
Di sebuah toko tanaman, seperti biasa Nenek Amber dan Maria pergi untuk membeli berbagai macam bibit, bersama beberapa anak buah Jessi.
Tak lama kemudian, sebuah mobil tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi langsung menabrak dinding kaca pembatas toko tersebut begitu saja. Hingga menyebabkan pecahan beling bertebaran di udara dan membuat kepanikan para pengunjung lainnya.
"Akh!" Suara teriakan orang-orang yang berada di dalam terdengar begitu keras. Mereka yang langsung terkejut lantas menunduk untuk menghindari pecahan itu.
Terlihat seorang pria–Bryan–melangkah turun dari mobil dengan begitu arogan. Penampilannya terlihat seperti preman pasar dan tak lagi tampan. Lingkaran hitam di mata serta bulu halus di wajah menambah kesan menakutkan bagi setiap orang yang menatapnya.
Sudah cukup lama dia mengawasi gerak-gerik para penghuni kediaman Light. Jadi, Brian hafal betul kegiatan mereka setiap bulannya dan hari ini adalah waktu yang tepat untuk Nenek Amber keluar membeli tanaman.
Dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut pengunjung yang meringkuk, hingga manik mata mulai menangkap dua sosok target dari kejauhan.
"Tangkap kedua perempuan itu!" Brian menunjuk ke arah dua wanita yang masih dalam posisi berdiri dan saling berpegangan.
Anak buahnya mulai melangkah ke depan untuk menyerang, tetapi para pengawal Nenek Amber sudah bersiap menghadang dengan masing-masing pistol di tangan mereka.
Sementara itu, Nenek Amber yang melihat sosok Brian, seketika terkesiap untuk beberapa saat. Setelah sekian lama tidak berjumpa, kini pria itu menampakkan batang hidungnya begitu mengerikan, sangat berbeda dengan kali terakhir dan malah berniat menculik kedua wanita tua pula.
"Kita harus segera pergi dari tempat ini, Nyonya!" Maria langsung menarik Nenek Amber yang masih terkejut dengan situasi ini. "Ayo!"
Mereka pun mencoba untuk kabur di tengah kekacauan baku tembak yang terjadi. Maria berlari sambil mengambil ponselnya guna menghubungi putrinya. Beruntung Patricia segera menjawab.
"Ya, Mom." Suara Patricia terdengar di ujung panggilan.
"Kami di serang. Cepat laporkan pada nona! Nenek Amber dalam bahaya." Dalam kepanikan, tiba-tiba ponselnya malah terjatuh dari tangan begitu saja, tak memedulikan benda pipih itu. Mereka segera berlari ketika melihat Brian sudah menatap tajam ke arah keduanya.
"Jangan biarkan mereka lolos!" Suara teriakan Brian terdengar begitu keras, dia langsung berlari mendekati kedua wanita yang mencoba untuk melarikan diri tersebut.
Walaupun terengah-engah, kedua wanita itu berusaha untuk tetap bergerak menuju mobil, dengan segera mereka membuka pintu kendaraan tersebut dan berusaha menyalakan mesinnya.
Namun sayang, karena jantung yang berdetak kencang dan rasa gugup yang menjalar membuat Maria sulit untuk memasukkan kunci mobil. Tanpa aba-aba Brian memecahkan kaca kemudi dari luar hingga hancur berkeping-keping dan langsung mencekik leher Maria.
Dia menatap tajam ke arah Nenek Amber di kursi sebelah. "Turun jika kau tak ingin dia mati saat ini juga!"
__ADS_1
Wajah Maria terlihat sudah memerah akibat kuatnya cengkeraman Brian. Namun, dia tidak menyerah, wanita itu menggeleng ke arah Nenek Amber sambil merogoh sebilah pisau di sampingnya.
Tak ingin menyerahkan dengan keadaan, wanita itu langsung mengiris tangan Brian yang berada di lehernya, hingga membuat darah mengucur deras di tangannya.
"Akh!" Luka di tangan kiri yang ngucurkan darah segar membuat pria itu menarik kembali cengkeramannya dan memegang bekasnya dengan geram. Dia tidak menyangka para wanita tua itu akan sangat sulit untuk dihadapi.
Tanpa menunggu waktu, Maria langsung menyalakan mesin dan menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Light. Meninggalkan Brian yang masih meringkuk memegang luka di tepi jalan.
"Bagaimana dengan para pengawal kita?" Nenek Amber yang belum pernah berada di posisi seperti ini merasa khawatir dengan para anak buah yang masih bertarung di toko itu.
