Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Emily Night


__ADS_3

Setelah mereka selesai menyantap makan siangnya yang sudah terlewat, Jessi mencuci tangannya lantas kembali duduk di samping Nich.


“Nich, bagaimana kalau pernikahan kita disederhanakan saja?” Jessi menatap netra lelaki di sampingnya dengan perasaan hangat.


“Apa kau takut semua orang mengetahui kalau kau adalah istriku?” Jessi menganggukkan kepalanya.


Nich lantas mengangkat tubuh Jessi ke atas pangkuannya. “Aku akan mengikuti apa pun keinginanmu. Aku hanya ingin kita bisa segera hidup bersama!”


Jessi mengalungkan kedua tangannya di leher Nich. “Aku hanya tidak menginginkan pernikahan yang mewah! Aku hanya ingin menikah secara sederhana di mansionku!"


Jessi menghela napasnya sejenak. "Pernikahan yang megah akan memakan waktu dan hanya membuat musuh mengetahui kelemahanku.”


Nich menganggukkan kepalanya. “Aku akan bicara dengan mommy nanti. Biarkan dia yang mengurus pernikahan kita di mansionmu sesuai dengan keinginanmu, Sweety!”


Jessi tersenyum mendengar penuturan Nich. Dia sungguh mengerti kondisinya.


"Apa kegiatanmu hari ini?" Nich mengelus pipi Jessi dengan lembut.


Dia mengecup dengan lembut bibir itu sebelum Jessi menjawab pertanyaannya. Mendapat ciuman dari Nich, Jessi memejamkan matanya. Pria ini sungguh memperlakukannya dengan lembut, tidak terlihat nafsu yang memburu pada dirinya. Dia memperlakukan Jessi layaknya sebuah benda yang mudah rapuh, harus dijaga dengan hati-hati.


Setelah selesai dengan kegiatannya Nich melepaskan bibirnya, menyibakkan rambut Jessi. Nich merasa bahagia karena tidak mendapatkan penolakan dari wanitanya.


"Aku akan mengunjungi Angelina hari ini!" ujar Jessi.


"Angelina? Anak Jackson?" Jessi mengangguk. "Aku akan mengantarmu."


"Apa kau tidak sibuk?"


Jessi berdiri dari pangkuan Nich.


"Aku sudah membatalkan seluruh jadwalku hari ini. Jadi, seharian kita bisa berkencan." Nich ikut berdiri, mereka melangkah keluar ruangan.


Di luar ruangan sudah ada Willy yang masih sibuk berkutat dengan semua berkas milik bosnya. Seluruh pekerjaan dilimpahkan padanya hari ini, sedangkan empunya sibuk berkencan.

__ADS_1


"Will, aku pergi dulu. Setelah semua selesai kau boleh langsung kembali, tak perlu menungguku!"


Menunggu? Aku bahkan tidak tau masih bisa pulang atau tidak hari ini dengan pekerjaan sebanyak ini.


Ingin sekali Willy mengatakan hal itu, tetapi yang keluar dari mulutnya berbeda pula. "Baik, Tuan."


Mereka melangkah keluar meninggalkan Willy seorang.


"Nasib kalau punya bos yang sedang bucin!" Willy asyik menyumpah serapah Nich dalam hatinya sambil meninjau tumpukan berkas di depannya.


Nich menggenggam tangan Jessi sepanjang perjalanan. Setibanya mereka di lobby seorang resepsionis menghampiri Nich. "Maaf, Tuan Muda."


"Ada apa?" Nich dan Jessi menghentikan langkah mereka.


"Di sana ada Nona Emily dari Night Fashion memaksa untuk bertemu dengan anda, Tuan. Saya sudah mengatakan jadwal pertemuan hari ini di cancel, tetapi dia bersikukuh untuk menunggu Anda." Resepsionis berkata dengan hati-hati sambil menggit bibir bagian dalamnya. Dia sangat takut akan dipecat kalau sampai ucapannya menyinggung bos kutub mereka.


"Biarkan saja kalau di mau menunggu di sana." Nich melanjutkan kembali langkahnya bersama Jessi.


Namun, sepasang mata Emily sudah menangkap kehadiran sosok Nich di matanya. Dia langsung berlari mengejar mereka.


Nich menghentikan langkahnya, sedangkan Jessi memindai sosok adik Alice itu. Hanya dengan melihatnya saja sudah membuat aliran darahnya mendidih.


"Maaf, Nona. Saya sedang sibuk, silakan buat janji temu lagi besok!" Nich bergegas meninggalkan Emily. Jessi menoleh ke belakang, dia menunjukkan senyum smirknya pada Emily.


