
Obsesi menghancurkan segalanya. Bukan cinta dari pria impian dia dapat, melainkan sebuah kesialan bertubi-tubi yang kini menyambutnya. Hidup Emily akan hancur dan berantakan dalam semalam, seluruh dunia sudah mengetahui kebusukan wanita tersebut, meskipun selama ini dia sudah mencoba menutup rapat hal itu.
Dia terbangun seorang diri dalam kondisi tanpa sehelai benang pun di tubuhnya, dengan kamar yang menjadi saksi semua rencananya malah berbalik kepadanya.
"Sial! Sial! Sial! Aggrhh!" Emily mengumpat kesal. Dia menghancurkan segala barang yang ada di kamar tersebut hingga berserakan tak karuan. "Aku akan membunuhmu!"
Emily seperti seorang wanita yang kesetanan. Dia terus mengamuk memporak-porandakan seluruh ruangan. Hingga sesaat kemudian, wanita itu luruh di lantai sambil terisak memukuli dadanya. "Kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi padaku?"
Dia menunduk, lantas kembali mendongakkan kepalanya dengan tertawa. "Kenapa?"
Jika saja ada orang yang melihat kejadian ini, sudah pasti mereka akan berpikir jika wanita tersebut tengah gila. Dia tertawa dengan begitu keras, tetapi sesaat kemudian kembali menangis terisak.
Emily benar-benar kehilangan akal sehatnya kali ini. Obsesinya bukan hanya berimbas buruk bagi kesehatan mental, tetapi juga fisik dan kejiwaannya.
"Kenapa kau lebih memilih wanita itu daripada aku?" Emily terus berteriak dan terisak-isak di atas lantai. "Kenapa?!"
Amarahnya meluap-luap seakan bersiap untuk meledak kapan saja. Dia sudah melakukan segala hal demi mendapatkan perhatian dari Nich. Emily bahkan rela mengubah beberapa bagian tubuhnya agar lebih berisi dengan operasi plastik.
Orang tua yang selalu menanamkan bahwa dia harus memiliki yang terbaik dalam hidup, membuat pikirannya sejak kecil selalu menginginkan Nich. Pria dengan masa depan cerah bahkan sejak dalam kandungan.
Sebagai pewaris dari Bannerick Group, tentu saja semakin membuat Emily mengharuskan obsesinya untuk bisa mendapatkan pria yang dia inginkan itu.
Namun, apa yang terjadi sekarang?
Emily merasa hanya kehancuran sampai titik terendah yang kini menantinya. Dia lantas berdiri dari posisinya, mengambil pakaian tadi malam lantas mengenakannya. Tanpa merapikan diri terlebih Emily melangkah keluar dari kamar tersebut.
Sepanjang jalan dia melangkahkan kaki, begitu banyak mata yang menatap jijik ke arahnya. "Sial!" Dia segera mengambil kaca mata hitam dari dalam tas untuk menutupi rasa malunya.
Dia bergerak menuju tempat parkir hotel. Namun, ternyata sudah banyak wartawan yang berkerumun di sekitar mobilnya. Emily dengan cepat melangkah ke arah kendaraannya.
Dengan cepat para wartawan mulai menghalangi jalannya. "Nona Emily, apa benar Anda adalah salah satu bintang pornografi?"
"Nona Emily." Mereka saling berdesakan demi meliput berita eksklusif pagi ini. "Nona Emily. Mohon berikan penjelasan Anda!"
__ADS_1
Emily tidak menggubris perkataan para wartawan itu. Segera dia menaiki mobil dan menyalakan mesin, menginjak pedal gas seakan bersiap untuk menabrak siapapun yang menghalangi jalannya.
Sedetil kemudian, dia nekat menabrak seorang wartawan yang tidak mau menyingkir dari mobilnya, dan melajukan kendaraan begitu saja tanpa melihat korbannya.
"Sepertinya dia benar-benar sudah gila," ujar seorang wartawan.
"Cepat hubungi ambulance! Kita liput berita ini juga hari ini. Dia bahkan berani melukai kita."
Mereka berkerumun melihat kondisi korban yang terluka parah akibat ditabrak oleh Emily. Catatan keburukannya makin bertambah hanya dalam hitungan detik.
Sementara di dalam mobil Emily mengumpat dengan begitu kesal. Berulang kali dia memukul stir mobil dan menerobos lampu merah begitu saja. "Argh, Brengsek! Kalian semua Brengsek!"
Dia mengumpat tidak ada habisnya sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Hingga beberapa saat kemudian, Emily mulai memasuki kawasan kediamannya. Wanita tersebut membanting pintu mobil dengan sangat keras. Membuat para pelayan yang sedang mengerjakan tugas terkejut melihat kedatangan sang nona muda arogan.
Namun, baru melangkah beberapa kali kedua orang tuanya sudah menanti kedatangannya dengan wajah yang merah padam.
"Dari mana saja kamu!" Barron segera menghampiri putrinya yang baru saja tiba dengan kemarahan meluap-luap hingga menyebabkan seluruh tubuhnya menegang. Jika bukan karena anak buah kakaknya, rumah mereka sudah pasti dikerumuni oleh wartawan hari ini.
