona menginginkan mereka untuk membawa tawanan ke rumah kaca. Namun, apa yang bisa dilakukan hanyalah menuruti keinginan wanita tersebut.
__ADS_1
To Be Continue..