Melihat ejekan dari wanita di samping Nich membuat Emily melebarkan matanya. Dia berjuang mati-matian untuk datang ke sini, tetapi hanya pengusiran yang dia dapat.


Hari itu, setelah pertemuan Kate dan Laura di pusat perbelanjaan. Kate langsung menghubungi anaknya Emily. Dia sudah menyukai Nicholas sejak dulu, bukan hanya sekedar suka, tetapi lebih mengarah ke obsesi yang membara. Jarak usia yang hanya satu tahun membuatnya mengikuti ke mana pun Nich menempuh pendidikan.


Emily menjejakkan karirnya di Negara X agar mampu mengimbangi Nich. Dengan karirnya yang hebat dia berharap lelaki pujaannya mau melihatnya. Pasar bisnis fashion di sana masih belum seramai di Negara N membuatnya melakukan apa pun demi kelancaran bisnisnya. Namun, ketika mendengar Nich akan menikah, dia lebih memilih untuk kembali ke negara ini. Dia tidak bisa membiarkan targetnya yang sudah lama dia invar hilang begitu saja.


Kali ini dia akan berjuang dengan segala cara untuk membuat Nich menyukainya. 1001 cara untuk menaklukkan pria yang dia inginkan akan bermula. Bahkan jika Nich sudah menikah sekalipun, dia tidak akan menyerah.


Emily mengepalkan kedua tangannya melihat Nich menolaknya hanya demi seorang wanita yang bahkan menurutnya tidak lebih cantik dari dirinya. Emily jelas terlihat lebih muda dan lebih sexy, sehingga dia yakin tidak mungkin ada lelaki yang mampu menahan godaannya.

__ADS_1


Aku pasti akan merebut posisi Nyonya Muda Bannerrick!


Di sisi lain Nich dan Jessi berada di dalam mobil, mereka melaju menuju Bannerick Hospital.


"Kelihatannya wanita itu menyukaimu?" Jessi memulai pembicaraannya dengan Nich.


"Apa kau cemburu, Sweety?" Nich hanya sekilas menoleh kepada Jessi lantas kembali fokus pada jalan karena traffic light yang sudah berwarna hijau.


"Apa, cemburu?! Sebaiknya tarik ucapanmu itu Nich, aku jijik mendengarnya, dia bukan wanita yang selevel denganku!" Wajah Jessi merah padam mengatakan hal itu. Entahlah dia sendiri tidak mengerti mengapa dia bisa semarah ini.


"Aku yakin kau sedang cemburu saat ini, Sweety." Nich tersenyum dan terus menggoda Jessi.


"Terserah apa katamu!" Jessi memalingkan wajahnya ke arah lain. "Nich,"


"Hmm."


"Bukankah kalian dulu satu universitas?" Jessi kembali menatap ke arah Nich, rasa ingin tahunya kini lebih tinggi dari pada cemburunya.


"Bukan hanya universitas, bahkan sejak pendidikan dasar!"


"Apa kau juga mengenal Alice?"


"Alice? Kakaknya? Aku tau, tetapi tidak bisa dianggap kenal, karena kami bahkan tidak pernah saling menyapa." Nich menoleh ke arah kaca spion di luar, untuk memarkirkan mobilnya. "Bukankah dia sekarang istri Jackson?"


"Iya, dan keluarganyalah yang membuat Angelina seperti sekarang."


"Mereka memang serakah sejak dulu! Yang aku tau Alice memang diperlakukan berbeda di keluarga itu." Nich menekan tombol rem mobilnya, lalu mematikan mesin. "Ayo!"


Mereka tiba di Bannerick Hospital. Sejak kemalangan terjadi, Jessi membiarkan Jackson mengurus keluarganya lebih dulu. Segala urusan kini di tangani oleh Mario dan Maurer sebagai gantinya.


Jessi sendiri masih merasa bersalah karena tidak lebih cepat menemukan Angelina. Baginya keluarga bawahannya sudah seperti keluarganya sendiri.


Mereka melangkah beriringan menuju kamar Angelina, Nich selalu menggenggam tangan Jessi yang berada di kanannya, sedangkan tangan kirinya menjinjing sekeranjang buah untuk berkunjung.

__ADS_1


Sepanjang jalan banyak mata yang melihat mereka dengan tatapan kagum. Kabar tentang pewaris Bannerick Group dan istrinya sudah menyebar luas ke seluruh jajaran karyawan. Kini mereka melihat sendiri sepasang manusia yang membuat iri siapa pun yang melihatnya. Aura pemimpin yang mereka miliki sangat serasi.


TBC.


__ADS_2