"Bukan urusan, Daddy!" Emily melangkah begitu saja melewati ayahnya, tetapi dengan segera Barron menahan tangannya dan menampar sang putri begitu keras hingga jatuh tersungkur.
Tanpa rasa takut dia berdiri menantang ayahnya. "Kenapa kau harus merasa malu? Bukankah keluarga ini sudah memalukan sejak awal?"
Barron kembali mendaratkan tangan di pipi Emily bagian yang lain. Sontak hal itu membuat Kate memeluk erat putrinya. "Sudah cukup! Dia ini putri kita, apa kau ingin menghabisinya dengan menampar bertubi-tubi?" Kate merengkuh tubuh sang anak dalam pelukannya.
Meskipun, dia marah, tetapi melihat wajah Emily yang lebam dan berdarah membuatnya tak tega jika sang anak dijadikan samsak kemarahan oleh Barron–suaminya.
"Putri kau bilang!" Barron terlihat begitu berang kali ini. "Dia hanyalah seorang putri yang melakukan tindakan bodoh dan gila! Karena kebodohanmu semalam, reputasiku hancur seketika!"
Barron berteriak dengan begitu keras hingga suaranya terdengar di seluruh penjuru kediamannya. Para pelayan yang mendengar kemarahan Barron dan kesialan Emily hanya bisa bersyukur dalam hati.
Akhirnya keluarga ini menerima balasannya.
"Apa maksudmu, Dad?" Emily masih belum paham, mengapa hari ini semua orang menyerangnya secara bersamaan.
__ADS_1
"Kau bilang apa maksudku?" Barron merogoh ponsel yang sakunya, memperlihatkan apa yang sedang membuat publik heboh hari ini. "Lihat apa yang kau lakukan!"
Emily melebarkan matanya melihat gambar dirinya sedang bercinta dengan ketiga pria di hotel semalam. Dia tidak menyangka jika Jessi akan buat sejauh ini. Bukan hanya merekam, tetapi malah melakukan siaran langsung yang ditayangkan tadi malam.
"Ini aku kan aku!" Emily menyanggah apa yang dituduhkan padanya. "Ini semua karena wanita sialan itu!"
Dia mulai berteriak tidak karuan. Akan tetapi, sang ayah malah tidak mengindahkan alasan Emily. "Jika sampai aku gagal menduduki posisi menteri karena skandalmu, akan aku pastikan untuk menghukummu dengan tanganku sendiri!"
"Tapi, Dad. Ini sungguh bukan aku yang melakukannya. Aku hanya dijebak." Emily masih berusaha untuk meyakinkan ayahnya bahwa dia tidak bersalah.
"Aku tak peduli dengan siapa yang menjebakmu. Tapi, satu hal yang pasti, anak bodoh! Jika pamanmu tahu apa yang kau lakukan ini sudah merusak rencananya untuk mencalonkan diri sebagai Presiden. Dia tentu akan menyingkirkanmu secara langsung!"
Emily bergidik ngeri mengingat tentang Paman Jerry Morning. Meskipun, usianya sudah tidak muda lagi, tetapi pria tersebut masih sangat berbahaya, dan mampu meratakan keluarga Barron hanya dengan sekali perintah.
"Sekarang pergilah ke kamarmu, dan jangan keluar sebelum suasana publik mereda!"
Sejenak Emily menatap ibunya, wanita itu hanya mengangguk. Menandakan bahwa saat ini sebaiknya dia menuruti perintah sang ayah.
"Baik, Dad." Dia melangkah pergi dengan lebam di kedua sudut bibirnya. Emily tidak menyangka jika Jessi akan berbuat sejauh ini demi menghancurkannya.
Setibanya di kamar Emily bukan merenungkan diri, tetapi malah berteriak dengan keras dan mengobrak-abrik kamarnya. "Argh, wanita sialan!"
Emily mengamuk dan meronta-ronta. Tanpa dia sadari jika yang melakukan semua ini bukanlah Jessi, melainkan Nicholas. Pria idaman yang selalu diinginkan, tetapi begitu mencintai istrinya.
Sementara pembalasan dari Jessi, tinggal menunggu waktu. Tiga pria yang menemani Emily semalam adalah penderita HIV/AIDS. Jadi, bisa dipastikan bahwa nyawanya sudah terdaftar sebagai calon mayat tak lama lagi.
Jessi dan Nich sengaja melakukan hal ini. Anggap saja sekali tepuk tiga nyamuk mati, Emily hanyalah sebuah batu loncatan yang berhasil membantu mereka untuk mengetahui siapa saja pejabat yang bekerjasama dengan Barron di kursi pemerintahan. Hanya memberikan sedikit guncangan di keluarga Night, orang-orang di belakangnya pasti akan mengeluarkan batang hidungnya.
Sementara di sisi lain, seorang pria paruh baya mulai gusar karena ulah keluarga adiknya. Dia membanting tablet di tangannya yang memperlihatkan berita viral pagi ini. "Apa dia tidak punya otak?!"
Semua jajaran partai hanya bisa menundukkan kepalanya melihat kemarahan Jerry Morning.
"Haruskah kita mengeluarkan Barron Night dari kandidat menteri, Ketua?"
__ADS_1
To Be Continue...