"Mereka bisa menjaga diri, Nyonya. Nona Jessi bisa murka jika sampai sesuatu terjadi pada Anda." Maria berbicara sambil tetap fokus menatap jalan karena tingginya kecepatan mereka kali ini, sedangkan Nenek Amber memegang kuat-kuat handle di bagian atas pintu mobil.
Akan tetapi, ternyata nasib buruk mereka belum juga berakhir. Beberapa rombongan mobil di belakang mereka mulai mengejar. Maria hanya bisa mengamati dari kaca spion.
"Oh, Tuhan, kenapa mereka gigih sekali?" Dengan jantung yang berdegup cepat dan kepanikan tak terkendali keduanya masih berusaha melarikan diri. Maria semakin dalam menginjak pedal gas, hingga kecepatan maksimal.
Sayangnya, usia dan pengalaman menjadi hambatan keduanya di situasi seperti ini. Sebuah mobil menyalip tajam dan berhenti tepat di depannya tanpa aba-aba.
Maria segera menginjak rem, hingga menyebabkan suara decitan ban yang bergesek keras dengan aspal, serta menabrak mobil di depannya. Keduanya pun terbentur bagian depan kendaraan karena berhenti tiba-tiba dan terluka di kepala.
Luka di tangan tak bisa membuat Brian menyerah begitu saja, dia bahkan hanya mengikat bekas pisau itu dengan sebuah kain.
Dia mengetuk kaca di sebelah Nenek Amber. "Turun atau aku akan menyeretmu keluar!"
Tak punya pilihan lagi karena semua pistol ditodongkan kepada keduanya, membuat Maria dan Nenek Amber hanya bisa turun dari kendaraan.
"Apa maumu?" Nenek Amber menatap tajam ke arah Brian. Wajahnya sangat berbeda dengan terakhir kali mereka bertemu di rumah sakit saat itu.
Pria itu hanya mengerlingkan mata kepada anak buahnya, mereka pun segera mengikat tangan kedua wanita berumur itu. Setelahnya menggiring Nenek Amber dan Maria ke mobil.
"Jalan!" Brian duduk di bagian depan dan menatap puas ke arah kedua wanita yang kini menjadi tawanannya.
_____________________
__ADS_1
Di sisi lain, Patricia yang saat itu berada di kamar, terkejut dengan panggilan darurat dari ibunya. Dia segera berlari ke bawah untuk mencari yang lainnya.
Terlihat ada Maurer dan yang lainnya sedang bersiap sesuai dengan perintah Jessi. Terengah-engah Patricia mendekati mereka.
Maurer yang melihat Patricia sedang tergesa-gesa lantas mendekat. "Ada apa?"
"Gawat, Nenek Amber dan Ibu diserang!" Kepanikan terlihat jelas di wajah Patricia, mereka adalah wanita yang sudah berumur. Bagaimana bisa menghadapi para musuh jika dia yang masih muda saja kesulitan tanpa bantuan Jessi dan Laura saat mengalami hal itu.
"Sial! Olivia, hubungi Nona Jane! Aku akan mencari tahu posisi mereka. George, coba hubungi Nona Jessi segera! Kau, bersiap dengan dengan yang lain kita susul mereka!"
Patricia mengangguk, begitu pula yang lainnya. Sementara itu, Maurer mulai mengotak-atik laptopnya untuk mencari tahu posisi Nenek Amber dan Maria.
"Ketemu, kita berangkat sekarang!" Mereka pun segera beranjak dengan seluruh anak buah dikerahkan menuju Light Resto untuk menjemput Jane.
Sesuai dengan perintah Jessi sebelumnya. Jika terjadi sesuatu, maka Jane yang akan mengambil alih kondisi untuk mengarahkan mereka.
Semua pengawal dan anak buah dikerahkan, tanpa ada satu pun yang tersisa. Termasuk Mario yang mulai bergerak dari perusahaan. Persiapan untuk pertempuran baru saja dimulai.
Jessi sebelumnya sudah memprediksi jika salah satu dari mereka akan dijadikan tameng oleh para mafia Virgoun. Namun, yang tidak dia duga adalah Nenek Amber sasarannya.
To Be Continue...
Hello teman-teman,
Gimana udah deg-degan belum?
Sengaja author mempercepat alur karena takut kalian akan bosan dengan episode panjang dan menganggapnya terlalu belibet.
Tapi tenang, setiap detail permasalahan akan tetap dijelaskan.
Jadi mohon bersabar untuk menantikan episode selanjutnya.
Salam sayang buat kalian pembaca setia, semoga sehat selalu dimana pun kalian berada.
__ADS_1
Karena ponsel author sedang sakit dan dirawat.